Lunch

Mungkin tak banyak orang yang tahu bagaimana kesibukan dan kehidupan tim medis saat beraktivitas di rumah sakit. Tenaga medis yang bekerja di Rumah Sakit juga memiliki keahlian yang berbeda-beda. Ada dokter umum, dokter spesialis dari berbagai penyakit, fisioterapi, radiologi, laboratorium, Keperawatan, Kebidanan dan ada juga bagian farmasi dan pengarsipan. Masing-masing sudah mempunyai tugas dan tanggungjawab masing-masing sesuai dengan tupoksinya.

Namun sangat berbeda dengan dokter spesialis psikologi atau psikiater. Mereka lebih banyak menguras pikiran dari pada tenaga.

Kebanyakan penderita gangguan jiwa tidak menyadari atau mengakui adanya gangguan jiwa pada dirinya. Sehingga seorang penderita yang menyadari dan mengakui sakitnya merupakan satu langkah maju menuju kearah pemulihan.

Seperti saat ini Roma dihadapkan dengan pasien depresi berat. Sebelumnya Cinta sudah mulai tenang namun kehadiran Ayah tirinya membuat ia kembali histeris.

Cinta adalah tipe penderita yang tidak bisa berada dalam keramaian sehingga Cinta masih membutuhkan perawatan khusus.

📞My Sain💖 Calling...

"Duh gimana ini Bang Tommy telepon lagi..."

Roma bingung bagaimana harus mengangkat telpon dari Tommy sementara ia masih melakukan panggilan video dengan Rendi.

"Kenapa mukamu di tekuk begitu?" Rendi saat melihat perubahan raut wajah Roma.

Tommy yang sudah sampai di Rumah Sakit merasa kesal saat melihat panggilan telepon Roma sedang sibuk melakukan panggilan lain. Tommy adalah pemilik Rumah Sakit Citra Medistra tapi hanya direktur Rumah Sakit yang mengetahuinya.

"Cinta... ini lukanya sudah sembuh. Kakak tutup lagi ya. Nanti jangan main air dulu ya. Kalau mau minum pakai botol yang ada pipetnya aja ya." Roma memutuskan panggilan teleponnya dengan Rendi dan membalut kembali luka Cinta.

drrtt... drrtt...

📞My Sain💖 Calling...

Roma merogoh kantong Snellinya dan melihat Tommy menelponnya lagi lalu memasukkan kembali ke dalam kantongnya.

"Sabar napa Bang." Batin Roma namun ia tetap fokus membalut luka Cinta.

"Selesai." Roma tersenyum melihat Cinta yang ikut tersenyum memandangi balutan tangannya.

"Ini coklatnya!" Roma memberikan sebatang coklat pada Cinta namun ketika Cinta ingin mengambil coklat itu Roma sudah menariknya kembali "Tapi sebelum makan coklat Cinta makan obat dulu ya."

Cinta menganggukkan kepalanya pelan. Lalu Roma membantunya untuk minum obat, setelah Roma memberikan coklat pada Cinta kemudian Roma keluar dari kamar Cinta dan berjalan ke meja perawat. Roma melihat Perawat Agnes sedang berjaga disana.

"Agnes, titip Cinta ya... Saya mau keluar sebentar kalau ada apa-apa tolong langsung telpon saya. Oya gimana kabar Ayah tiri Cinta apa sudah ditemukan?" tanya Roma.

drt.. drt... drt...

Ponsel Roma kembali berdering, ia mengambil ponselnya lalu melihat nama penelpon yang meneleponnya.

📞My Sain💖 Calling...

Tommy kembali menelpon Roma, Agnes yang kepo berusaha mengintip siapa penelpon yang menelepon dokter cantik yang kini berdiri didepannya itu.

"Diangkat dulu aja dok, siapa tahu penting." Agnes menyarankan Roma untuk menjawab telepon dari Tommy karena ia melihat Roma mengabaikan benda pipih itu.

"Masih kerja!" Roma terdengar cuek dan meletakkan ponselnya diatas meja dengan posisi telungkup. "Kamu tahu berita Ayah tirinya Cinta?" tanya Roma mengalihkan perhatian Agnes.

drt...drt...drt...

📞My Sain💖 Calling...

Handphone Roma berdering lagi. Namun Agnes tidak mau menegur Roma lagi. Roma menggangkat sedikit HPnya dan melirik siapa yang menelepon dan mengabaikannya kembali.

Melihat Roma yang terus mengabaikan ponselnya akhirnya Agnes menceritakan kejadian saat Ayah tiri Cinta yang sengaja datang untuk membuat onar.

"Saya dengar dari Security Ayahnya sudah tertangkap hari itu juga dok. Saat itu Ayah Cinta pura-pura depresi saat dipenjara sehingga sipir penjara membawanya kerumah sakit ini untuk melakukan beberapa tes dan pemeriksaan. Dan ternyata itu hanya modusnya saja. Ia memang sengaja datang kemari hanya untuk mengancam Cinta dokter." Agnes menerangkan kejadian yang sebenarnya.

"Terus bagaimana dengan Ibunya? Apakah sudah ada kabar dari Ibunya Cinta?"

