Malam harinya, aku tidur di samping ibu Sari. Tempat tidur ini sejujurnya hanya cukup untuk satu orang saja, tapi ibu Sari sangat baik sehingga mau berbagi tempat tidur ini bersamaku.
Aku berada di sisi ujung, sedikit tidur menyamping begitu pula dengan ibu Sari. Aku tak bisa tidur malam ini. Rasanya gelisah, tak nyaman, takut dan perasaan aneh lainnya yang berkecamuk di dalam hatiku. Apakah setelah tidur, aku akan terbangun di dalam rumahku?? Apakah aku akan kembali lagi ke rumah?? Atau bagaimana??
Aku harus memulihkan diri dan kembali ke tempat asalku, dan bukan disini. Satu hari saja rasanya cukup aneh dan membuat hatiku kian terselimut kabut hitam.
Krieeet..
Dalam lamunanku, tiba-tiba pintu pondok terbuka. Aku tahu, itu pasti Raka yang baru saja kembali dari luar selepas berdebat dengan ku tadi. Aku langsung memejamkan mata dan berpura-pura tidur.
Pencahayaan di rumah ini hanya mengenakan lampu yang mirip lentera. Dalam gelapnya pejaman mataku, aku tak mendengar suara yang diciptakan oleh Raka. Sebenarnya aku penasaran dan ingin mengintip apa yang sedang ia lakukan.
Tapi aku mengurungkan niatku ketika langkah kakinya perlahan mendekat ke arahku. Jangtungku bergumuruh, apa yang ingin ia lakukan padaku??
Perlahan tubuhku terangkat ke pelukannya, ia seperti membawaku beranjak dari atas tempat tidur Bu Sari. Jantungku berdegup kencang dan aku ketakutan sekali. Mau di apakan aku??? Apa dia benar-benar mau membuangku ke dalam lembah seperti ancamannya waktu itu?
Namun ketakutanku lantas sirna ketika tubuhku terasa terbaring di atas tempat tidur. Ia melepaskan ku di sana dan beralih. Setelah itu aku mendengar suara kursi yang berderit.
Ku jeda waktunya sekitar beberapa puluh menit untuk mengintip. Ternyata ia memindahkan ku di tempat tidurnya agar tak berdesakan dengan sang ibu, sementara ia.. dia memilih tidur terduduk di atas kursi di meja makan.
Dia seperhatian itu??
Aku tersenyum sambil beranjak dari atas tempat tidurku dalam keadaan tertatih. Ku berikan selimut yang berada di ujung kaki ku untuknya. Setidaknya ia tak kedinginan meskipun harus tidur dalam posisi seperti itu.
..........
Aku terbangun setelah mendengar suara aktivitas yang di lakukan oleh Bu Sari. Ternyata hari sudah pagi, dan matahari mulai menguning. Ia terlihat memilah potongan kayu, dan menggunakannya dalam pembakaran yang ia manfaatkan untuk memasak makanan di luar pondok.
Aku beranjak perlahan, mengucek mataku sesaat dan mengumpulkan nyawa, lalu berdiri menghampirinya. Ia menatapku sambil tersenyum setelah menyadari kehadiranku.
"Ayu? Sudah bangun?" Tanyanya lembut.
Aku hanya menggarukkan kepalaku. "Ah, ibu.. apa.. ada yang bisa aku bantu?" Tanyaku. Bukan sekedar berbasa-basi, tapi aku memang ingin membantunya.
"Ibu sedang menyalakan api untuk menanak nasi. Tadi Raka sudah mencari beberapa kayu bakar untuk di gunakan. Kalau Ayu mau mandi, ibu sudah mempersiapkan alat mandinya. Danaunya yang kemarin, apa mau di temani?"
Aku segera menggeleng. "Wah! Tak usah Bu. Aku bisa sendiri. Aku juga sudah hafal jalannya." Sahutku canggung sambil bersegera mengambil sebuah tempat yang mirip ember untuk di bawa ke danau kemarin.
"Berhati-hati lah. Jika kakimu terasa nyeri, beristirahat lah terlebih dahulu." Ia mengingatkanku karena khawatir.
