Ciuman Pertama

Jakarta sebagai kota metropolitan sering dijuluki sebagai kota yang tidak pernah tidur. Itu menunjukan bahwa aktivitas di Jakarta tidak terhenti meskipun malam sudah semakin larut.

Lampu yang menghiasi sejumlah gedung-gedung pencakar langit beserta jajaran lampu jalan ditambah kerlip lampu kendaraan menambah daya tarik dan memberikan suasana syahdu malam di Ibukota.

Seperti malam ini Tommy yang menjelajahi jalanan Ibukota dengan tujuan yang tak pasti. Ia tidak dapat tidur sehingga ia lebih memilih untuk mencari udara segar dimalam hari, namun mana ada udara segar dikota Jakarta. Tommy berhenti disebuah basement Apartemen.

"Kenapa aku bisa sampai disini?"

Tommy berada di Apartemen Roma, hatinya menuntunnya untuk kesana. Roma tinggal disebuah Apartemen yang tidak jauh dari Rumah Sakit tempatnya bekerja. Karena jika harus bolak-balik dari rumah orangtuanya itu akan memakan banyak waktu belum lagi dengan macetnya jalanan ibukota.

"Kenapa dia terlihat lesu sekali?"

Tommy berdiri didepan lift menunggu pintu lift terbuka. Ia melihat Roma berjalan kearahnya dengan langkah yang gontai.

"Bruukkkk..."

"Ada apa denganmu?" Batin Tommy.

"Maaf saya tidak sengaja." Roma tidak melihat ke arah Tommy ia sibuk mengambil barang-barang yang terjatuh kelantai berserak dari dalam tasnya.

"Kenapa dia, apa ada yang membuatnya sedih begini?" Tommy masih memandangi Roma yang sibuk mengutip barang-barangnya yang berserakan di lantai.

Roma melirik kaki Tommy. "Aku sudah minta maaf kenapa orang ini belum pergi juga?" Batin Roma.

"Aku sudah minta maaf." ucap Roma lalu berdiri sambil mengibaskan rambut panjangnya. "Kenapa masih...." Roma tak meneruskan ucapannya ia terkejut melihat pria yang kini berdiri tegak di depannya.

"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Tommy yang kini menatap Roma yang masih bengong.

"Bang... Bang Tommy."

Seketika mata ngantuk Roma berubah berbinar tubuhnya yang letih karena seharian bekerja kini menjadi segar melihat seseorang yang dirindukannya kini berdiri didepannya.

Masih dengan gaya cool nya ia bertanya kembali "Apa kamu baik-baik saja?"

"Apa aku terlihat baik dimatamu?" Batin Roma.

"Hmm..."

"Kenapa dia sangat cuek sekarang? Dan apa jawabannya itu hanya Hmmm." Batin Tommy.

"Bagaimana kabarmu?"

"Seperti yang Abang lihat, Aku baik-baik saja."

"Ada apa Abang kesini?" Roma tidak menjawab pertanyaan Tommy membuat Tommy semakin kesal dan frustasi tapinjuga gemas.

"Aku merindukanmu..." Batin Tommy.

Ting... Pintu lift terbuka dan Roma masuk kedalam lift di ikuti Tommy dibelakangnya.

Roma bingung melihat Tommy ikut masuk di lift yang sama dengannya.

"Apa ada yang abang kenal tinggal disini?"

Roma kembali bertanya karena Tommy hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaannya. Tommy sengaja tak menjawab pertanyaan Roma sebelumnya karena Roma juga melakukan hal yang sama.

"Aku ingin menemui seseorang yang ku rindukan." ucap Tommy tanpa melihat kearah Roma.

"Apa? Seseorang yang dirindukan? Jadi Bang Tommy udah punya pacar? Dan pacar Bang Tommy tinggal disini juga?"

Roma kesal mendengar jawaban Tommy ia menggerutu dan Tommy dapat melihat wajah kesal Roma dari pantulan dinding kotak besi itu.

