Seketika aku melompat dari atas kursi yang ku duduki setelah mendengar kalau aku tengah berada di zaman raja Anggara, Raja yang benar-benar ku cintai.
Rasa sakit serta darah yang mengucur di kakiku tak ku hiraukan lagi. Atau bagaimana caranya aku masuk ke dunia ini pun sudah tak ku urusi. Aku terlalu senang berada di dalam sejarah yang ku baca setiap hari. Rasanya bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan.
"Salam hormat yang mulia raja!! Saya akan mengabdikan diri kepada yang mulia raja!!" Seruku semangat, hingga membuat ibu tersenyum senang.
"Kamu bahkan mengenal raja Anggara padahal tidak berada di bawah kepemimpinan kerajaannya? Ibu benar-benar yakin kamu tak berasal dari sini.. Sungguh, raja Anggara memang raja yang sesungguhnya." Sahutnya hingga membuatku tersenyum penuh arti.
"Mulai sekarang.. saya adalah rakyatnya yang paling setia!!" Ujarku mantap. "Tapi, bolehkan saya bertemu dengan raja Anggara sekarang?!" Pintaku, sedikit mendesak dan tiba-tiba.
"Kau kira kau siapa? Ingin bertemu dengan seorang raja?? Kita hanyalah rakyat jelata, masuk di halaman istana pun kau akan di panah sampai mati dengan panah beracun." Sahut Raka hingga membuatku terkesiap.
"Gila!! Perkataan elu itu mengerikan!!" Setelah sadar akan ucapanku, aku pun memperbaiki kalimatku. "Maksud saya, kamu berkata sesuatu yang mengerikan!!"
Ia menggelengkan kepalanya. Suasana nampak canggung setelahnya. Ibu-ibu ini lantas beranjak dan mengambil kain dan menyeka darah di kakiku. Perih dan sakit, kalau cuma di lap, darahnya tak akan berhenti.
"Mm.. ada baiknya kalau kita berkenalan." Ujarku ragu, sambil menatap Bu Sari yang merunduk di hadapanku.
"Nama saya Raka, dan ibu saya, Sari." Ia mulai memperkenalkan diri dengan sopan. Dan sepertinya lelaki ini nampak begitu kaku, apa karena aku orang asing??
"Saya Ayu." Singkatku.
"Ayu?? Nama yang cantik." Sambung ibu Sari hingga membuatku tersipu. "Kalau boleh tahu, kenapa kamu ingin bertemu dengan yang mulia raja?"
Aku menenggak ludah mendengar perkataannya. "Hmm, sebenarnya ini rahasia sih. Tapi saya tahu masa depan!! Saya lihat, mmm.." Aku mulai memasang lagak seperti seorang paranormal yang sedang membaca masa depan. "Raja harus berpisah dengan ratunya sekarang!!"
Perkataanku lantas membuat ibu dan anak ini terkesiap kaget. "Apa?!" Sergah Raka, nampak sedikit dalam suaranya.
"Soalnya, ratunya itu brengs*k, dia selingkuh dengan panglima raja!! Dan itu sangat menyakiti hati raja Angg-" Aku terdiam ketika sepasang mata menyeramkan memandangiku dengan lekat dan sadis. Ia membungkam mulutku dengan tangannya yang terluka.
"Perkataan hina!!" Ujarnya hingga membuatku terbelalak. "Jangan pernah katakan hal itu lagi di depan siapapun, kalau kau masih ingin hidup di dunia ini!!" Lanjutnya, terdengar begitu serius hingga membuatku bergidik ngeri.
"Mengerti?!" Lanjutnya lagi, dan aku langsung mengangguk. Ia melepaskan bekapan tangannya dari mulutku sambil menatap ibunya yang sedang melirik ke arah pintu dan jendela pondok.
"Syukurlah, tidak ada orang di luar." Lanjutnya.
"Dengar ya!! Raja itu sangat mulia, begitu pula dengan ratunya. Berbicara begitu dengan derajat kita seperti ini hanya akan membuatmu mati dengan terhina. Bahkan mayatmu tak akan di lihat oleh sesiapapun selepas kematianmu!! Camkan itu, bod*h!!" Bentak Raka di hadapan wajahku.
