Aku dan yang lainnya berjalan menuju camp prajurit kerajaan. Seperti biasa, kami akan di berhentikan di perbatasan untuk di periksa oleh penjaga gerbang.
"Mengantar makanan? Para prajurit sudah mendapatkan makanan mereka di dalam, jadi datang untuk mengantarkan makanan sangat tidak di perlukan." Sahut si penjaga dengan angkuh.
"Kalau begitu bertemu?? Bisa kan kami bertemu dengannya saja??" Tawarku. Setidaknya kami sudah ke sini, dan Bu Sari harus melihat anaknya.
"Merepotkan sekali kalau setiap hari mereka harus di datangi anggota keluarganya. Kalau baru menjadi anggota prajurit, harusnya tahan saja kerinduan kalian. Setidaknya ini adalah latihan sebelum mereka benar-benar tak bisa di temui karena telah masuk ke dalam istana kerajaan." Balasnya ketus.
"Ya mumpung kan, karena dia belum masuk ke istana, setidaknya ini adalah waktu kami untuk bertemu dengannya!!" Seruku, sedikit ketus.
"Siapa yang ingin memanggilnya ke dalam? Butuh waktu juga untuk mencarinya dari sekian banyak prajurit. Kalau dia sudah jadi ketua prajurit, mungkin ini akan menjadi hal yang lumrah, karena semua orang mengenalnya." Penjaga gerbang ini masih saja kekeuh dengan pendiriannya.
"Kalau mencarinya susah, ya sudah.. biarkan saja kami masuk ke dalam dan mencarinya sendiri!!" Sahutku, membuat mereka semua mengernyitkan dahi.
"Apa kau tuli!! Tak ada yang boleh masuk kecuali yang berkepentingan!!" Ujarnya membentak, membuatku sedikit terkesiap karena kaget.
"Berisik deh!!" Tiba-tiba sebuah suara serak terdengar di belakangku, membuat kami menoleh ke arah sejurus. "Ngoceh-ngoceh tidak jelas begitu, mulut mu bau tah-" Agam langsung dengan sigap menutup mulut lelaki pendek ini ketika ia mulai membalas perkataan si penjaga.
"Maaf mengganggu kenyamanannya. Kami datang tak bermaksud untuk membuat kegaduhan, tapi.. wanita ini ingin menyembuhkan luka jenderal yang ada di dalam." Perkataan Agam lantas membuat kami semua terkesiap kecuali Kun.
Dan lagi, dari mana dia tahu kalau ada jenderal yang terluka, dan kenapa juga dia tahu kalau waktu itu memang aku yang menyembuhkannya?
Dua penjaga tadi saling memandangi satu sama lain. Agaknya mereka mulai bernegosiasi perihal kejadian runtuhnya posko yang ada di dalam dan berhasil melukai sang jenderal.
"Oh, benarkah? Apa ini hanya alasan kalian saja agar bisa masuk ke dalam? Soalnya tadi kalian begitu bersikeras untuk masuk?" Ia nampak tak percaya dengan perkataan Agam.
"Kami memang ingin masuk. Wanita ini hanya kesal karena kalian melarang ibu ini menemui anaknya. Tujuan utamanya adalah untuk menemui jenderal. Lalu saya dan teman saya ini datang untuk menawarkan obat dari Arab, yang cocok untuk di berikan pada jenderal." Terangnya, namun lagi-lagi si penjaga tak langsung mempercayainya.
"Kalau begitu, perlihatkan obat yang kau maksud!" Pintanya, membuat Agam mengeluarkan isi dari tas yang ia bawa.
Satu-persatu isi dari tas Agam di periksa, dan dia memang membawa beberapa kain kasa, obat merah yang agaknya ia masukkan ke dalam botol beling. Dan beberapanya adalah pil-pil yang kemungkinan ia bawa dari masa depan.
Aku baru mengerti, ternyata ini alasan ia membawa banyak pil obat yang tadi ku lihat sebelum kami datang kemari. Ini hanya sebuah kebetulan atau ia memang telah merencanakannya dengan baik?
"Oh, dia tak bohong." Sambung temannya.
Mereka mulai menatap kami dengan wajah segan seolah merasa tak enak atas ketidaksopanannya. "Silakan.. silakan masuk ke dalam, aku akan mengantar kalian menemui jenderal." Lanjutnya sambil menuntun kami masuk.
Lalu sekarang apa? Aku memang tak membuat janji pada jenderal kan? Kalau tiba-tiba saja aku datang, bagaimana?? Pasti kebohongan kami akan ketahuan.
Dengan was-was kami masuk ke dalam, sementara Kun yang baru saja melewati si penjaga yang satunya sedikit bergumam. "Pak penjaga, nanti jangan lupa gosok giginya!" Ucapnya, benar-benar menjengkelkan.