"Kamu semakin lucu aja Rom..."

Ting... pintu lift terbuka Roma keluar dengan menghentakkan kakinya. Ia heran Tommy masih saja mengikutinya.

"Apa orang yang Abang rindukan itu tinggal di unit ini juga?" tanya Roma ketus.

"Hmm..." Tommy menganggukkan kepalanya.

"Issh menyebalkan sekali sih. Kenapa bisa kekasihnya tinggal di unit yang sama denganku?"

Roma masih kesal ia berhenti didepan pintu Apartemennya dan melihat Tommy melewatinya.

"Jadi disana Apartemen kekasihnya."

Roma masih berdiri didepan pintu Apartemennya melihat Tommy akan masuk ke satu unit yang bersebrangan dengan Apartemen miliknya.

Dengan lesu Roma menekan kode password Apartemennya. Begitu pintu terbuka Roma langsung masuk kedalam dan sebelum pintu tertutup kembali tanpa Roma sadari Tommy sudah berhasil masuk kedalam Apartemennya.

Ia tersenyum melihat Roma yang berjalan lesu menuju kamarnya.

"Apa kau tidak merindukanku?" Sebuah pertanyaan yang berhasil membuat Roma sadar dan membalikkan badannya melihat kearah pemilik suara berat itu.

Roma berjalan kesal kearah Tommy. "Bang Tommy ngapain Abang disini? Kok Abang bisa masuk?" Roma masih kaget dan dia tidak menghiraukan pertanyaan Tommy.

"Aku bertanya, apa kamu tidak merindukan ku?"

"A..aku..." Roma gugup tidak seperti biasanya ia gugup berhadapan dengan Tommy.

Tommy menarik tangan Roma dan membawa Roma kedalam pelukannya. Roma terkejut namun tidak menolak pelukan yang sangat ia rindukan itu.

"Tunggu dulu..." Roma melonggarkan pelukannya.

"Bukannya Bang Tommy mau ke apartemen kekasih Abang?" Roma sadar lalu melepaskan pelukannya.

"Aku merindukanmu." Tommy kembali menarik Roma kedalam pelukannya tanpa menjawab pertanyaan dari Roma.

"Apa? Dia merindukan siapa? Aku???

Roma masih bingung dengan tindakan Tommy. Ia belum sadar bahwa yang dirindukan Tommy itu adalah dirinya.

"Bang lepas iihh... Unit Apartemen kekasih Abang itu disana kenapa Abang malah masuk ke apartemen ku?"

"Kenapa setelah mendapat gelar S2 kamu tambah Oon bukannya tambah pinter?" Batin Tommy.

"Kamu belum menjawab pertanyaanku.' ucap Tommy tanpa melepaskan pelukannya.

"Pertanyaan yang mana?" Roma benar-benar jadi linglung karena bertemu dengan Tommy yang tiba-tiba.

"Apa kamu tidak merindukanku?"

"Aku rindu tapi Abang udah punya kekasih lain." guman Roma tapi masih dapat terdengar oleh Tommy.

"Makasih karena sudah merindukan ku." Tommy menarik dagu Roma dan mencium bibir Roma dengan lembut. Roma terkejut mendapatkan ciuman yang tiba-tiba dari Tommy.

"Apa Bang Tommy menciumku? Apa Bang Tommy sudah sembuh? Benarkan ini ciuman dari Bang Tommy?"

"Hei... kenapa bengong?" Tommy tersenyum melihat wajah Roma yang masih terlihat bingung.

Tommy berjalan keruang tengah kemudian duduk di sofa yang ada diruangan itu.

"Sayang, apa kamu punya makanan? Abang lapar belum makan?"

"Apa? Dia panggil aku apa barusan?"

"Bang Tommy panggil apa barusan?" Roma ingin memastikan kalau dia tidak salah dengar.