Dia kasar dan dingin sekali. Apakah dia tak bisa memperlakukan orang yang baru ia temui dengan baik??
"Tapi.. aku memang melihat yang seperti itu di masa de-" Aku terbungkam ketika Raka menatapku dengan tajam. Lagi.
Aku meringis, bukan karena tatapannya yang menyakitiku, tapi karena kakiku yang terus mengucurkan darah mulai terasa berdenyut dan nyeri.
"Oh! Ayu, darahmu tak berhenti!" Ujar ibu Sari, begitu panik.
Raka langsung merunduk di hadapanku, memeriksa kedalam luka di kakiku serta luka bakar yang mengikutinya di sekitar kulitku. Kalau ini mimpi, seharusnya aku tak akan pernah merasakan sakit.
Tapi hal bod*h apa lagi yang dapat menjelaskan kalau ini hanyalah mimpi, bukan kenyataan.
"Ini dalam. Kamu mencabuti anak panah itu sendiri?" Ia bertanya, dan aku hanya perlu mengangguk untuk membenarkan.
"Kita butuh obat di pasar, biar ibu yang pergi ke sana." Ujar Bu Sari panik, sambil bersiap mengambil tas kecil dari kulit kayu yang ia selempangkan di tubuhnya.
"Bu.. tak perlu!!" Ia terhenti. "Di sepanjang perjalanan ke sini, aku melihat ada beberapa tumbuhan yang bisa di gunakan untuk menyembuhkan luka dan menghentikan pendarahan." Mereka berdua mengernyit.
"Benarkah??" Aku mengangguk. "Kalau begitu, sebutkan ciri-cirinya. Biar aku yang mencarinya." Lanjut Raka hingga membuatku meringis masam.
"Itu sulit untuk orang awam!!" Ceplosku.
"Kau meremehkan ku?!" Raka terdengar tersinggung.
"Eh!! Bu.. bukan begitu. Tapi memang sulit sekali untuk menemukannya. Kau harus membawaku juga. Biar aku yang memilihnya." Ia terdiam sambil memandangiku.
"Kau bisa berjalan sendiri ke sana?" Aku hanya tersenyum, seolah mengisyaratkan betapa bodoh pertanyaannya.
.........
"Yang mana??" Tanyanya sambil meremas-remas beberapa dedaunan di dekatnya, ketika kami telah berada di sekitar hutan lebat.
"Jangan di begitu kan b*doh!! Nanti daunnya hancur!!" Keluhku sambil memeriksa beberapa daun dan memberikan contoh kepadanya.
"Lihat ini!!" Aku menunjukkan sebuah daun hijau ke hadapannya. "Daun ini namanya daun binahong. Daun ini memiliki sifat antiseptik yang membantu mempercepat proses penyembuhan luka. Caranya juga mudah, tinggal di tumbuk beberapa daunnya, dan tempelkan pada bagian yang terluka." Terangku sambil memetik beberapa daun lagi untuk mengobati lukanya juga.
Ia hanya terdiam sambil memandangiku. Tak bisa ku artikan tatapannya itu, hanya saja.. aku merasakan kalau itu adalah sebuah tatapan kekaguman.
"Ku rasa semua bentuk daunnya sama. Ku kira ini adalah rumput." Ujarnya sambil mengalihkan pandangannya dariku.
"Perkataan bod*h macam apa itu?! Mengingatkanku pada Nina dan Cin..." Aku lantas terdiam memandangnya.
Kini malah aku yang gantian terpesona menatap wajah lembutnya yang berbaur di antara rerumputan segar yang hijau. Kulit sawo matangnya nampak mengkilap, dan ia sama sekali tak memberikan ekspresi apapun pada tiap tatapan matanya.
"Apa aku benar?" Ia mengangkat beberapa daun dan menunjukkannya padaku. Aku sedikit terkesiap, namun buru-buru aku menghilangkan rasa aneh di dadaku.
"Ah! Benar!! Itu benar!!" Sahutku cepat.
