Nur menatap bingung ke arahku. Apakah responku terlalu berlebihan terhadap perasaannya?? Hanya saja.. kenapa harus hantu itu?? Kenapa tidak Agam?? Meski dia tak akan pernah bisa bersama keduanya, tapi....
"KENAPA?!" Pekikku hingga membuat Nur mendesis panik.
"Ssst!! Ssstt!!" Desisnya sambil menoleh ke dalam rumah. "Jangan berteriak!! Nanti mereka dengar!!" Keluhnya setengah berbisik.
"Tapi kenapa?? Kenapa tidak Agam?? Bukankah Agam sempurna?? Kau harus mendengar suara ngajinya!! Dia mahakarya tuhan yang begitu indah!!" Gerutuku. Entah kenapa aku seolah tak rela kalau Nur menyukai lelaki gila seperti itu.
"Apakah ada yang salah dengan Kun?" Pertanyaannya membuatku terdiam. "Tidakkah kau lihat betapa indah matanya yang berwarna hijau?? Dan lagi, meski aku tak melihat untaian rambutnya karena tertutup kain, aku bisa melihat alis dan bulu matanya yang berwarna berbeda dari pada orang pada umumnya. Dan lagi..."
Aku meringis seram ketika Nur nampak malu-malu kucing dengan wajah yang benar-benar memerah.
"Aku sungguh tergila-gila pada lelaki bersuara serak, dan lelaki bertubuh pendek." Tambahnya.
Sungguh, demi apapun aku ingin menjerit seperti orang gila. Kalau ada jurang, aku akan terjun ke dalam sana. Kalau ada sungai berisi buaya aku akan melompat ke dalamnya. Dan kalau ada ular, aku akan minta di lilit sampai semua tulangku jadi karet.
"Sejak kapan wanita suka lelaki pendek?? Kau bisa dapat yang tinggi??!" Keluhku, masih saja berusaha mengubah pola pikir Nur.
"Kau kira kenapa aku suka Raka?" Aku menggeleng tak paham. "Karena dari sekian banyak prajurit, dia yang paling pendek."
Lagi-lagi aku menganga takjub. Bahkan kalau tak punya rahang, mungkin gigi-gigi ku akan jatuh. "Tapi kan dia tak sependek Kun?? Meski tak terlalu tinggi, tapi dia itu punya standar tinggi seorang lelaki. Kalau Kun, dia itu cebol!!" Gerutuku.
"Entahlah.. aku benar-benar suka dengan sesuatu yang nampak imut." Wajah Nur lagi-lagi memerah.
"Kau tau?! Gaya bicaranya itu buruk! Tidak sopan dan.."
"Bukankah kakakku juga seperti dia?? Gaya bicaranya juga buruk, jadi aku semakin menyukainya."
"Tidaaaaaak!! Hentikan itu!! Kau membuatku merinding dan ketakutan!!" Keluhku sambil memeluk tubuhku sendiri.
"Lalu kau bagaimana? Apa kau suka Agam?? Seleraku memang agak beda, tapi aku tak bisa menampik kalau lelaki bernama Agam itu benar-benar mempesona." Kini Nur malah melemparkan pertanyaan padaku.
Aku terdiam cukup lama. "Suka sih." Singkatku, dan aku tak ingin menambah perkataan yang lain lagi. Tiba-tiba perkataan Agam terlintas di pikiranku lagi.
"Jika mencintai seseorang itu dengan alasan, itu hanyalah rasa kekaguman." Aku mengerjap. "Terus, alasan elu suka sama Raka apa?" Lanjutnya.
Tapi.. apa Agam benar?? Aku suka Raka?? Dan lagi..
Aku memandangi punggung tanganku, entah kenapa kecupan Raka masih terasa, bahkan bergetar ke sudut hatiku. Perutku rasanya begitu mulas setiap membayangkan pertemuan dengannya.
"Yu??" Sapaan Nur membuatku terkesiap. "Apa kau memikirkan sesuatu?? Kau tampak diam ketika aku menanyakan hal ini?? Apa kau malu?"
