Aku pulang ketika malam telah tiba. Wajah Raka nampak kesal ketika menatapku, sementara Bu Sari nampak begitu khawatir kepadaku.
"Aku mencarimu dimana-mana, kemana kau pergi seharian?!" Bentak Raka tanpa berbasa-basi.
Aku hanya mendengus sambil mengabaikannya, dan duduk di dekat Bu Sari.
"Kamu dari mana, Yu? Ibu khawatir menunggu kamu. Katanya kamu pergi ke rumah Bu Dewi yang anaknya kamu sembuhkan itu. Tadi ibu sempat menyusul ke sana, mereka bilang tak melihat kedatanganmu sama sekali seharian ini." Tuturnya panjang lebar.
Aku hanya menggarukkan kepalaku, merasa benar-benar tak enak. "Bu Sari tak perlu repot-repot menyusulku. Aku masih tahu jalan pulang kok." Sahutku.
"Makanya, kalau tak ingin ibu repot, harusnya kau tau diri untuk jangan sembarangan pergi meninggalkan rumah." Timpal Raka hingga membuatku meringis dan menatapnya dengan sengit.
"Bukan urusanmu juga!! Jadi diamlah!!" Balasku membentak.
"Memangnya seharian ini kamu kemana, Yu?" Tanya Bu Sari lagi.
Aku menatap lembut ke arahnya. "Aku tak sengaja bertemu dengan pak Slamet, jadi aku sedikit membantu pekerjaannya. Cuma itu." Jelasku, membuat Bu Sari menghela napas lega. "Tapi.. seharusnya ibu tak perlu terlalu memikirkan aku. Aku kan bukan siapa-siapa disini. Jadi, anggap saja aku sebagai orang asing, yang sewaktu-waktu memang bisa datang dan pergi begitu saja." Lanjutku hingga membuat Raka menatapku dengan lekat.
"Mana bisa begitu. Kamu melupakan segalanya. Kamu tak punya keluarga dan tak tahu berasal dari mana. Jika terjadi sesuatu padamu, ibu akan merasa sangat bersalah sekali. Kamu sudah ibu anggap sebagai anak dan keluarga sendiri." Perkataan Bu Sari entah kenapa membuat hatiku menjadi sedih.
Dia sudah menganggapku keluarga, lantas kalau suatu saat aku menemukan jalan untuk pulang ke rumahku, dan meninggalkan mereka.. apakah mereka akan mengingatku dan merindukan ku? Apakah mereka juga akan merasa kehilangan?
"Makanlah. Hari ini Raka menangkap kepiting bersama nelayan. Ibu merebusnya, dan hari ini kita makan nasi."
Aku mengangguk, dan bergegas mengambil makanan yang ada di dapur. Selepas makan, aku duduk di atas tempat tidurku. Karena dari apa yang ku ketahui, sehabis makan setidaknya kita tidak boleh langsung tiduran atau berbaring.
Tidur atau berbaring setelah makan tidak baik untuk kesehatan lambung, terutama setelah makan dalam porsi banyak sekaligus. Langsung tidur setelah makan kenyang akan menyebabkan tekanan di dalam lambung meningkat, sehingga makanan dan cairan lambung dapat naik kembali ke kerongkongan.
Jadi, aku lebih memilih duduk dengan memeluk lututku, menatap Raka dan juga Bu Sari yang telah tertidur pulas.
Apakah permintaanku pada panglima itu bisa di pertimbangkan?? Ku harap ia memenuhi janjinya itu.
Aku mulai berbaring dan melepaskan penatku setelah duduk hampir setengah jam-an. Ku pejamkan mataku sesaat, sambil menghela napas panjang. Ketika aku hendak melanglang buana ke alam mimpi, suara gaduh lantas membangunkanku.
Aku terkesiap, menatap Raka dan Bu Sari yang masih tertidur dengan posisinya masing-masing. Mereka tak sadar ada bunyi sebesar ini?? Dan lagi, agaknya itu berasal dari atap rumah.