"Sebaiknya kita cepat mengambil beberapa daun dan kembali. Aku tak mau ada yang menyadari kedatanganmu." Perkataannya lantas membuatku kebingungan.
"Hah? Kenapa?"
"Kau memakai pakaian yang berbeda dengan kami. Rambutmu tergerai, dan wajahmu sedikit berbeda pula dengan rakyat di sini. Kau akan menarik perhatian siapa saja yang melihatmu."
Aku tersenyum jahil melihatnya. "Heeeh, jadi kau juga tertarik padaku? Makanya waktu itu tiba-tiba saja kau datang dan menolongku??" Ledekku hingga membuatnya mendecakkan lidah. Lagi-lagi tatapannya kembali dingin.
"Aku datang karena melihatmu tiba-tiba jatuh dari atas langit. Apakah kamu sejenis Dewi?? Atau semacamnya?"
Aku tertegun mendengarnya. "Apa itu sebuah candaan?"
Ia nampak mengernyit. "Kalau begitu, anggap saja itu candaan. Dan jangan salah paham ketika aku menyelamatkanmu. Aku hanya sedang belajar untuk mencapai cita-cita ku." Lanjutnya sambil beranjak dan menghampiriku.
Ia memberikan punggungnya, untuk ku naiki seperti saat pergi ke tempat ini. Aku pun memeluknya, membiarkannya membawaku kembali ke rumahnya.
"Kalau kau sudah sembuh, silakan pergi dari rumahku." Lanjutnya hingga membuatku tersedak. Ingin sekali aku memukul kepalanya dari belakang, tapi kalau ku lakukan.. aku pun akan jatuh dari gendongannya.
"Aku tahu." Singkatku.
Lagi pula aku akan kembali ke pantai dan mencari tahu bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke rumahku. Sebelumnya aku harus bertemu raja Anggara ku terlebih dahulu. Mengacaukan hubungan raja dan istrinya, serta menggerebek perselingkuhan si istri dengan panglima.
"Uuuu.. nanti pasti namaku akan terukir di sejarah, sebagai pahlawan yang mulia Raja Anggara." Gumamku sambil menggeliat di punggung Raka.
"Tenanglah sedikit!! Kau seperti cacing kepanasan! Mau ku lempar ke dalam lembah sana?" Ancamnya hingga membuatku terdiam.
Sesampainya di rumah, aku meminta alat penumbuk pada Bu Sari. Ku tumbuk beberapa helai daun hingga hancur dan menempelkannya pada bagian luka di kakiku.
"Benarkah bisa menyembuhkan luka? Itu terlihat seperti rumput?" Gumam Bu Sari ketika melihatku berani menempelkan luka dengan daun yang ia sebut sebagai rumput.
"Tentu bisa, ini namanya daun binahong." Sahutku.
"Kamu tahu dari mana kalau itu memang bisa menyembuhkan luka?"
"Hmm.. aku pernah belajar sains di SMA, daun ini memang bekhasiat untuk menyembuhkan luka, Bu." Terangku.
"SMA?? Sains?? Benda apa itu?" Aku lantas tersedak mendengar perkataan Bu Sari. Sementara Raka hanya menatap dingin padaku sambil melipat kedua tangan ke dadanya.
"Oh, kamu juga terluka kan? Berikan tanganmu padaku!!" Pintaku sambil menengadahkan tanganku ke arahnya, sekalian mengalihkan pembicaraan Bu Sari.
"Nanti kalau aku mati bagaimana? Kamu bukan tabib, jadi untuk apa di percaya!! Lagi pula sebaiknya mandi dan ganti baju anehmu itu!! Jangan menarik perhatian orang lain." Sahutnya dingin, sambil berlalu dari hadapan kami.
"Kalau bakalan mati, aku tak akan berani mengobati diriku sendiri dengan ini." Gerutu ku sambil menatapnya membanting pintu. Apa dia mau pondok reyot ini roboh?
Aku hanya terdiam memperhatikan tingkah anehnya. Apa dia membenciku? Sejak awal kedatangan, sifatnya dingin begitu? Bahkan dia jelas-jelas sudah mengusirku.
