Aku pulang dalam keadaan murung. Apalagi kalau bukan karena Juna yang menolak permintaanku. Ia bilang, tak semua orang bisa dengan mudahnya bertemu dengan jenderal, bahkan istri si jenderal itu sendiri.
Di perjalanan pulang, ternyata Nur masih menungguku di persimpangan jalan, tak jauh dari tanah gersang dan juga pohon besar.
"Ayu!" Ia menyapa sambil menghampiriku. "Bagaimana?? Apa yang di katakan kak Juna padamu?" Ia bertanya.
"Intinya kegagalan Raka adalah karena kesalahannya sendiri, dan keputusan mereka tak dapat di ganggu gugat." Jawabku murung, begitu pula dengan Nur.
"Kalau kegagalannya cuma karena kesalahannya sendiri, berarti..." Aku menatap Nur dengan riang. "Aku mungkin bisa membantu memperbaiki kesalahannya itu!! Benar kan?" Nur terkesiap mendengar ucapan ku.
"Kamu yakin bisa melakukan itu? Raka itu batu." Ujarnya.
"Yaa!! Benar!!" Aku semakin bersemangat. "Kalau dia adalah batu, maka aku akan menjadi palu-nya!! Akan ku pukuli batu itu sampai hancur lebur dan berubah menjadi pasir. Huahahahaa!!!!" Ucapku sambil tertawa jahat, membuat Nur menatap takut ke arahku.
.........
Sesampainya di rumah, aku menikmati makanan bersama Bu Sari. Raka kembali, dan lagi-lagi ia membawaku oleh-oleh luka dan lebam di sekitar lengan dan juga wajahnya.
"Kau keluar untuk melukai diri, setidaknya carilah uang, itu bisa sangat membantu kami!" Gerutu ku, membuatnya berjalan ke dekatku.
"Apa kau mau menyelamatkan seseorang?" Tiba-tiba ia menanyakan pertanyaan aneh.
"Siapa yang terluka?" Bu Sari langsung menyambar ucapannya.
"Anak yang ada di sana. Tadi aku melihatnya tak sadarkan diri di tengah hutan. Mereka sangat miskin dan tak bisa membayar tabib untuk mengobati anak mereka." Terangnya, namun aku hanya melongo tak mengerti.
"Kenapa kau menanyakan hal seperti itu padaku?? Aku bahkan belum lulus SMA, mana mampu aku melakukannya!!" Balasku hingga membuatnya mengernyit. "Maksudku, bahkan aku sendiri tidak yakin bisa melakukannya atau tidak!! Aku tak pernah menangani seorang pasien pun!" Lanjutku.
"Aku pasien pertamamu, dan kau membuat tubuhku merasa lebih baik setiap kali kau mengobatiku."
Aku terkesiap mendengar perkataannya. Entah kenapa itu terdengar seperti sebuah kepercayaan yang ku dapatkan dari orang yang sama sekali tak mempercayai orang lain. Luar biasa!
"Ta.. tapi.." Aku sedikit bingung.
Sebenarnya aku takut, bagaimana kalau aku salah mendeteksi penyakit dan salah memberikan obat. Kalau orang lain bisa mati karena aku, bagaimana??
"Ah! Yasudah!! Aku lihat dulu."
.......
.......
.......
Aku duduk di kursi dekat tempat tidur, di mana sang anak sedang menggeram dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh sampai rambutnya. Wajahnya memerah, dan ia terus bergerak gelisah dalam posisi tidurnya meski matanya terpejam.
Aku menempelkan punggung tanganku ke dahinya. Aku benar-benar terkejut karena suhu tubuhnya begitu panas.
Aku juga menekan beberapa area perut dan bagian dada ke bawah. Ia sedikit terperanjat dan menepis tanganku dengan kasar. Ia nampak kesakitan ketika aku melakukannya.
"Dia demam dan kelelahan." Ujarku sedikit gemetaran namun tak ada rasa ragu dalam diriku ketika mengatakannya. Aku hanya takut, karena untuk pertama kalinya aku di minta melakukan hal seperti ini.
