Raka langsung mendecih mendengar ucapanku. Mungkin ia berpikir kalau aku sedang bermain-main dalam ucapanku.
"Dari mana kau mendapatkan sifat percaya diri seperti itu?" Ujarnya meremeh.
"Mm.. tidak tahu juga sih. Tapi entah kenapa, aku punya keyakinan kuat kalau aku benar-benar bisa merubahmu." Tukasku mantap, dan Raka hanya menghela napas panjang untuk menimpali ucapanku.
"Lalu, bagaimana caranya?" Ia bertanya dengan nada remeh dan tidak yakin.
"Sebagaimana kamu mempercayaiku dalam menyembuhkan anak yang sedang sakit itu." Raka terkesiap mendengar ucapanku, namun dia hanya diam tanpa menimpali.
"Kau tahu, rasa percaya itu di mulai dari ketika kau tak bisa melakukan sesuatu, maka kau akan memikirkan seseorang yang mampu melakukan itu untukmu. Sederhana, namun sesungguhnya.. secara tak langsung kamu telah mempercayaiku, kalau cuma aku yang bisa menyelamatkan anak itu dan membantumu."
Ia mendengus sombong. "Aku tak berpikir apapun ketika melihat anak itu pingsan. Aku juga tak memikirkanmu ketika tak dapat menemukan jalan keluar. Aku tak mempercayai mu, dan untuk apa aku mempercayai mu sementara luka pada dirimu sendiri saja belum bisa kau sembuhkan." Ia masih bersikap naif.
"Tapi yang terlihat tidak begitu. Meski kau bersikeras menampik segalanya, yang terlihat malah sebaliknya. Dan kenapa tidak jujur saja sih, kalau sebenarnya kau memang memikirkan ku waktu melihat anak tersebut." Balasku kesal.
"Aku hanya berjalan sesuai alur, dan aku benar-benar sungguh tak memikirkan apapun." Ia tetap kekeuh dengan pendiriannya.
"Pantas saja tak pernah lolos pelatihan!Sepuluh kali pun kau ikut, maka hasilnya tetap akan sama jika sifatmu terus seperti itu!!"
"Kau hanya berusaha menempa kekuatan fisik dan skill-mu, tapi sifatmu itu masih sama. Dan ada hal yang ingin ku tanyakan padamu, dan kau harus menjawabnya dengan jujur!!"
Ia mengangkat kepalanya dan menatapku. "Apa itu?"
"Sebenarnya, apa yang membuatmu tak mempercayai seorang pun kecuali dirimu sendiri?"
Perkataanku langsung membuatnya terbungkam sesaat. Wajahnya datar dan sedikit sendu. "Aku pernah mempercayai seseorang, namun kepercayaanku itu di hancurkan. Aku pernah mengharapkan sesuatu, namun aku di abaikan begitu saja. Dan aku pernah di janjikan sesuatu, tapi sampai sekarang.. tak ada satu pun dari yang mereka ucapkan itu terbukti untukku."
"Kau tahu, ketika kau akan mati dan menghadapi maut. Yang bisa menyelamatkan dirimu hanyalah kau sendiri. Ketika kau dalam kesulitan, yang bisa melepaskan kesulitan itu hanyalah dirimu sendiri. Tak ada perjuangan dari orang lain untukmu sementara kau terus berjuang untuk orang lain!! Kau melakukan yang terbaik sementara mereka menganggap mu sebagai pilihan terakhir ketika tak ada pilihan lain lagi yang lebih bagus."
"Kau selalu ada sementara mereka menghilang ketika kau begitu membutuhkannya. Bahkan ketika kau memohon dengan penuh air mata, mereka hanya menatapmu sesaat, meminta maaf lalu berbalik, seolah tak sudi lagi untuk mengenal orang yang selama ini memapahnya ketika ia jatuh."