Selepas mandi, aku kembali dengan hidangan yang telah matang. Lauknya ikan sungai, sepertinya hasil tangkapan Raka atau membeli dari pasar??
"Kemarin sewaktu Raka keluar, dia menangkap ikan dengan tombak. Jadi kita bisa makan tanpa perlu mengeluarkan uang untuk membeli lauk di pasar." Terangnya sambil duduk di dekatku.
Aku tertunduk menatap hidangan yang masih mengepulkan asap di hadapanku. "Bu.. Sebenarnya, Raka itu orang yang seperti apa?"
Pertanyaanku lantas membuat ekspresi Bu Sari berubah. "Oh!! Jangan salah paham Bu, aku.. cuma penasaran. Karena dia itu dingin dan sepertinya merasakan luka yang tak bisa di lihat orang lain." Ucapku, berusaha memperjelas maksud.
Bu Sari hanya menghela napas panjang. "Bagaimana ya.. dia itu, terus-menerus kehilangan orang yang ia cintai.." Aku mengernyit.
"Ayahnya, kakak lelakinya, kakak perempuannya, pamannya, dan juga perempuan yang ia cintai."
Bak tersambar petir, hatiku seketika kalut dan mendung mendengarnya. "Sebanyak itu?? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Inilah salah satu alasan kenapa Raka ingin menjadi prajurit kerajaan dan melindungi yang mulia raja. Ia sudah muak dengan para perompak dan juga prajurit perang dari kerajaan lain yang berusaha merebut kekuasaan di daerah kami."
"Daerah ini terletak paling ujung dari istana kerajaan. Tempatnya tak strategis, tertinggal, terbelakang, dan tak memiliki hasil alam yang dapat di manfaatkan. Bisa di bilang, tempat ini adalah anak tiri kerajaan. Hanya saja, ia masih masuk ke batas wilayah kerajaan Aridul."
"Karena terlalu di kesampingkan pihak kerajaan, banyak sekali rakyat yang mati akibat dari peperangan kedua kubu kerajaan. Daerah kecil memang selalu menjadi tempat atau Medan peperangan kerajaan-kerajaan besar, dan dampak dari hal itu.. banyak sekali korban yang berjatuhan."
"Raka berniat untuk menjadi prajurit terhebat suatu saat nanti. Ia ingin melindungi desa ini dan juga orang-orang yang ada di dalamnya. Ia tak takut mati, bahkan sepertinya ia lebih suka mati dan menantang malaikat pencabut nyawa."
"Dia berjuang sangat keras untuk menjadi yang terkuat." Suara Bu Sari perlahan lirih. "Makanlah ikan bakar dan nasi ini selagi hangat. Nanti tidak enak lagi kalau sudah dingin." Lanjutnya sambil mulai mencomot nasi dengan tangannya.
"Bu, apakah ibu bisa menunjukkan di mana camp pelatihan Raka?"
Bu Sari terdiam, nampak bingung. "Kenapa?"
"Makanlah ini selagi hangat kan, kalau sudah dingin.. nanti tak enak lagi kalau di makan Raka." Sahutku hingga membuat Bu Sari tersenyum.
..........
Aku menggaruk-garuk kakiku yang terkena ilalang sambil berjalan terpincang-pincang. Tempat nasinya sedikit aneh, terbuat dari seng atau apalah ini. Cara membawanya dengan di bungkus kain dan diikat kuat seperti tali pocong di atasnya.
Aku berjalan sesuai dengan arahan Bu Sari, di ujung jalan aku bisa melihat banyak camp dan para pemuda yang berkumpul memenuhi lapangan yang cukup luas.
Mereka seperti sedang melaksanakan pelatihan militer. Berlari sambil menyeret benda besar yang terikat di pinggul. Melewati beberapa lumpur, tali, pelatihan pedang, berlatih kuda sambil mengayunkan senjata, memanjat kayu-kayu dan lain sebagainya.
Suaranya riuh, namun tempat tersebut di batasi oleh tali-tali yang mengelilinginya. Intinya kami tak boleh masuk dan melewati tali itu.
