Kini aku duduk berhadapan dengan dua lelaki asing yang kemungkinannya berasal dari zamanku. Seorang lelaki tampan dengan wajah tenang namun tatapan matanya yang begitu tajam sedang menatap sejurus ke arah Bu Sari yang tengah mempersiapkan minuman untuk kami.
Sementara satu makhluk putih dengan mata hijaunya duduk tak tenang dengan kaki yang ia goyang-goyangkan. Yang membuatnya terlihat lebih menyebalkan lagi adalah, ia terus menatapku tanpa berkedip, dan lagi tatapannya itu benar-benar sedang mencemooh ku.
"Ah, maaf lama. Ibu sedang membuatkan teh untuk kalian. Minumlah ini, kalian telah melewati hari yang berat." Ucap Bu Sari hingga membuatku mencurigai dua orang ini. Eh, tidak.. satu orang saja. Karena yang berambut hitam tak pantas untuk mendapatkan kecurigaan.
"Terimakasih, maaf merepotkan." Ujar lelaki berambut hitam sambil menerima tehnya. Sementara yang satunya hanya melirik lekat ke dalam cairan dalam cangkir tersebut.
"Tidak pakai melati ya?" Gumamnya pelan.
"Ibu tak sangka, kamu kenal salah satunya, Yu." Lanjut Bu Sari sambil duduk di dekat kami.
"Ke.. kenapa mereka ada di sini? Dan kenapa ibu bisa menerima mereka? Tidakkah ibu lihat keanehan mereka. Pakaiannya, wajahnya, dan.. dan warna mata serta rambutnya.." Aku terhenti ketika Kun menampik tanganku yang sedang menunjuk ke arahnya.
"Kita beda kasta!! Jadi manusia rendahan tak sepantasnya menunjuk kasta menengah seperti itu!!" Balas Kun hingga membuatku terpaku.
"Bu, maaf untuk kalimatnya yang itu. Dia tak bermaksud membedakan golongan." Ucap lelaki bersuara merdu ini, dan Bu Sari hanya tersenyum seolah tak memasukkan perkataan Kun di hatinya.
"Ta.. tapi kan.. Memang mereka aneh, kasta apanya sih? Kalian berdua adalah orang yang mencurigakan!! Jadi sebaiknya kita tidak dekat-dekat dengan mereka, Bu." Ujarku membujuk Bu Sari. Aku hanya tak mau Bu Sari harus berurusan dengan manusia dari masa depan.
"Apa?! Coba katakan lagi!!" Bentak Kun menyeru.
"Sudah, jangan berkelahi. Biar ibu saja yang jelaskan." Timpalnya. "Mereka ini adalah saudagar muslim dan juga musafir dari tanah Arab. Mereka datang ke sini untuk berdagang, namun kapal mereka di rampas perompak dan harta mereka lenyap. Mereka terdampar di kerajaan ini ketika hendak berlayar. Jadi ibu bertemu mereka dalam kondisi yang sedang kesusahan. Ibu tak tega, dan meminta mereka datang ke mari." Terang Bu Sari panjang lebar.
Sungguh! Itu alasan paling masuk akal yang tak pernah ku pikirkan sebelumnya. Kenapa saat datang kemari, aku tak terpikirkan untuk membuat kebohongan serupa? Aku memang otak udang, campur pasir lagi!
Mereka membuat alasan logis, seolah-olah apa yang terjadi di diri mereka adalah benar. Kalau aku jadi Bu Sari, tentu aku akan percaya dan menelan kebohongan itu mentah-mentah. Tapi karena aku sudah tahu dengan si Kun yang berasal dari duniaku, jadi aku menyimpulkan kalau dua orang ini memiliki otak yang cerdas.
"Oh ya?!! Waw!!" Balasku kesal, sambil melotot ke arah Kun.
