*Arjuna POV
Aku beranjak ketika selesai melakukan latihan fisik bersama prajurit baru. Tiba-tiba saja aku di panggil oleh jenderal Ardiansyah. Tumben sekali dia memanggilku.
Aku jadi sedikit gugup dan keluar dari halaman pelatihan. Aku menuju ke bagian dalam gedung yang di khususkan untuk peristirahatan para jenderal.
Ketika sampai di sana, aku segera masuk dan mengedarkan pandangan, menatap ruangan utama yang hanya berisi meja, kursi, serta dua lelaki yang berdiri saling berhadapan.
Aku menilik lekat, dan di dalam sana aku di kejutkan oleh penampakkan Raka. Kenapa dia juga berada di dalam sini??
"Hormat saya, jenderal." Ucapku sambil memberikan salam dengan membungkukkan badan. "Apa yang membawa saya datang kemari?" Aku bertanya.
"Kau pasti mengenali bawahanmu ini?"
Aku menoleh ke arah Raka yang tengah tertunduk. "Ya."
"Bukankah kalian berada di desa yang sama?"
Aku mengangguk. "Maaf, tapi apa yang telah ia perbuat hingga saya harus di panggil ke tempat ini?" Tanyaku bingung.
Jenderal Ardiansyah nampak menghela napas, sambil mengetuk-ngetuk kukunya ke atas meja. Sementara aku dan Raka hanya terdiam dengan posisi mematung di tempat.
"Para pengawal kerajaan melaporkan perbuatannya padaku. Ini belum sampai ke telinga raja, karena aku menyanggupi untuk menyelesaikannya secara mandiri."
Kedua mataku terbelalak. "Apa dia menentang pengawal kerajaan?" Terkaku.
"Hampir, dia menolong seorang perempuan yang tiba-tiba datang ketika para pengawal berniat untuk menghukum anak hina yang berani-beraninya menatap yang mulia." Perkataan jenderal Ardiansyah membuatku menggelengkan kepala.
"Apa itu benar, Raka?" Tanyaku.
"..Ya. Aku tak bermaksud untuk menentang tugas para pengawal, hanya saja.. dia berniat melukai Ayu yang tidak tahu menahu tentang hal ini. Ayu itu gadis sakit." Ucap Raka dengan wajah datar. Aku jadi bingung, apakah dia merasa menyesal atau tidak.
"Ayu?" Sang jenderal terdengar terkejut. "Apakah kalian berasal dari desa dekat pesisir pantai?" Kami berdua mengangguk. "Apakah dia gadis cantik yang pandai mengobati orang-orang sakit?"
Aku mengernyit bingung, sementara Raka segera membenarkan perkataan sang jenderal. "Ya, dialah orangnya."
Wajah jenderal sedikit terkejut. Ia terdiam cukup lama, setelah mengetahui hal tersebut. Dan di luar dugaan, jenderal mengampuni Raka dan juga tak menyuruh ku untuk memberi hukuman pada lelaki ini.
Kami di persilakan keluar ruangan. Dan selama berjalan melewati selasar gedung, aku melihat Raka terus menggenggam pergelangan tangannya.
"Ada apa?" Tanyaku. "Apa kau terluka sebelum berperang?" Lanjutku remeh, sambil menyunggingkan senyum.
Ia menoleh ke arahku. "Bukan. Ini hanya gelang." Singkatnya.
Di luar dugaan, ia malah tak tersinggung. Benar-benar berbeda dengan reaksi yang biasa ia berikan. Padahal sebelumnya, ia akan menyergah dan memukulku dengan kencang.
"Gelang?? Prajurit tak boleh memakai perhiasan." Tuturku, membuatnya membuka pergelangan tangannya dan memperlihatkannya padaku.
"Ini jauh dari perhiasan. Ini hanya akar kayu." Singkatnya.
Aku menilik ragu sekaligus bingung. "Tapi kau terlihat menyukainya. Ku pikir itu sesuatu yang bernilai."