"Cuma itu? Tapi dia sempat pingsan ketika mengambil kayu bakar." Ucap sang ibu.
"Tubuhnya tidak fit, apa dia tidak sarapan sebelum pergi??" Ibu itu mengangguk.
"Dia tak pernah sarapan."
"Hm.. itu tidak baik. Bisa jadi lambungnya pun terjadi masalah, apa dia muntah dan buang air?" Ibu itu kembali mengangguk.
"Ya."
"Sudah berapa kali?"
Ibunya melirikkan mata untuk berfikir. "Kira-kira sudah lima kali muntah, dan tiga kali buang air." Sahutnya, membuatku terkejut.
"Gawat!! Kalau begitu dia kekurangan cairan juga." Keluhku. Raka melipat kedua tangannya sambil menatapku dengan awas. "Apa di sini ada gula dan garam??"
"Ada, gulanya tak cukup banyak." Sahut sang ibu.
"Tak apa. Tolong bawakan aku gelas, air, gula serta garam." Pintaku, dan tak lama berselang, ibu-ibu itu memberikan apa yang ku minta.
Aku memasukkan setengah sendok teh garam dan delapan sendok teh gula pasir serta menambahkan air satu liter ke dalam gelas.
"Apa itu?" Tanya si ibu-ibu ini, nampak ragu.
"Ini namanya larutan oralit. Gunanya untuk mencegah dehidrasi saat diare atau pun karena terlalu banyak memuntahkan cairan dari dalam tubuh. Bantu aku meminumkan padanya." Pintaku, dan dengan sigap ibu itu membangunkan anaknya.
"Rasanya tak buruk, berikan ini tiap kali ia selesai muntah atau buang air berulang." Ujarku sambil meminumkan larutan ini pada sang anak.
"Apa di rumah ini ada bawang merah dan minyak kelapa?"
"Ya, apa kau membutuhkannya juga?"
Aku mengangguk sambil beranjak dari atas kursi. "Beritahu aku tempatnya."
Aku pun di arahkan ke dapur. Ku ambil lima buah bawang merah dan mengupas lalu ku lumatkan. Ku campuri dengan minyak kelapa secara merata, setelah siap, aku kembali ke pada anak tadi.
"Bawang merah?? Apa dia harus memakannya?" Tanya sang ibu. "Apa benar bawang merah bisa mengobati anakku?"
"Sepengatahuan ku, bawang merah mengandung atsiri, sikloaliin, metilaliin, dan floroglusin. Kandungan itu bisa membantu menurunkan panas." Jelasku sambil membalurkan ubun-ubun dan tubuh anak ini dengan ramuanku.
Sebenarnya aku adalah seseorang yang sulit sekali menelan obat dari dokter, makanya, aku sering mencari tahu sendiri obat-obatan tradisional untuk ku minum dan ku gunakan di kala sakit.
"Panasnya akan turun kalau rajin di balurkan dengan ramuan ini, membuatnya pun mudah. Apa ibu juga memiliki kayu manis??" sang ibu mengangguk.
"Sebenarnya ada banyak ramuan yang bisa di buat untuk menyembuhkan asam lambung, tapi aku akan menggunakan bahan yang mudah di dapat saja. Nanti aku akan membuatkan rebusan kayu manis untuk selanjutnya bisa ibu berikan pada anak ibu." Tuturku melanjutkan.
Ibu ini terlihat ragu, ketika aku selesai membalurkan ramuan di tubuh anaknya, dan beranjak dari atas kursi. "Berapa aku harus membayar mu?" Tanyanya. Aku langsung melirik ke arah Raka, namun lelaki ini hanya memejamkan matanya, seolah membiarkan aku untuk menentukan jawabannya.
"Berapa yang biasa di gunakan orang-orang untuk membayar tabib?" Aku malah balik bertanya.
Ibu itu menunduk, ia meremas bajunya sendiri dengan gugup. "Sekantung keping emas, berjumlah tiga puluh." Sahutnya pelan.
"Raka, satu keping emas bisa mendapatkan apa??" Bisikku, aku tak tahu menahu nominal uang mereka.
