Aku meniup kayu bakar di bawah panci nasi dengan buluh panjang layaknya sedotan atau pipa dengan diameter sebesar mulutku.
Asapnya membuatku terbatuk, dan mataku nampak memerah karena perih. Bu Sari langsung menghampiri ku dan mengambil alih keadaan.
"Kamu tak biasa memakai ini?" Ia bertanya dengan sopan. Padahal cukup katakan saja kalau aku tak bisa memasak dan mengambil alih dapur.
"Kalau ini matang, aku mau membawanya untuk Raka." Sahutku sambil menatap Bu Sari.
"Tentu."
.........
Di perjalan ke camp aku menunggu di perbatasan seperti kemarin. Aku celingak-celinguk ke dalam, melihat latihan berat yang harus mereka lakukan.
Aku melihat Raka sedang latihan menggunakan pedang dari kayu. Tampaknya ia sedang berlatih satu lawan satu melawan sesama pemuda yang kelak akan menjadi prajurit.
Pertandingannya sangat seru, meski tubuh musuhnya lebih besar dari Raka, tak menutup kemungkinan kalau Raka tidak akan menang. Ku lihat tenaganya sangat besar, dan daya juangnya juga sangat tinggi.
Tebasan terakhir di lakukan Raka sambil melompat dengan libasan pedang kayu yang tepat mengenai pucuk kepala musuhnya. Sang musuh jatuh terkulai, dengan Raka yang mendarat sempurna di atas tanah setelah lompatan tingginya.
Orang-orang bersorak riang, karena mendapatkan tontonan menarik yang di berikan Raka pada kami semua. Aku pun bertepuk tangan dengan senang, meski tak menonton dari awal, tapi akhir pertandingan tadi benar-benar seru.
Aku sedikit mengernyit ketika Raka yang berada di arena tanding nampak memandangiku dari jauh. Aku terkesiap. Rasanya seperti sepasang kekasih, ketika ia berhasil mengalahkan musuh, wajah yang pertama kali ia lihat adalah aku.
Ketika pelatih mereka menghentikan pertandingan secara resmi, aku kehilangan sosok Raka. Meski berusaha mengedarkan pandangan, tapi tetap saja dia tak terlihat di mana-mana.
Namun tiba-tiba, dari arah belakang, seseorang muncul, menepuk pundakku dan menarikku tanpa ada seorang pun yang menyadarinya. Ternyata orang itu adalah Raka.
Kami kembali makan dan duduk di bawah pohon seperti kemarin. Ia menungguku membuka bungkusan bekal dan memberikan itu padanya. Ia menyambutnya dengan cepat ketika bekal telah berada di hadapannya.
"Kau pasti sangat kelaparan karena habis bertanding!! Tadi itu seru sekali!!" Pekikku riang.
"Biasa saja." Singkatnya.
Namun dalam diam kami, aku melihat bekas memerah di lengan serta lehernya. Kemungkinan di dalam bajunya ada bekas luka yang lebih dari itu.
"Apa sebelum aku datang, kamu sempat kalah?" Pertanyaan ku lantas membuatnya mematut dengan dahi yang mengkerut.
"Kau meremehkan ku?!" Keluhnya hingga membuatku tersentak panik.
"Bu.. bukan begitu. Hanya saja, lengan dan juga lehermu banyak bekas-bekas merah. Apa kau hanya bisa menyerang tanpa menghindari serangan musuhmu?" Ia mengangkat kepalanya dari wadah nasi dan menatapku sengit.
"Kau mengajari seorang petarung caranya untuk bertarung??" Ia terdengar tersinggung.
"Kenapa kau tak menganggap kalau perkataanku adalah sebuah kepedulian?? Lagi pula kau baru saja ku beri ramuan, jadi aku harus membuatkannya lagi untukmu malam ini." Keluhku. Ia terdiam sesaat seolah berpikir.