Aku berjalan tertatih di sisi tali, melihat beberapa orang berdiri dan menunggu di perbatasan. Mereka memegang benda yang sama seperti yang tengah aku bawa.
Kedatanganku menarik perhatian mereka, salah satunya menoleh dengan kernyitan dahi di wajahnya, menatapku dengan pandangan heran. Mungkin karena baru pertama kali melihatku. Aku yakin masing-masing dari mereka sudah saling kenal, mengingat desa yang mereka tinggali begitu kecil.
"Kalian sedang menunggu seseorang untuk memberikan sesuatu?" Tanyaku, dan agaknya mereka sedikit memberi jarak karena tak mengenaliku.
"Ya." Sahutnya.
"Aku juga." Balasku. Sok kenal dan sok dekat adalah keahlian ku.
"Kamu cantik sekali, apakah sedang menunggu kekasih??" Perkataanku lantas membuat wajah salah seorang gadis yang berdiri di sampingku lantas memerah.
"Benarkah? Sepertinya kamu lebih cantik, dan juga.. kamu berasal dari mana? Tak pernah ku lihat sebelumnya?" Tanyanya, mulai bersahabat.
"Ah, aku jarang keluar rumah." Dalihku.
Ia tersenyum sambil mulai menimpali ku. "Aku kesini menunggu kakak laki-laki ku. Dia ingin menjadi prajurit dan bercita-cita menjadi panglima kerajaan-"
"JANGAN!!" Pekikku, membuat beberapa orang menoleh ke arah kami. Aku ternganga beberapa saat sebelum berkata.. "Maaf." Singkatku malu, sampai mereka mengabaikanku.
Gadis tadi kembali menatapku ketika orang-orang tak melihat kami lagi. "Kenapa? Itu adalah cita-cita setiap pemuda yang mengabdikan diri pada raja sebagai prajurit. Itu adalah jabatan mulia."
Aku menenggak ludah. Aku selalu takut dan was-was kalau mendengar kata panglima. Karena yang ku tahu, jabatan itu suatu saat nanti akan mengkhianati raja dengan merebut ratunya. Bukan kah itu menyeramkan?
"Lalu kamu ingin menemui siapa di sini?" Ia kembali bertanya.
"Aku ingin memberi makanan pada Raka." Seketika itu juga, raut wajah gadis ini berubah. "Ah! Apa dia pacarmu?? Atau kau menyukainya? Atau bahkan, kalian saling suka??" Sergahku panik, membuatnya sedikit malu. Rona wajahnya kembali memerah.
"Aku suka dia." Tukasnya mantap.
"Heeeeh?!" Aku menyeru panik. Kalau ada Nina, mungkin dia akan memukuli kepalaku karena aku memberikan efek wajah yang jelek.
"Tidak mengherankan, hampir semua wanita di desa ini jatuh hati padanya. Aku cuma salah satunya. Lalu, apa hubunganmu dengannya?"
Aku mengernyit. "Aku di pungut! Bukan siapa-siapa, jadi tenang saja."
"Kalau suka pun tak masalah, karena dia selalu menolak siapa saja yang menyukainya." Lanjutnya.
Aku hanya terkesiap heran. "Termasuk kamu?!" Ia mengangguk. "Hei!! Dia itu memang lelaki gila! Dingin, dia juga mengusirku. Dan ini sangat parah!! Dia menolak gadis secantikmu?!"
Gadis ini kembali tersipu. "Sudahlah. Jangan panggil aku cantik. Itu membuatku malu."
"Aku cuma bicara apa adanya. Oh iya, namaku Ayu. Namamu?"
"Aku Nur." Aku mengangguk paham, hingga sebuah tarikan tangan menghentikan percakapan kami.
"Kenapa kamu di sini?!"
Aku terkesiap, ketika melihat Raka yang tiba-tiba saja datang dan menarikku menjauhi Nur. "Nur, nanti kita bicara lagi!!" Pekikku seraya berjalan terseret mengikuti Raka, ia membawaku pada sebuah pohon dengan rerumputan pendek di bawahnya. Cocok sekali untuk berkemah.
