Siang itu Roma dan kakak Iparnya janjian akan bertemu dan makan siang bersama disebuah Mall besar dikota Jakarta. Namun tiba-tiba ia harus kembali ke Rumah Sakit karena Dewi kesulitan memberikan obat pada Cinta. Karena obat yang harus diminum Cinta tidak boleh diberikan terlambat. Akhirnya Roma memutuskan untuk kembali kerumah sakit.
Namun ketika Roma sudah selesai memberikan obat Cinta, Roma mendapatkan telepon dari kakak Iparnya itu.
📞Eda Leon Calling...
"Ada apa Eda? Kenapa Eda menangis?" Roma terkejut mendengar Kakak iparnya menangis.
"Lea, Lea hilang da–."
"Apa? Kok bisa?"
"Aku mau bayar mainan Leon da, jadi Lea aku turunkan dari gendonganku. Terus pas udah siap bayar mainan aku liat Lea udah ga ada. Gimana ini Da? Aku takut Itomu marah."
"Eda tenang dulu. Aku kesana sekarang. Dan jangan lupa hubungi Abang, Eda jangan takut kalau Abang marah, Eda harus kasih tau Abang."
Roma memutuskan panggilannya. Dan langsung melajukan mobilnya ke Mall tempatnya bertemu dengan Kakak iparnya itu.
Hanya butuh waktu 30 menit Roma sudah sampai di Mall dan langsung mencari keberadaan Kakak Iparnya. Ternyata Roma melihat Abangnya sudah bersama dengan Kakak Iparnya.
"Badi–."
"Maafkan aku Bang, Eda–." ucap Roma. Nafasnya masih terengah-engah karena berjalan cepat.
"Ya sudah sekarang kita ke pusat informasi saja." Abang mengajak mereka ke bagian pusat informasi.
Sesampainya disana Roma dan Abangnya langsung menemui petugas Informasi Mall itu. Sementara istrinya menjaga Leon anak pertamanya.
"Permisi mbak, Saya orangtua anak yang bernama Lea yang baru di umumkan tadi."
"Oh, sebentar Pak." Petugas wanita itu masuk ke dalam dan beberapa saat kemudian petugas itu keluar bersama seorang Pria.
"Bapak silahkan ikut dengan Bapak ini." ucap Petugas wanita itu.
"Ken–." Roma terkejut melihat Ken keluar bersama petugas wanita itu.
"Nona Roma."
"Kamu kenal dia Badi?" tanya Abang Roma.
"Iya Bang, dia Sekretarisnya Bang Tommy." jelas Roma. "Jadi kamu yang menemukan Lea?" Roma bertanya pada Ken.
"Bukan saya, tapi Tuan Tommy." ucapnya . "Mari Nona, saya antar mereka lagi di cafe disebelah sana."
Roma, Abang dan Kakak Iparnya pun mengikuti Ken ke Cafe tempat Tommy menunggunya.
Terlihat dari jauh kalau Lea sedang tidur dipangkuan Tommy. Mungkin anak itu tertidur karena sudah lelah menangis.
"Tuan–." sapa Ken saat sudah berada di dekat Tommy.
"Kau terus saja memanggilku Tuan. Mau ku pecat kau ya? Bagaimana sudah kau temukan orangtua anak ini."
Tommy belum menyadari kehadiran Roma dan Abangnya yang berdiri dibelakangnya. Ia terus membelai lembut rambut anak itu.
"Bang Tommy–."
Mendengar suara yang begitu dikenalnya Tommy memutar badannya.
"Roma, kok kamu ada disini?"
Roma dan juga Abangnya dan Kakak Iparnya langsung duduk didepan Tommy sementara Roma duduk disampingnya.
"Makasih ya Bang–."
"Untuk?" Tommy terlihat bingung karena Roma mengucapkan Terimakasih padanya.
"Makasih udah nemuin Lea."
"Kamu kenal anak ini?" Tommy sedikit terkejut karena Roma mengenal Lea yang sedang tertidur dipangkuannya.
"Dia keponakanku, Lea anak Bang Bara." Roma melihat Bara dan seketika Tommy pun sadar kalau anak kecil yang ditemukannya itu adalah anak dari saudara Roma yang paling sulit dia temui.
"Jadi gadis kecil ini anak Bara? Takdir apa ini? Disaat aku kesusahan untuk membuat janji dengannya sekarang takdir mempertemukan kami disini. Pantas saja dari tadi pandangan kesini terus."
"Horas Lae." sapa Tommy mengulurkan tangannya. "Maaf kalau aku ga ngenalin Lae."
"Ga apa-apa dan Terimakasih sudah menjaga anakku." jawabnya datar.
"Oo ini, dia ketiduran setelah makan Ice Cream mungkin kecapean karena terus menangis. Aku sama sekali va direpotkan kok." Padahal sebelumnya ia sangat kerepotan membuat Lea diam.
"Terimakasih ya, sini biar saya yang gendong." ucap Kakak ipar Roma sambil mengulurkan kedua tangannya.
"Ga usah Kak, biar saja dia tidur dulu." Tommy menolak kakak ipar Roma itu.
"Oya kenalkan ini Citra istri saya." ucap Bara mengenalkan Istrinya.
"Tommy–."
"Citra–."
"Kalian sudah makan? Kalau belum pesan saja." ucapnya pada Roma dan juga saudaranya.
"Udah Bang. Tadi aku itu udah makan sama Eda. Tapi aku pulang duluan karena ada telpon dari Rumah Sakit." jelas Roma. "Mungkin Bang Bara yang belum makan."