"Aku lengah berkali-kali, dan di hajar berkali-kali. Tapi aku selalu punya alasan untuk bangkit. Bagiku pukulan itu sama sekali tak terasa sakit." Sahutnya, hingga membuatku yang kali ini menjadi terdiam.
"Karena ada rasa sakit yang lebih berat dari pada ini??" Ia tercengang menatapku. "Maksudku.. seseorang yang terbiasa menerjang badai, akan merasa biasa saja saat di hantam gerimis." Lanjutku menerangkan.
"Begitu??"
"Itu terdengar seperti sebuah pertanyaan." Sahutku.
"Mungkin kau benar, tapi aku benci mengakuinya." Tukasnya hingga membuatku terbahak.
"Barusan kau mengakuinya b*doh!!" Ia kembali terdiam. "Kalau kau terus-menerus menjadi kuat, aku yakin kau akan mendapatkan apa yang kau impikan." Ia kembali tercengang.
"Cuma kau yang berkata begitu."
Aku mengernyit. "Maksudmu?"
"Tak ada, aku akan kembali ke camp. Katakan pada ibu, terimakasih telah memasakku makanan ini." Ujarnya seraya beranjak dari hadapanku.
Aku menengadah menatapnya. "Hei!! Kau tak berterimakasih padaku karena telah mengantarkanmu makanan ini?"
Ia malah pergi dan mengabaikan ku. Dasar, mau sampai kapan dia bersikap sedingin itu? Menyebalkan sekali!!
..........
Sepulang dari mengantarkan makanan untuk Raka, aku kembali ke pantai untuk memeriksa sudah adakah pintu atau mesin waktu di pantai. Aku tahu ini bukan dunia Doraemon, tapi menyebalkan sekali ketika mengetahui kalau aku bisa sampai ke sini namun tak tahu caranya untuk kembali.
Selama di pantai, aku hanya terduduk ketika kakiku mulai letih. Darahku keluar lagi, dan terpaksa aku menutup luka dengan mengingat kain pembungkus bekal di kakiku.
Pikiranku melambung jauh, mengingatkanku pada lelaki yang ku temui sepulang sekolah waktu itu. Entah kenapa aku melupakan wajahnya dan siapa dia. Tapi entah kenapa pula, aku meyakini kalau dia ada hubungannya dengan semua ini.
Dia berkata pantai sebelum aku pergi dan tiba-tiba besoknya aku memang ke pantai hingga terdampar di zaman ini. Apakah dia seorang penjelajah waktu? Tapi kenapa dia harus membawaku ke sini? Apa ada maksud tertentu??
Selepas melamun, aku kembali ke rumah saat kakiku tak terasa perih lagi. Di sepanjang perjalanan, aku memetik beberapa daun binahong dan juga rempah-rempah untuk ramuan Raka.
Beberapa hari setelahnya, meski Raka selalu pulang dalam keadaan tubuh yang babak belur, aku yakin ia menyukai apa yang tengah ia lakukan. Ambisinya begitu kuat untuk menjadi prajurit.
Setiap hari aku membantu mengompres memar dan lukanya, memberinya ramuan, dan mengobati luka goresan di lengannya.
"Apa kau tak bisa menyembuhkan satu lukamu dulu?! Kalau sudah sembuh satu, baru cari luka yang baru!! Kau tak tahu betapa stressnya aku, belum selesai dengan satu luka, kau harus membuatku kewalahan dengan luka yang baru!!" Bentakku sambil menempelkan daun binahong tumbuk ke sekitar lehernya.
"Memangnya kau kira aku tahu mana bagian yang akan di serang lawan atau tidak?!" Ia membalikkan ucapannya padaku.
Bu Sari datang sambil memberikan dua cangkir teh hangat untuk kami berdua. "Hari ini tehnya dengan gula. Biar kalian bisa lebih bersemangat." Tukasnya sambil duduk di dekat kami.
"Ah, bukannya gula sangat mahal?" Ujarku, merasa tak enak.