"Oh, iya Ayu. Ayo ibu temani mandi. Di belakang rumah ada danau yang tertutup daun lebat. Jarang di pakai untuk umum karena banyak yang tak mengetahui keberadaannya. Kamu masih bisa berjalan sendiri? Atau mau di gendong Raka seperti tad-"
"Ah! Jangan!!" Sergahku cepat. "Masa' dia menemani seorang gadis mandi?" Keluhku hingga membuat Bu Sari tertawa.
"Dia anak baik. Tak akan melakukan hal yang macam-macam." Singkatnya. "Kalau begitu, ibu dorong kamu pakai gerobak saja."
"Hah?! Ge.. gerobak?!"
..........
Aku membasuh tubuhku dengan sebuah gayung tradisional yang terbuat dari batok kelapa dan sebuah kayu yang mengaitnya. Aku menyirami tubuhku tanpa mengenai bagian kaki yang terluka.
Sabunnya aneh, seperti lemak hewan namun sedikit licin dan berbusa. Sikatnya dari sabut kelapa, baunya aneh.. tidak wangi, tapi bisa membuat kulit bersih setelahnya.
Sambil menyikat tubuhku, ibu Sari mengoleskan sesuatu ke rambut ku. Apakah ini yang dinamakan sabun dan sampo zaman dulu??
"Rambutmu indah dan panjang, tapi kenapa warnanya sedikit kusam? Apa kamu dari kerajaan asing berhidung panjang?" Aku segera menggeleng mendengarnya.
"Bukan.. bukan hidung panjang asing!!" Sahutku panik, membuat ibu Sari kembali tertawa.
"Apa kakimu masih sakit?"
"Sedikit." Jawabku. "Tapi, luka Raka sedikit dalam dan lebar. Ada luka bakarnya juga, apa dia tak apa-apa?" Lanjutku, bertanya dengan begitu hati-hati.
"Luka?" Ibu Sari malah mengulangi kalimatku. Aku sedikit berbalik untuk melihat wajahnya itu. "Dia sudah biasa terluka, bahkan hal itulah yang merenggut senyuman dari wajahnya." Aku terkesiap mendengarnya.
"Jadi.. karena itu dia jarang tersenyum?" Ibu Sari hanya mengangguk.
"Lukanya terlalu lebar. Jadi luka yang kamu lihat tak akan ada apa-apa baginya." Terangnya, membuatku menunduk lirih.
"Sesakit apa luka yang ia rasakan, dan apa penyebab yang melatarbelakanginya?" Pertanyaanku lantas tak mendapatkan jawaban darinya. "Maaf, pertanyaan saya terlalu dalam ya?" Lanjutku, merasa kurang enak.
"Sebenarnya.. Raka sering melihat rakyat yang terluka karena korban dari peperangan antar kerajaan dalam memperebutkan daerah kekuasaan. Hanya saja, baru kali ini ia membawa pulang seseorang yang terluka." Ia menceritakannya sambil tersenyum, dengan jemari yang terus mengusap rambutku.
"Kenapa dia datang ke tempat peperangan? Itukan bahaya?!"
Bu Sari kembali tersenyum dengan lembut. "Karena dia begitu mencintai rajanya, dia juga mencintai seluruh rakyat rajanya. Dan memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit yang membela kerajaan. Itulah impiannya."
"Mungkin saja kata mati sudah tak menakutkan lagi baginya, makanya dia begitu berani untuk menjadi seorang prajurit di umur semuda itu. Ia sering berlatih, memanah, mengayunkan pedang, menunggangi kuda, dan ia akan mengikuti pelatihan kerajaan beberapa hari lagi. Ia semangat sekali." Terangnya.
Tak takut mati?? Padahal dia tadi tak mau ku obati karena takut mati. Aku lantas mengerutkan dahi. "Pelatihan kerajaan? Apa itu?"
"Hm? Kamu tidak tahu itu??" Aku terdiam dengan wajah ambigu. "Itu pelatihan yang digunakan untuk merekrut siapa saja yang hendak mengabdikan dirinya pada raja berserta rakyat. Mereka yang paling kuat akan di pilih dan di latih oleh panglima kerajaan langsung-"
"Panglima!!" Aku setengah berteriak mendengarnya, dan tentu saja Bu Sari terkesiap.