Ia hanya terdiam dan terus-terusan memandang gelang di tangannya. "Apakah perbuatan Ayu bisa menimbulkan kekacauan bagi kasta kelas bawah dan juga desa pesisir?" Tanyanya.
Tentu bagi prajurit baru dan awam, dia pasti belum terlalu mengerti tentang hal ini. "Kalau berita ini sampai ke telinga raja, maka itu akan terjadi. Tapi, sepertinya jenderal Ardiansyah mengurungkan niat tersebut dan memaafkannya karena suatu alasan." Terangku sambil melirik ke arah Raka. Wajahnya mematut, nampak begitu gelisah.
"Kau menyukai gadis itu?" Terkaku, membuat Raka terbelalak kaget.
Ia terdiam cukup lama dengan tatapan penuh. "Aku tak tahu. Sejak hari itu, aku tak pernah merasa kalau perasaan cinta itu penting. Dan sampai sekarang pun perasaan cinta itu masih lah tidak penting. Ku rasa ini hanyalah rasa kasihan. Dia terlalu baik, dan aku benci itu."
Aku terbelalak. "Sejak kapan kau mau membahas perasaanmu pada orang lain. Terlebih lagi orang itu adalah aku!" Keluhku. Kami tak pernah seakur ini sebelumnya.
"Kau tahu, aku kehilangan kakak laki-laki ku. Dan mengenal Ayu membuatku merasa, kalau aku harus memiliki teman atau orang yang di percaya."
Aku terkesiap sambil menatap kaget ke arahnya. "Itu perkataan baik, tapi mendengarnya keluar dari mulutmu.. membuatku merasa benar-benar jijik."
Ia hanya menatap datar, seolah senyum dan segala ekspresi telah musnah dari raut wajahnya. "Aku juga."
*Arjuna POV End
.
.
.
.
Sudah hampir satu bulan aku berada di tempat ini. Aku hanya menjadi tukang obat keliling untuk membantu Bu Sari. Aku mengobati orang-orang miskin yang sakit dan hanya meminta bayaran sewajarnya pada mereka.
Entah apa yang di lakukan Raka di istana, itu terus membuatku memikirkannya. Aku benar-benar ingin masuk ke dalam sana, tapi tak tahu bagaimana caranya.
"Mikirin Raka?" Terka Agam ketika aku duduk melamun di tepi sungai. Kami biasa berbincang-bincang mengenai zaman kami di tempat ini agar tak ada yang mengetahui obrolan kami.
"Ah, ini gak ada hubungannya dengan Raka kok, Gam." Gerutuku, sementara Kun asik bermain dengan ikan dan kodok di pinggir sungai.
"Kalau lu benar-benar ingin menemui Raka, sebaiknya lu mulai mengobati orang-orang yang berada di sekitar balai kota."
Perkataan Agam lantas membuatku mengerjap cepat. "Maksudnya??"
Ia menghela napas panjang. "Gue emang ngelarang elu berhubungan dengan orang-orang di istana, tapi Raka adalah pengecualian. Jadi, kalau lu mau ketemu dia.. sah-sah aja." Sahutnya, membuatku mengernyit bingung.
"Gimana caranya gue ketemu dia?? Dia kan tinggal di dalam istana?"
Agam mengernyit. "Bukannya dia di dalam cuma untuk latihan dan tidur. Selebihnya mereka bisa keluar istana, apalagi mereka adalah prajurit. Berbeda dengan kaum bangsawan yang harus di kawal kemana-mana kalau mau pergi."
Aku kembali mengerjap cepat. "Ah!! Lu benar juga!! Jadi gue masih bisa ketemu sama dia?!"
Agam mengangguk. Namun entah kenapa, ini justru membuatku menaruh curiga kepadanya. Aku mengernyit, menatap mata teduhnya dengan sinis.
"Kenapa? Curiga??"
Aku terkesiap ketika ia mempu menebak isi hatiku hanya dengan sekali tatap.