"Belum dok, tapi dari kabar yang saya dengar Ibunya sudah tidak peduli lagi dok. Dan saya dengar Ibunya sudah pulang kampung. Itu saya dapat dengar dari detektif yang menangani kasus Cinta dok. Kemarin mereka datang untuk melakukan investigasi atas perbuatan Ayah tirinya Cinta yang datang mengacau dok."

drt...drt...drt...

📞My Sain💖 Calling...

Roma kembali melirik ponselnya lalu mengabaikannya kembali.

"Serius amat kerjanya sampai-sampai telepon dari calon suami diabaikan terus."

Suara berat Tommy yang tiba-tiba muncul dari belakang Roma, membuat Roma terkejut begitu juga dengan Agnes yang terkejut mendengar ucapan Tommy yang mengatakan calon suami dari dokter cantik yang duduk disampingnya.

"Dokter sudah punya calon suami?" tanya Agnes setengah berbisik.

"Bukan... ini orang cuma ngaku-ngaku aja." Roma menyangkal ucapan Tommy.

Sementara Tommy hanya tersenyum melihat wajah kesal Roma yang sangat menggemaskan menurutnya.

"Masih sibuk?"

"Ga kok ini udah selesai." Roma sambil membereskan beberapa rekam medis pasiennya.

"Sejak kapan Abang datang.?" Roma sudah melangkah masuk ke ruangannya dan di ikuti Tommy.

"Sejak kamu keluar dari kamar pasienmu dan mengabaikan 3 kali panggilan telepon dariku."

Tommy melirik ingin tahu reaksi Roma.

"Mati aku, jadi Bang Tommy lihat dong semuanya."

"Sorry, aku masih harus nyiapkan status pasien ku dulu." Memasang wajah memelas memohon untuk dimaafkan.

"Sekarang udah beres?"

"Udah yuk." Roma membuka Snellinya dan mengambil tasnya.

"Ayuk kemana?" Tommy sengaja menggoda Roma.

"Katanya mau lunch bareng."

"Siapa bilang..."

"Loh, jadi Bang Tommy kesini mau ngapain?"

"Mau ketemu calon makmum aku." Tommy menoel hidung Roma dan melihat sedikit senyum diwajah Roma yang sudah merona.

"Siapa?"

"Siapa yang mau lah." jawab Tommy asal.

"Ish nyebelin."

"Jadi ga nih lunch? kalau ga jadi, biar aku lunch dikantin rumah sakit aja."

"Gitu aja ngambek, yuk...!" Tommy langsung meraih dan menggenggam tangan Roma dan menautkan jari.

"Bang... lepas ih, Malu Bang–" Roma berusaha melepaskan tangannya tapi semakin Roma berusaha semakin erat genggaman tangan Tommy.

"Kenapa? Kamu malu jalan sama Abang? Atau kamu takut di lihat sama pacarmu?" Tommy sengaja menggoda Roma dengan berbisik ditelinga Roma. Apalagi saat itu ia tidak sengaja melihat Rendi sedang memperhatikan mereka.

"Bang Tommy apaan sih." Roma memegang kepala Tommy menjauhkan dari telinganya.

...🌺🌺🌺...

Tommy membawa Roma kesebuah Restoran yang tidak jauh dari Rumah Sakit. Roma begitu menikmati perlakuan romantis dari Tommy. Meskipun dalam hatinya masih dibaluti ribuan pertanyaan tentang pria yang berhasil memporak-porandakan hatinya itu.

"Bagaimana dengan penyakit mu Bang? Apakah Abang sudah sembuh? Dalam setahun ini apa yang Abang kerjakan? Sebenarnya Roma masih marah Bang. Setahun lebih Abang ga ada kabar dan sekarang Abang tiba-tiba muncul begitu saja seolah tanpa ada yang salah. Dan kenapa Abang selalu mengklaim kalau Abang itu calon suamiku?"

"Abang tahu Abang ganteng, ga usah diliatin terus nanti kamu jatuh cinta lagi." Tommy melirik Roma yang terus memperhatikannya.

"Dari dulu Bang, Apa Abang ga ngerasain perasaanku?"

"Kamu mau pesan apa?" Tommy melihat Roma yang membolak-balikkan buku menu tapi belum juga menetapkan pesanannya.

"Makannya samain sama Abang aja. Minumnya jus Martabe ya Bang."

"Jus apaan tuh Abang baru dengar?" Tommy menautkan kedua alisnya ia merasa aneh dengan pesanan jus dari Roma.

"Masa Abang ga tau sih? Jus Martabe itu jus dari campuran buah Markisa dan Terong Belanda. Nama kerennya jus Martabe Bang dan di luar negeri jus ini juga di kenal Dutch Eggplant Passion Fruit Juice asli asal Sumatera Utara." Dengan bangga Roma memperkenalkan jus asal dari tanah kelahirannya itu.

"Apa rasanya?"

"Manis-manis asem tapi enak, ntar cobain deh Roma yakin Abang pasti ketagihan."

"Hmm..."

