Selepas mengatakan hal tersebut pada Raka, aku langsung pulang karena ia mengabaikanku dan tak berbicara sepatah katapun lagi setelah itu.
Dia memang lelaki yang membingungkan, hanya saja.. aku sedikit sedih jika melihatnya. Apa aku terlalu jauh ikut campur? Lagi pula aku juga tidak berasal dari zaman ini, kami berbeda zaman.
Kalau aku bertingkah, apakah sejarah yang sangat suka ku baca itu akan berubah juga?? Bisa jadi aku bisa merubah sejarah dan masa depan, kalau seandainya aku berhasil menghentikan perselingkuhan ratu dan panglima.
Lagi pula aku harus kembali ke pantai. Aku datang dari sana, seharusnya aku pun bisa kembali lagi ke sana. Aku punya kehidupan nyata dan aku harus kembali sebenarnya.
Tapi, aku sudah terlanjur berkata begitu pada Raka. Kalau tak berhasil membuatnya mencintaiku sampai kakiku sembuh, bagaimana kalau dia benar-benar membunuhku?!
"Aaaak!! Enggak!! Gue harus pakai cara curang!! Kalau seandainya hatinya emang sekeras batu dan dia gak bisa jatuh cinta sampai kaki gue sembuh, gue bisa langsung kabur sebelum mati di tangannya!!"
"Oke!! Gue harus kembali ke pantai dan nyari di mana letak ruang waktu itu!! Harus!!"
.........
Sesampainya di pantai, aku yang sedang bersembunyi di balik pohon kelapa sedikit mengintip sekeliling, memastikan apakah akan terjadi hujan panah susulan seperti waktu itu.
Sepertinya aman. Pantai nampak sepi. Apa orang zaman dulu tak suka bermain di pantai?? Tapi di ujung laut, aku bisa melihat aktivitas dari kapal-kapal. Sepertinya itu adalah para nelayan yang sedang mengambil ikan dengan jaring.
Di pasir-pasir pantai di penuhi sisa tumpukkan panah yang menancap di atasnya. Bahkan bekas peperangan pun di abaikan dan tak di bersihkan sama sekali. Apakah orang zaman dulu tidak punya kerjaan lain selain berperang??
Aku mulai berjalan menginjakkan kakiku ke pasir pantai. Dengan perlahan dan hati-hati, sambil terus mengawasi sekeliling. Dan lagi luka di kakiku yang masih basah akan menempel dengan pasir kalau seandainya aku tak berhati-hati.
Aku berhenti di sebuah tempat pertama kali aku terdampar. Aku memukul-mukul pasir dengan tanganku, memastikan apakah ada hal atau benda aneh yang bisa membawaku pulang.
Puas memukul pasir, aku kembali memukul angin di sekitarnya. Siapa tahu pintunya transparan kan?? Kalau tidak, apakah aku harus hanyut dulu di bawa ombak??
Pilihannya ada dua sih, kalau tidak mati terseret ombak dan tenggelam, maka aku akan mati di makan hiu dan potongan tubuhku di perebutkan para ikan di laut.
Aku langsung bergidik. Sepertinya aku memang tak datang dari laut waktu itu. Lagi pula kan bajuku juga tidak basah sama sekali saat sadar, jadi aku memang tak datang dari laut. Anggap saja begitu, intinya aku tak mau mati di makan ikan.
"Oh, mungkin harus di ketuk pakai kayu.. bukan pakai tangan." Gumamku sambil berusaha menjangkau kayu di sekitarku.
Aku mendapatkan sepotong kayu, namun terlalu rapuh untuk ku pukuli ke udara. Aku membuangnya, dan kembali mencari benda serupa.
"Kayu yang kuat yang mana ya?" Gumamku kebingungan.
"Nih." Ujar seseorang sambil menyodorkan kayu ke arahku.
Aku pun mengambilnya tanpa ragu. "Terimakasih." Sahutku datar, sambil memukul-mukul udara dengan kayu tersebut. Tapi.. tunggu dulu, siapa yang memberikanku..?
"Aaaakh!!" Aku langsung menjerit ketakutan, ketika melihat Raka tengah duduk santai di atas pasir pantai sambil menatap datar ke arahku. "Ngapain kamu disini?!" Bentakku, benar-benar terkejut.
"Kau tak punya kerjaan lain selain memukul benda tak terlihat begitu?"
Aku terkesiap mendengar ocehannya. Apakah aku terlihat aneh? "Ka.. kamu juga gak punya kerjaan lain?? Kenapa mengikutiku?!" Aku membalik ucapannya.
"Aku sudah selesai pelatihan. Kami akan kembali lagi besok pagi. Kata ibu kau tak kembali selepas membawa bekal, ku kira kau sudah mati di makan hewan buas."
"M.. memangnya ada hewan buas disini?!" Aku sedikit kikuk.
"Ya."
"Satu-satunya hewan buas di sini adalah dirimu!!" Balasku, hingga membuatnya mendecakkan lidah.
"Apa kau sedang mencari kerang?"
Aku menilik ragu. Kalau ku bilang tidak, akan terlihat aneh kan? "Tentu saja!! Cuma aku kebingungan, bagaimana cara mencarinya."
Ia mulai beranjak dan mengambil potongan panah yang terdampar di atas pasir. Ia berjalan ke arah pasir yang lebih basah di dekat laut, lalu mengais sesuatu hingga benda-benda bulat berlumpur nampak keluar dari dalam sana.
"Wah!! Apakah ini kerang yang berasal dari laut asli? Apa bisa di makan? Biasanya aku dan ibu membelinya di supermarket." Ucapku polos.
"Supermarket??" Ia terlihat bingung.
Oh!! Aku lupa, kami berada di zaman yang berbeda. "Nama pemilik kedainya." Dalihku, sambil mulai mengais kerang di pantai tersebut.
Ia terlihat curiga, namun lagi-lagi mengabaikan orang lain adalah jalan ninjanya. Maksudku.. ah, yang sejenis itulah. Aku tak pandai berumpama.
Sambil mengumpulkan kerang untuk di masak malam ini, sesekali aku melirik ke arah Raka yang membantuku. Ia menggulung lengan bajunya. Dan aku melihat kulitnya nampak memerah, dan itu akan menjadi lebam kalau di biarkan.
Apakah latihannya sekeras itu?? Ia bisa babak belur, dan kalau begitu terus... Bisa-bisa ia akan kelelahan bahkan sebelum latihan di mulai.
"Berapa banyak yang kau mau?" Tanyanya, sambil mengumpulkan kerang tersebut ke dalam bekas kotak makanan yang telah ia cuci dengan air laut.
"Ini cukup! Ayo kembali." Lanjutku sambil beranjak dan mendahuluinya sambil tertatih.
"Kau.. bisa mengajakku pergi ke hutan lagi?" Aku bertanya dengan hati-hati.
"Kau ingin mencari rumput lagi?"
"Aku ingin mengambil beberapa umbi serta rempah-rempah dan menanamnya di rumah. Ada ramuan yang ingin ku buat." Lanjutku.
..........
Sambil tertatih aku menyibak-nyibakkan rumput setinggi pinggang. Tumbuhan apa yang bisa ku temukan untuk membuat ramuan??
Aku menengadahkan kepalaku ke atas, menatap sebuah pohon tinggi yang ku kenal dengan nama pohon kelor. Sepertinya itu bisa ku gunakan untuk membuat ramuan. Tapi pohonnya terlalu tinggi, aku tak bisa memanjatnya dengan kaki seperti ini. Lagi pula Raka juga lelah, sangat sulit untuk melakukannya.
Harusnya ku cari umbi atau rempah-rempah saja. Selain mudah di jangkau, aku tak perlu memanjat susah-susah. Cukup menggali dan mencabuti tumbuhannya.
Raka mengikutiku dari belakang. Ia sampai menciptakan jarak sejauh lima langkah kaki. Aku menemukan beberapa tumbuhan yang setelah ku cabut, ternyata adalah kunyit, temulawak, dan jahe.
Aku juga menemukan singkong dan juga umbi talas. Ini bisa di makan juga, jadi tak perlu membeli beras di pasar.
Aku melangkah pulang bersama Raka ketika telah mendapatkan apa yang ku inginkan. Ternyata hutan ini seperti supermarket saja, bedanya.. aku harus bersusah payah mengambilnya dari alam.
"Ku rasa itu kunyit dan jahe." Ia mulai berujar.
"Ya, temulawak juga." Singkatku.
"Dari mana kau mengetahui umbian itu hanya dengan melihat pangkal pohonnya? Mereka tertanam di bawah tanah. Aku selalu melihat itu, tapi tak tahu kalau di dalam akarnya ada tumbuhan yang lumayan mahal itu." Ia terdengar mencurigai ku.
"Inilah gunanya belajar. Apa di sini tak ada perpustakaan?" Ujarku, namun agaknya ia sedikit tersinggung.
"Raja Anggara mempersiapkan perpustakaan di desa seberang. Cukup berjalan kaki sekitar lima jam, maka akan sampai ke perpustakaan."
"Jalan kaki lima jam?? Bisa-bisa lukaku kembali menganga kalau aku harus berjalan ke sana!!" Pekikku kesal. "Pakai google lebih praktis kan? Tinggal pencet." Gumamku pelan.
"Apa?"
"Ah? Haha!! Tidak ada, tadi ada nyamuk di telingaku." Dalihku sambil tertawa.
.........
Sesampainya di rumah, Bu Sari senang sekali karena aku membawa banyak umbi-umbian. Ia sangat takjub, karena kunyit adalah benda yang sulit di dapatkan dan harganya mahal di pasar. Ia pun senang karena aku membawa tumbuhannya juga untuk di tanam.
"Hari ini kita makan kerang dan singkong rebus. Singkong ini kelihatannya empuk." Ujarku berkelakar, ketika kami membersihkan makanan tersebut di belakang pondok.
"Terimakasih. Ibu senang kamu di sini. Kamu cantik dan cerdas, pasti kamu sering ke perpustakaan desa sebelah ya? Atau jangan-jangan sebenarnya kamu berasal dari sana?" Tanyanya, sementara Raka nampak memantik batu agar mengeluarkan api.
"Mungkin saja. Sepertinya aku lupa ingatan." Ujarku asal, namun sepertinya Bu Sari menanggapi hal ini dengan serius.
"Benarkah?? Di sini ada seorang tabib hebat, tapi sekarang dia sudah menjadi tabib kerajaan. Mungkin dia bisa memberikan beberapa ramuan penawar agar ingatanmu bisa pulih, tapi biayanya pasti akan sangat maha-"
"Waa!! Tidak tidak tidak!! Bu Sari tak perlu mengkhawatirkan ku sampai seperti itu. Tidak apa-apa kok. Aku suka lupa ingatan." Sahutku sambil tertawa geli. Aku geli mendengar jawabanku sendiri.
Beberapa jam kemudian, makanan kami telah siap untuk di santap. Setidaknya ini bisa di jadikan makan sore dan juga makan untuk malam nanti.
Aku makan bersama Bu Sari, sementara Raka masih sibuk memotong kayu bakar dengan kapak. Setelah kami selesai makan, ia baru saja selesai dengan pekerjaannya dan mulai menyantap makanan.
Ia memakan potongan singkong besar dan juga kerang rebus. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Sebelum makan, ia sempat membuka baju dari kulit pohon yang ia kenakan. Baju yang ia buka hanyalah rompi berlengan panjang, sementara baju bagian dalamnya serupa kaos lengan pendek, tapi dengan bahan serupa.
Merah di tubuhnya mulai membiru. Merubahnya menjadi lebam. Aku ke belakang rumah dan kembali dengan membawa ramuan yang telah ku buat. Sayangnya aku tak berhasil menemukan serai dan juga madu.
"Ini!!" Aku meletakkan secangkir ramuan di sampingnya. Ia terhenti sesaat, lalu melanjutkan memakan makanannya.
"Itu ramuan yang ku buat untuk daya tahan tubuh. Ku lihat badanmu memar-memar karena kerasnya latihan. Setidaknya itu bisa membuatmu fit. Karena madu tidak ada, aku menambahkan sedikit gula supaya rasanya tidak aneh." Terangku, namun ia masih saja terlihat angkuh. "ITU BUKAN RACUN!!" Bentakku hingga membuatnya tersedak.
Ia menepuk-nepuk dadanya, dan dengan sigap ia menjangkau apa saja yang ada di sisinya. Karena tak ada air minum lain selain ramuanku, ia pun memilih menenggak cepat ramuan tersebut.
"Ahaaa!! Akhirnya kau meminum racun ku!!" Lakarku hingga membuatnya kembali terbatuk. Mungkin karena efek jahe yang sedikit hangat dan pedas, jadi itu menyakiti kerongkongannya.
"Raka? Kenapa kamu?" Tanya Bu Sari khawatir.
"Tenang Bu, dia baru saja meminum ramuan khusus. Besok pagi dia akan bangun dengan tubuh yang segar." Terangku pada Bu Sari sambil tersenyum. "Heh dengar ya!! Besok pagi kau akan berterimakasih padaku karena hal ini!!" Lanjutku sambil merubah ekspresiku menjadi sedikit ketus ketika menatapnya.
"Aku tak akan melakukan itu!" Singkatnya dingin, hingga membuatku menjadi bersin.
"Ah, sudah ku bilang.. aku tak kuat dingin!!" Keluhku lagi.
Ketika matahari sudah hampir bersembunyi di dalam bumi, aku pergi ke danau untuk membersihkan diri. Sepulangnya dari sana, aku tak sengaja berpapasan dengan Nur. Kelihatannya ia juga baru selesai mandi, tapi tak berada di danau yang sama denganku.
"Hai!! Nur!!" Seruku hingga membuatnya yang berada di depanku lantas berbalik.
"Ayu?" Ia masih mengenaliku.
Aku berlari tertatih meski dalam keadaan luka untuk menyusulnya. Setidaknya aku ingin berjalan beriringan. "Kamu baru selesai mandi?" Tanyaku.
"Ya."
"Wah!! Kamu pakai sabun apa? Baunya wangi sekali." Ia sedikit tersipu mendengar perkataan ku.
"Sabunmu juga wangi."
Aku langsung mencium aroma tubuhku sendiri. "Benarkah? Ku rasa ini baunya mirip kacang hangus."
Nur langsung terbahak. "Apa kamu sudah makan?"
"Ya, aku makan bersama Bu Sari tadi."
Wajahnya nampak murung. "Sayang sekali. Padahal aku ingin mengajakmu ke rumah dan makan bersama. Kebetulan aku sedang membuat sesuatu."
"Oh!! Kalau begitu ayo!! Perutku masih muat untuk menyimpan beberapa butir nasi." Sahutku bersemangat.
"Kamu menyenangkan sekali. Sepertinya cepat akrab dengan orang lain karena kamu kelihatan baik." Ujarnya hingga membuatku tersipu.
"Padahal di kehidupan nyata, temanku hanya ada dua. Nina dan juga Cinta." Gumamku pelan.
"Apa?" Tanyanya, sepertinya ia mendengar gumaman ku tadi.
"Lupakan saja. Hehe.."
.........
*Bu Sari POV
Aku keluar rumah sesaat, menatap langit yang sudah bertambah gelap sementara Ayu belum pulang ke rumah selepas pergi mandi ke danau. Aku juga tak menemukannya di danau. Kemana perginya gadis itu??
"Raka.. Ayu belum juga pulang. Ibu takut terjadi sesuatu padanya." Keluhku, dan Raka yang sedang mengasah pisau sedikit mengangkat kepalanya kepadaku.
"Mungkin dia tersesat dan di makan harimau." Sahut anakku. Ia masih saja ketus dan dingin.
"Jangan bicara begitu. Kakinya terluka, mungkin terjadi sesuatu padanya. Kenapa kamu tidak pergi dan mencarinya?"
Raka menghela napas berat. "Dia tak akan mati Bu."
"Raka, berhentilah bersikap dingin pada semua orang. Kamu tak akan bisa hidup sendirian, dan lagi.. semakin hari ibu semakin tua. Setidaknya kamu harus mencari istri dan menikah. Dan bersahabat lah pada orang yang kau temui." Aku mencoba menasehatinya.
"Ya, aku akan menikah nanti. Tapi tidak dengan dia, meski dia tinggal seumur hidup di sisiku dan juga ibu." Balasnya. Hatiku sedikit bergetar mendengarnya.
"Dia cantik dan baik. Apakah kau tak bisa melupakan Anna walau hanya sebentar?" Ia nampak mengerekatkan giginya.
"Tak ada hubungannya dengan Anna, dan lagi.. ibu baru mengenal gadis itu dua hari. Terlalu cepat menyimpulkan kalau dia adalah orang yang baik." Balasnya.
"Tapi... Dengan menolong dan membawanya ke sini. Ibu sudah menyimpulkan kalau kamu pun menganggapnya gadis yang baik." Raka sedikit terkesiap dengan kalimatku ini.
Ia beranjak dari atas meja dengan wajah yang masam. "Raka mencarinya untuk ibu! Jadi kalau dia sok cantik, katakan kalau ini paksaan dari ibu!!" Ujarnya seraya berlalu dan keluar dari dalam rumah.
Aku tersenyum sambil menghela napas lega. Meski perkataannya kasar, dia tetaplah Raka yang berhati lembut. Ia pasti akan berusaha keras menemukan Ayu.
*Bu Sari POV End
.
.
.
.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
Ray
Raka gengsi tapi sebenarnya ada sesuatu untuk Ayu 🤔😘
2024-10-18
0
하시아
Kocak bener nih cewek /Facepalm//Joyful/
2024-04-29
0
may
Iya, demi ibu kok🤭
2024-01-17
0