Aku mencoba kembali berbaring, namun suara ini benar-benar tak dapat membuatku tenang. Suaranya mirip seperti suara pukulan atau pijakan seseorang di atap rumah.
Dag!! Dag!! Dag!!
Pada akhirnya aku kembali beranjak dan melangkah keluar rumah.
Ku pandangi ke atap, namun tinggi badanku tak bisa menjangkau bagian atas sana. Aku perlu memundurkan beberapa langkah agar bisa melihat keseluruhannya, dan benar saja.. dalam kegelapan ini, aku dapat melihat sosok benda berwarna putih di atas sana.
Jantungku berdegup kencang, dan aku melihat hantu!! Ya!! Itu adalah hantu, aku yakin itu hantu yang ada di film-film horor. Mirip seperti Kuntilanak!! Dan lagi dia begitu dominan di atas sana.
Dalam kegelapan, ia terlihat cukup menyeramkan dan membuatku benar-benar bergidik ngeri. Aku terpaku, dan seketika aliran darahku terasa berhenti tatkala ia menangkap basahku yang sedang memandanginya dengan takjub.
Bibir bawahku bergetar hebat, dan aku benar-benar tak dapat berlari ataupun menjerit sama sekali.
Ia tersenyum dan menyeringai. Kulitnya bercahaya, wajahnya sangat tampan untuk sesosok hantu, dan rambut putihnya itu membuatku mengerjap berkali-kali, memastikan apakah aku salah lihat atau tidak.
Saking lamanya aku melongo, aku sampai tak menyadari ketika ia menyelesap dan terbang ke arahku sambil terkikik geli.
Kakiku yang terpaku tak bisa ku paksakan untuk bergerak, alhasil aku malah jatuh terduduk di atas tanah dan ia berhasil duduk berhadapan denganku, namun kakinya melayang.. sama sekali tak menapak di atas tanah.
Aku memandanginya dengan seksama. Jadi seperti ini rupa hantu yang sesungguhnya. Untuk sekelas hantu, seharusnya ia tak menyeramkan, tapi lebih ke tampan dan imut. Dan lagi, matanya benar-benar terlihat indah dan berkilau.
Ia mengucapkan sesuatu padaku, namun telingaku seakan berdengung dan tak dapat menangkap perkataannya sama sekali.
"Hijau??" Gumamku sambil menatap kedua bola matanya. "Apakah kita udah pernah ketemu sebelumnya?" Tanyaku, sedikit tercekat. "Gue yakin, elu yang ketemu sama gue di depan toko bunga waktu itu. Iya kan?!" Desakku padanya, meski aku sangat ketakutan.. tapi aku merasa kalau dia baik dan tak akan menyakitiku.
"Butuh waktu yang begitu lama untukmu menyadarinya? Jadi bisa saya simpulkan, kalau kecerdasanmu itu di bawah rata-rata. Bisa di bilang, IQ jongkok lah!!" Ia berkata remeh, membuatku sedikit kesal mendengar suara seraknya itu.
"Ngomong begitu sama orang yang baru di kenal?! Gak sopan tahu!!" Ucapku, benar-benar tersinggung.
"Justru karena baru di kenal, makanya saya tak perlu menaruh hormat padamu!" Lagi-lagi perkataannya terdengar menyebalkan.
"Elu ini apa dan siapa? Hantu kah?? Atau apa?? Apa elu juga ada hubungannya dengan terdamparnya gue di sini? Kalau pun iya!! Tolong dong balikin keadaan gue ke semula!!" Pintaku mendesak dan memelas, namun ia hanya menatap malas ke arahku.
"Nyinyinyi nyinyi nyinyinyi!!" Ia malah meledekku dengan nada bicara yang persis seperti yang ku lakukan barusan.
"Hey!!" Bentakku kesal.
"Saya ke sini untuk membantumu, dan kamu di sini harus membantu saya! Kamu kira saya mau melakukan suatu hal tanpa adanya timbal balik!! Dan lagi, kamu itu tak cukup meyakinkan untuk berhasil! Kenapa juga orangnya harus kamu!!" Ia malah balas memarahiku.
"Membantu elu?? Membantu apa maksudnya?"
"Tuh kan!! Kamu memang beneran bodoh!"
Aku langsung meringis mendengar perkataannya.
"Ingat siapa dirimu di sini! Kamu bukan berasal dari sini, kamu dari masa depan. Dan lagi, bertingkah lah tanpa menarik perhatian. Kamu tak mau kan, gara-gara kebodohanmu itu, kamu akan merubah sejarah di masa depan?" Perkataannya lantas membuatku tertegun.
Dari mana dia tau kalau aku benar-benar ingin merubah sejarah yang ada. Yaah, minimal aku ingin jadi selir raja lah! Aku ingin melaporkan kekejian si ratu pada raja, kalau dia telah berselingkuh. Huahahaha, terdengar jahat. Tapi aku suka tertawa jahat!
"Suara tertawaanmu jelek!! Dan lagi, jelas saya tahu apa yang kamu ucapkan!! Saya bisa mendengar suara hatimu!!" Ujarnya hingga membuatku tersentak kaget dan bergidik ngeri.
"Dengarkan saya! Jangan terlibat dengan urusan kerajaan, tapi.. kalau untuk keperluan saya sih tak masalah. Kihihihi." Ia malah ikut tertawa jahat seperti batinku tadi.
"Woi!! Tertawaan lu lebih jelek tau!!" Bentakku, karena sesungguhnya suara tertawaan itu membuatku merinding.
"Ini.." Tiba-tiba ia menyodorkan ku kain putih yang terlipat.
Aku menatapnya dengan seksama. "Apa nih?"
"Tuh kan, blo'on!" Ujarnya sambil melirik sinis ke arah ku.
"Emangnya siapa yang bakalan tau kalau elu cuma kasih kain putih doang?!" Bentakku kesal.
"Sahabat saya akan tahu semua jalan pikiran saya, bahkan sebelum saya mengatakannya!" Lanjutnya sambil melempar kain tersebut ke pelukanku. Buru-buru aku menangkapnya agar tak jatuh.
"Di zaman ini, agama Allah belum masuk. Jadi nanti, akan ada beberapa orang yang masuk Islam. Kamu juga!! Padahal Islam tapi tak pernah shalat kan?!" Bentaknya hingga membuatku terbungkam.
"Lalu, kain ini adalah simbol kematian untuk jasad seorang muslim pada zaman ini. Semacam bukti peninggalan kalau ada jasad yang di bungkus kain putih serupa mayat yang di kafani."
Aku mengernyit mendengar ucapannya. "Maksud lu?? Siapa yang bakalan mati dan bakalan pakai kain itu?" Tanyaku ragu.
"Hmmm, malah nanya bukannya mikir! Apa di otakmu itu isinya sampah organik?!" Aku langsung tersedak ludahku sendiri mendengarnya.
"Apa-apaan itu?!" Pekikku kesal.
"Ya.. habisnya kamu hanya memikirkan rumput dan ilalang. Saya kira kamu sedang cosplay jadi kambing lah minimal." Ia malah mengatakan hal yang menyebalkan dengan wajah polosnya. Jadi rasa marahku tiba-tiba saja runtuh entah kemana. Dia menggemaskan, tapi juga membuat jengkel.
"Jadi, saya ini sama sepertimu. Datang dari masa depan. Tapi ada hal yang membuat kita sedikit berbeda." Perkataan menggantungnya membuatku penasaran.
"Apa itu?" Tanyaku.
"Saya bisa melihat masa depan dan masa lalu." Tukasnya, membuatku sedikit bergidik.