"Mana ku tahu!" Sahutnya dingin.
"Ah!! Kau dingin di tempat yang tidak tepat!! Aku sedang serius bod*h!!" Keluhku menahan geram.
"Bagi rakyat jelata, keping emas adalah sesuatu yang sulit untuk kami miliki."
Aku mengernyit. "Lalu, selama ini bagaimana cara kalian mendapatkan gula dan beras? Ku rasa kalian tak menanam benda itu."
"Kami mendapatkannya dengan melakukan barter. Kalau hasil alam yang kami cari banyak, maka bisa di tukar dengan beras dan keperluan lainnya. Kami biasa menukarkan ikan hasil pancingan dan juga kerang, kadang aku membantu mengambil kayu bakar untuk mereka dan mendapatkan upah dari sana." Terangnya sambil ikut berbisik.
"Begitu??" Sahutku sambil mengalihkan pandangan dari Raka ke ibu ini.
"Anu.. Ma.. mata pencaharian ibu apa?" Tanyaku, merasa benar-benar tak nyaman.
"Ibu membantu petani menanam padi di ladang, menyirami tanaman dan juga membantu di masa panennya." Jawabnya.
"Kalau begitu.. tidak perlu di bayar. Tidak apa-apa." Sahutku sambil tersenyum, agar ibu ini tidak merasa sungkan.
"Tapi, bukankah itu tidak baik. Kamu sudah membantu ibu, dan seharusnya ibu membayar dengan sesuatu meskipun tak mampu memberikan keping emas." Ia nampak canggung. "Oh, tunggu sebentar!!"
Ia beranjak dan berjalan ke bagian sudut rumahnya dan mengambil sesuatu yang bertumpuk dan tertutup karung usang. Ia mengambil sebuah karung sepanjang lengan tanganku.
"Ini, ambilah sekarung beras ini. Setidaknya ini lumayan berarti dari pada tak membayar sama sekali." Ia berujar sambil menyodorkan ku karung beras tersebut.
"Ta.. tapi, ibu kan cuma membantu petani.. jangan-jangan, ini beras milik-"
"Tenang saja, ini upah beras ibu ketika membantu panen. Karena pemilik petani panen besar, jadi ibu di berikan dua karung lebih banyak dari pada biasanya." Aku tersenyum kaku. "Terimalah, setidaknya ini rasa terimakasih ibu." Ucapnya lagi, membuatku merasa semakin tak nyaman.
"Terimakasih!" Singkat Raka sambil merampas karung beras itu dengan cepat.
"Hei!! Kembalikan!! Tidak sopan tahu!!" Bentakku geram. Namun ia hanya berlalu meninggalkan kami berdua dan mengabaikan ku.
"Ah, maafkan Raka Bu. Dia memang aneh."
Ibu itu hanya tersenyum. "Dia memang begitu. Katakan terimakasih karena sudah menolong anak ibu tadi. Yah, walaupun ibu harus sampai menangis dan memelas padanya." ujar sang ibu, membuatku benar-benar kesal terhadap Raka.
Apa dia itu sudah kehilangan nurani dan rasa kemanusiaannya?? Bisa-bisanya ia membiarkan ibu-ibu ini memelas dan menangis hanya karena ingin meminta pertolongan darinya. Pemuda kurang ajar!!
"Yah. Akan aku sampaikan. Aku akan datang dua hari lagi untuk melihat perkembangannya. Tolong balurkan ramuan ini ke ubun-ubun dan tubuhnya secara rutin. Lalu, aku akan merebus kayu manis untuk di minuman olehnya. Berikan ia minum itu sebanyak tiga sampai lima kali dalam sehari." Lanjutku sambil beranjak dari atas kursi.
.........
Aku dan Raka kembali pulang ke rumah setelah aku berpamitan pada ibu tadi. Sembari berjalan, aku sedikit menanyakan beberapa hal yang tak ku mengerti padanya.
"Kenapa rakyat jelata tak memiliki keping emas?" Tanyaku random, masih penasaran dengan hal tadi.