Aku menggeleng. "Ah, apinya terlalu besar. Ikan kita akan menjadi arang kalau terus begini." Dalihku sambil mengais-ngais bara api dengan kayu, berusaha mengalihkan pertanyaan dari Nur.
"Oh, iya Yu. Aku mohon agar kau menjaga rahasia ini dari Kun dan Agam. Aku tak mau kalau dia sampai mengetahui perasaanku. Aku bisa malu sekali." Pintanya dengan suara yang rendah.
Beberapa puluh menit setelahnya, kami pun membawa masakan yang telah matang. Nur nampak senang sekali dengan aroma ikan pepes ini.
Kun yang merebahkan kepalanya di atas meja dengan cepat mengangkat pandangannya ketika asap dari aroma pembakaran menusuk hidungnya yang tertutup kain.
"YEAAAY!! MAKAN!!" Pekiknya sambil mengangkat kedua tangan dengan riang, dan aku langsung menoleh ke arah Nur untuk melihat ekspresinya.
Dan benar saja, gadis ini tersipu-sipu malu melihat Kun. Jadi... Betulan Kun?? Aku masih benar-benar tak percaya.
"Aku membantu Ayu memasaknya. Katanya ini ikan pepes, ini resep dari Ayu." Ujarnya sambil meletakkan piring ke atas meja.
"Terimakasih, kalian sudah berusaha keras. Masakan kalian pasti enak." Tutur Agam dengan raut wajah tulus, sementara Kun hanya menilik ke dalam daun pisang. Menatap ikannya dengan seksama.
"Mana pempesnya?? Katanya tadi pakai pempes." Komentarnya hingga membuatku mengernyit kesal.
"Mulut lu belum pernah ke sodok sendok kayu hah?! Ini ikan pepes tahu!!" Pekikku kesal, membuat Kun terkesiap.
"Kaget tahu!! Jangan berteriak begitu!! Ludahmu itu terjun-terjun ke dalam ikan!!" Keluhnya hingga membuat uap air di kepalaku mendidih dengan sangat.
"Kau lucu sekali." Timpal Nur, berbanding terbalik dengan apa yang ku rasakan kini.
"Lu.. lucu?!" Aku mengulangi perkataannya.
"Nah, Kun.. Agam.. silakan makan." Tawar Nur sambil memberikan nasi pada mereka berdua.
Nur sedikit terkesiap ketika melihat Kun dan Agam segera mengangkat kedua telapak tangan sejajar dengan wajahnya. Ia menoleh ke arahku dengan raut bingung.
"Apa yang mereka lakukan?" Bisik Nur.
"Mereka berdoa pada Tuhannya." Sahutku.
"Tuhan?? Apakah itu seperti raja Anggara??"
Aku terdiam. Aku tak tahu bagaimana cara menjelaskannya. "Mungkin." Singkatku.
"Ngomong-ngomong, tadi itu kenapa kau bisa terpisah dari kami?" Tanya Nur, membuat Kun dan Agam menoleh ke arahku, mereka mengurungkan diri untuk menyantap makanan setelah mendengar pertanyaan Nur.
"Oh! Aku terbawa arus orang-orang berbadan besar. Dan setelah itu, aku beristirahat di dekat kedai." Sahutku.
Nur menganggukkan kepalanya sambil mencubit daging ikan dan memakannya.
"Oh iya!! Saat di kedai, aku mendengar orang-orang di sana membicarakan mengenai tanggal tujuh belas. Tanggal apa itu?? Tadi aku menanyakan perihal ini pada Bu Sari, agaknya dia berusaha untuk menghindariku." Terangku, membuat Nur mengulum makanan yang ada di mulut sebelum menelannya.
"Oh, mungkin saja Bu Sari takut kalau kau mengetahui hal itu dan mengikutinya."
Aku mengernyit, dan Agam menatap lekat ke arah kami berdua tanpa mengucapkan sepatah kalimat pun. Sementara Kun masih sibuk mencari di mana pempes ikan. "Takut? Takut kenapa?" Tanyaku penasaran.
"Tanggal tujuh belas itu sebenarnya hanyalah sayembara yang di lakukan raja Anggara tiap tahun."
"Sayembara?" Agam langsung menyambung, dan sepertinya ia tertarik dengan hal yang satu ini.