"Jadi kain kafan ini dari sahabat saya. Karena dia tahu, di antara kalian, akan ada satu orang yang meninggal, dan harus di pakaikan kain ini karena dia sudah masuk Islam." Aku mengernyit ragu.
"Beneran?"
"Hei!! Apa kamu lihat wajah saya ini mirip Tukul?? Saya tak sedang bercanda lah, dasar kambing!!" Bentaknya padaku.
"Emang sih, setahu gue, di salah satu buku sejarah dari kerajaan Aridul ini, katanya Islam udah masuk dan mulai berkembang. Tapi.. lu gak bisa spoiler siapa yang harus pakai itu nanti?"
Ia mendengus. "Yang pasti dia akan mati duluan." Singkatnya.
Aku pun membuka lebar kain tersebut, dan hanya ada satu kain yang ia berikan padaku. "Ini cuma ada satu? Gue kan tinggal bersama dua orang?" Tanyaku bingung.
"Ini spoiler ya. Yang mati duluan, akan memakai kain ini. Lalu dua orang sisanya.." Ia menatap dalam kearahku.
"Satunya mati tanpa jasad, dan satunya lagi..." Ia meringis seolah kesakitan, dan ia nampak mengumpulkan tenaga untuk mengatakannya.
"Dia akan mati di bantai dan tergeletak begitu saja. Tubuhnya tak bisa di mandikan, dan lehernya di gorok lalu kepalanya di bawa begitu saja."
Aku meringis ngeri mendengarnya. Seketika ludahku tercekat, bak benar-benar merasakan gorokan senjata tajam. "Hei!! Sebelum lu dateng, udah jelas banget kalau lu ini psikopat!! Itu nyeremin banget tau!! Mana ada orang yang bisa ngeliat masa depan!! Khayalan elu ketinggian!!" Keluhku, namun ia hanya menatap datar seolah tak tertarik untuk berdebat denganku.
"Terserah sih! Kadang pilihan orang cerdas ketika harus berhadapan dengan orang bodoh, hanyalah mengalah." Lanjutnya lempeng, benar-benar ya.. Dia membuat darah tinggiku naik saja!!
"Karena elu udah di sini, sebaiknya elu bawa gue pulang juga bersama-sama. Sumpah ya, tinggal di sini ngebuat gue berubah jadi manusia purba!" Keluhku, namun lelaki pendek ini hanya menatap datar.
"Kau tak akan bisa kembali, sebelum misimu terlaksana dengan baik." Ucapnya.
"Apa-apaan sih?! Kok harus gue? Gue gak mau nurutin kemauan elu!!" Balas ku kesal.
"Ya sudah! Emang tak ada urusannya dengan saya sih. Mau kamu tinggal selamanya di sini atau mati sebelum kembali juga bukan urusan saya!" Ia malah terkesan cuek dan tak perduli padaku.
"Kok gitu sih?!"
"Caramu untuk kembali hanya dengan menyelesaikan misi." Sahutnya.
"Kenapa gak adil begitu? Kayaknya dari kemarin elu bisa bolak-balik deh ke tempat ini! Lu nyamperin gue di mimpi kan?? Tapi, kok gue gak bisa sih bolak balik kayak elu?!" Gerutu ku.
"Makanya dengarkan! Sudah saya bilang kan, kalau kita sedikit berbeda. Kamu lihat ini!" Ia mengangkat jari kelingkingnya, memperlihatkan benang merah yang melilit di jari tersebut. "Ini adalah tali penghubung saya dengan dunia saya. Saya bisa bolak-balik sesuka hati karena ada ini. Kalau ini terputus, maka posisi saya dan kamu menjadi sama dan tak ada bedanya."
Aku tersentak mendengar ucapannya itu. "Apa jangan-jangan, benang merah gue udah putus pas gue terdampar di pantai?!" Gerutu ku panik, membuatnya menghela napas panjang dengan wajah yang nampak bosan.
"Begini ya rasanya bicara dengan orang bodoh?!! Saya butuh Agam sekarang! Kamu membosankan!" Keluhnya hingga membuatku mengernyit bingung.