"Tentu saja, memiliki keping emas tak cukup baik juga. Si pemilik harus membayar pajak kerajaan atas kepemilikan emasnya."
Aku mengernyit. "Cukup diam saja kan? Mereka tak akan tahu kita memiliki keping emas atau tidak. Lagi pula mereka tak akan mungkin melakukan perhitungan harta dan penghasilan seperti orang pajak kan?"
Kini giliran Raka yang mengernyit. "Makanya rakyat di bagi menjadi beberapa kasta. Dan hal itu dapat di lihat dari mata pencaharian dan yang paling mencolok adalah dari baju yang kami kenakan." Terangnya, membuatku menatap ke arah baju yang tengah ku kenakan.
"Baju?? Maksudmu baju dari kulit kayu ini??"
Ia mengangguk. "Ya, kita adalah golongan kasta bawah dan terendah. Kita di bedakan dengan baju yang di kenakan. Untuk kasta rendah, maka pakaiannya adalah baju dari kulit kayu yang tidak keras. Kasta menengah, mereka akan menggunakan baju berupa kain, dan untuk kasta atas seperti orang-orang di kerajaan, mereka akan menggunakan kain sutra sebagai baju yang mereka kenakan." Jelasnya lagi.
"Oh!! Jadi begitu!! Ku kira di sini memang belum mengenal kain. Makanya saat pertama aku datang, kalian menyangka kalau aku adalah seorang putri?? Apa karena baju yang ku kenakan?" Tanyaku lagi, dan Raka hanya terdiam.
"Oh begitu ya!! Pantas aku sempat heran. Kita menggunakan baju dari kulit kayu, tapi handuk, pembungkus bekal dan juga lap tetap terbuat dari kain. Jadi baju dari kulit kayu hanyalah simbol dari diskriminasi sosial?" Ia masih lah terdiam.
Dan diamnya yang cukup lama, membuatku menjadi canggung dan risih. Di perjalanan senja ini, aku melihat beberapa bunga mawar yang tumbuh di dalam hutan. Setidaknya ini bisa ku jadikan bahan untuk kembali mengobrol dengannya.
"Wah, Raka!! Kau lihat itu!!" Pekikku girang, ia ikut terhenti dan melihat arah pandanganku.
"Apa?"
"Itu!! Di ujung sana!!" Aku menunjuk ke arah yang ku maksud.
Ia sedikit menilik dan menyipitkan matanya. "Hanya semak belukar yang ada di sana. Sebaiknya kita pulang sebelum langit bertambah gelap!" Ujarnya seraya berjalan meninggalkanku.
"Bahkan di antara semak belukar, tak bisakah kau melihat tumbuhan indah yang berusaha hidup di dalam sana?" Perkataanku membuat langkah Raka kembali terhenti.
Ia menoleh kembali, dan kali ini sepertinya ia dapat melihat apa yang sebelumnya tidak ia lihat.
"Bunga mawar?" Singkatnya.
"Nah!! Memang itu!! Bagus sekali. Aku jadi kasihan padanya. Mungkin dia kekurangan nutrisi tanah karena harus rebutan dengan rerumputan lebat dan juga pohon-pohon besar yang ada di sekitarnya." Ujarku mengiba.
"Itu hanya tumbuhan! Kenapa kau seolah memperlakukan mereka seperti manusia?" Ia terdengar kesal dan mengeluh.
"Karena bagiku, dia juga makhluk hidup." Perkataanku lantas membuatnya terpana. Matanya sedikit terbelalak dan mulutnya pun menganga beberapa saat.
"Biarkan saja dan cepat pulang!" Ujarnya, dan kali ini ia melangkah mantap. Seolah perkataanku selanjutnya tak akan mampu untuk menghentikannya.
Sesampainya di rumah, aku kembali membuat ramuan untuk Raka. Kekalahannya tentu membuatnya lelah dan tubuhnya pun mengalami banyak luka.
"Bagaimana dengan pasienmu tadi, Yu?" Tanya Bu Sari sambil menghampiriku di belakang pondok.
