Romauly sangat kagum dengan keindahan dekorasi halaman rumah yang sudah berubah menjadi taman sangat indah. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sahabatnya itu.
"Roma..." Teriak Zia membuat Roma memalingkan pandangannya mencari sumber suara yang memanggilnya.
"Kok Roma?" Tanya Rendi heran.
"Itu panggilan sayang teman-temanku padaku." sambil melambaikan tangannya pada Zia.
"Oo.."
"Zia... Apa kabar? Lama banget ya ga ketemu." Roma mendekati Zia dan memeluk sahabatnya.
"Kamu tuh yang super sibuk sekarang." Pandangan Zia beralih kepada pria yang berdiri disamping Roma. "Siapa? Cowok kamu?" Zia penasaran langsung to the poin.
"Teman sejawat di Rumah Sakit, Ren kenalin ini dokter Zia teman aku kuliah di London. Bisa dibilang dia juga donatur di hidupku." Roma mengingat Zia yang suka mentraktirnya saat masih kuliah dulu.
Zia tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya "Apaan sih, donatur dari Hongkong."
"Kok dari Hongkong? Dari Indonesia dong Zi... Hehe."
"Rendi..." ucap Rendi lalu mengulurkan tangannya berkenalan dengan Zia.
"Zia, dan bukan dokter loh karena semenjak lulus belum pernah bekerja sebagai dokter."
"Tetep aja dokter dodol." ucap Roma.
"Lah si batak udah berani ngatain gue. Mentang-mentang udah jadi dokter sukses lo ya, ga butuh suplai dana dari gue lagi."
"Haha... Sorry. Sorry aku lupa kalau kamu emak aku selama di London."
"Dasar anak duralex lo."
Mereka pun tertawa bersama.
"Liayu apa kabar ya Rom?" tanya Zia saat mereka sudah duduk di dalam rumah.
"Entahlah udah lama ga dengar kabarnya. Mungkin dia juga udah jadi dokter sukses di sulawesi sana."
"Iya juga ya..."
Roma mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang dirindukannya.
"Oya Chessy mana? Kok Aku ga lihat dia?"
"Cari Chessy atau yang lain?" Goda Zia "Kalau Chessy tadi lagi main sama Mami. Kalau yang lain gue ga tahu."
"Apaan sih Zia." Wajah Roma memerah.
"Apa sih yang mereka omongin? Gini nih nasib jadi kacung ya dikacangin" Batin Rendi.
"Mita..." Panggil Roma yang melihat Mita sedang menikmati hidangan makanan yang ada dihadapannya.
"Roma... Lo dateng juga." ucap Mita lalu tak lupa cipika cipiki. "Siapa? Cowok atau suami?" tanya Mita yang melihat Rendi duduk disebelahnya.
"Kenalin ini Rendi, Ren ini Mita sama teman aku dan Zia." ucap Roma.
"Rendi..."
"Mita... Oya sekalian kenalin ini calon imam gue Robby."
"Ciee... Calon imam. Tadi aja malu pas gue tanyain kapan di halalin." Goda Zia.
"Kapan? Kok gue ga inget ya?" Mita pura-pura lupa. Dan akhirnya mereka kembali tertawa.
Robby memilih ngobrol bersama Rendi yang sudah bergabung dengan Candra dan Zio dari pada mendengar obrolan absurd dari wanita-wanitanya.
"Seneng ya liat kalian udah pada ada buntutnya." Roma terlihat iri melihat Zia dan Rara.
"Makanya nikah, jangan pacaran mulu." ucap Rara.
"Belum ada yang lamar Ra."
"Tuh, bukannya cowok kamu?" Tanya Rara penasaran karena belum sempat berkenalan dengan Rendi.
"Namanya Rendi dia dokter bedah di Rumah Sakit tempat aku bekerja."
"Oo... Terus tunggu apalagi? Kayaknya tuh cowok suka deh sama lo."
"Iya tuh Rom, ga usah ditungguin yang ga pasti." Kali ini Mita ikut mengompori.
Sementara disisi lain ada sepasang mata dan telinga yang mendengar obrolan mereka mulai merasa terganggu.
"Ee ada nak Roma, apa kabar sayang?" tanya Indah begitu melihat Roma yang turut hadir disana.
Ya Indah merasa tidak senang mendengar ucapan teman-teman Zia yang menyemangati Roma untuk dekat dengan Rendi.
"Iya Tante apa kabar?" Roma membalas pelukan Indah.
"Panggil Mami aja ya." Roma tampak malu. "Mami sehat, kalau Roma sendiri gimana kabarnya?"
"Roma sehat Tante." Roma mendapat tatapan sedih dari Indah. "Eeh...maksudnya Mami."
...***...
Sementara sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Zio, dan tak lama keluarlah seorang pria tampan dengan gagah memakai setelan jas berwarna navy dengan sepatu pantofel yang sangat mengkilap hingga lalat pun terpleset kalau hinggap disana. Hehe.