"Sesekali." Bu Sari hanya tersenyum, dan ia melihat bagaimana caraku mengobati Raka. Ia terus-menerus tersenyum dan jujur itu membuatku merasa aneh. "Cocoknya jadi suami istri." Ujarnya hingga membuat Raka tersedak sementara aku langsung terbahak.
"Kalau dia suamiku, aku akan menyiksanya setiap hari dengan tanaman obat yang sedikit perih." Ujarku sambil tertawa jahat.
"Kalau aku suamimu, aku tak akan terluka lagi."
Perkataan Raka lantas membuat ku dan Bu Sari terkesiap. "Apa maksudnya itu?" Tanyaku, sedikit baper.
"Ya, karena aku tak mau di obati oleh daun rumputmu. Jadi aku tak mau menyebabkan luka apapun di tubuhku." Sahutnya, hingga membuatku mendatarkan wajah.
Awalnya ku pikir, ia berkata begitu karena menganggap aku adalah penyembuh lukanya. Ternyata ia tak mau terluka agar aku tak mengobatinya. Benar-benar perkataan yang menyebalkan.
"Oh ya, besok ibu harus datang dan melihat pertarungan ku. Ini adalah ujian akhir yang akan menentukan apakah aku pantas dan terpilih menjadi salah satu anggota prajurit kerajaan atau tidak." Ia berucap dengan semangat, meski wajahnya masih datar seperti biasa.
Aku merungut ke arahnya, menatapnya dengan begitu sadis dan berwajah masam.
"Apa?" Ia membalas tatapanku sambil bertanya.
"Kau tak meminta ku untuk datang juga?"
Ia hanya mendengus. "Memangnya kau siapa? Ibuku? Kakak Perempuanku?? Adikku??" Aku mengernyit mendengar ucapannya.
"Aku yang telah mengobatimu!!" Pekikku sekuat tenaga.
"Aku tak minta kau datang! Kau jangan jalan-jalan dan sengaja memperburuk keadaan kakimu. Sudah beberapa hari tapi ku lihat kakimu tak kunjung sembuh."
"Kau bernafsu sekali untuk mengusirku! Aku akan benar-benar pergi kalau sudah sembuh, jadi jangan mendesak ku begitu!! Kau kira ini adalah penjara dan aku harus selalu terkurung di dalamnya??!" Bentakku lagi.
Ia hanya terdiam dan menyeruput teh dalam cangkir yang terbuat dari tanah liat. Wajahnya sedikit berbeda hingga membuatku merasa tidak nyaman.
"Apa tadi itu, adalah perkataan kalau kau sedang mengkhawatirkan aku?" Tanyaku ragu, karena aku tahu seberapa menjengkelkannya orang ini. Jadi aku bimbang apakah ucapanku benar atau salah.
Ia menatapku, sedikit serius. Dan entah kenapa tatapan matanya seolah berkata kalau ucapanku tadi itu benar.
"Tidak, aku memang sedang mengusirmu." Sahutnya datar.
"Mati saja kau!!" Keluhku sambil menekan kain kompres ke lebamnya, membuatnya terperanjat karena merasa kesakitan.
.........
Malam harinya kami kembali tidur dengan posisi masing-masing. Seperti biasa Raka lebih memilih tidur sambil terduduk di kursi.
Beberapa hari ini memang aku tak keluar jauh. Aku hanya sering ke pantai untuk mencari jalan keluar dari tempat ini. Namun setiap kali ke sana, pasir putih mengingatkan ku akan sesuatu.
Dalam diamku, tanpa sadar ingatanku kembali ke sudut-sudut kamarku. Seketika aku beranjak dan meyakini kalau ini memang benar-benar rumahku.
Namun di sudut ruangan tepatnya di atas lemari kamarku, aku melihat sesosok benda putih sedang menatap lekat ke arahku dengan kakinya yang berayun.
Aku terperanjat ketika menyadari benda tersebut bergerak dan dia serupa dengan manusia namun tak nyata. Bukankah dia adalah lelaki yang ku temui di jalan waktu itu?