"Ternyata emang curiga." Timpalnya lagi.
"Anu.. habis.. kalian sendiri kan yang ngelarang gue buat ikut campur sama urusan di zaman ini. Tapi kok ke Raka, kalian sama sekali gak ngelarang.. Atau jangan-jangan...." Aku terdiam sesaat.
"HAH?!" Aku mendesah tiba-tiba, membuat Agam dan Kun menoleh serentak ke arahku, dengan tatapan yang berbeda. "Raka itu.. orang dari masa depan juga?" Terkaku hingga membuat mereka berdua saling pandang, kemudian terbahak secara bersamaan.
"Kihihihi.. kihihihi... Lihatlah ikan, betapa bodohnya manusia sejenis dia. Kamu bahkan lebih cerdas darinya." Ledeknya sambil mencelupkan jarinya ke aliran air sungai.
"Makan nih ikan!!" Aku melemparkan batu ke arah Kun, hingga membuat ikan yang bermain bersamanya kabur, sementara wajah putihnya terciprat air dari lemparan yang ku lakukan.
"Aaah!! RE-SEK NIH!!" Pekiknya dengan ekspresi yang lucu sambil menyeka wajahnya.
"Kenapa lu mikir begitu?" Tanya Agam sambil menatap tajam ke arahku. "Apa karena gue gak ngelarang elu ketemu dia, dengan cepat elu menyimpulkan kalau dia adalah seseorang dari masa depan??" Aku terdiam ketika alisnya sama sekali tak bergerak.
Tolong, si tampan ini selalu menakutkan dalam mode seriusnya. Aku serasa sedang di sidang oleh polisi karena kasus pembunuhan saja. Keringat dingin sampai mengucur di pelipis ku karena berada di dekatnya.
"Gue nakutin elu? Maaf." Ia dengan cepat menyadarinya.
"Kalau bukan itu alasannya, terus apa dong?" Keluhku, benar-benar tak mengerti.
Agam terdiam selayaknya berpikir. Seolah sedang memilah kalimat mana yang akan ia keluarkan agar mudah di cerna oleh otakku yang standar ini.
"Gue tau.. gimana rasanya mencintai." Ujarnya hingga membuatku terkejut, begitu juga dengan Kun dan ikan yang ada di dekatnya.
"Hah?! Kamu jatuh cinta?? Kamu pernah jatuh cintah, Gam?? Ini hal yang bagus untuk di laporkan pada bang Riski dan Bu Dinda!!" Ujar Kun semangat.
"Bodoh!! Lu mau gue banting?! Hah?!" Bentak Agam pada Kun. Memang ya, hanya pada Kun, Agam mampu menunjukkan ekspresi berbeda. Mungkin karena mereka sudah sangat dekat satu sama lain.
Kun langsung mengerucutkan bibirnya. "Cinta itu bukan aib, kenapa saya tak boleh mengatakan hal bahagia ini pada Bu Dinda?!" Gerutunya dengan mata yang menyipit. Namun Agam hanya mengabaikannya.
"Jadi.. rasa cinta itu seperti kerinduan seseorang pada orang yang dia kagumi. Ketika membayangkannya, lu bakalan senang dan bersemangat. Ketika dia terluka, lu bakalan sedih dan marah. Dan ketika dia di hina, lu orang pertama yang akan menjaga nama baiknya."
"Gue ngerasain itu.. mencintai seseorang yang gak akan mungkin gue temui. Dan gue sadar, gue cuma mencintai bayangannya. Tapi, cuma karena itu.. gue bener-bener bersyukur kalau dia pernah ada dan hidup di dunia ini." Aku terbelalak dan terkagum-kagum.
Pandangan mata Agam penuh kekaguman dan kerinduan. Aku bisa menangkap kalau cintanya begitu tulus dan nyata. Bibirku sampai bergetar dan hatiku berdegup dengan kencang, padahal kata-kata itu bukan di tujukan untukku. Tapi...