Sosok pria yang begitu Roma nantikan setelah hampir 15 bulan lamanya ia tidak pernah melihat bayangan apalagi bertemu dengannya.
"Ciee... Yang dirindukan akhirnya datang." Zia menyenggol bahu sahabatnya itu.
Zia merasa heran biasanya Roma akan berlari mengejar Tommy tapi kali ini berbeda. Roma hanya diam saja ditempat duduknya. Ia seperti cuek dan tak ingin bertemu dengan Tommy.
"Masih sama seperti dulu tampan dan dingin. Merindukanmu itu seperti hujan yang datang tiba-tiba dan bertahan lama. Seperti saat ini kau hadir dalam pandangan mataku. Dan bahkan setelah hujan reda, rinduku masih terasa. Aku selalu berharap untuk dapat hadir di setiap mimpi indahmu. Kemudian, aku akan mengatakan bahwa aku akan selalu menunggumu. Dan jika Abang suruh aku melupakanmu, maka aku akan ke kelurahan dulu. Minta surat keterangan tidak mampu. Kenapa kau baru muncul Bang setelah sekian purnama kulewati tanpamu. Hiks... Hiks... Lebay banget ya aku sekarang." Batin Romauly.
Handphone Roma berdering membuyarkan semua lamunan indahnya. Dilihatnya panggilan dari rumah sakit. Roma mengangkat teleponnya sedikit menjauh dari teman-temannya.
Roma tampak gusar ia berjalan mendatangi Rendi.
"Ren, antarin aku kembali kerumah sakit."
"Ada apa Ly?" tanya Rendi yang bingung melihat Roma sangat gugup.
"Plis... Anterin aku Now." ucapnya setengah berteriak.
"Oke. Oke. Tapi kamu baik-baik aja kan, wajahmu pucat loh?" ucap Rendi sambil menyentuh kening Roma.
"Yes, I'm Okay."
Zia dan temannya yang lain juga tampak bingung melihat Roma yang tiba-tiba merasa takut dan gugup.
"Rom... Kamu kenapa?" tanya Zia?
"Aku ga apa-apa. Maaf ga bisa ikuti acaranya sampe selesai. Aku harus balik. Maaf ya. Salam buat yang lain. Bilang sama Bunda dan Mami aku pamit dulu ya."
Roma sedikit berlari meninggalkan Rumah Zia menuju tempat mobil Rendi terparkir.
...***...
Tommy hanya dapat melihat kepergian Roma tanpa menyapanya terlebih dulu. Ada perasaan kesal saat melihat Roma berjalan bersama pria lain apalagi dilihatnya saat Rendi menyentuh kening Roma. Namun pandangan teralihkan saat melihat Zia datang bersama dengan Chessy.
"Hallo Inces Om Tommy, apa kabar?"
"Eci aik Om..." ucap Chessy dengan lafalan yang belum jelas.
"Inces Om makin tantik aja nih, maemnya apa sih?" Chessy sudah berada dipangkuan Tommy.
"Eci tuma pake edak baby Om, teyus maemna kiepci."
"Hahha... dia ngomong apa sih Zi?"
"Chessy bilang dia cantik cuma pake bedak baby aja, terus makannya KFC." Jelas Zia.
"Iiih lucu banget sih."
"Jan toel-toel Om ntar idung Eci ecek."
"Haha... Emang udah dasarnya pesek juga."
Tommy tampak senang bersama dengan Chessy. Tak henti-hentinya ia mengelitik perut Chessy dan mencium pipinya yang bak roti bakpao itu.
"Kak, apa kabar?" tanya Zia melepaskan kecanggungan diantara mereka.
"Seperti yang kamu lihat."
"Kalau di lihat dari luarnya sih sehat. Tapi ga tahu tuh dalemnya gimana?" sindirnya.
"Maksud kamu apa?" Tommy melihat sekilas pada Zia lalu kembali perhatiannya pada Chessy.
"Ya, Kakak ngertilah apa maksudku."
"Beneran, kakak ga ngerti apa yang kamu maksud." Tommy menatap Zia karena dirinya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang Zia dibicarakan.
"Kak... Tadi Roma disini. Kakak lihat ga?" tanya Zia sengaja ingin mengalihkan perhatian Tommy dari Chessy.
Tommy tidak langsung menjawab pertanyaan Zia. Ia menarik nafasnya dengan berat dan menghembuskannya dengan kasar.
"Biar dia mencari kebahagiaannya dek." ucap Tommy lalu pergi meninggalkan Zia dan Chessy berjalan mendekati Zio dan Tirta.
"Tapi kebahagiaannya itu bersamamu kak..." Batin Zia.
Ku Rindu kehadiranmu My Receh 🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Yukity
Salken..
Mampir ya di novelku
GADIS TIGA KARAKTER
2021-10-13
0
✰͜͡v᭄pit_hiats
indit we roma, naha ting🙄🙄🙄🙄
2021-07-04
0
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
Nice thor, moga sehat dan sukses selalu menyertaiMu yah kk
2021-04-02
1