"Apa?!"
"Sejak awal kan sudah saya bilang kalau kamu berbeda. Sebenarnya benang merahmu ada di sini, dan kamu harus mencarinya sendiri dengan insting seorang wanita. Bukankah katanya makhluk halus bernama wanita adalah orang yang peka. Jadi seharusnya itu bukanlah masalah besar bagimu untuk dapat menemukannya!" Terangnya lagi.
Sebenarnya dia yang kelewat pintar karena bahasanya yang rumit dan tak bisa ku artikan, atau memang aku ini yang kelewat bodoh??
"Kasih tau gimana cara memahaminya! Bahasa elu benar-benar gak bisa di mengerti sama sekali!!" Keluhku hingga membuatnya menepuk jidat.
"Cari tahu sendiri!! Saya tak suka mencampuri urusan orang lain!"
"Yaaah!! Kalau lu tau semuanya, tinggal bilang aja kan. Jadi semuanya cepat beres. Benarkan?!"
Ia langsung mencubit tanganku dengan jarinya yang nampak begitu putih dan lembut seperti susu. "Kamu kira ini seperti Indomie? Yang instan begitu?! Usaha sendiri!!" Bentaknya sambil mulai beranjak dan melayang di hadapanku.
"Tu.. tunggu dulu! Apa elu mau pergi lagi?!" Tanyaku panik.
"Tentu saja, saya lapar dan mau makan Indomie topping melati!" Sahutnya Gamblang.
"Apaan tuh?!" Gerutu ku. "Tapi.. tapi.. tapi lu bakalan kembali ke sini lagi kan?" Tanyaku lagi.
"Hmm, kalau kamu bikin masalah, sepertinya saya harus datang." Singkatnya.
"Kalau begitu.. ayo kita saling memperkenalkan nama masing-masing! Gue Ayu!!"
Ia hanya menatapku tak tertarik. "Sudah tahu." Singkatnya.
"Sekarang gantian, lu harus nyebutin nama lu."
Ia nampak semakin tak tertarik. "Gak mau tuh!" Singkatnya.
"Curang banget!! Gue kan udah ngasih tau nama gue, harusnya lu ngasih tau nama lu juga kan?!" Balasku kesal.
Ia terdiam sambil menatap lekat ke arahku. "Saya adalah kuntilanak, dan kamu bisa memanggil saya.."
"K.U.N." Ujarnya sambil mendorong tubuhku dan...
Gubrak!!
Seketika aku langsung tersentak dan terbangun di atas tempat tidur. Ternyata aku bermimpi mengenai lelaki itu lagi. Dan namanya.. Kun?? Dia.. sesosok kuntilanak?? Dan lagi, kenapa mimpi itu terasa begitu nyata?
Aku mengusap keringat sambil mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Lagi-lagi aku bangun kesiangan dan di tinggalkan Bu Sari serta Raka untuk beraktivitas.
Aku beranjak, dan menurunkan kakiku dari atas tempat tidur. Aku sedikit mengernyit bingung, ketika kakiku yang seharusnya menginjak lantai tanah, malah merasakan kain aneh yang berada di bawah kakiku.
Aku menunduk untuk menatapnya, dan betapa kagetnya aku, ketika melihat kain putih yang ada di mimpiku semalam.
"Ini kan.. kain kafan dari Kun??" Gumamku heran.
"Berarti... Pertemuan dengan hantu itu.. bukanlah mimpi belaka?? Tapi, itu nyata?!"
Bagaimana bisa??
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
Ira Resdiana
ckckckckc kunnnn..
ini brati cerita stlh kun ketemu agam ya... krn kun sdhbkenal indomie topping melati versi agam
2024-11-13
0
Ray
Berasa mimpi tapi nyata🤔😱🙏
2024-10-19
0
D Emma
KUN
🤩🥳❤️❤️❤️
2022-11-16
0