"Ya! Sama halnya dengan pemilihan prajurit di kalangan para remaja laki-laki yang di adakan setiap tahun, ada lagi sayembara yang terkenal di kerajaan ini."
"Itu adalah sayembara tujuh belas. Sayembara itu di khususkan untuk para gadis yang berumur tujuh belas tahun pada tahun itu. Kandidatnya semua gadis berumur tujuh belas tahun di setiap desa di dalam kerajaan. Jadi sayembara ini tidak memandang kasta yang ada. Siapapun bisa ikut." Terang Nur.
Aku masih belum menangkap kesimpulannya, sementara Agam agaknya telah mengerti hanya dengan perkataan seperti itu. "Jadi maksud mengikuti sayembara itu.. untuk apa?" Tanyaku bingung.
"Kambing dungu!!" Timpal Kun dengan wajah polos, membuatku merasa sebal dengan perkataannya. Ia masih bisa menghujat ku sembari menatap makanan di hadapannya. "Mana bohong lagi. Mana lagi pempesnya." Gerutunya, masih saja membahas pempes??
"Pemilihan calon istri?" Agam menyahut. Itu terdengar seperti pernyataan yang butuh pembenaran darinya.
"Ya!! Itu benar!! Kau juga tahu dengan sayembara itu?" Tanya Nur semangat.
"Tidak. Aku hanya menerka." Singkatnya.
"Pemilihan calon istri?? Tapi.. kenapa kau tidak ikut?" Tanyaku bingung.
"Aku masih lima belas tahun." Sahutnya berbisik, namun dengan suara yang nyaring hingga kami semua bisa mendengarnya.
"Hah?! Kau baru lima belas tahun?!" Tanyaku takjub.
"Ke.. kenapa?"
"Oh!! Ku kira kita seumuran." Balasku.
"Memangnya umur mu berapa?"
"Aku? Tahun ini tujuh belas." Sahutku.
"Tujuh belas? Kau bisa ikut. Kau juga cantik, kemungkinan terpilihnya sangat besar. Lebih baik kau ikut dan menjadi selir raja, ketimbang kecantikanmu ini di ketahui putri bangsawan. Bisa-bisa kau akan di penjara karena terlalu cantik." Balasnya, membuatku mengernyit bingung.
Sayembara?? Apakah aku harus mengikutinya?? Umurku juga kebetulan mencukupi. Setidaknya, aku benar-benar ingin menjadi salah satu selir raja.
"Tak boleh!!" Kun langsung menyergah begitu saja, membuat Nur nampak terkesiap begitu juga dengan aku.
"Kenapa tidak boleh? Apakah kau cemburu?" Tanya Nur polos. Dan.. ku rasa dia cemburu mendengar Kun melarangku.
"Mana mungkin saya cemburu pada kambing!! Hanya saja, saya memikirkan perasaan Bu Sari." Kini aku dan Nur hanya mengernyit.
"Apaan itu? Gak nyambung!!" Balasku sebal.
"Maksud Kun, ia kasihan dengan Bu Sari karena melihat gelagatnya ketika kau menanyakan mengenai hal itu. Bukankah dia berusaha menghindar??" Aku mengangguk, membenarkan perkataan Agam.
"Jadi, mungkin saja sikapnya itu karena ia tak ingin kau mengetahui hal tersebut dan mengikuti sayembaranya. Kau tahu, dia sudah di tinggalkan anaknya yang mengabdikan diri pada kerajaan. Dia sendirian sekarang."
"Dan dia hanya punya dirimu satu-satunya, dan kalau kau tahu tentang hal ini dan merasa tertarik. Ia akan merasa, kalau dia tak berhak untuk melarangmu, padahal sebenarnya ia tak mau kau mengikuti sayembara itu. Jadi lebih baik jika dia tak mengatakan apapun padamu." Terang Agam panjang lebar.
Kenapa aku tak peka dan tak memikirkan perasaan Bu Sari? Dan kenapa sih perkataannya itu tepat sasaran dan benar-benar masuk akal?? Aku benci orang pintar!!
"Kau benar." Dan hanya itu yang mampu ku ucapkan padanya.
