Seringkali kita melupakan atau tidak mengetahui manfaat makan bersama keluarga itu bisa berhubungan dengan kualitas hubungan antara anggota keluarga. Karena rasa kebersamaan akan timbul seiring dengan waktu, apalagi bila seseorang dapat makan bersama keluarganya mereka akan merasa lebih dihargai dan dicintai.
Makan malam bersama keluarga tak hanya sekadar makan bersama. Sayangnya, kini kebiasaan ini mulai terkikis dan sering dilewatkan karena alasan kesibukan.
Begitu juga dengan Tommy meskipun tinggal di kota yang sama dengan orangtuanya namun dia lebih memilih untuk tinggal sendiri di Apartemennya. Kalau tidak karena Indah yang memintanya untuk pulang maka dia akan sibuk dengan dunianya sendiri.
"Ayo masuk–."
"Roma malu Bang." Roma menarik tangan Tommy ketika mereka sudah berada didepan pintu.
"Kenapa harus malu? Kan pake baju." Tommy tersenyum ia sengaja membuat lelucon supaya Roma tidak terlalu tegang.
"Apaan sih Bang."
"Auw–, sakit dek." Tommy mengelus perutnya yang dicubit Roma.
"Abang sih ga tahu apa kalau aku lagi nervous."
"Ga usah takut, ada Abang lagian Mami cuma ngajakin makan bukan mau nikahin kita."
Plaak...
Sebuah pukulan mendarat dilengan kekar Tommy.
"Sakit dek–, udah ayo masuk!" Tommy menggenggam tangan Roma dan membawanya masuk.
Tommy melihat Indah sedang sibuk menyiapkan hidangan makan malam hingga tak mendengar salam dari Tommy dan Roma.
"Sibuk bener Mi, sampe ga dengar salam dari kami." Tommy mencium pipi Indah.
"Waalaikumsalam, maaf Mami lagi sibuk." Lalu indah berjalan menghampiri Roma. "Apa kabar sayang?" Indah mencium pipi Roma.
"Baik M-mi–." Roma masih canggung memanggil Indah dengan sebutan Mami.
"Ada yang Roma bisa bantu Mi?" tanya Roma yang mengikuti Indah ke dapur.
"Sudah sayang semuanya sudah beres. Ayo duduk di sana." Indah mengajak Roma duduk di meja makan.
"Papi mana Mi?" Tommy tidak melihat keberadaan Prayoga.
"Belum pulang, tapi udah dijalan katanya."
"Kalau gitu Tommy mandi dulu Mi, gerah."
"Ajak Roma sekalian–"
"Apa Mi–?" teriak Tommy dan Roma bersamaan.
"Hehe. Maksud Mami ajak Roma ke kamarmu. Biar dia nunggu dikamarmu aja. Takutnya kalau nunggu disini ntar dia bosan lagi."
"Oh, kirain nyuruh mandi bareng."
"Huuu– maunya!" ejek Indah dan Roma bersamaan.
"Maunya Mami kamu cepet nikahin Roma nak, terus kasih Mami cucu. Semoga saja kamu sudah benar-benar sembuh ya nak." Doa dan harapan Indah
"Ya udah ayok–" ajak Tommy.
"Roma tunggu disini aja ya Bang."
Roma masih menjaga marwahnya ia tidak mau dianggap gadis yang tidak tahu sopan santun. Karena Roma merasa dia belum pantas untuk berada dikamar laki-laki yang tidak memiliki hubungan dengannya.
"Kalau gitu, sambil nunggu Papi pulang kita ngobrol-ngobrol dulu aja ya." Indah mengajak Roma duduk disofa diruang keluarga. Sementara Tommy sudah naik kelantai atas.
"Nak Roma, sudah lama kenal Tommy?" Indah menatap Roma sambil menggenggam kedua tangan Roma.
"Sudah Mi–."
"Sudah berapa lama?"
"Jujur kalau hanya sekedar kenal, Roma sudah lama kenal Bang Tommy mi, sejak Bang Tommy datang ke London untuk membantu persiapan lamaran untuk Zia tapi kalau dibilang dekat Roma, ga begitu dekat dengan Bang Tommy Mi, karena dulu Bang Tommy itu orangnya tertutup mi."