"Oh, Raka!! Aku membawamu makanan. Makanlah, ini ikan tangkapan mu kan?" Ujarku sambil menyodorkan makanan tersebut padanya.
"Jangan datang ke sini lagi!!" Ia sedikit membentak, namun aku tak akan kaget hanya dengan teriakan seperti itu.
"Memangnya kenapa?"
"Aku sudah mengatakan padamu untuk tak terlihat atau keluar dari rumah kan?"
"Kamu berisik, cepat makan saja!! Aku sudah membawanya ke sini." Ujarku, sambil membuka makanan yang ku bawa dan duduk di atas rerumputan.
Awalnya ia terdiam, namun sepertinya Raka adalah anak yang patuh dan penurut. Ia langsung duduk berhadapan denganku dan menungguku membuka kain pembungkus makanannya.
"Kita makan sama-sama, aku tadi belum sempat makan dan langsung membawa makanan ini ke sini selagi hangat."
Ia hanya terdiam, dan agaknya menatapku dengan dalam. Ku balas tatapan matanya, namun ia sama sekali tak mengalihkan pandangan atau bertingkah kaku.
"Kenapa kamu lakukan itu?" Suaranya nampak serak.
"Karena kamu harus kuat. Malam tadi kamu tak makan karena berkelahi denganku kan perihal luka. Jadi aku merasa bersalah padamu." Tuturku sambil menyodorkannya sewadah nasi dengan satu ikan bakar.
"Bodoh!" Ia mengumpat ku, namun tangannya tetap menerima makanan yang ku beri.
Kami makan bersama di bawah pohon rindang yang jaraknya cukup jauh dari camp pelatihan. Entah kenapa, dia selalu memintaku untuk menjauh dari kerumunan dan orang-orang. Ku rasa aku tak bermaksud untuk menarik perhatian dan aku yakin aku memang tak menarik.
Tapi.. kenapa dia bersikeras untuk mengurungku di rumah saja?? Apa jangan-jangan...
"Hoooh!!" Aku menyergah, membuatnya sedikit terkesiap karena kaget. Ia menatap heran ke arahku, dengan daging ikan yang masih berada di antara tangan dan mulutnya.
"Jadi menurutmu aku ini menarik? Benarkan?" Ia nampak meringis.
"Bod*hnya. Kenapa tiba-tiba kamu berpikir begitu?" Keluhnya.
"Ya jelas!! Kamu memintaku untuk tak keluar rumah, tak bertemu orang-orang, dan tak menarik perhatian.. menurutku aku tak akan melakukan semua itu, kecuali itu semua adalah pendapatmu sendiri mengenai diriku." Ia menelengkan kepalanya, nampak bingung.
"Artinya.. kau menganggapmu menarik kan?? Makanya tadi dengan cepat kamu bisa menemukanku di antara keramaian orang-orang di perbatasan camp!! Benar kan?? Dan lagi, saat di pantai.. kau juga menemukanku dengan cepat. Pasti aku menarik sekali bagimu. Haha" Aku terbahak sambil memukul lengannya.
Ia langsung tersedak mendengar ucapan ku. Wajahnya memerah, bukan karena malu tapi lebih ke kesal sepertinya.
"Aku tak pernah memukul wanita, jadi jangan buat aku melakukan itu padamu!!" Bentaknya kesal, namun aku merasa ekspresi itu cukup lucu baginya. "Kenapa kau tertawa? Kau pikir ini lucu?!" Bentaknya lagi.
"Habisnya, kamu selalu berwajah datar dan dingin. Jadi, wajah kesalmu baru pertama kali ku lihat. Aku suka melihat wajah mu yang berekspresi, kau jadi terlihat lebih manusiawi." Ia hanya mendecakkan lidahnya mendengar ucapanku.
"Berhentilah bicara konyol." Ekspresinya kembali datar dan dingin, aku langsung menghapus senyuman dari bibirku.
"Padahal baru saja melihatmu berekspresi, kenapa sekarang dingin lagi?? Kau tahu, aku ini gampang masuk angin.. jadi jangan bertingkah dingin begitu." Keluhku hingga membuat sepasang mata tajam menilik lekat ke arahku. "Hei!! Itu tatapan mata pembunuh!!" Pekikku ketakutan.