"Sudah tak tau diri, tak peka lagi!!" Gerutu Kun padaku. Kenapa dia tak menggunakan bahasa halus seperti, 'kau harus memikirkan perasaan orang lain??' Bukankah itu lebih enak di dengar??
"Setahuku, ruang lingkup desa di kerajaan ini sangat besar. Apakah gadis sebanyak itu semuanya di peristrikan oleh raja?" Tanya Agam kritis.
"Wow, kau tak ada niatan ngeharem, Gam?" Timpal Kun.
Nur hanya menggeleng. "Ku rasa hanya yang cantik yang terpilih."
"Lalu, bagaimana dengan yang tidak terpilih?" Lelaki tampan berwajah lembut itu kembali bertanya.
"Mungkin mereka akan di kembalikan." Sahut Nur, namun aku menangkap raut tak puas dari wajah Agam ketika mendengar jawabannya. Apakah itu tidak sesuai dengan ekspektasinya??
"Ngomong-ngomong.. kenapa kalian berdua tidak makan?" Tanya Nur heran, sambil menatap ke arah Kun dan Agam.
"Oh, ya. Kami akan makan." Sahut Agam sambil menarik penutup mulut di wajahnya, begitu juga dengan Kun.
Nur langsung menatap wajah mereka, menantikan saat-saat yang ia tunggu. Ketika penutup wajah terbuka seluruhnya..
Kedua mata Nur terbelalak, tatkala menatap keindahan wajah dua orang insan ini. Seketika mata hitamnya menghilang, tersembunyi di pelupuk matanya dan tubuhnya ambruk seketika.
Bruugh!!
"Kyaaaa!! Nur pingsan!! Tanggung jawab kalian berdua!!" Pekikku, begitu panik.
Dua orang ini mematung sesaat sebelum membantuku mengangkat tubuh Nur. "Baru juga mau makan." Gerutu Kun, nampak begitu sebal.
Selepas menyadarkan Nur dengan percikan air bawang yang menyengat, kami pamit pulang. Aku benar-benar merasa tak enak karena membuatnya kaget begitu.
Memang wajah dua orang ini benar-benar merepotkanku. Mereka terlalu tampan.
"Ayu.." Suara Agam terdengar menyapaku.
"Ya?"
"Urungkan niat lu untuk menjadi selir raja." Ujarnya tiba-tiba, membuatku benar-benar merasa terkejut.
"Hah?! Lu juga bisa membaca suara hati seperti Kun?" Tanyaku tak percaya.
"Itu hanya kekuatan milik Kun. Gue cuma membaca gerak-gerik elu sejak tadi. Jadi, perkataan elu tadi cukup kuat sebagai bukti kalau analisis gue tepat sasaran. Elu bener-bener mau ikut sayembara itu." Ucapnya, membuatku menunduk pasrah.
"Kenapa gak boleh sih? Bu Sari kan bisa memaklumi kalau gue mau jadi bagian dari keluarga istana." Gumamku pelan.
"Makanya, saya bilang berhentilah makan rumput!! Isi otakmu seperti hasil pencernaan akhir dari makanan sapi!! Ingat siapa dirimu!! Berkali-kali kami bilang kalau kau tak boleh ceroboh, tidak boleh bertindak semaumu, dan jangan pernah mengurusi urusan orang-orang di zaman ini!!" Bentak Kun hingga membuatku meringis.
"Kun." Agam menyapa datar, membuat Kun terdiam seketika.
"Ya.. aku akan mendengarkan perkataan kalian." Balasku lemah.
"Tak percaya!!" Timpal Kun lagi, sambil menarik daun pisang setinggi dirinya, selagi berjalan.
"Ayu??" Sebuah suara lantas membungkam perdebatan kami. Kami menoleh ke arah sejurus, menampakkan seorang ibu renta yang tengah mendorong banyak sayur di dalam gerobak, dan anak yang seingatku pernah ku obati waktu itu. Dia membawa banyak kayu untuk di bakar.
"Ibu Dewi?!" Terkaku. "Dan.. anak kecil yang waktu itu?!" Lanjutku.
"Namaku Tino." Sahutnya.