Perasaannya benar-benar tersampaikan di dalam hatiku.
Aku menoleh ke arah Kun yang sedang menatap Agam. Dan agaknya hantu itu benar-benar terpesona dengan sosok lelaki tampan di hadapanku ini.
"Gue juga mikir, elu mencintai seseorang dari dunia dan zaman yang berbeda. Perbedaan waktunya sampai ratusan tahun, dan kalau elu kembali ke dunia kita selepas misi ini selesai.."
"Maka lu akan kehilangan orang yang lu cintai." Perkataan Agam membuatmu terbelalak. Seketika hatiku terasa bagai tertusuk duri.
Perih.. benar-benar perih hingga aku bisa merasakan sakit secara fisik.
"Pacaran emang gak gue benerin, karena dalam agama gue, itu sesuatu yang dilarang. Tapi... Kalau lu cinta, lu bisa menunjukkannya."
"Jangan sampai menyesal ketika misi ini udah selesai, dan kalian berdua akan terpisah."
"Kalau jatuh cinta, yang bisa ku lakuin cuma dua..." Aku menatap lirih ke arah Agam, bermaksud agar dia menjelaskannya.
"Pertama, memendamnya, dan yang kedua..."
"Menyampaikannya." Aku terkesiap dengan kedua mata yang terbelalak. Napasku sampai tercekat saking bergetarnya hatiku tiap mendengar ucapan yang keluar dari dalam mulutnya.
"Pilihan pertama di abaikan, karena kesempatan elu cuma satu waktu. Jadi yang harus elu lakuin.."
"...Adalah menyampaikannya." Lanjutnya, membuat kedua mataku nampak berkaca-kaca.
Kun terdiam, membiarkan angin menerbangkan rambut putihnya yang tak tertutup sorban. Mata hijaunya membulat besar, namun ia sama sekali tak mengucapkan sepatah kalimat pun.
"Kalau gue boleh nanya.." Aku mulai berkata, membuat bola mata indah Agam melirikku dengan lembut. "Siapa cewek beruntung yang udah berani ngerebut hati elu?" Tanyaku, berhati-hati. Dan sepertinya pertanyaan ku ini mewakili perasaan Kun. Tapi.. Kun kan bisa membaca isi hati orang. Atau jangan-jangan, Agam adalah pengecualian.
"Orang yang gue cintai?" Suara Agam terdengar bergemuruh, saking hebatnya ia menahan perasaannya sendiri.
"Yah, seenggaknya cinta gue gak dia tolak. Dan dia udah cinta sama gue lebih dulu." Ia menyengir ketika mengatakannya. "Dia.."
".... Rasulullah." Ucapnya dengan suara dan wajah yang benar-benar nampak bahagia.
Hatiku luluh, demi apapun aku benar-benar luluh dan jatuh cinta pada lelaki ini. Dia benar-benar sempurna hingga batinku selalu teduh tiap berada di dekatnya, tapi.. ku kira ia akan menyebutkan sebuah nama. Nama seorang perempuan. Ternyata ia benar-benar lebih mencintai Tuhan, agama, serta Rasulullah.
"Sudah saya duga!!" Kun malah terbahak mendengar jawaban Agam, dan terus terang saja, itu membuatku kesal.
"Kihihihi, kenapa Ayu? Apa kau berharap Agam akan menyebutkan nama seorang gadis?? Itu tak akan pernah terjadi. Kalau pun dia menyebutkan nama wanita, palingan nama ibunya.." Tukasnya sambil terus tertawa.
"Berisik!!" Keluh Agam.
"Agam tak akan mencintai gadis, karena dia homo!!" Perkataan Kun lantas terhenti ketika Agam beranjak dan berjalan tergopoh ke arahnya. Wajahnya tengah berada dalam mode membunuh kuntilanak sekarang. "Kiiiiik!! Saya bercanda!! Jangan pukul kepala saya!!" Kun langsung berlari kalang-kabut.