"Bu, apakah ini adalah gadis bodoh yang ibu bilang terdampar di pantai, terkena panah, lalu dia bilang kalau dia sedang lupa ingatan?" Kun mulai bertanya, dan mendapatkan anggukkan dari Bu Sari. "Pfft!!" Ia langsung menutupnya dengan dengusan. Dia benar-benar mengejekku.
"Apanya yang lucu!!" Bentakku kesal. Apa dia sedang menertawakan alasan tak masuk akal ku?
"Maaf, adikku ini memang punya sifat yang buruk, tapi dia adalah anak yang baik. Namamu, Ayu?" Lelaki bersuara merdu ini membuat amarahku kian runtuh ketika mendapat tatapan lembut darinya.
"Ya!! Aku Ayu." Jawabku.
"Namaku Muhammad Agam, dan dia.. Kun Fayakun."
Aku terdiam sesaat mendengar nama palsu si Kuntilanak. "Buahahah!!" Aku langsung menyembur tawa. Sumpah ya, nama pun telah mereka pikirkan dengan matang. Dan si Kun ini?? Namanya benar-benar Kun Fayakun???
"Nyenyenye nyenye!!" Kun malah meledekku, apa dia baru saja mendengar suara hatiku???
"Oh iya, ibu harus segera ke pasar untuk menukarkan ikan tangkapan Agam. Kalau ikannya sudah mati, harganya akan jatuh. Hari ini ibu juga ingin menjenguk Raka di camp pelatihan."
"Mau ikuuutt ke camp!!" Kun langsung memekik manja, kesal sih.. tapi dia lucu juga. Jadi tak bisa kesal.
.........
Selepas kepergian Bu Sari, aku masih berada di dalam rumah bersama Agam dan Kun. Aku menolak ikut ke pasar, karena ada banyak hal yang ingin ku tanyakan perihal kedatangan mereka berdua. Dan lagi, aku melihat ada benang merah di kelingking dua orang ini.
Bukankah itu penghubung yang di katakan Kun waktu itu??
"Ya, ini penghubung kami." Aku tersentak ketika Kun langsung menjawab pertanyaan di dalam hatiku. "Dan kamu mau tau kenapa kami ke sini??" Tanyanya, dan aku langsung mengendikan bahu.
"Karena kamu sudah masuk terlalu dalam di zaman ini!! Tak bisakah kau cukup diam dan cari saja apa yang saya mau!! Kenapa harus bertemu dengan jenderal segala?" Keluhnya.
Aku ketahuan??
"Tentu saja!! Saya mengawasimu setiap hari kambing bodoh!!" Cercanya padaku.
"Me.. memangnya masalah kalau aku bertemu jenderal?"
"Suka-suka mu sih! Kamu terkurung selamanya di sini juga saya tak perduli, tapi tak bisakah kamu fokus dengan apa yang hendak kamu cari?!"
Aku mengernyit. "Masalahnya ya, gue gak tau mau ngapain di sini?!"
"Ya mikir lah!! Kamu kira di sini kamu cuma mau menanam bunga, berkebun dan hidup bahagia selamanya?? Kalau cuma itu, kamu bisa melakukannya di zaman kita!!"
"Kok lu yang marah sih?! Kan elu yang minta tolong!" Balasku, mulai terbawa emosi.
"Habisnya ya, mukamu itu mengesalkan! Sebelas dua belas lah dengan Maxim!!"
"APA?!" Bentakku kesal. Maxim??
"Oke, cukup!" Perkataan Agam lantas membuat lidah kami berdua menjadi kelu. Kami seketika terdiam senyap sambil memandang ke arahnya. "Jadi elu udah tau kan, kalau kami datang dari masa depan, dan di tahun yang sama dengan elu?" Tanyanya, mantap dan berwibawa. Aku sampai tak berkedip memandangnya.
"Gue Agam Suganda, dan dia Adam Suganda, bisa lu panggil Kuntilanak atau Kun." Terangnya, membuatku menoleh cepat ke arah Kun.
"Ku.. kuntilanak? Ja.. jadi dia beneran Kuntilanak?!" Tanyaku tak percaya.
"Oi!! Di mimpimu sudah saya katakan mengenai itu kan?! Kenapa juga kau kagetnya sekarang?! Kau Ngebug ya kambing bodoh!!"
Aku terkesiap mendengar hujatannya. "Ya kaget lah!! Emangnya ada ya kuntilanak yang laki-laki?!"
"Makanya, baca novel K.U.N sana? Kambing!!"
Kini pandanganku teralih ke Agam yang terlihat lebih tenang. "Apa beneran ada kuntilanak laki, Gam?" Tanyaku lagi.
Agam mengangguk. "Jadi, pas tahun lalu, tepatnya ketika gue menginjak kelas satu SMA, gue ketemu hantu ini di dalam gudang. Dia minta bantuan gue untuk mengungkapkan kasus pembunuhan tujuh belas tahun silam. Dan kami berhasil melenyapkan iblis yang memakan banyak tumbal siswi di sekolah."
"Kami memusnahkannya dengan menggunakan paku emas dan juga belati dengan ukiran Asmaul Husna. Dua benda itu ada di kami sekarang."
"Tapi ada suatu hal yang membuat kami harus ke masa lalu, dan penyelidikan kami terhenti pada zaman kerajaan Aridul, tepatnya ketika raja Anggara bertahta."
"Kami menemukan bukti peninggalan sejarah berupa paku serupa dan juga belati yang sekarang ada di kami."
"Kami harus meletakkan itu ke suatu tempat, agar semua peristiwa ini berjalan seiring dan sesuai dengan kronologi yang ada."
"Akan butuh banyak waktu untuk ngejelasinnya, yang pasti intinya adalah kami butuh elu.. buat menemukan benda tersebut." Terangnya panjang lebar. Dengan bahasa yang kompleks, mantap dan mudah di cerna.
Gaya bahasa seseorang memang menunjukkan kecerdasannya. Tidak seperti yang satu itu..
"Hei!! Kau menghina saya!!" Bentak Kun, hingga membuatku terkejut.
"Aahk!! Berhentilah ngebaca isi hati gue!!" Keluhku ketakutan.
"Jadi kedatangan kami ke sini, adalah karena elu masuk terlalu dalam di zaman ini, sementara kita hanyalah orang asing yang tak berada di zaman yang sama."
"Gue takutnya, elu bisa ngerubah sejarah yang ada kalau terus-terusan bertindak ceroboh begitu." Lanjut Agam, membuatku benar-benar merasa bersalah.
"Jadi... Gue harus nemuin paku dan juga belati yang kalian minta? Tapi, di mana gue bisa dapetin benda itu?" Tanyaku, membuat Agam menghela napas panjang.
"Tuh kan, Gam! Apa saya bilang. Dia ini dodol!!" Ejek Kun lagi padaku.
"Yah, gue juga gak tau. Jadi, mungkin kami akan sering datang untuk ngebantuin elu mencari di mana belati dan juga paku itu." Ujar Agam lembut.
"Tapi.. kalau kalian punya benda itu, kenapa kalian harus nyariin lagi? Dia gak hilang kan? Tetep ada di kalian kan?" Tanyaku, membuat Kun lagi-lagi menatap sinis ke arahku.
"Jadi begini.. jika kami yang datang di masa depan harus meletakkan paku dan belati di zaman ini, dan membiarkan waktunya terus berlangsung sampai benda ini jatuh dari tangan satu ke tangan yang lain, bisa jadi, akan ada dua benda yang serupa dan ini tentu akan membingungkan sejarah yang ada."
"Di tambah lagi, selepas zaman ini, benda itu akan jatuh ke tangan dua orang yang membutuhkannya. Kalau kami melepaskan benda itu di sini, maka di masa depan.. kami akan kehilangan benda itu sampai waktu terus berjalan dari masa lalu ke masa depan. Butuh waktu yang lama dan kemungkinan benda itu tak akan kembali."
"Sementara kami membutuhkan benda ini untuk kelangsungan masa depan, karena akan ada suatu hal besar yang mungkin akan terjadi. Dan benda ini benar-benar di butuhkan."
"Jadi pertanyaannya, bagaimana cara agar kami tetap memegang benda ini, sementara di zaman pertengahan, dua orang itu juga memegang benda yang sama, tanpa ada satu orang pun yang kehilangannya." Aku menggeleng tak paham, karena aku memang tak mengerti jawabannya.
"Jadi jawabannya adalah, kami harus menemukan benda dari masa lalu ini, dan meletakkannya sampai masa berganti ke zaman pertengahan, dan selanjutnya dua orang tadi akan membuat kami mendapatkan benda ini tanpa mengubah kronologi yang ada."
"Inti akhirnya tetaplah..."
"Kami si pemilik dua benda tersebut." Terangnya panjang lebar, membuatku benar-benar terpana akan kecerdasannya.
Sumpah sih, aku sudah lama kenal dengan siswa terpintar di SMA ku, tapi.. Agam ini berbeda. Dia sangat sangat sangat cerdas. Bahkan bisa jadi otaknya begitu jenius.
"Tapi.. kalau keinginan kalian begitu, sama aja dong, dengan kalian yang memperalat orang lain!!" Keluhku kesal.
"Saya suka memperalat orang lain." Timpal Kun dengan wajah yang polos tapi terkesan menyebalkan.
"Kasarnya begitu, tapi kami melakukan ini.. atas dasar permintaan hati dari seseorang."
Kedua mataku terbelalak mendengar jawaban Agam. "Permintaan hati seseorang?? Maksudnya apa?"
"Kau melupakan seseorang yang menganggapmu teramat penting dalam hidupnya. Dan kami sepakat untuk melakukan barter dan timbal balik.."
"Kami meminta dia untuk mengarahkan dua benda pusaka tersebut ke suatu tempat, dan dia meminta kami.. untuk mendatangkan mu ke tempat ini." Lanjutnya, membuatku bergidik berkali-kali.
"Aaaah, lapar!! Apa di sini tak ada jual Indomie goreng?" Gerutu Kun sambil merebahkan kepalanya di atas meja.
"Kalau gue boleh tau.. siapa orang itu?" Tanyaku, berhati-hati. Sambil menatap Agam dari balik bulu mataku.
Agam terdiam sesaat sambil menatapku. "Gue juga gak tau." Singkatnya, membuatku sedikit tertegun.
Cukup lama kami membahas hal ini, sampai Bu Sari keluar dengan membawa banyak bahan makanan dari pasar. Aku tak tahu, bagaimana bisa si Agam dan Kun mendapatkan ikan yang bahkan lebih banyak dari yang di tangkap Raka biasanya.
"Ibu sudah pulang. Ayu, tolong buatkan ikan bumbu kuning seperti yang waktu itu ya. Raka pasti senang sekali jika mendapatkan masakan itu." Tukas Bu Sari. Tumben sekali ia meminta bantuanku.
"Apa yang bisa kami bantu?" Tanya Agam, penuh sopan santun dan beretika.
"Mungkin, kamu bisa menolong ibu memotong kayu."
Agam langsung beranjak dengan cepat meski tak menjawab. Sementara Kun hanya duduk manis sambil menatap kami.
"Dia tak membantu?" Tanyaku ketika Agam melewati ku.
"Dia?? Dia akan terlihat dominan dan mencolok kalau keluar dari rumah. Nanti dia akan di anggap kaum bangsawan yang di culik oleh kalian." Perkataan Agam yang masuk akal langsung membungkam mulutku. Sementara Kun hanya menjulurkan lidahnya untuk meledekku.
Setelah selesai memasak, kami membungkus makanan tersebut di sebuah wadah dan mengikatnya dengan kain.
Kami bersiap pergi, tapi dua orang ini agaknya mau ikut. Tapi.. dengan penampilan seperti itu? Dengan kulit semulus itu? Dengan rambut seputih itu? Dan dengan wajah sesempurna itu? Apa mereka yakin kalau mereka tak akan menarik perhatian siapapun??
"Sebaiknya kalian di rumah. Ya kan, Bu?"
"Tak masalah jika kami ikut. Kami harus mengenakan baju kami dulu." Ucap Agam sambil beranjak dan mengambil sebuah kain dari dalam tumpukan kain serupa tas yang ia bawa.
Di dalam tas kain tersebut, aku melihat banyak pil dan semacam obat-obatan yang tertumpuk di antara kain. Untuk apa dia membawa semua benda itu?? Pengedar narkoba kah??
"Oi!!" Kun langsung membentak ku, dan tentu saja ia membuatku terkejut. Sementara Agam hanya menatap kami dengan tatapan ambigu.
Ia beranjak dan menghampiri Kun. Ia melilitkan sorban ke atas kepala Kun, menutupi rambut putihnya dengan sempurna. Dan dirinya pun melakukan hal yang sama. Bahkan mereka menutupi wajahnya dengan kain juga. Serupa masker atau cadar.
Sekilas mereka memang mirip dengan penampilan saudagar-saudagar dari Arab. Di tambah batang hidung mereka yang mancung, dan alis serta bulu mata yang lentik benar-benar membuat mereka seperti pangeran tampan yang berasal dari Arab.
"Benar begitu! Wajah kalian terlalu tampan. Kalau di lihat orang lain, hal ini akan sampai ke pihak kerajaan, dan kemungkinan kalian berdua akan di tangkap karena terlalu tampan." Ujar Bu Sari hingga membuatku terkejut.
"Di.. di tangkap? Memangnya mereka melakukan kesalahan atau sesuatu yang jahat?!" Keluhku, kebingungan dan panik.
"Ibu pernah bilang kan, di kerajaan ini, tak boleh ada rakyat biasa atau pun pendatang yang lebih indah dari kaum bangsawan kerajaan. Meski mereka seorang saudagar dari Arab atau orang asing, jika mereka terlalu tampan mereka akan di tangkap pihak kerajaan."
"Mereka akan di penjara, atau bahkan lebih buruknya.. mereka berdua akan menjadi budak kerajaan."
Aku mengerjapkan kedua mataku mendengarnya. "Bu.. budak??" Aku mengulanginya dengan mental yang sedikit terguncang.
Dari yang ku ketahui mengenai sejarah dan perbudakan, Perbudakan adalah segala hal mengenai pengendalian terhadap seseorang oleh orang lain dengan cara paksaan. Orang yang dikendalikan disebut dengan budak. Para budak adalah golongan manusia yang dimiliki oleh seorang tuan, bekerja tanpa gaji dan tidak mempunyai hak asasi manusia.
Dan melepaskan seorang budak, sering di sebut dengan memerdekakan hamba sahaya. Saking kejamnya perbudakan itu.
"A.. apa aku cantik?? Kalau cantik, aku mau menjelekkan wajahku dengan sesuatu, sampai tak ada yang tertarik dan tak menjadikanku budak kerajaan." Ujarku dengan lirih dan gemetaran.
"Menarik." Tiba-tiba Agam mengatakan hal yang sedikit aneh.
"Sepertinya ini akan menjadi pelajaran untukku. Kalau ketampanan itu, ternyata bisa menjadi sebuah cobaan yang tak menguntungkan. Malah membahayakan." Lanjutnya sambil yery, diiringi dengan suara tertawaan Kun.
"Kihihihihi...."
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
Ira Resdiana
kesiannya...maxim dibawa².. /Facepalm/
2024-11-13
0
Ira Resdiana
yg terjadi, terjadilah .. ya Kun..fayakun
2024-11-13
0
Ray
Wah ternyata Agam dan Adam muncul di cerita Outhor❤️❤️
2024-10-19
0