"Elu!! Elu yang udah bikin gue kembali ke sini?" Tanyaku, namun ia hanya terdiam dengan mata mengkilat yang tak ia alihkan dari wajahku.
"Kembalikan barang saya." Pintanya, aku hanya mengernyit heran.
"Maksudnya?"
"Kembalikan atau saya akan membunuhmu, kihihihi.."
Tiba-tiba tubuhnya melesat cepat dan terbang ke arahku. Aku tersentak ketika ia berusaha mencekik leherku, dan seketika aku terbangun namun suasana di dalam kamarku lantas lenyap bak di telan bumi.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan betapa kesalnya ketika aku terbangun dalam tubuh yang masih berada di zaman kuno ini.
"Aaaaakhhh!!!!!" Aku memekik kencang, namun agaknya tak ada seorang pun yang terkejut dan datang karena teriakan ku.
Aku menilik sekeliling sekali lagi. Kondisi pondok ini nampak sepi dan sepertinya aku....
Aku di tinggalkan di rumah ini sendiri???
"Masa' sih gue di tinggal, jahat banget!!" Keluhku sambil beranjak perlahan dari atas tempat tidur.
Aku berjalan tertatih menuju pintu dan membukanya. Ku lihat matahari telah bersinar di seperempat atas bumi, tentu saja ini menunjukkan kalau hari sudah benar-benar siang.
Aku bergegas mengambil alat mandi dan pergi ke danau dekat rumah. Aku memang di tinggal Bu Sari dan juga Raka sendiri di rumah.
Pasti karena aku terlihat capek dan tidur terlalu nyenyak hingga mereka meninggalkan aku begitu saja.
Sambil membersihkan diri dan menggerutu, aku kembali mengingat mimpiku. Kenapa dunianya jadi seakan terbalik??
Kehidupan nyata ku menjadi mimpi sementara dunia fana ini menjadi nyata. Dan lagi... Bukankah aku memimpikan seorang lelaki???
Hantu kah?? Atau apa?? Padahal saat tidur wajahnya begitu jelas, namun seketika memudar dan perlahan menghilang dari ingatanku ketika aku terbangun.
Aneh..
.........
Selepas mandi, aku segera pergi menyusul Bu Sari dan Raka. Dengan menyantap makanan dulu tentunya. Aku tak akan bisa bergerak kalau kelaparan.
Karena kondisi kakiku, aku harus puas dengan berjalan perlahan saja menuju ke camp. Dari kejauhan, aku melihat kerumunan orang yang berada di perbatasan camp.
Memang di sana selalu ramai, tapi kali ini keramaiannya lebih dari itu. Mungkin saja karena hari ini adalah hari final dari pemilihan anggota prajurit yang baru, seperti apa yang telah di sampaikan Raka kemarin pada ibu.
Aku mendekat, tak berusaha mencari keberadaan Nur atau pun Bu Sari, karena berada di manapun aku bisa dengan cepat beradaptasi.
Yang ku lihat kini adalah halaman pelatihan. Nampak semua calon prajurit berbaris rapi dengan senjata pedang mereka masing-masing.
Meski masih menggunakan pedang kayu, tapi mereka semua terlihat gagah di mataku. Aku berusaha mencari keberadaan Raka, apakah wajahnya terlihat bersemangat atau masih datar-datar saja.
Dan benar saja, di antara para pria bertubuh tinggi dan kekar, hanya dia seorang pria dengan tubuh sedang dan berwajah datar. Ia seperti robot yang kaku dan sama sekali tak menunjukkan ekspresinya. Apakah dia merasa tegang??
Satu persatu nama dari calon prajurit di panggil. Mereka berhadapan satu lawan satu dengan sesama prajurit. Raka terlihat bersemangat dan kuat. Ia mengalahkan lawan-lawannya dengan begitu mudah.
Pantas saja Nur bilang kalau banyak gadis yang menyukainya, dia terlihat menarik dengan wajah tanpa ekspresinya. Seolah tak ada rasa takut yang ia tunjukkan meskipun beberapa kali pedang kayu menghantam kepala, wajah serta bagian tubuh yang lainnya.
Bahkan aku masih ingat dengan wajah datarnya ketika menyergah panah berapi dengan tangannya. Ia benar-benar seolah tak mengenal rasa takut ataupun rasa sakit.
Dari sekian banyak prajurit yang gugur, Raka termasuk ke salah satu yang berhasil. Tapi bukan karena berhasil, maka ia akan langsung lolos menjadi prajurit.
Ku dengar dari beberapa tetangga yang berbisik-bisik di samping ku, mereka harus melewati tahap terakhir yang begitu rumit dan sulit, yaitu berhadapan langsung dengan ketua elit dari prajurit profesional.
Lagi-lagi nama mereka di panggil secara urut dan kebanyakan dari mereka berhasil di kalahkan dengan mudah oleh ketua elit tersebut.
Aku merasa begitu cemas, menantikan giliran Raka selanjutnya. Ketika namanya di panggil, aku benar-benar merasa khawatir melihat lawan yang berada di hadapannya.
Ia harus melawan Arjuna?? Ternyata ini yang dimaksud Juna tempo lalu. Dia adalah pelatih dari Raka, bukan sesama prajurit yang sempat terpikirkan olehku.
Jadi Juna memiliki tingkat yang lebih tinggi dan kuat daripada Raka, tapi kenapa gelagatnya saat Raka berada di rumahnya seolah tak begitu berani dengan lelaki datar yang satu itu?
Mereka berhadapan satu sama lain, membiarkan sorak-sorai terdengar dengan begitu nyaring. Aku sampai terbawa suasana dan ikut berteriak.
"Wah, sepertinya ini bukan kebetulan. Apa Arjuna meminta izin Jenderal dan Panglima secara khusus, agar dia bisa berhadapan dengan Raka satu lawan satu?" Salah seorang wanita yang berada di samping ku mulai berkelakar dengan temannya. Karena jaraknya lumayan dekat, aku sekalian menguping pembicaraan mereka saja.
"Aku rasa pun begitu. Mengingat betapa sengitnya pertarungan mereka beberapa tahun lalu."
Aku lantas mengernyit. Mereka pernah bertarung?? Jadi, ini bukanlah pertarungan pertama mereka, tapi yang jadi pertanyaannya... Siapa yang menang kala itu??
"Ya, harusnya Raka sudah menjadi ketua elit prajurit profesional tahun ini, sama seperti Juna.. mereka kan prajurit seangkatan waktu itu."
"Aku juga kaget, ternyata yang paling pertama tersingkir itu..."
"Adalah Raka."
Kedua mataku terbelalak. Raka tersingkir pertama kali?? Apakah dia kalah melawan Juna??
"Mengejutkan memang. Aku tak menyangka kalau Raka yang tersingkir."
"Kenapa tidak, bukankah ini sudah jadi rahasia umum.. kalau Raka, adalah satu-satunya calon prajurit.."
"Yang tak pernah lolos sekalipun selama lima tahun berturut-turut mengikuti pelatihan ini."
"Benar-benar menyedihkan.."
Tanganku bergetar hebat. Raka sudah lima tahun tak pernah lolos menjadi prajurit??
Kenapa??
Ada apa ini??
Apa alasannya??
.
.
.
.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
lily
aku mkirnya apakah nanti ayu jdi permaisuri dan Raka yg jadi panglima nantinya jatuh cinta sama ayu dan terdapat peristiwa yang bikin mereka difitnah terjadinya perselingkuhan dan akhirnya Raka dibunuh oleh raja
2025-01-09
0
Ray
AQ juga bertanya kenapa Raka tidak lolos selama 5 tahun berturut-turut? Apakah ada hubungannya dengan Arjuna? Tanda Tanya Besar????
2024-10-18
0
may
Hantu?
2024-01-17
0