"Apa? Emang Abang panggil kamu apa?" Tommy sengaja menggoda Roma.

"Tadi Abang panggil aku sayang."

"Ooo jadi kamu mau dipanggil sayang, gitu?'

"Kok kamu makin menggemaskan gitu sih kalau lagi bingung." Batin Tommy.

"Bukan ih... Tadi aku dengar Bang Tommy yang panggil aku sayang bukan aku minta dipanggil sayang."

"Tadi Abang bilang, Dek apa kamu punya makanan? Abang laper belum makan. Kamunya aja yang salah dengar kali."

"Haha... lihat tuh mukanya semakin bingung aja. Makin gemes deh jadinya."

"Bentar aku lihat di kulkas dulu, ada ga bahan makanan yang bisa dimasak. Lagian kenapa Abang minta makan disini bukan dirumah pacar Abang?"

Roma masih saja ngomel-ngomel tak jelas didapur yang tak begitu dapat Tommy dengar dengan jelas.

"Tapi kenapa Bang Tommy menciumku tadi? Aaa... Ciuman pertamaku. Kenapa ga romantis sih? Aku juga ga menikmatinya? Ini nih akibat masih bingung sama sikap Bang Tommy. Kenapa Bang Tommy jahat ya udah punya pacar tapi masih juga cium aku. Aaaa.... Aku ga rela... Ciuman pertamaku. Hiks...Hiks..."

"Kamu masak apa?" Roma tidak sadar kalau Tommy sudah berada dibelakangnya dan memeluknya dari belakang.

"Bang Tommy apa-apa sih? Main peluk-peluk aja." Roma kaget dan langsung menghapus airmatanya.

"Hei... kamu menangis, kenapa?" Tommy melepaskan pelukannya dan membalikkan badan Roma berhadapan dengannya.

"Bawang..."

"Bawang? Kenapa bawang?" tanya Tommy bingung.

"Mataku perih, aku ngiris bawang jadi buat aku nangis." Roma berbohong dan Tommy tahu itu. Karena saat itu Roma sedang mengiris wortel bukan bawang.

"Kamu jangan bohong, kamu kenapa? Kamu tidak ngiris bawang yang kamu iris itu wortel." Roma melihat apa yang dipegangnya saat itu dan benar saja yang dipegangnya saat itu adalah wortel.

"Bang Tommy jahat."

Tommy menautkan kedua alisnya bingung karena Roma mengatakan dirinya jahat.

"Abang jahat kenapa?" suara Tommy melembut dan membuat Roma yang mendengarnya seakan terhanyut kedalamnya.

"Abang udah punya pacar tapi kenapa masih cium Roma? Itu ciuman pertamaku." Roma bersungut-sungut.

"Haha... Abang kirain apa." Tommy merasa sangat senang mendengarnya.