"Iya tadi, lagi makan siang kebetulan di Restoran yang ga jauh dari sini. Tapi belum sempat makan dapat telpon dari Edamu. Makanya bisa cepat sampai disini."
"Ya udah pesan aja Lae." Tommy memanggil waiters.
"Aku minum aja deh Bang." dijawab anggukan kepala dari Tommy.
...🍥🍥🍥...
Bara Duo Nasution adalah saudara Roma kedua, ia menikah dengan gadis Kalimantan bersuku dayak yang bernama Citrani Lawinei. Mempunyai dua anak yang pertama anak Laki-laki bernama Leon Pratama Nasution dan anak keduanya anak perempuan bernama Lea Dwi Beauty Nasution.
Tommy sudah mendapatkan informasi tersebut namun ia tidak memiliki foto keluarga itu. Karena Bara memang tidak pernah mengekspos foto-foto keluarganya bahkan foto dirinya juga tidak ada. Tidak punya akun media sosial sama sekali. Bukan karena tidak tahu menggunakannya medsos tapi memang dirinya yang kurang tertarik dengan media sosial. Istrinya Citra memiliki akun media sosial namun ia tidak pernah mengunggah foto-foto keluarganya.
Mereka sudah sampai di basement Mall tempat mobil Bara terparkir sementara mobil Tommy berada di basement lantai dasar.
"Sekali lagi Terimakasih sudah menolong putri saya." ucap Bara sambil membantu Citra untuk memangku Lea yang masih tertidur.
Bara masih terlihat dingin, sangat jelas terlihat rasa tidak sukanya pada Tommy. Sangat kelihatan saat tadi Tommy ingin membayar tagihannya di Cafe, Bara menolak dan membayarnya sendiri.
"Sama-sama Lae." jawab Tommy yang masih terdengar kaku menyebut kata Lae.
"Kalau begitu kami permisi dulu." ucapnya pada Tommy. "Badi, kau ikutlah dengan kami."
"Aku bawa mobil sendiri Bang." Roma menolak. Ia tahu kalau Abangnya itu masih tidak suka kalau ia dekat dengan Tommy.
Dari semua keluarganya hanya pada Bara ia menceritakan alasan kenapa Tommy bercerai dengan Zia. Itu sebabnya Bara masih belum menyetujui hubungannya dengan Tommy.
"Kalau begitu kau langsung pulang sekarang!" Perintahnya pada Roma.
Tommy melihat kalau Bara begitu menjaga Roma darinya. Kebenciannya pada Tommy sangat tersirat jelas dari matanya. Ada sedikit kesal dirasa Tommy karena ia tidak tahu alasan Bara membencinya.
"Iya Bang."
Setelah mendengar jawaban Roma Bara langsung melajukan mobilnya meninggalkan Tommy dan Roma. Sementara Ken sedang mengambil mobil Tommy yang terparkir dibasement lantai bawah.
"Mau kemana?" Tommy menarik tangan Roma yang akan berjalan meninggalkannya.
"Pulang–. Abang ga dengar tadi Bang Bara nyuruh aku pulang."
Tommy menarik tangannya dan memeluk Roma. "Kamu ga kangen sama Abang?"
"Bang, apaan sih lepas! Malu Bang ini tempat umum." Roma berontak minta dilepaskan dari pelukannya.
"Ya sudah, pulanglah–." Tommy melepaskan pelukannya dan berjalan meninggalkan Roma.
Tommy merasa kesal karena Roma tidak mengerti perasaannya saat itu yang membutuhkan dukungan dari Roma.
"Bang–. Bang Tommy, kok Abang marah sih." Roma mengejar Tommy dan berjalan disampingnya. Roma berusaha menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Tommy yang panjang.
"Abang ga marah. Kamu pulanglah." Tommy masih saja berjalan.
"Bang–." Roma menarik tangan Tommy, tapi karena berat badannya dengan Tommy berbeda jauh membuat Roma hampir terjatuh saat menarik tangan Tommy. Dengan sigap Tommy langsung menopang dan memeluk tubuh Roma agar tidak terjatuh.
"Kamu hati-hati dong."
"Abang tuh kenapa jalannya cepat-cepat aku susah ngikutinya."
"Loh, siapa suruh ngikutin Abang? Bukannya tadi bilangnya kamu mau pulang?"
"Tapi Abang marah aku pulang."
"Siapa yang bilang Abang marah?"
"Abang memang ga bilang kalau Abang marah. Tapi sikap Abang menunjukkan kalau Abang lagi marah."
Tommy mengerutkan keningnya. Ia tak tahan melihat Roma yang cemberut seperti ini. Namun rasa kesalnya pada Roma masih ada.
"Abang ga marah. Kamu pulanglah, nanti kamu dimarahi sama Abang mu itu."
Cup.
Roma jinjit mengecup pipi Tommy.
"Katanya tempat umum, kenapa malah cium Abang?" Tommy sengaja menggoda Roma.
"Ya udah kalau ga mau, aku ambil lagi."
Cup.
Roma kembali mencium pipi Tommy. Tommy sangat gemas mendapat perlakuan Roma yang sangat berani darinya. Tommy langsung mencium bibir Roma dengan lembut.
"Dek, kalau begini terus Abang jadi ga tahan–."
Hop Stop dulu ya. Kita lanjut besok lagi 🤗
Selamat penasaran Tommy ga tahan mau ngapain 🤭
Jangan lupa tinggalkan Jejakmu ya 😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments