"Gak.. gak mungkin.. raja Anggara gak akan mungkin ngasih hukuman begitu!! Gue tau banget sama sejarahnya!! Gue tau banget dia orang yang tegas, tapi gak mungkin kan dia ngelakuin hal yang kayak gitu!! Dia gak akan mungkin mau di pengaruhi sama bawahannya." Belaku pada sang raja.
"Lagian kalian siapa sih?! Kalian jangan asal nge-judge orang lain kalau gak baca sejarahnya!! Di sekolah pasti kalian termasuk banyak siswa yang membenci sejarah karena kisahnya yang panjang lebar kan? Jadi kalian gak tau raja Anggara itu orang yang kayak apa!!" Balasku, benar-benar meluapkan segala emosi yang ada.
Aku tak main-main dengan perkataanku. Bahkan banyak sekali buku sejarah yang ku baca mengenai raja Anggara, dan dia memang raja yang bijaksana dan merakyat. Dia tak akan menghukum ku, apalagi kasta bawah.
Tapi entah kenapa, aku mengatakan sesuatu seragu itu. Padahal aku sudah berpegang teguh pada ilmu sejarah yang ada. Kini aku merasa, kalau aku keras kepala dan tak mau mengakui kesalahan ku sendiri.
"Gak baca sejarahnya?" Kun mulai berujar sambil tersenyum, dan senyum itu benar-benar nampak menyeringai. "Kau ini belum kenal siapa kami berdua??" Tambahnya dengan suara yang rendah dan tatapan mata yang tajam.
"Stop Kun.." Agam seketika menyergah. "Mungkin seharusnya, kalau elu benar-benar menyukai sesuatu.. teliti sampai ke sudut terjeleknya." Sambung Agam, membuatku mengernyit tak paham.
"Ma.. maksudnya?"
"Kalau lu menyukai sesuatu, lu harus memulainya dengan meneliti keseluruhannya secara objektif dan dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Mau tau kenapa?" Aku menggeleng.
"Karena untuk dapat menilai sesuatu itu baik atau buruk, kita harus menilainya dari dua sisi yang berbeda. Yang pertama, sisi orang yang menyukainya dan yang kedua, sisi orang yang membencinya. Bisa di bilang dari sudut pandang pro dan kontra." Aku terbelalak mendengar perkataan Agam.
"Kalau lu menyukai sesuatu, dan mendengarkan kisahnya dari orang yang sama-sama menyukainya, maka yang lu dapet, hanya informasi baik serupa dengan yang udah lu ketahui sebelumnya."
"Hal baik itu akan benar-benar membuat kalian menutup mata dengan hal buruk yang sebenarnya juga bisa terjadi."
"Tapi, kalau lu melihatnya dari dua sudut pandang yang berbeda, lu baru bisa menilai apakah orang ini adalah orang yang baik atau buruk."
"Dan kami, adalah orang yang menilainya dari dua sudut pandang itu." Lanjutnya dalam, membuatku menekuk kedua alis.
"Jadi intinya, lu mau ngomong kalau raja Anggara adalah orang yang buruk dan gak bisa memimpin kerajaan?!" Gerutuku.
"Gak bisa di nyatakan secara mutlak, tapi.. di beberapa buku sejarah yang berbeda, gue menemukan banyak kejanggalan." Balasnya.
"Dan orang bodoh yang cuma membaca kisah percintaan raja Anggara dan membaca buku serupa dengan judul yang hampir sama, tanpa berniat untuk menelaah dari sisi objektifnya.."
"Tak berhak untuk mendebati kami!!" Kun menutup obrolan dengan tatapan mata hijau yang begitu tajam. Aku benar-benar bergidik ngeri dan gemetaran berhadapan dengan dua orang ini.
Auranya saja seolah bisa membuatku kencing berdiri dan mati di detik ini. Aku benar-benar ketakutan sekarang. Tubuhku gigil dan langkahku mulai mundur perlahan.
"Jangan takut.. kami di pihak elu kok." Seketika suara Agam membuat debaran jantungku yang awalnya tak karuan, kini menjadi normal. Ia menambah senyum di wajahnya seolah mencairkan ketakutan yang ada.