"Tak ada yang lebih di percaya kecuali diriku sendiri. Karena manusia yang tak akan menyakitiku, hanyalah aku sendiri." Tukasnya panjang lebar dan penuh arti dari rasa kesakitan yang sesungguhnya.
Sudut hatiku terasa nyeri. Perkataannya itu benar-benar menusuk ke relung hatiku. Sebegitu rapuhnya ia, setelah sebelumnya sempat begitu mempercayai seseorang, namun ia seolah di khianati oleh orang kepercayaannya.
Aku menghela napas panjang. "Sebenarnya, jika kau ingin bersikap baik dan mempercayai seseorang, cukup percayai mereka, tapi tidak sepenuhnya. Rasa percaya kepada orang lain itu adalah pilihanmu, namun jika kau berharap orang lain akan melakukan hal yang sama untukmu, maka apa yang kau lakukan itu tidak sepenuhnya tulus. Jika mereka tak memberikan apa yang kau mau, itu adalah hak mereka. Dan kewajiban mereka bukanlah untuk melakukan itu."
"Kadang ada alasan yang tak bisa di ungkapkan seseorang, tapi bukan berarti mereka sepenuhnya buruk di matamu. Kadang kebaikan yang sebenarnya itu, tak pernah terlihat oleh mata.."
"Dia hanya bisa di rasakan.. sesuatu yang indah itu, hanya bisa di rasakan."
Raka menatapku tak berkedip, sementara aku terbawa perasaanku sendiri atas ucapanku, hingga membuat mataku kian berkaca-kaca.
"Aku ingin bercerita padamu.. aku berasal dari tempat yang berbeda. Sangat jauh, dan mungkin kau tak akan bisa menempuhnya."
"Aku sangat mudah bergaul, bahkan aku bisa langsung dekat dengan seseorang dalam pertemuan pertama kami. Berikan saja aku waktu beberapa menit, maka mereka dengan mudahnya akan menganggap ku seorang teman."
"Tapi..." Raka kembali melirik ke arahku.
"Aku sebenarnya memiliki batas yang sangat kuat antara teman dan juga sahabat. Teman hanya datang dan pergi, tapi sahabat tak akan pernah pergi bagaimana pun kondisinya."
"Di tempatku, aku memiliki banyak teman, namun yang benar-benar ku percaya dan ku anggap sahabat, hanya berjumlah dua orang di antara puluhan orang."
"Jadi maksudku, kau harus menempatkan kepercayaan itu, hanya pada orang yang ku katakan sebagai sahabat tadi. Bukan pada orang-orang yang ku bilang teman." Terangku, memberikan pemahaman padanya.
"Mungkin kau keliru." Aku tertegun ketika Raka menyahut. Aku memang tak pandai berbicara perihal logika pada orang lain. Aku terlahir bod*h, dan kehebatan ku hanyalah memiliki perasaan yang tulus. Jadi aku tak yakin kalau perkataanku pada Raka tadi adalah benar.
"Orang yang mengkhianatiku itu.. bahkan sudah lebih dari sahabat bagiku." Dadaku tiba-tiba saja memanas mendengarnya. Ternyata benar kan. Aku masihlah si bod*h yang keras kepala.
"Kau tak mengerti, kalau di khianati oleh teman itu tak akan sesakit ini. Ini adalah pengkhianatan yang lebih dari pada itu. Karena yang melakukannya, adalah orang yang kau bilang sahabat tadi."
"Seandainya, jika dua orang yang kau bilang sahabatmu itu mengkhianati mu. Maka pemikiran mu tak akan seperti ini."
"Luka itu merubah seseorang. Dan dampaknya selalu besar. Mungkin aku akan mendengarkan ucapanmu ketika kau merasakan penderitaan yang sama denganku."
"Dan untuk sekarang, ku minta kau untuk berhenti ikut campur urusanku." Tukasnya, sambil kembali mengompres memar di tubuhnya.
Aku terdiam. "Jadi... Kau mempercayai ku, karena kau hanya menganggapku sebagai seorang tak berarti yang di sebut teman?"