Ku masih menunggu Jejakmu 😘

Terpopuler

Comments

@aini*_Thalita

@aini*_Thalita

semangat Thor

2021-05-27

1

❤️⃟Wᵃfᴍ᭄ꦿⁱˢˢᴤᷭʜͧɜͤіͤιιᷠа ツ

❤️⃟Wᵃfᴍ᭄ꦿⁱˢˢᴤᷭʜͧɜͤіͤιιᷠа ツ

smngt up ya thor

2021-04-19

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Negosiasi
3 Bahagianya Bersamamu
4 Histeris
5 Aneh Tapi Aku Suka
6 Ciuman Pertama
7 Roma VS Uly
8 Lagi Bucin
9 Lunch
10 Cuma Nanya
11 Pariban dari Medan
12 Lamunan Panjang
13 Lamaran Mami
14 Bany VS Tommy
15 Cemburu
16 Duren
17 Mengejar Restu
18 Lea
19 Ga Tahan
20 Main Gulat
21 Salah Lagi
22 Anyep
23 Menggumam bukan Membatin
24 Pasien Baru
25 Menggores Luka Lama
26 Lepas Bang, Sakit...
27 Masalah Lain
28 PERTUNOR
29 Syarat
30 Halalkan Aku
31 Di Uji
32 Berpisah
33 Kemana Perginya
34 Bertemu Ken
35 Mual dan Muntah
36 Saksi Mengatakan "Sah"
37 Restu Bara
38 Lalai
39 Siapa Kau?
40 Ledakan Bom
41 Anak Durhaka
42 Pengakuan Tio
43 Roma Pulang Kerumah
44 Lamaran Part-1
45 Lamaran Part-2
46 Udah SAH
47 Teror
48 Surga Dunia
49 Manis-manis Pedes
50 Siapa Tahu–Tempe
51 Jangan!!!
52 Hanya Kecewa
53 Perasaan Bersalah
54 Apa yang Harus Kulakukan?
55 Maafkan Aku Harus Pergi
56 Panggillan Terakhir
57 Second Opinion
58 Mas Tommy Tolong Aku–
59 Keluar–!
60 Sultan Mah Bebas
61 Pembalut
62 Thanks For Your Love
63 Kemarahan Togar
64 Menyerah
65 Anunya–
66 Mau SGM
67 Cewek Apa Cowok?
68 Kendrick Ivander
69 Tak Segampang buat Adonan Kue
70 Olahraga Malam dan Olahraga Pagi
71 Pelengkap Keluarga
72 Kejutan
73 Shopping Limited Edition
74 Hadiah Rendi
75 Dua Garis
76 Tidak Ada Ampun
77 Cemburu Tanda Cinta
78 Gara-gara Banci
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Prolog
2
Negosiasi
3
Bahagianya Bersamamu
4
Histeris
5
Aneh Tapi Aku Suka
6
Ciuman Pertama
7
Roma VS Uly
8
Lagi Bucin
9
Lunch
10
Cuma Nanya
11
Pariban dari Medan
12
Lamunan Panjang
13
Lamaran Mami
14
Bany VS Tommy
15
Cemburu
16
Duren
17
Mengejar Restu
18
Lea
19
Ga Tahan
20
Main Gulat
21
Salah Lagi
22
Anyep
23
Menggumam bukan Membatin
24
Pasien Baru
25
Menggores Luka Lama
26
Lepas Bang, Sakit...
27
Masalah Lain
28
PERTUNOR
29
Syarat
30
Halalkan Aku
31
Di Uji
32
Berpisah
33
Kemana Perginya
34
Bertemu Ken
35
Mual dan Muntah
36
Saksi Mengatakan "Sah"
37
Restu Bara
38
Lalai
39
Siapa Kau?
40
Ledakan Bom
41
Anak Durhaka
42
Pengakuan Tio
43
Roma Pulang Kerumah
44
Lamaran Part-1
45
Lamaran Part-2
46
Udah SAH
47
Teror
48
Surga Dunia
49
Manis-manis Pedes
50
Siapa Tahu–Tempe
51
Jangan!!!
52
Hanya Kecewa
53
Perasaan Bersalah
54
Apa yang Harus Kulakukan?
55
Maafkan Aku Harus Pergi
56
Panggillan Terakhir
57
Second Opinion
58
Mas Tommy Tolong Aku–
59
Keluar–!
60
Sultan Mah Bebas
61
Pembalut
62
Thanks For Your Love
63
Kemarahan Togar
64
Menyerah
65
Anunya–
66
Mau SGM
67
Cewek Apa Cowok?
68
Kendrick Ivander
69
Tak Segampang buat Adonan Kue
70
Olahraga Malam dan Olahraga Pagi
71
Pelengkap Keluarga
72
Kejutan
73
Shopping Limited Edition
74
Hadiah Rendi
75
Dua Garis
76
Tidak Ada Ampun
77
Cemburu Tanda Cinta
78
Gara-gara Banci

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!