"Berhentilah begitu!! Aku tak pernah kesal pada orang asing sebelumnya." Suaranya terdengar datar. Ia kembali mengabaikanku dan memakan bekal yang ku bawa.
"Oh ya, ku dengar kau menolak gadis cantik bernama Nur."
"Para gadis memang suka berbicara hal yang tak perlu." Singkatnya, sadis.
"Bukannya dia cantik?" Sambungku.
"Lalu?"
"Harusnya kau menyukainya kan?"
"Tidak."
"Bukannya Bu Sari bilang, kamu pernah jatuh cinta?" Lagi-lagi ia tersedak atas perkataanku.
"Benar-benar! Kenapa wanita selalu berbicara sesuatu yang tak perlu?!" Keluhnya.
"Wanita itu ibumu!!" Bentakku kesal. "Benar kan? Kau pernah jatuh cinta kan?"
Ia kembali terdiam. "Tidak akan lagi." Singkatnya.
"Kenapa?"
"Cinta itu tidak ada!" Sahutnya.
"Ada kok! Cinta itu ada!!" Aku mulai mendebatinya. Aku benar-benar kesal melihat orang bod*h yang kekeuh dengan pendirian konyolnya.
"Kalau pun dia ada, dia tak pernah di ciptakan untukku." Suaranya terdengar getir.
Aku terdiam beberapa saat, memilah-milah perkataan yang akan ku ucapkan padanya. "Kau terlihat b*doh kalau putus asa."
Ia kembali menatapku dengan tajam. "Aku tak suka di cemooh!!"
"Memangnya aku perduli, aku bukan mencomooh, tapi itulah faktanya!!"
Ia menarik napas panjang. "Berhentilah memancing ku untuk berbicara konyol. Dan lagi aku tak tertarik padamu atau apapun yang kau sebutkan itu. Aku memintamu untuk tak keluar rumah hanya karena tak ingin luka di kakiku bertambah parah."
"Woh!! Perhatian itu tanda cinta loh!" Balasku cepat.
"Itu bukanlah perhatian, hanya saja.. jika kakimu cepat sembuh, kau akan cepat keluar dari rumahku. Kalau kau terus bergerak, kapan lukanya akan mengering dan sembuh!" Tuturnya. "Berhentilah salah paham begitu." Aku meringis masam mendengarnya.
"Kau lah yang berhenti bicara berhenti!! Kau pikir kau itu rambu-rambu, harus menyuruhku berhenti terus?!" Balasku kesal.
Ia mengabaikanku sambil kembali memakan makanannya. "Kalau kau bilang cinta itu tidak ada, maka aku akan membuktikannya." Ia mematung tanpa menatapku.
"Aku.. akan membuatmu jatuh cinta padaku.. sebelum kakiku sembuh!" Tukasku mantap.
Ia mulai mengangkat kepala dan menatapku. "Sampai kau mati di tanganku pun aku tak akan pernah mencintai mu." Balasnya, penuh keyakinan.
"Kalau begitu, semisal aku tak berhasil membuatmu mencintaiku setelah lukaku benar-benar sembuh dan berbekas."
"Kau boleh, membunuhku dengan kedua tanganmu.."
"Tapi kalau aku bisa.." Ia mulai menilik penuh arti kepadaku.
"Berjanjilah untuk tersenyum dan menyembuhkan lukamu itu." Kedua matanya terbelalak dan kami hanya saling tatap dalam diam.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
Ray
Wah...makin seru cerita Outhor 👍
Dan ayu belum pernah jatuh cinta.
Raka selalu mengalami patah hati dan kehilangan orang yg dicintai🤔😭
2024-10-18
0
elsa
padahal ayuu di sekolahnyaaa gak pernah jatuh cinta wkwkwk sok banget kamu ayuu
2023-12-24
0
elsa
aku cweeee, jadi keselll bacanyaaaa. Tapi ya emang benerrr sii
2023-12-24
0