"Wah!! Kebetulan sekali bertemu di sini, ibu baru saja mau memberikanmu dan Bu Sari sayuran yang panen tadi pagi." Lanjutnya semangat, sambil menyeret lenganku agar mengikutinya.
Aku menoleh ke arah Kun dan Agam. "Tapi.. teman-temanku?"
Bu Dewi pun menoleh ke arah sejurus. "Bagus jika kau punya mereka. Dua lelaki gagah bisa membawa sayuran kembali ke rumah." Ucapnya, membuat Kun dan Agam mengikuti kemana kami pergi. Bahkan Agam yang menawarkan diri untuk mendorong gerobak Bu Dewi. Sementara Kun, dia duduk di depan gerobak yang di dorong Agam.
Sampainya di rumah, kami di berikan cukup banyak sayuran dan buah pisang. Mereka juga membawa bibit pisang untuk di tanam di dekat rumah.
Agam dan Kun membantu adik kecil lucu yang pemberani ini menanam pisang. Meski masih kecil dia sudah bertanggung jawab dan mau membantu ibunya. Anak lelaki yang kuat.
"Hahaha!!" Tino tertawa ketika Agam mencoret wajah si anak dengan bekas tanah yang menghitam. Sementara Kun membuat tanduk rusa di atas sorbannya dengan ranting kayu.
"Saya akan menanduk anak nakal!! Kihihihi!!" Ucap Kun sambil berlari mengejar Tino. Ia nampak abnormal tapi begitu menikmati kebersamaan ini. Seolah di masa lalu dia tak memiliki kenangan seperti itu.
"Nah, ini semua sayurannya.. Terimakasih karena waktu itu kau telah berbuat baik dan menolong ibu." Ucap Bu Dewi, membuatku benar-benar merasa segan dan tak enak hati karena ia terlalu baik.
"Ah, harusnya aku yang berterimakasih. Ini banyak sekali." Ujarku sambil melirik ke arah Agam dan Kun.
"Hei!! Tolong bantu aku!!" Aku memekik, membuat mereka berhenti bermain-main. Kun dan Agam menghampiri kami.
Kun pun menilik ke sayuran yang hendak mereka bawa. "Wah!! Apa tak ada melati?" Pertanyaan serupa yang selalu di tanyakan oleh Kun.
"Terimakasih Bu.. anda baik sekali." Ucap Agam lembut sambil mengangkat beberapa karung sayur.
"Bu, aku suka kakak ini dan kakak ini!!" Pekik Tino sambil menunjuk ke arah Kun dan Agam.
"Wah?!" Kun terlihat senang.
"Terimakasih, nanti kakak datang lagi." Sahut Agam.
"Kakakku sedang pergi. Tapi, kalau kakakku kembali, salah satu dari kalian, menikahlah dengan kakak perempuan ku." Pinta Tino.
"Oh maaf, saya baru jadi duda. Sekarang sedang trauma." Ujar Kun polos, tampak sekali ia tak mau menikah.
"Kalau kakak yang ini?" Ia menatap penuh harap ke arah Agam.
Agam pun menatap sendu dan menundukkan tubuhnya, agar tinggi badannya nampak sejajar dengan Tino.
"Memangnya kakakmu seperti apa?" Tanya Agam.
"Dia cantik. Nanti kau harus melihatnya. Sekarang dia tak ada di rumah." Sahut Tino, membuat Agam menelengkan kepalanya sesaat.
"Dia kemana?" Tanya Agam lembut, sambil mengusal rambut Tino. Terlihat sekali kalau dia orang yang pandai menjaga perasaan orang lain dan berhati lembut, lagi baik tutur katanya.
"Kakakku waktu itu ikut sayembara tujuh belas. Dan sampai sekarang..."
"Ia tak pernah kembali lagi ke desa."
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
Ray
Nah kan jadi tanda tanya besar kemana gadis2x yg ikut sayembara 17 di kerajaan, kalau tidak terpilih apakah akan dijadikan budak atau dibunuh?🤔😱
2024-10-19
0
V.I.A
Kun2, sjk kpn lu nikah 😂😂😂
2024-08-05
0
may
Si kakak jadi selir?
2024-01-19
0