"Ah, untungnya hanya demam. Kalau dia memiliki penyakit yang berbahaya, mungkin aku tak akan tahu dan tak akan sanggup untuk mengobatinya."
Bu Sari hanya tertawa. "Kau bisa belajar di perpustakaan desa sebelah. Ajaklah Raka. Tapi kalian harus menggunakan hewan, soalnya jarak perpustakaan cukup jauh dan tidak bagus untuk luka di kakimu yang hampir mengering."
Aku mengangguk. Sebenarnya di zamanku, aku telah banyak membaca buku dan juga belajar tentang hal itu. Mungkin aku bisa sedikit menambah ilmu ku di perpustakaan itu.
"Ya. Nanti aku akan mengajak Raka." Sahutku.
Aku masuk ke dalam rumah dan melihat Raka yang sedang mengompreskan lukanya dengan kain. Ia membuka baju atasnya, dan aku bisa melihat otot dan lukanya dengan sempurna.
"Wah! Anak pintar! Kau benar-benar ingin sembuh dan mematuhi perkataanku, ya?" Gumamku mengomentari perbuatannya.
"Berhentilah bicara sok tahu! Kau benar-benar membuatku jengkel!" Balasnya ketus.
Aku meletakkan segelas ramuan di hadapannya. "Minum ini." Ucapku sambil ikut membantu menempelkan daun binahong di tubuhnya.
Ia menepis tanganku dengan kasar. "Urusi saja lukamu! Mau berapa lama kau berada di sini?! Bahkan lukamu belum cukup kering sementara aku sudah sembuh berkali-kali!" Balasnya.
"Aku kan cuma mau membantu!" Keluhku menggerutu. "Lagi pula, harusnya kau mempercayai orang lain kalau tak ingin gagal dalam pelatihan mu!"
Ia langsung tersentak dan menatap sadis ke arahku. "Dari mana kau mengetahui hal tersebut? Arjuna?" Suaranya terdengar berat.
"Ya. Bahkan aku sampai ingin menemui jenderal untuk membicarakan hal ini."
Ia tiba-tiba saja mencengkeram lenganku dengan kuat, membuatku meringis kesakitan.
"Berhentilah ikut campur jika kau tidak mengetahui apapun!"
"Aw!! Aku tahu, benar-benar tahu!!" Balasku sambil menampik tangannya. "Kau adalah manusia egois yang tak dapat berkerja sama dengan tim. Kau kuat tapi kuat saja tidak di butuhkan di Medan pertempuran!!"
"Kau sudah mengikuti pelatihan sebanyak lima kali dan kau selalu gagal di hasil akhir! Aku tahu!! Tahu semuanya!!" Balasku garang, membuatnya terbungkam sembari menenggak liur.
"Da.. dari mana kau tahu semua itu? Arjuna juga mengatakannya padamu?" Ia nampak takjub. Aku hanya tersenyum sombong ke arahnya. Dia tak tahu kalau aku ini Mak rempong dan kepo, huahaha!!
"Itu tak penting, yang terpenting adalah.. bagaimana cara agar kau bisa mencapai impianmu, menjadi seorang prajurit dan mempercayai orang lain." Ia tertegun.
"Tenang saja! Jangan seperti anak ayam yang kehilangan induknya begitu!! Aku akan membantumu, melewati semua ini."
"Aku akan selalu berada di sisimu apapun yang terjadi." Lanjutku sambil tersenyum. "Aku janji."
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
R-Mr.Ne
dari sini bisa di simpulkan, dari awal Raka sudah ada rasa dengan Ayu, seorang batu mana mungkin bersikap demikian kalau bukan karena punya perasaan
2024-11-29
0
Ray
Ternyata gagalnya Raka karena egois, tidak bisa bekerja sama dengan tim, hanya kekuatan saja yg ditonjolkan oleh Raka🤔🙏
2024-10-19
0
Eny Agustina
Balik baca dari awal lagi kak...
Tahun kemarin baca tp tanpa akun.. Jadi gak bisa kasih komen n fav....
2022-04-27
1