"Ada apa?"
Aku segera menggeleng. Tak mungkin kan kalau aku bilang, si panglima itu yang berselingkuh dengan sang ratu. Bisa-bisa aku mati di zaman ini, padahal belum sempat kembali ke duniaku. Aku benar-benar menganggap serius perkataan Raka kepadaku.
"Apakah aku bisa datang untuk melihat Raka latihan?" Tanyaku. Sebenarnya aku hanya bermaksud untuk melihat wajah si panglima gila itu. Siapa tahu aku bisa bertemu dengannya di situ.
"Kalau belum sampai ke kerajaan, kamu bisa melihatnya berlatih. Karena camp pelatihan jaraknya memang tak jauh dari sini. Kamu bisa memberikannya makanan, dia pasti senang." Aku mengangguk dengan semangat.
Maaf ya Raka, aku hanya ingin bertemu dengan orang-orang yang pernah ku baca di buku sejarah. Jadi, karena kau memberikanku jalan, aku akan sedikit memperalatmu. Hehe, terdengar jahat tapi sangat menyenangkan.
Sampai di rumah selepas mandi, aku di kenakan pakaian yang sama dengan yang di pakai oleh Bu Sari. Dari kulit kayu, apakah ini akan terlepas dan menelanj*ngiku nanti???
"Apakah ini akan terbuka?" Tanyaku.
"Ini kuat. Apa kamu belum pernah memakainya?" Aku menggeleng. "Rambutmu harus diikat, tidak boleh di urai. Karena yang boleh mengurai rambut hanyalah kaum bangsawan dan putri kerajaan yang masih gadis dan belum menikah." Aku langsung menatap sengit ke arah ibu Sari.
"Bukankah itu diskriminasi? Mereka seolah ingin terlihat cantik sendiri. Aku kan cantik kalau di urai, kalau rambutku diikat?? Seperti ibu-ibu kan?" Aku kembali mengeluh, dan dengan sabar ibu Sari hanya tertawa mendengar ocehanku. Ia benar-benar jauh dari sifat ibuku yang menurunkan sifat bar-bar nya padaku. Bu Sari sangat keibuan. Beruntungnya Raka.
"Memang tak boleh ada yang terlihat cantik, ataupun berpakaian menarik. Kecemburuan mereka tak berdasar, kamu bisa-bisa di penjara hanya karena terlalu cantik atau berpakain berbeda dari yang lain." Aku langsung bergidik. Separah itu?? Aku tak pernah membaca hal ini di buku sejarah manapun.
"Sudah selesai. Kamu sudah rapi dan sederhana." Gumamnya, sambil berbalik ke hadapanku selepas menguncir rambutku dan menyanggulnya.
"Apa aku tak boleh bercermin??"
Ibu Sari hanya mengangguk. "Bercerminlah dalam pantulan air jernih. Kamu akan melihat wajahmu di sana. Cermin hanyalah untuk kaum bangsawan, dan tak ada seorang gadis pun yang boleh memilikinya meskipun berukuran sebesar kuku jari."
Aku menenggak ludah. Aku juga tak pernah membaca peraturan seperti ini dalam sejarah. Apakah memang seperti ini???
"Bu, aku.."
Aku dan Bu Sari lantas menoleh ke arah pintu kayu yang tiba-tiba saja berderit dan terbuka, menampakkan Raka yang terdiam sambil menatap ke arahku dengan wajah datar.
"Aku lapar." Singkatnya sambil mengabaikanku.
"Raka, lihat.. dia masih cantik bahkan dengan baju sederhananya." Ujar ibu Sari, nampak begitu khawatir.
"Jika tak ada pihak kerajaan yang melihatnya, itu tak masalah. Selepas kakinya sembuh, usir dia dari rumah kita." Lagi-lagi ia mengatakan kalimat sedingin itu.
"Raka..." Ibu Sari terlihat tak nyaman dengan perkataan anaknya.