"Sudah lama juga ya." Indah melepaskan tangan Roma dan mengerutkan dahinya. "Apa saat itu nak Roma sudah tahu hubungan Tommy dengan Zia?" Indah menanyakannya dengan sangat hati-hati.
"Awalnya Roma ga tahu mi, kalau Bang Tommy adalah mantan suami Zia tapi belakangan Roma dikasih tahu Zia mi."
Indah senang dengan kejujuran Roma, ia menarik nafasnya dan kembali bertanya "Tentang penyakit Tommy, apa nak Roma juga tahu?"
Roma mendengar ada getaran ketakutan saat Indah bertanya tentang penyakitnya anaknya itu. Roma pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah kalau nak Roma sudah tahu. Mami ga mau Tommy salah memilih pasangan dan akhirnya bercerai lagi. Maksud Mami bukannya Mami mengatai kalau Zia itu bukan pasangan yang baik buat Tommy tapi merekalah yang memaksakan diri untuk berjodoh sementara mereka tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Dan dulu itu memang kesalahan fatal dari Tommy. Karena dia menyembunyikan penyakitnya itu dari Mami, Zia dan juga keluarga Zia." Indah menghela nafasnya.
"Sekarang yang Mami tahu Tommy sudah sembuh, apa nak Roma mau jadi istri Tommy?"
Deg...
Roma bingung harus menjawab apa dia hanya tersenyum tak berani menjawab pertanyaan dari Indah.
"Ini kenapa Maminya yang ngebet? Anaknya aja belum ada ngomong apa-apa."
"Serius banget sih, lagi ngomongin apaan?" tanya Prayoga yang ternyata sudah pulang kerja berdiri tepat dibelakang mereka.
"Eh Papi sudah pulang." Indah menghampiri Prayoga dan mengambil tas kantor dan jas suaminya. "Kita langsung makan aja ya Pi, kasihan nak Roma udah dari tadi datang nungguin Papi lama banget pulangnya."
"Oya? Maaf ya nak Roma–."
"Ga apa-apa kok Om–."
"Loh, panggil Maminya aja Mami masa panggil Papinya Om sih?" protes Prayoga.
"Maaf P-pi–."
"Buruan dong udah laper nih–" teriak Tommy dari ruang makan.
Mereka menikmati makan malamnya bersama. Indah sangat bahagia melihat kedekatan Tommy dengan Roma. Saat ini ia benar-benar melihat cinta dimata putranya itu sangat berbeda saat Tommy bersama Zia dulu. Perlakuan mesranya kepada Zia hanyalah sandiwara sementara perlakuannya pada Roma saat ini adalah tulus dari hatinya.
...🍥🍥🍥...
"Cerita apa aja tadi sama Mami?" Saat ini Tommy sedang duduk berdua dengan Roma dihalaman belakang dekat kolam renang.
"Cerita biasa aja–" Roma mengalihkan pandangannya saat Tommy menatapnya.
"Biasa aja tapi pake acara melamar segala?"
"Maksud Abang?"
Tommy menggeser duduknya menghapus jarak diantara mereka.
"Abang dengar pembicaraan kamu sama Mami tadi." Tommy memeluk Roma.
"Pembicaraan yang mana? Bang lepasin malu ah."
Bukannya melepaskan pelukannya Tommy malah bermanja dengan meletakkan kepalanya dibahu Roma.
"Abang dengar Mami sudah melamar kamu untuk jadi istriku."
"Apa? Sebenarnya Abang dengar mulai darimana sih?"
"Dek, kok diam?" Tommy menegakkan tubuhnya memegang bahu Roma untuk menghadap padanya. "Kamu mau ga jadi istriku?"
Deg...
"Aku harus jawab apa? Jujur aku mau Bang, tapi aku takut."
"Maaf Bang, Roma ga bisa jawab sekarang. Jujur aku masih takut Bang."
"Abang ga akan maksa kamu untuk jawab pertanyaan Abang. Tapi boleh Abang tahu alasannya?"
"Aku takut, Abang ninggalin Aku seperti waktu di London dulu. Lagi pula aku juga ga tahu perasaan Abang yang sebenarnya ke Roma itu seperti apa."