"Kun gila!! Kalau dia homo, berarti homo-annya dia elu dong!! Kan kalian berduaan terus!!" Seketika, dua orang lelaki ini langsung menatap tajam dan lekat ke arahku.
"Kyaaaa!! Gue cuma bercanda!! Jangan natap gue begitu!! Nyeremin taaau!!!" Jeritku ketakutan.
.........
*Author POV
Sementara itu di istana kerajaan, para jenderal sibuk berbondong-bondong meninggalkan tempat peristirahatan. Raka yang baru saja berbaring di tempat peristirahatan melihat pemandangan tak biasa.
Ia tak keluar, dan hanya mengintip dari jeruji jendela. Dan tiga orang yang berada satu kamar dengannya pun merasa keheranan dengan hal tersebut.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi, namun kita tak boleh mengetahuinya?" Tanya mereka.
"Bukan wewenang kita. Mungkin ini hal penting yang hanya boleh diketahui oleh para petinggi kerajaan." Ujar Raka sambil beralih dari jendela.
"Ah!! Aku lapar." Keluh salah seorang temannya.
"Kita baru saja memakan jatah makanan dari kerajaan, dan sekarang kau lapar lagi?!!"
"Kau lihat perutku!" Ujar si lelaki gembal, membuat temannya pun menatap ke arah sejurus.
"Apa? Itu tumpukkan lemak yang menggunung!! Kau tak akan memakai perutmu itu untuk berperang kan?!"
"Setidaknya di antara kalian, keluar dan belilah sesuatu untukku!!" Keluhnya lagi. Raka pun beranjak sambil menengadahkan tangannya.
"Berikan keping emasmu, aku akan membawakan sesuatu." Ujar Raka.
Selepas mendapatkan uang, Raka menemui penjaga gerbang bagian selatan. Dia tak akan diizinkan untuk keluar melalui gerbang timur, karena itu adalah gerbang utama.
Setelah menyatakan alasannya untuk keluar dari istana, penjaga gerbang pun menuntunnya ke tangga atas, di mana para prajurit menggunakannya untuk mengontrol keadaan kerajaan dari tempat yang tinggi, tepatnya di roof top pagar kerajaan.
Di atas sana, Raka bisa melihat para prajurit, khususnya adalah prajurit pemanah. Mereka sibuk mengawasi keadaan di luar dan di dalam istana.
Raka di persilakan untuk turun melewati tangga yang menempel di dinding luar. Dan agaknya, para prajurit harus bersusah payah naik turun tangga tradisional dari kayu bambu agar bisa bebas keluar masuk istana tanpa membuka gerbang yang ada.
Ketika sampai di luar istana, Raka mulai berkeliling pasar untuk mencari makanan. Ia menemukan sebuah kedai yang menjual singkong rebus, dan agaknya itu menjadi pilihannya dalam memberikan pesanan untuk temannya.
Ia berdiri di depan penjual dan menunjuk beberapa singkong. "Aku mau tiga." Ucap Raka.
"Baik, tunggu sebentar." Kata si penjual sambil mengambil wadah dari kertas tebal.
Seketika Raka tersentak, dan entah kenapa.. tubuhnya langsung berbalik diiringi dengan lirikan matanya. Ia terdiam dan mematung, ketika melihat seorang gadis telah berdiri di hadapannya dengan wajah yang bingung.
"Raka?!" Sentaknya, tak percaya.
"Ayu?!" Balas Raka.
*Author POV End
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
Ray
Pertemuan yg tak terduga🤔😘
Dan apa yg akan mereka katakan?🤔
Pasti penasaran kan? Ya harus lanjut baca dong😘🙏
2024-10-19
0
may
Jawaban raka sungguh menjengkelkan😂
2024-01-19
0
elsa
WKWKWKWKWKWKW, gtaau dehhh, capek banget ketawa terus bacaa mereka nih
2023-12-24
0