"Dia di pihakmu! Tapi kalau kau macam-macam.." Kun menjeda ucapannya. "Saya akan mematahkan lehermu, kihihihi..." Lanjutnya dengan seringaian yang menyeramkan.
"Kyaaaa!! Ampun!!" Pekikku ketakutan, sambil menutup wajahku dengan tangan.
"Jangan nakutin orang, Setan!!" Geram Agam sambil mengapit kepala Kun dengan lengannya, membuat wajahnya terbenam ke dalam ketiak Agam.
"Tidaaaaaak!! Lepaskan saya!! Meski ketekmu tak bau ketek pak Roy, tapi lepaskan ketek ini!!!" Pekiknya, dan Agam hanya menatapku sambil tersenyum. Dia ini sungguh lelaki yang baik dan lembut. Dia tau sekali kalau desakan mereka tadi menakutiku, jadi dia berusaha bersikap baik agar aku tak takut.
Tapi.. selama di perjalanan, aku terus memikirkan perkataannya. Memang benar aku tak menelaah sejarahnya dari dua sudut pandang. Kalau mereka melakukan penelaah lebih lanjut, apakah mereka tahu.. siapa dalang di balik penyerangan warga tadi??
Dan lagi, sepertinya Agam tak menuduh atau menjudge raja Anggara dengan kata-kata buruk. Jadi bisa ku simpulkan, kalau Agam pun sedang menyelidiki sesuatu di sini.
Sebenarnya apa kejanggalan yang ia katakan itu?? Dia benar-benar membuatku terselimuti rasa penasaran.
.........
Sesampainya di rumah, Bu Sari nampak senang karena aku kembali bersama Agam dan Kun. Ia yang sedang membongkar tanah di depan rumahnya segera mencuci tangan ke dapur dan menyeka air di tangannya dengan lap.
"Ayo bersalaman secara muslim." Tukasnya sambil berusaha mengambil tangan Agam. Namun Agam langsung terkesiap untuk menghindari hal tersebut dan suasana mendadak kikuk.
"Dalam Islam, sebenarnya lelaki tak boleh menyentuh perempuan. Jadi cukup bersalaman tanpa menyentuh, atau cukup melakukan salam." Terangnya. "Kalau aku mengucapkan assalamualaikum, maka jawabannya adalah waalaikumsalam." Sambungnya lagi, membuat Bu Sari mengangguk sembari tersenyum.
"Terdengar damai dan menyenangkan, ya?" Ucapnya sambil beranjak ke dalam rumah. "Ayo masuk.. ibu juga sudah menantikan Ayu sejak tadi. Ibu pikir kau tersesat atau semacamnya." Tambahnya sambil mempersilakan kami semua ke dalam.
"Ya.. meski kelihatan bodoh, tapi aku paham jalan, Bu." Ucapku sambil tersenyum.
"Kau terpisah dari kami dan yang lainnya. Itu membuat ibu cukup khawatir. Karena kamu berada di ruang lingkup istana kerajaan." Ucapnya hingga membuat Agam menatap lekat ke arahnya.
"Ada apa dengan hal itu? Apakah ruang lingkup istana itu di kategorikan sebagai sesuatu yang berbahaya?" Ia langsung menyambar dengan pertanyaan, dan seketika aku langsung ikut menyetujui pertanyaannya, meskipun awalnya tak sampai berpikiran ke situ.
"Ah!! Lupakan saja." Sahut Bu Sari, sedikit hambar terdengar dari suaranya yang melemah. Ia meletakkan tiga cangkir minuman di hadapan kami.
"Apa ini di rahasiakan untuk pendatang?? Kau nampak ketakutan." Tambah Agam, masih saja berusaha mengorek informasi, meskipun bahasanya terdengar begitu khawatir.
Apakah ini ada hubungannya dengan anak yang mau di hukum oleh pengawal kerajaan tadi?? Atau.. sesuatu yang berhubungan dengan tujuh belas tadi??
"Oh iya, tadi tanpa sengaja aku mendengar orang-orang yang berbicara di kedai mengenai tanggal tujuh belas. Apa ibu mengetahui hal itu?" Tanyaku, membuat Kun dan Agam menoleh serentak ke arahku.
Tatapan mereka berdua seolah sedang mengomeli ku di dalam batin, mungkin karena aku tak mengatakan perihal ini pada mereka berdua tadi.
"Tujuh belas?? Itu hal yang biasa, dan kau tak perlu mengikutinya.. tapi sepertinya ibu lupa untuk mengambil gayung yang tertinggal di sungai. Ibu harus mengambilnya untuk menyirami tanaman." Ujar Bu Sari sambil berusaha pergi. Ia begitu tergopoh dan buru-buru.
"Saya lihat gayung di dapur. Bukankah tadi ibu juga menggunakan itu untuk mencuci tangan. Kenapa tidak pakai yang itu?" Tanya Kun, membuat Bu Sari sedikit kikuk.
"Tak ada banyak lubang kecil di bawahnya. Gayung untuk tanaman, ibu buat dengan sedikit berbeda. Ibu membuat banyak lubang di dasarnya. Jadi ibu harus mengambilnya ke sungai." Sahutnya. "Ayu, tolong antarkan kunyit pada Nur, dia ingin belajar memasak ikan kuning buatanmu." Lanjutnya terburu-buru.
"Baik, bu." Sahutku. Aku sedikit mengernyit. Tidak biasanya Bu Sari begitu. Apakah dia sedang menghindari pertanyaan tadi??
Aku hendak berjalan keluar sembari bergegas mencabuti kunyit yang kami tanam. Ternyata Bu Sari memang membongkar tanah untuk mengambil kunyit di dalamnya, dan sepertinya dia memang tak bohong perihal gayung yang tertinggal. Buktinya, di dalam wadah berisi air ini, memang tak ada gayungnya.
"Di mana rumahnya?" Pertanyaan Agam yang tiba-tiba, lantas membuatku terperanjat di tempat. "Lu kaget?" Tanyanya heran.
"Tentu saja, dia kan sedang berpikiran positif tentang orang lain. Padahal Bu Sari memang menghindari obrolanmu tadi." Timpal Kun dengan wajah datar.
"Menghindari? Kenapa?"
"Minghindiri? Kinipi? Ya mikir lah bodoh!! Kau pikir saya adalah kunci jawaban yang mengetahui segalanya!!" Bentaknya hingga membuatku terkejut. "Cepat tunjukkan di mana saya bisa makan ikan kuning!! Kebodohan mu membuat cacing saya menjerit di dalam perut!!" Balasnya asal, membuatku mengepalkan tangan ke arahnya ketika ia sudah berbalik.
"Kenapa tanganmu itu? Mau berkelahi dengan saya?! Ayo, sini maju!!" Tantangnya hingga membuatku buru-buru menurunkan tangan dari hadapannya.
Kok dia bisa lihat?? Kan dia sedang memunggungiku??
"Berisik deh, Kun!! Di sana Maxim lu ajak gelud, di sini Ayu!! Diam dulu deh, atau mau gue cabut tuh paku?!" Ancam Agam hingga membuat Kun mematut dan mengerucutkan bibirnya.
"Cabut saja!! Nanti saya akan memakan buah zakarmu kalau jadi kuntilanak!!"
"Coba kalau berani!!" Agam malah menyeringai seram dan menimpali perkataan Kun.
"Woi!!! Bahas apaan sih!! Gue malu tau dengernya!!!" Bentakku dengan wajah yang memerah, membuat mereka berdua serentak terdiam.
"Lebih galak dari Unyil." Gumam Agam sambil menatap Kun.
"Gak kok. Masih galakan Dara. Dia mah mirip pak Ogah." Balas Kun.
.......
.......
.......
.......
Selama di perjalanan, kupingku terasa berdengung karena sejak tadi mendengar celotehan Kun yang tiada henti. Bisa-bisanya Agam tetap tenang berada di samping orang seberisik dia. Dan lagi, terkadang Agam akan bertingkah serupa seolah benar-benar sefrekuensi dengan hantu kuntilanak itu.
"Kihihihihi, kamu ingat, Gam?? Waktu kita menginap di rumah Maxim, dan Ciko menjatuhkan pasta gigi dari atas sikat giginya ke atas wastafel??" Agam mengangguk sambil menahan tawa. "Dia memungut pasta gigi yang jatuh dan kembali menyikat gigi menggunakan itu. Kihihihi kihihihi!! Jorok." Ucap Kun receh, dan bodohnya.. Agam malah ikut terbahak.. padahal tak ada yang lucu menurutku.
"Dan lu ingat pas kami di hukum kak Bima di LKS hari kedua??" Kini giliran Kun yang mengangguk sambil menahan tawa menimpali ucapan Agam. "Dia malah-"
"Cukup sudaaaah!!" Pekikku menyeru, membuat Agam menghentikan perkataannya.
"Kerasukan ya?" Balas Agam cuek, benar-benar menjengkelkan!!
"Kalian kira gue obat nyamuk!! Dari tadi ngobrol berdua terus!! Gue di ajak juga dong! Kalian kira gue apa? Boneka santet?!" Keluhku, membuat mereka berdua memasang wajah serupa.
"Cemburu rupanya." Balas mereka serentak.
"Enggak ya!!! Tapi kalian itu berisik dari tadi! Mana gue cuma di anggurin!!" Gerutuku lagi.
"Bentar lagi kita bakalan sampai ke rumah Nur, dan berenti ngomong sesuatu yang berkaitan dengan masa depan!!" Ucapku kesal.
"Dasar!! Kami tahu dalam bersikap dan bertindak!! Bukan seperti kambing bodoh yang masuk pemukiman warga sepertimu!!"
"Ku bunuh kaaauuu!!" Pekikku sambil mengejar Kun, membuat Agam menghela napas panjang.
Aku langsung mengetuk pintu rumah Nur dan memanggilnya, ketika telah sampai di depan. Ia menyahut dari dalam, dan dengan cepat membukakan pintu untukku.
"Ayu!! Kau datang!! Aku khawatir ketika kamu tiba-tiba terpisah dari kerumunan!!" Serunya sambil memelukku, namun tiba-tiba ia tercengang heran melihat dua lelaki yang menutupi wajahnya dengan kain sorban di belakangku. "Si.. siapa mereka?" Tanyanya.
"Mereka??"
.........
Di dalam rumahnya, aku memperkenalkan mereka berdua pada Nur. Gadis itu menuangkan air dan mempersilakan kami untuk minum. Sejak tadi, ia terus-menerus tersipu malu memandang mereka berdua. Sudah ku pastikan kalau dia ini menyukai Agam pada pandangan pertama.
Memang tak mengherankan, sosok Agam yang tampan dan karismatik akan menarik perhatian siapa saja yang melihatnya, bahkan ia bisa mencuri cinta orang lain pada pandangan pertama saja.
"Apa gulanya kurang? Apa itu kurang manis?" Tanya Nur berhati-hati.
"Tidak, terimakasih." Balas Agam sopan.
"Apa tak ada melatinya? Saya rindu melati dan Indomie." Keluh Kun hingga membuat Nur tertawa.
"Benda apa itu?? Kau bisa memakan ini. Dan juga ini. Agam.. apa ada yang kurang? Atau ada sesuatu yang kamu inginkan lagi?" Nur kembali bertanya. Dan sudah jelas kan, dia memang menyukai Agam.
"Jangan repot-repot." Singkat Agam.
"Hei, kau punya melati tidak?" Kun masih terus merengek, meminta hal serupa.
"Jangan dengarkan dia!!" Gerutuku kesal.
"Apa kau suka melati??" Nur malah menimpalinya.
"Ya. Saya suka dengan sesuatu yang berwarna putih dan hijau." Balasnya datar.
"Apa aku boleh melihat wajah di balik penutup mulut kalian?" Tanya Nur, nampak benar-benar berharap.
"Tak perlu." Singkat Kun.
"Apa kalian berusaha menutupi keindahan wajah kalian?" Kun dan Agam hanya saling berpandangan, dan entah kenapa Agam langsung tertawa sementara Kun nampak sungkan sambil menggarukkan kepalanya.
"Oh, apa pertanyaan itu mengganggu kalian? Baiklah, aku tak akan menanyakan kalimat serupa." Ucap Nur sambil tersenyum.