"Maafkan Abang." Tommy menarik tubuh Roma kedalam pelukannya. "Dulu Abang takut kamu terluka karena kesalahan Abang. Penusuk yang terjadi terjadi padamu dulu itu bukan karena tidak sengaja tapi karena ada yang sengaja ingin melukaimu."
Roma melepaskan pelukannya. "Maksud Abang?"
Tommy kembali menceritakan kejadian dulu saat Sandy sengaja melukainya hanya karena untuk membalas dendam padanya. (Cerita lengkapnya ada di Novel She sebelumnya ya PERAWAN TAPI BUKAN GADIS)
"Tapi kenapa ga ada kabar dari Abang selama Setahun lebih ini?"
"Itu–, itu karena Abang fokus dengan pengobatan yang Abang jalani. Abang ga mau menjadikanmu objek untuk kesembuhan Abang. Tapi Abang ingin menjadikanmu motivasi Abang untuk sembuh."
"Terus apa Abang sudah benar-benar sembuh?" Sebuah pertanyaan yang sangat ingin dia ketahui jawabannya. Pertanyaan yang selama ini terpendam dihatinya.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Roma Tommy langsung mencium bibir Roma dengan lembut. Tommy menggigit pelan bibir Roma sehingga Roma membuka bibirnya. Tommy ******* habis bibir Roma hingga saliva mereka menyatu. Roma mulai kehabisan nafas lalu Tommy melepaskan ciumannya.
"Apa ini bisa membuktikan kalau Abang sudah sembuh? Apa perlu Abang melakukan lebih dari ini?"
Roma tidak menjawab ia hanya memukul dada Tommy pelan. Roma sangat malu wajahnya merah dan memanas.
"Abang ga tahu kapan tepatnya hati Abang udah dipenuhi olehmu. Selama berjauhan darimu, itu sangat menyiksa Abang." Sebuah pengakuan cinta yang begitu membuat Roma bahagia.
"Apa kamu mau menerima lamaran Mami?"
"Kok lamaran Mami sih Bang?" Roma mengerucutkan bibirnya.
"Aku maunya lamaran romantis bahkan lebih romantis dari Zia dulu saat dilamar Candra." gumam Roma pelan namun masih dapat didengar oleh Tommy.
"Oke nanti Abang minta Candra buatkan untuk kamu."
"Kok Candra yang buat sih?"
"Kan dulu lamaran Candra, Abang yang buatin jadi sekarang gantian dong lamaran Abang buat kamu biar dia yang ngerjakan."
"Aku maunya Abang yang buat." Roma merajuk memalingkan tubuhnya membelakangi Tommy.
"Iya nanti Abang yang buat. Apa sih yang enggak buat Kamu." Tommy memeluk Roma dari belakang.
"Tapi Bang– bagaimanapun usaha Abang melamarku dan seberapa sering pun Abang mengajakku menikah. Kalau Abang belum datang ke rumahku menemui langsung orangtuaku aku ga percaya kalau Abang serius memintaku jadi istri Abang."
Tommy tampak berpikir ia mengerutkan dahinya.
"Baiklah besok Abang datang ke rumahmu. Sekalian besok Abang minta Mami sama Papi untuk ikut melamar kamu."
"Jangan dulu Bang, Aku ingin Abang sendiri yang datang meminta restu sama Bapak Mamakku."
"Oke, siapa takut!"
"Sekarang bilangnya siapa takut? Awas aja kalau nanti beneran takut. Belum lagi ketemu sama B-Brother. Apa mereka akan merestuinya nanti? Apalagi kalau mereka Bang Tommy duda. Bagaimana caraku memberi tahu Bang Tommy kalau dia punya saingan dan saingannya itu Paribanku sendiri. Aaa– pusing."
Jangankan Roma, Author juga pusing mau milih Tommy atau Iban Robert? Sama² ganteng soalnya 😁😁😁
Udah Up, Jangan lupa kasih bunga 💐 dong buat Author 😂
Like dan Comentnya juga ya 🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Dea Amira 🍁
kren,lnjut thor...
2021-03-12
1