Ia mengabaikanku, dan sepertinya dugaanku itu benar.
Entah kenapa, ada rasa sedih di dalam hatiku ketika menyimpulkan maksudnya. Aku tak tahu ini rasa apa, dan aku pun tak dapat mengartikannya sama sekali.
.........
Pagi harinya, aku sudah bangun dan menyirami tanaman yang ku ambil dari hutan. Aku terkesiap ketika menyadari ada seseorang yang berdiri di belakangku tanpa suara.
Aku menoleh, menatap Raka dengan tubuh kotornya, dan beberapa belahan kecil pada baju dari kulit kayunya. Ia nampak kumal, dan di tangannya tengah menggenggam sesuatu.
Aku beranjak, "Mawar?? Kau membawaku mawar??" Tanyaku takjub. Bukankah ini mawar yang ku lihat di hutan waktu itu?? Apakah Raka sengaja mengambil tumbuhan ini untukku?? Langsung dari akarnya lagi.
"Apa kau mau aku menanam ini di rumah?" Tanyaku sambil buru-buru menyambutnya.
"Ya, tanam saja." Singkatnya.
Aku tersenyum ketika ia ikut berjongkok di sampingku dan melihat bagaimana aku mengambil tanah gembur dan memasukkannya ke dalam wadah. Aku memasukkan akar mawar dan menimbunnya dengan tanah.
Sesekali aku memandangi Raka. Tangannya bergaris merah, seolah gatal karena terkenal libasan ilalang. Di beberapa jemarinya pun ada luka.
Apa dia berjuang sekeras itu untuk mengambil mawar di tengah hutan ini untukku?? Terus terang saja, aku sedikit tersipu dan malu. Ternyata meski dia cuek dan nampak tak perduli, tapi sebenarnya ia pasti perduli.
"Apa kau yang mencabuti mawar ini dari hutan?" Tanyaku memastikan.
"Tidak." Singkatnya dingin.
"Lalu dari mana kau mendapatkannya?"
"Dari ibu yang anaknya kamu tolong." Singkatnya.
Aku hanya mendengus. Apa dia hanya berdalih?? Sepertinya iya. Tangannya saja sudah luka-luka karena terkena duri mawar. Lalu pas sekali kan, kemarin aku memang menunjukkan tumbuhan mawar itu padanya, dan dia juga melihatnya sendiri.
Lagi pula, kalau ibu itu yang memberikan tumbuhan mawar ini, memangnya dia tahu kalau aku suka menanam sesuatu? Setahuku, hanya Bu Sari dan Raka yang mengetahui hal itu.
Dasar, kenapa juga dia tak mau jujur? Apa karena dia malu??
"Hari ini kau mau melakukan apa?" Tanyaku, berbasa-basi.
"Sebentar lagi aku akan membantu nelayan menangkap kepiting."
"Wah!! Jadi hari ini kita akan makan kepiting?? Apa kau sudah mencoba memakan kepiting saus tiram?? Itu enak sekali!!"
Ia nampak mengernyit. "Apa itu?"
"Ada!! Pokoknya enak!! Nanti aku buatkan!! Tapi, di mana mendapatkan tiramnya??" Gerutu ku sambil mengusap daguku dengan tangan.
"Apa di sini ada tiram?" Tanyaku lagi, namun Raka hanya menatap lekat kearahmu, bahkan ia nyaris tak berkedip. Jantungku tiba-tiba saja berdetak, karena kami saling duduk berhadapan dengan jarak yang tak terlalu jauh.
"Ke.. kenapa kau menatapku begitu?" Tanyaku malu, merasa sedikit terancam.
"Tanganmu kotor dan hitam. Lalu kau jadi mengotori wajahmu juga." Singkatnya, membuatku berteriak panik sambil mengusap daguku dengan lengan baju.