"Gam, sekarang gimana? Nanti kita ketahuan kalau emang bohong dan cuma mau masuk buat ketemu Raka kan?" Bisikku ketika berjalan beriringan dengannya.
"Ssst.." Ia malah mendesis dengan wajah yang tenang. Apa dia tak merasa deg-degan atau takut?? Wajahnya santai sekali.
Setelah melewati beberapa posko sambil sibuk menilik ke sekeliling, kami pun sampai ke sebuah posko yang roboh tempo hari. Si penjaga masuk ke dalam, dan beberapa saat kemudian ia keluar bersama si jenderal Ardiansyah.
Wajahku langsung mengeras karena ketakutan. Jantungku terasa berhenti, dan tubuhku mulai mendingin. Sementara jenderal itu menatap wajah kami satu-persatu dan terhenti ke wajahku.
"Ya, dia perempuan yang menyelamatkanku tempo hari." Sahutnya, membuatku merasa sedikit lega karena ia masih mengenali wajahku. "Kembali ke tugasmu!" Perintahnya, membuat si penjaga tadi berlalu dari hadapan kami.
Jenderal Ardiansyah berjalan menghampiri ku. "Apa ada keperluan hingga kau harus datang kemari?" Ia bertanya, sambil menatap Bu Sari dan dua lelaki yang mengikutiku ini. "Lalu mereka siapa? Kenapa menutupi wajahnya?"
"Me.. mereka.." Aku memandang takut ke arah Agam.
"Kami saudagar dari Arab. Menutup wajah adalah hal wajar bagi kami, dan ini tak perlu di curigai. Kami dengar dari wanita ini, ada seorang jenderal hebat yang sedang terluka. Kami datang untuk menawarkan bisnis, kami memiliki obat ampuh yang tak di miliki para tabib." Ujar Agam, dengan cepat ia mengambil alih pembicaraan ketika tahu aku akan menjadi gagu dan tak bisa berbohong jika tak di rencanakan terlebih dahulu.
"Jadi, kami bisa memberikan obat terbaik, Ayu juga sudah memberitahukan perihal kedalaman, panjang, serta lebar dari luka tersebut. Apa yang sudah menyebabkannya, dan bagaimana cara mengatasi dan menyembuhkannya, saya sudah memikirkan jalan keluarnya." Tukas Agam panjang lebar, sementara Kun langsung memberikan isyarat dengan kibasan tangannya agar aku dan Bu Sari segera pergi.
Mereka sengaja memanipulasi penjaga perbatasan agar bisa masuk dengan mengungkit mengenai luka jenderal, lalu ketika berhasil masuk, mereka kembali mengalihkan fokus jenderal, agar kami bisa menemui Raka secara langsung.
Kedatangan mereka sangat membuatku tertolong. Mereka baik dan juga pintar. Atau, boleh ku bilang kalau itu sangat licik.
"Yu?!" Bu Sari memanggilku, membuatku lantas terkesiap kaget dan menatap cengo ke arahnya. "Kita datangi satu-persatu poskonya atau bagaimana?" Tanya Bu Sari, membuatku menganggukkan kepala.
"Ya, kita cari dulu. Sepertinya mereka sedang beristirahat, jadi kemungkinannya mereka ada di tempat makan atau dapur kan? Atau.. kita temui pak Slamet dulu, aku tahu di mana tempatnya mangkal." Ujarku santai, namun beberapa saat kemudian aku terkejut atas perkataanku sendiri.
Memangnya Bu Sari tahu mangkal itu apa??? Dasar aku ini!!!
Aku dan Bu Sari pun menuju ke tempat pak Slamet membagikan makanan waktu itu. Dan benar saja, kami berpapasan ketika ia telah selesai dengan tugasnya.
Ia menyapaku dengan senang. "Ayu.. Sari?? Kalian di sini?? Bagaimana caranya kalian bisa masuk?" Tanya pak Slamet, sedikit heran namun masih saja ia memberikan senyumannya pada kami.
"Mm.. kami mengantarkan tukang obat menemui jenderal." Ceplosku asal. Bahkan dua orang tadi terlalu tampan untuk ku panggil tukang obat.
"Oh, begitu kah? Jadi sekarang kalian ingin kembali?" Tanyanya lagi sambil memandangi apa yang ada di tangan Bu Sari. "Itu bekal makanan?? Apakah untuk Raka?" Lanjutnya, membuat Bu Sari menganggukkan kepalanya.
"Ya!! Apakah kamu melihat Raka?" Sergah Bu Sari cepat, begitu bersemangat.
"Dia barusan mengambil makanan, dan biasanya mereka akan makan di dapur. Di sana tempatnya." Pak Slamet menunjuk sebuah posko, dan kami menatap ke arah sejurus dengan apa yang ia tunjuk.
"Ah, makasih. Kami harus segera ke sana, sebelum waktu makan siangnya habis." Tukas Bu Sari sambil berpamitan pada pak Slamet.
Kami pun bergegas menuju ke dapur, Bu Sari berdiri di depan pintu masuk, dan kedatangannya langsung di sambut oleh seorang wanita yang mengenakan pakaian yang sama dengan kami. Setidaknya para prajurit telah memakai baju dari kain, mungkin untuk menghormati perjuangan mereka di medan pertempuran nanti.
Bu Sari berbicara dengan wanita tersebut, mungkin wanita itu sejenis seksi makanan kalau di sekolah.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun di ujung lahan kosong, aku melihat seseorang sedang berjongkok memunggungiku.
Aku mengernyit bingung, menatap kuncir rambut yang di sanggul rapi dan terikat dengan kain biru. Pakaian para prajurit, tapi.. kenapa dia sendirian di situ??
Karena penasaran, aku pun datang dan menghampiri orang aneh tersebut. "Maaf, apa yang sedang kamu lakukan?" Tanyaku berhati-hati, membuat pria tersebut terkesiap, mematung cukup lama, sebelum akhirnya menoleh ke arahku sambil menengadahkan kepalanya.
Kami bertemu pandang, dan aku langsung terbelalak ketika menyadari pria tersebut ternyata adalah Raka. Aku sampai benar-benar pangling melihatnya.
"Raka?!" Sapaku riang, namun berbeda dengan respon yang ia berikan. Ia nampak terkejut dan memberikan raut wajah bersalah padaku.
"Lihatlah dirimu!! Kau cocok sekali dengan seragam prajurit itu!! Rambutmu yang biasa di kuncir dan membiarkan ekornya memanjang, kini harus di sanggul rapi begitu. Aku sampai pangling dan tak mengenalimu loh!! Ku kira kau orang gila yang kehilangan arah atau di kucilkan orang-orang!" Ujarku panjang lebar, sambil tak henti-hentinya menertawakan dirinya.
Ia masih saja terdiam dan menatapku. Tatapannya sulit untuk ku artikan. Tapi ia benar-benar tak melepaskan pandangannya dariku, barang sepersekian detik pun.
"Kenapa?" Tanyaku heran.
"Kau.. tak membenciku?" Ia bertanya. Suaranya terdengar ragu.
Aku langsung menyipitkan mataku hingga membuat mulutku sedikit ternganga. "Untuk apa aku melakukan itu?" Tanyaku heran.
"Bukankah selepas kita berdebat, kau langsung keluar dari rumah dan tak mau lagi kembali. Kau marah kan padaku?" Tanyanya lagi, seolah berusaha meyakinkan spekulasinya itu.
"Marah sih. Alasan aku kabur di hari pertama memang itu. Tapi di hari berikutnya, aku kabur karena takut kalau kau tak akan menerima kedatanganku. Aku bingung kenapa kau tiba-tiba berbuat jahat begitu." Terangku, membuatnya nampak menenggak ludah sambil menunduk.
"Berbuat jahat?" Ia mengulangi perkataanku dengan tanda tanya.
"Kau mengusir dan mencabuti mawarku! Itu sebenarnya keterlaluan sekali. Tapi aku sudah melupakannya." Balasku sambil ikut berjongkok di hadapannya.
Ia sedikit terkesiap ketika melihatku di depannya. "Apa kau memaafkanku?" Tanyanya, nampak ragu.
"Tentu!" Singkatku.
"Lagi pula mawar kan bisa di tanam lagi, jadi tak masalah." Tuturku lagi.
Ia terdiam sesaat sambil mengeluarkan sesuatu dari baju bagian dalamnya. Ketika telapak tangan besarnya ia adahkan padaku, aku terbelalak kaku, tatkala melihat benda yang kini berada di tangannya itu.
"Mawar layu?" Tanyaku heran, sedikit mengernyitkan dahi ku.
"Ia pernah segar sebelum menjadi layu." Perkataannya membuatku merasa bingung.
"Maksudmu?"
"Sebenarnya ketika mawar ini mekar, aku ingin memberikannya langsung padamu. Sebagai permintaan maaf dan juga rasa terimakasih karena kau telah memohon pada jenderal atas namaku." Lanjutnya menerangkan, membuatku benar-benar tak percaya dengan apa yang kini aku lihat dan dengar.
"Ke.. kenapa kau sebaik itu? Apa kau sedang kerasukan setan kuntilanak??" Tanyaku heran, namun ia hanya mendengus, seolah jengkel dengan ucapanku barusan.
"Mungkin karena.. selepas ini, aku tak akan bertemu denganmu lagi." Perkataannya membuat hatiku terasa berdenyut ngilu. "Selepas pelantikan, aku akan di bawa ke istana dan di tempa di sana. Kami juga akan benar-benar terjun di Medan pertempuran setelah pelantikan resmi di lakukan."
"Aku jadi berharap agar kau tak kemana-mana. Aku ingin kau tetap di sini, tak pergi kemanapun, meski waktu itu aku terus mengusirmu." Ia mulai menunduk dan menatap luka di kakiku yang telah mengering dan hampir sembuh.
"Dan kakimu pun telah sembuh. Aku tak akan menagih janjimu itu. Hanya saja, aku mohon agar kau tetap tinggal dan menjaga ibuku ketika aku tak ada."
"Tak ada orang lain yang dapat aku percaya untuk melakukan hal ini kecuali dirimu. Jadi, aku mohon bantulah aku."
Perkataannya benar-benar membuatku terpaku dan mematung. Apakah maksud dari ucapannya itu.. adalah karena ia telah benar-benar mempercayaiku??
"Mungkin kau akan menganggapku egois dan hanya memanfaatkanmu untuk keperluan ku, tapi-"
"Aku tak pernah berpikiran begitu." Aku langsung menyergah ucapannya. "Meski aku tahu kalau sifatmu buruk dan kau itu jahat, tapi.. aku tak pernah menganggap apa yang kau katakan ini sebagai ucapan untuk memanfaatkanku." Ia terbelalak mendengar ucapanku.
"Aku tak akan kemana pun, dan aku akan berjanji untuk menjaga ibumu." Ujarku, membuatnya menghela napas lega sambil menundukkan kepalanya.
Ketika ia melakukan itu, aku sedikit mengernyit, tatkala melihat sebatang tumbuhan berduri yang layu di belakangnya.
"Mawarku?!" Pekikku sambil terbelalak, membuat Raka terkejut sambil berusaha menyembunyikan benda yang ada di belakangnya.
"Bu.. bukan apa-apa!!" Suaranya terdengar panik meski ia tetap saja terlihat tak berekspresi.
"Ahaa!! Ternyata mawar ku di sini? Aku sempat sedih karena berpikir kalau mawarnya sudah mati dan di buang. Tapi ternyata dia masih ada di sini?!" Ucapku sambil tertawa senang, dan beranjak menghampiri tumbuhan tersebut.
"Apa kau yang menanam dan menjaganya?" Tanyaku, dan ia hanya mengangguk.
"Tapi.. dia layu. Aku bingung bagaimana cara merawatnya. Aku menyiraminya setiap waktu." Tuturnya polos, membuat ku sedikit gemas.
"Mana boleh menyiraminya terus menerus begitu? Kalau dia kekurangan air, maka dia akan mati kekeringan. Tapi kalau dia kelebihan air, maka akarnya akan membusuk begitu pula dengan batang dan daunnya."
"Sewajarnya saja. Kau cuma cukup menyiraminya sehari dua kali. Di pagi dan sore hari." Terangku, sambil mengusap daun mawar yang telah menguning tersebut. "Tapi.. terimakasih. Aku tak menyangka kau masih mau merawatnya dalam kesibukan latihanmu."
"Tapi.. jika aku ke istana. Tak ada siapapun yang bisa merawatnya." Ujarnya datar.
"Dia di dalam wadah?? Kalau begitu, biar aku yang membawanya pulang. Aku akan menunjukkannya jika kau kembali ke rumah selesai pelatihan atau ketika libur bertugas. Pasti ada hari liburnya kan?" Tanyaku lagi, dan ia kembali mengangguk.
"Oh ya.. ini untukku kan?" Tanyaku sambil merebut mawar layu yang berada di tangannya.
"Tapi itu sudah layu." Ujarnya datar.
"Tak masalah. Kalau itu adalah pemberianmu. Bangkai pun akan ku simpan." Ucapku berkelakar, membuatnya mendengus sebal ke arahku.
"Aku hanya bercanda." Dengusku sambil tertawa. "Makanlah dan berlatihlah dengan baik. Aku akan datang di acara pelantikan mu nanti." Sambungku, membuatnya terdiam beberapa saat, sambil beranjak dari posisi jongkoknya.
"Ya. Aku akan menunggumu." Balasnya sambil berbalik dengan cepat.
Aku mengerjap dengan heran dan terpaku di tempat. Begitu terpana karena barusan aku melihat...
Wajah Raka, tersenyum..
Kepadaku??
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
Ira Resdiana
tsaaaahh... rayuan mauutt /Proud/
2024-11-13
0
Ray
Sudah ada reaksi dari Raka🤔😘
Dan apa yg terjadi selanjutnya?
2024-10-19
0
may
Ecieee
2024-01-18
0