Nampaknya ada yang aneh, Nur terus tersenyum sejak dua makhluk jantan ini masuk ke dalam rumah. Tak seperti Nur yang biasanya.
Memang tak salah lagi. Aku sudah bisa jadi seorang detektif sekarang. Nur pasti menyukai salah satu dari mereka, dan orang itu adalah Agam. Itu adalah analisis dan spekulasi ku. Nampak sekali dari gerak-gerik Nur yang seperti cacing kermi. Kalau aku salah, botakin rambutku sekarang!!
"Oh, Nur.. bukankah kau ingin belajar membuat ikan bakar bumbu kuning?? Akan ku ajari sekarang. Ayo kita ke belakang dan membuatnya." Ucapku sambil menarik tangan Nur yang gelagatnya seperti orang yang sedang mabuk kepayang.
Di dapur, aku mulai membalurkan bumbu yang sudah ku *****. Aku menaruhnya di atas ikan yang berada di dalam daun pisang. Sesekali aku memperhatikan Nur yang masih saja tersenyum dan mengikuti ajaranku.
"Nur?" Sapaku berhati-hati.
Ia menoleh, sedikit terkejut. "Ya?" Tanyanya, suaranya terdengar bersemangat.
"Apakah kau.. menyukai salah satu dari mereka?" Tanyaku terus-terang. Membuat Nur nampak kikuk dan wajahnya benar-benar memerah. Responnya benar-benar tak terduga. Ia begitu kaget.
"Apa aku begitu ketahuan kalau sedang jatuh cinta?" Tanyanya takjub, dan aku hanya menghela napas setelah sebelumnya sempat terbelalak. "Soalnya.. dia itu benar-benar tampan. Aku jadi malu dan berdebar tiap mendengar suara dan melihat mata indahnya." Ucap Nur, dengan suara yang begitu pelan.
"Sudah ku duga!!! Sebaiknya jangan!! Tolong jangan lakukan itu?" Keluhku panik.
Nur hanya melongo. "Kenapa? Apa dia adalah kekasihmu? Atau kau juga menyukainya??"
Aku terdiam sejenak. "Aku tahu dia mempesona, tapi sebaiknya urungkan niatmu itu. Dia itu banyak penggemarnya." Tuturku. Tentu saja, Kun sendiri yang bilang kalau Agam punya tiga wanita di teamnya, dia juga punya pacar online, dan juga punya Kunations yang wanita. "Tak ada celah bagimu, Nur. Aku saja langsung menyerah." Tukasku pasrah.
Nur terdiam sesaat. Nampak sedikit sendu. "Aku tahu kalau dia tak akan menyukaiku. Tapi aku hanya ingin berbuat baik dan menunjukkan perasaanku." Tuturnya tulus.
"Kalau begitu tak apa, asal jangan mengutarakan perasaan mu langsung pada Agam. Dia itu beragama Islam dan Sholeh, dia tak akan mau berpacaran." Ucapku datar sambil menggulung ikan dengan daun pisang.
"Apa katamu?? Agam?" Tanya Nur heran, dan tentu aku pun ikut heran sambil menatapnya.
"Kenapa? Yang kau sukai itu Agam kan?" Terkaku.
Nur terdiam sambil menghela napas panjang. "Yang aku sukai itu..."
"Kun.." Tukasnya hingga membuatku tersenyum.
"Oh, Kun.." lanjutku datar, sambil meletakkan ikan di atas batu yang ku susun dalam bentuk lingkaran, membiarkan api membakar di tengahnya.
"HEH? APA KAU BILANG?!" Pekikku tak percaya, sambil menatap wajah Nur. Aku sudah gila, sedang tak sadar, atau kupingku yang tuli? "Yang kau sukai itu..."
"KUN?!"
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
Ray
Nah Loh...Si Nur suka sama Kuntilanak Di Kun Fayakun🤔😂😂 Heboh deh😂🤔
2024-10-19
0
V.I.A
Nur sukanya om2 yak??
Kun kn umrnya udh 32th
2024-08-05
0
may
Ada anak kecil woi🤣
2024-01-19
0