Raka hanya beranjak seolah mengabaikanku. Dia ini memang tak peka atau tak tahu bagaimana caranya untuk menjadi romantis? Seharusnya ia mengusap dan membersihkan daguku seperti yang ada di novel-novel kan?! Menyebalkan!!
"Bilang pada ibu, hari ini aku ikut nelayan." Singkatnya sebelum berlalu.
Selesai menanam dan menyirami mawar yang di berikan Raka. Aku jadi teringat dengan kondisi anak yang ku tolong waktu itu. Aku benar-benar lupa menanyakan nama mereka, aku terlalu sibuk dengan kondisi anaknya kala itu.
Apa tidak sebaiknya aku datang ke sana dan melihat keadaannya?? Lagi pula aku juga tak tahu harus melakukan apa.
Bu Sari sedang memasak sesuatu dan ia jarang sekali meminta bantuan ku. Sebaiknya aku harus menanyakannya langsung, siapa tahu dia hanya malu dan tak enak kalau meminta bantuanku.
.........
Dua puluh menit setelah itu, aku telah berada di depan rumah ibu-ibu yang bekerja membantu petani tersebut. Aku sudah membantu sedikit pekerjaan Bu Sari. Dan aku juga diizinkan untuk pergi menjenguk keluarga ini.
Rumahnya nampak sepi dan tertutup. Apakah tak ada siapa-siapa di rumah?? Kalau aku mengintip, sudah pasti aku akan di kira pencuri.
Aku mengetuk pintu dan memanggil, berharap ada seseorang yang akan membukakan pintu untukku. Namun hasilnya sia-sia. Aku jadi ketakutan, apakah terjadi sesuatu pada anak itu??
"Maaf nona, apa anda mencari Bu Dewi?" Seseorang membuatku terkesiap, dan aku segera berbalik untuk melihatnya.
"Hah? Oh!!" Aku terkejut. Apakah nama ibu kemarin itu adalah Dewi? "Ya, aku mencari orang di dalam sana, apakah tidak ada?"
"Dia dan anaknya sudah berangkat kerja tadi pagi, memangnya ada perlu apa?"
Aku mengangkat kedua alisku. "Jadi.. anak itu sudah sembuh?"
Orang tadi menganggukkan kepalanya. "Ya, dia di obati oleh wanita asing yang pintar, tapi bukan tabib." Lanjutnya, dan aku langsung terbahak mendengarnya.
"Itu kan aku!!" Ujarku riang, membuat bapak-bapak ini lantas tertawa ketika mengetahuinya.
"Wah!! Benarkah!! Senang sekali saya bisa bertemu dengan wanita pintar itu. Anak itu sembuh dengan baik, dan pulih dengan begitu cepat. Terimakasih, ku dengar kau juga tak meminta keping emas sebagai bayarannya."
Aku mengangguk. "Aku kan tabib jadi-jadian. Jadi, mana mungkin aku mau meminta imbalan semahal itu!" Ujarku berkelakar.
"Wah, kamu gadis yang menyenangkan."
"Namaku Ayu!!" Aku langsung memperkenalkan diri.
"Nama bapak Slamet." Sahutnya.
Kini perhatianku teralih pada gerobak yang tengah ia bawa. "Apa yang anda bawa?" Tanyaku penasaran.
Ia menoleh ke arah gerobaknya sekilas dan kembali menatap ke arahku. "Oh, ini.. ini adalah makanan yang akan bapak antar ke camp prajurit."
Aku terkesiap mendengarnya. "Bolehkan aku membantu??" Bapak itu awalnya kebingungan, tapi karena aku begitu bersemangat, ia jadi tak mau menolak keinginanku itu.
Sesampainya di depan camp prajurit, kami di berhentikan di depan perbatasan. Dua prajurit kembali bertugas untuk memeriksa barang bawaan kami, serta memeriksa tubuh kami juga.
Beruntungnya prajurit penjaga kali ini bukan yang ku temui beberapa waktu yang lalu. Kami pun di izinkan masuk, setelah mereka benar-benar yakin dan percaya kalau yang kami bawa benar-benar makanan untuk prajurit.