Berselang 15 menit pesanan mereka pun datang dan Tommy mencicipi Jus yang menjadi kebanggaan dan favorit Roma itu dan benar saja Tommy juga akhirnya ketagihan meskipun awalnya mencoba terasa aneh di lidahnya.

"Tommy... Kamu dengan siapa?" suara seseorang dari belakang mengejutkan mereka.

Maaf ya Readers keCeh 😊 kemarin ga bisa UP berhubung dunia Nyata Author sedang dilanda kepenatan sehingga dunia khayal Author jadi ter... ya you know lah ya.

Jangan lupa Absen ya biar author semangat buat ngayalnya 😁

Author juga butuh support buat ngayal 😍

Episodes
1 Prolog
2 Negosiasi
3 Bahagianya Bersamamu
4 Histeris
5 Aneh Tapi Aku Suka
6 Ciuman Pertama
7 Roma VS Uly
8 Lagi Bucin
9 Lunch
10 Cuma Nanya
11 Pariban dari Medan
12 Lamunan Panjang
13 Lamaran Mami
14 Bany VS Tommy
15 Cemburu
16 Duren
17 Mengejar Restu
18 Lea
19 Ga Tahan
20 Main Gulat
21 Salah Lagi
22 Anyep
23 Menggumam bukan Membatin
24 Pasien Baru
25 Menggores Luka Lama
26 Lepas Bang, Sakit...
27 Masalah Lain
28 PERTUNOR
29 Syarat
30 Halalkan Aku
31 Di Uji
32 Berpisah
33 Kemana Perginya
34 Bertemu Ken
35 Mual dan Muntah
36 Saksi Mengatakan "Sah"
37 Restu Bara
38 Lalai
39 Siapa Kau?
40 Ledakan Bom
41 Anak Durhaka
42 Pengakuan Tio
43 Roma Pulang Kerumah
44 Lamaran Part-1
45 Lamaran Part-2
46 Udah SAH
47 Teror
48 Surga Dunia
49 Manis-manis Pedes
50 Siapa Tahu–Tempe
51 Jangan!!!
52 Hanya Kecewa
53 Perasaan Bersalah
54 Apa yang Harus Kulakukan?
55 Maafkan Aku Harus Pergi
56 Panggillan Terakhir
57 Second Opinion
58 Mas Tommy Tolong Aku–
59 Keluar–!
60 Sultan Mah Bebas
61 Pembalut
62 Thanks For Your Love
63 Kemarahan Togar
64 Menyerah
65 Anunya–
66 Mau SGM
67 Cewek Apa Cowok?
68 Kendrick Ivander
69 Tak Segampang buat Adonan Kue
70 Olahraga Malam dan Olahraga Pagi
71 Pelengkap Keluarga
72 Kejutan
73 Shopping Limited Edition
74 Hadiah Rendi
75 Dua Garis
76 Tidak Ada Ampun
77 Cemburu Tanda Cinta
78 Gara-gara Banci
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Prolog
2
Negosiasi
3
Bahagianya Bersamamu
4
Histeris
5
Aneh Tapi Aku Suka
6
Ciuman Pertama
7
Roma VS Uly
8
Lagi Bucin
9
Lunch
10
Cuma Nanya
11
Pariban dari Medan
12
Lamunan Panjang
13
Lamaran Mami
14
Bany VS Tommy
15
Cemburu
16
Duren
17
Mengejar Restu
18
Lea
19
Ga Tahan
20
Main Gulat
21
Salah Lagi
22
Anyep
23
Menggumam bukan Membatin
24
Pasien Baru
25
Menggores Luka Lama
26
Lepas Bang, Sakit...
27
Masalah Lain
28
PERTUNOR
29
Syarat
30
Halalkan Aku
31
Di Uji
32
Berpisah
33
Kemana Perginya
34
Bertemu Ken
35
Mual dan Muntah
36
Saksi Mengatakan "Sah"
37
Restu Bara
38
Lalai
39
Siapa Kau?
40
Ledakan Bom
41
Anak Durhaka
42
Pengakuan Tio
43
Roma Pulang Kerumah
44
Lamaran Part-1
45
Lamaran Part-2
46
Udah SAH
47
Teror
48
Surga Dunia
49
Manis-manis Pedes
50
Siapa Tahu–Tempe
51
Jangan!!!
52
Hanya Kecewa
53
Perasaan Bersalah
54
Apa yang Harus Kulakukan?
55
Maafkan Aku Harus Pergi
56
Panggillan Terakhir
57
Second Opinion
58
Mas Tommy Tolong Aku–
59
Keluar–!
60
Sultan Mah Bebas
61
Pembalut
62
Thanks For Your Love
63
Kemarahan Togar
64
Menyerah
65
Anunya–
66
Mau SGM
67
Cewek Apa Cowok?
68
Kendrick Ivander
69
Tak Segampang buat Adonan Kue
70
Olahraga Malam dan Olahraga Pagi
71
Pelengkap Keluarga
72
Kejutan
73
Shopping Limited Edition
74
Hadiah Rendi
75
Dua Garis
76
Tidak Ada Ampun
77
Cemburu Tanda Cinta
78
Gara-gara Banci

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!