"Aku tahu! Jadi jangan bicara seperti itu berkali-kali!! Aku sadar diri kok! Aku akan pergi kalau sudah sembuh, dan aku tak mau melihat wajahmu lagi setelah itu!!" Balasku penuh keegoisan.
"Bagus!" Ia malah terdengar lega sambil duduk di atas meja kayu berbentuk bulat, yang letaknya berada di tengah-tengah tenda. Tenda ini bentuknya pun bulat. Hanya ada dua tempat tidur, dua meja, dan satu lemari pakaian. Selebihnya seperti peralatan dapur yang di gantung di dekat dinding tenda atau di luar pondok ini.
"Ayu, kita makan sama-sama." Ajak ibu Sari sambil menuntunku ke meja makan.
Aku dan Raka saling berhadapan dalam diam ketika Bu Sari mempersiapkan hidangan ke atas meja. Meski diam, tatapan kami begitu sengit seperti sedang saling berkelahi satu sama lain.
"Berikan tanganmu!!" Pintaku ketus. Ia hanya diam dan mengabaikan.
"Berikan!!" Aku langsung mengambil dan membukanya, melihat lukanya masih basah dan nampak terus mengeluarkan darah.
"Apa yang kau lakukan dengan tanganmu?!" Perkataanku lantas membuat Bu Sari menilik ke arah kami. "Kamu melakukan sesuatu yang membuatnya semakin parah?!"
"Jangan ikut campur!!"
"Kamu juga jangan bod*h dan keras kepala!! Ini harus di obati." Aku mengambil beberapa daun yang telah ku tumbuk di atas meja dan menempelkan ke tangannya.
Meski ketus, tapi ia membiarkan aku melakukannya. "Kalau terluka, harus di obati.. bukan di biarkan."
"Di obati atau di biarkan, dia tetap akan sembuh juga." Aku langsung meringis menatapnya.
"Akan terlihat berbeda. Jika dia sembuh dengan di obati, maka lukanya akan cepat kering dan bekasnya tak akan kentara. Tapi kalau tak di obati, selain sakit, bekasnya pun akan terlihat jelas meski lukanya sudah tak berdarah lagi!!" Ia langsung terkesiap, seolah tersengat sesuatu.
Tangannya sedikit bergetar ketika mendengar ucapanku. "Jangan sok tahu mengenai luka jika kau tak benar-benar mengalaminya dengan serius."
"Meski tak mengalaminya, aku punya kemampuan untuk merasakan sakitnya meski hanya sekedar melihatnya. Dan sepertinya... kau memaksakan diri dengan membiarkan lukamu terus menganga. Kalau begitu, sampai kapanpun kau tak akan benar-benar sembuh dari rasa sakitmu." Tuturku, namun sepertinya itu membuatnya sangat marah dan tersinggung.
Ia lantas menampik tanganku dengan kasar ketika mendengar ocehanku. Aku begitu kaget karena ia benar-benar memukul tanganku dengan tenaganya. Ia keluar dari rumah tanpa mengatakan sepatah kalimat pun.
"Raka, makanannya baru saja siap!" Ucap Bu Sari ketika baru saja masuk ke dalam tenda dari pintu yang ada di belakang. "Kenapa dia keluar? Apa kalian bertengkar?" Tanya Bu Sari hingga membuatku merasa bersalah dan tidak nyaman.
"Aku hanya menceramahi tentang luka, tapi dia terlihat begitu marah." Sahutku pelan dan entah kenapa, aku merasa begitu khawatir selepas kepergiannya.
Entah aku salah lihat atau tidak, tapi.. aku sempat melihat air matanya yang jatuh, meski ia telah memunggungiku dengan cepat.
Sebenarnya, luka seperti apa yang telah menyayatnya? Aku tak melihat luka berarti di tubuhnya..
Atau jangan-jangan, luka itu...
Ada di dalam hatinya??
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
Ray
AQ suka cerita Outhor❤️🙏
2024-10-18
0
may
Apakah permaisuri raja berselingkuh dengan Raka?
2024-01-17
0
jasumin-kun no hana~
mancung? apakah maksudya para bule?
2023-12-23
0