"Memang seperti itu prosedurnya. Masuk pun harus di periksa begitu. Bapak sudah terbiasa mengantarkan makanan ke sini, tapi tetap saja.. kalau datang harus tetap di periksa lagi." Terangnya ketika kami berjalan masuk. Padahal aku pun sudah mengetahui hal itu.
"Bapak memang bertugas mengantarkan makanan ke sini setiap hari?" Tanyaku.
Ia menganggukkan kepalanya. "Ya. Itu mata pencaharian bapak." Singkatnya.
Kami pun berjalan melewati beberapa posko tertutup. Ada segelintir aktivitas di sini, dan agaknya mereka tak sedang berlatih.
Ketika kami datang, kami langsung di sambut oleh para prajurit dengan riang. Mereka berbaris untuk mendapatkan jatah makanannya.
"Wah, ini anak bapak? Tak biasanya datang di temani seseorang." Ucap salah seorang dari mereka sambil melirik ke arahku.
"Dia ingin membantu." Balas pak Slamet, seolah mengakui kalau aku memang benar-benar anaknya.
Aku ikut membantu pak Slamet memberikan bungkusan makanan pada mereka, sambil memberikan semangat agar mereka bisa berlatih dengan baik.
Ketika sedang sibuk membagikan makanan, aku mendengar suara gaduh tak jauh dari tempat kami berdiri.
Salah satu pondok nampak tumbang dan roboh, membuat para prajurit berlarian kalang kabut ke pondok tersebut.
Aku dan pak Slamet nampak kebingungan sambil memandang ke arah sejurus. Beberapa orang berteriak, dan aku sampai terkaget mendengarnya.
"Tolong!! Tolong panggilkan tabib!!" Pekik mereka.
"Ada apa ini?" Tanyaku kebingungan.
"Ada yang terluka!!" Pekiknya lagi.
Dan dengan sigap aku langsung beralih ke arah mereka. Pak Slamet sempat kebingungan ketika aku tiba-tiba saja meninggalkannya.
Aku menghampiri orang-orang tersebut, dan mendapati kalau ada seseorang yang mengalami cedera pada bagian kakinya.
Lukanya cukup panjang, seperti tertimpa sesuatu. Aku langsung menghampirinya dan menanyakan keadaannya.
"Apa yang menimpamu?" Tanyaku panik. Lelaki tadi menatap heran ke arahku.
"Kayu-kayu yang roboh." Sahutnya.
Aku menatap lekat ke arah lukanya yang mengeluarkan darah. Di dalam dagingnya, ku lihat ada benda yang tertancap. Seperti paku atau sejenis besi tipis. Langsung saja aku menariknya dengan perlahan, membuat lelaki tadi meringis, sambil menampik tanganku dan menggeliat kesakitan.
"Tolong tahan tubuhnya!!" Pekikku, membuat para prajurit yang lain pun menahan tubuhnya dengan kuat.
Aku langsung menarik benda seperti paku dari dalam dagingnya. Cukup panjang dan akan terasa menyakitkan kalau di biarkan berada di dalam sana. Sang lelaki ini mengerang kesakitan, namun ia berusaha keras untuk menahan rasa sakitnya.
"Aku butuh obat!! Tapi tak ada waktu untuk membuat dan mengambilnya!!" Ujarku, berusaha menahan rasa panik dalam diriku.
"Di camp ini ada obat luka!! Tolong ambilkan untuknya!!" Pinta lelaki yang terluka ini.
"Tolong, bawakan air juga!!" Pekikku pula, membuat mereka berlari sigap untuk mengambil benda tersebut.
Beberapa saat kemudian, mereka datang dengan membawa obat yang berbentuk cair, aku pun mulai menyirami luka dan darahnya dengan air, untuk membersihkan bekas-bekas kotoran yang tertempel.
Setelahnya aku mulai mengeringkan serta membalurkan obat cair tersebut ke dalam lukanya. Ia nampak meringis, dan aku mengakhiri rasa sakitnya dengan mengikat kuat luka belah di kakinya dengan kain bersih.
"Sudah selesai!" Ujarku sambil menyeka keringat.
Mereka semua nampak melongo menatapku, begitu juga pak Slamet yang terus mematung menontonku.
"Kalian semua, kembali ke aktivitas kalian masing-masing." Pinta lelaki ini, dan beberapa prajurit yang mengelilingi kami satu persatu berlalu. Beberapanya ada yang langsung membenarkan posko yang roboh.
"Kalau begitu, kami harus kembali." Ucapku, sambil menatap pak Slamet yang masih terpaku.
"Tunggu dulu." Lelaki tadi menahanku.
"Kenapa?" Tanyaku bingung.
"Kau telah menyelamatkan ku, berapa aku harus membayar mu?" Tanyanya, sedikit angkuh.
"Membayar??" Aku mengulangi perkataannya. "Aku benar-benar tulus membantumu! Kalau aku minta bayaran, sebelum aku mengobatimu, aku akan memasang tarif terlebih dahulu!!" Balasku kesal.
"Aku tetap harus membayarmu, aku tak ingin berhutang budi dengan siapapun!!" Balasnya juga.
"Sombong sekali sih!! Kalau ku bilang tak usah ya tak usah!!" Bentakku hingga membuat pak Slamet terlihat ketakutan.
"Ayu.. tolong.. dengarkan bapak dulu.." Aku langsung menatapnya. "Orang ini jenderal, dan tolong bersikap hormatlah padanya." Lanjutnya, hingga membuatku terkesiap.
Aku langsung menoleh ke arah lelaki yang terlihat sombong di hadapanku ini. "HOH?!" Aku mendesah panik. "Je.. jenderal?? Apa kau yang jadi panglima juga di peperangan?" Tanyaku tanpa basa-basi.
"Huh!! Ternyata kau baru menyadarinya??" Ujarnya sedikit sinis.
"Hoh?!" Aku terkaget sambil menutup mulutku sendiri. Ku tatap lelaki berbadan kekar dengan wajah sangar ini. Jadi.. ini selingkuhan sang ratu? Di luar ekspektasi ku. Ku kira dia akan seganteng malaikat.
"Apa yang membuatmu tertawa?!" Bentaknya, hingga membuatku terkesiap. "Cepat katakan apa yang harus ku bayar untukmu? Sekantong keping emas?? Dua kantong keping emas?? Lima kantong keping emas?? Ayo katakan!!" Desaknya lagi padaku.
"Kau pikir aku ingin di bayar dengan semua itu?" Tanyaku, hingga membuatnya terkesiap.
"Kalau kau benar-benar ingin membayarku.. maka, aku ada satu permintaan, tapi sepertinya.. kau tak akan mampu melakukannya untukku."
Ia nampak tersinggung dan tak senang atas ucapanku. "Katakan saja!! Apa yang kau inginkan itu! Aku akan menuruti satu permintaan mu itu!!" Ujarnya yakin, membuatku tersenyum penuh arti.
"Kalau begitu, tolong loloskan temanku menjadi seorang prajurit, maka hutang budimu itu akan ku anggap impas." Perkataanku membuatnya mengernyit.
"Tolong.. yah, tolong tolong!!" Aku mengulangi perkataanku sambil merengek.
"Siapa temanmu itu?" Tanyanya.
Aku terdiam sesaat. "....Raka." jawabku.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
Ray
Apakah Jendral akan luluh hatinya dan mengabulkan permintaan Ayu untuk meminta Raka lolos jadi prajurit ?
Baca terus agar tidak penasaran😘🙏
2024-10-19
0
elsa
ahh keren yu
2023-12-24
0
Di Ajeng Lekik
ayu kok nggk dicari SM keluarga nya...
2021-10-16
1