Besok paginya, aku kembali bangun terlambat. Semalaman aku melihat Agam membentuk akar Bahar menjadi sebuah gelang. Ia juga melakukannya sambil melantunkan ayat suci Al Qur'an.
Entah kenapa aku jadi tidak mau tidur karena tak ingin suaranya berakhir. Alhasil aku malah bangun kesiangan seperti ini.
Aku terduduk di tempat tidur sambil mengucek mata, namun pandanganku lantas teralih pada dua orang lelaki yang sudah rapi, seolah ingin pergi ke suatu tempat.
"Agam? Kun?" Sapaku, membuat mereka yang sebelumnya memunggungi lantas berbalik dan menatapku. "Kalian udah rapi? Emangnya mau kemana?" Tanyaku bingung.
Agam pun beranjak dan mulai menghampiri ku. "Kami harus kembali ke masa depan." Sahutnya hingga membuatku terbelalak.
"Lah?! Loh?! Kok gitu sih?! Masalah di sini kan belum kelar? Katanya mau nyelesain ini sama-sama??" Desakku tak terima.
"Itu masalahmu, bukan masalah kami!!" Balas Kun ketus.
"Ta.. tapi kan.. kalian sendiri yang bilang begitu?!" Keluhku.
Kun hanya melipat kedua tangan ke dadanya sambil menatapku. "Kami hanya datang untuk sedikit membantumu!!"
Aku mengernyit. "Kalau begitu, apa kalian akan datang lagi? Gue gak tahu harus berbuat apa di sini? Dan lagi, bagaimana cara mencari dua benda yang kalian maksud?!" Gerutu ku dengan suara gaduh.
"Sssst.." Agam langsung mendesis dengan tenang untuk menghentikan intonasi suaraku yang tinggi. "Lakukan yang terbaik. Yaah!!" Ia malah tersenyum sambil berbalik memunggungiku.
Ia membiarkanku melongo dengan nyawa yang belum penuh. Aku terbiasa termenung ketika bangun dari tidur.
Di depan rumah, ia berpapasan dengan Bu Sari. Mereka berdua berpamitan seolah benar-benar tak memperdulikan keadaanku di sini. Mereka tega sekali!!
Bu Sari nampak mengkhawatirkan mereka, dan meminta mereka untuk tinggal lebih lama, tapi Agam mampu memberikan pemahaman bahwa mereka harus segera kembali.
Ia juga bilang kalau mereka sudah mendapatkan keping emas dari bayaran setelah melakukan pengobatan pada jenderal. Keping emas itu mereka gunakan untuk pulang.
Aku mematut, memandang kepergian mereka dengan kesal. Sementara Bu Sari agaknya menyadari kekesalanku. Ia menghampiri dan duduk di dekatku.
"Kenapa, Yu?" Tanyanya lembut.
"Ah, tidak Bu." Sahutku panik.
"Ibu sudah di ajarkan beberapa bacaan untuk shalat. Kata Agam, kamu telah menghafalnya semalaman. Jadi ibu bisa menanyakan beberapa ayat padamu, serta beberapa bacaannya." Pintanya, dan aku segera mengangguk.
Apakah masuknya agama Islam di kerajaan ini, adalah karena Agam?? Seingatku, masuk dan berkembangnya Islam di kerajaan ini memang di bawa oleh saudagar muslim dari Arab.
Bukankah Agam juga mengaku sebagai saudagar muslim dari Arab?? Berarti...
"Hah?!" Aku berteriak tiba-tiba, membuat Bu Sari terkesiap karenanya.
"Ada apa, Yu?" Ia bertanya bingung, sementara aku sendiri malah kaget atas perbuatanku.
"Bu.. bukannya hari ini kita harus ke balai kota untuk menyaksikan pelantikan prajurit baru?!" Tukasku, membuat Bu Sari mengangguk. "Kalau begitu aku harus mandi dan bersiap-siap dulu." Lanjutku sambil beringsut dari atas tempat tidur.
.........
Selepas mandi, Bu Sari telah bersiap dan menungguku di kursi. Kami keluar bersama untuk pergi ke balai kota.
Di sini ada pemandangan yang menarik bagiku. Jarak antara desa terpencil kami dengan balai kota sekitar tiga jam dengan berjalan kaki.
Di bawah teriknya matahari pagi, aku dan Bu Sari menyusuri tanah gersang dengan sedikit pepohonan dan tanpa adanya rumah selama di perjalanan.
Ku kira ini akan menjadi perjalanan yang melelahkan, ternyata malah sebaliknya.
Seisi desa berbondong-bondong pergi ke balai kota di waktu yang bersamaan. Jadi bisa di bayangkan seperti apa ramainya jalan menuju ke situ.
Kami seperti sedang konvoi dan rasanya menyenangkan sekali. Kami bisa saling bercengkrama selagi menuju ke balai kota.
Mereka menceritakan tentang para remaja lelaki yang merupakan anak dari keluarganya kini telah menjadi pembela kerajaan secara resmi. Raut bangga benar-benar terpancar dari wajah renta mereka.
Di antara keramaian yang ada, aku melihat Nur yang berkumpul bersama teman-temannya. Setelah tak sengaja satu kontak denganku, ia kini berusaha untuk menjangkau ku.
Ia sampai menyempil untuk dapat melewati banyak orang dan menemuiku. "Ayu!! Kau datang juga?!" Tanyanya semangat.
"Tentu saja!! Aku mau lihat prajurit yang akan segera di lantik!! Ada Raka juga kan di sana!!" Perkataanku lantas membuat Nur mengernyit bingung.
"Ya!! Aku masih penasaran dengan hal itu. Bukankah Raka tak lolos, kenapa sekarang dia bisa menjadi prajurit resmi? Apakah sesuatu telah terjadi?" Tanya Nur polos, hingga membuatku mendengus senyum.
"Mungkin kau bisa menanyakannya dengan Raka."
Nur menyipitkan matanya menatapku. "Mana mau dia menjawab hal seperti itu."
"Ya ya!! Kau benar! Dia kan batu yang menyamar menjadi manusia!! Aku benar kan?" Nur hanya terbahak, sementara Bu Sari menoleh heran ke arah kami. Aku langsung mendesis ke arah Nur, tak enak kan kalau kami membicarakan anak orang di hadapan ibunya sendiri.
Setelah berjalan cukup jauh, kami akhirnya sampai di balai kota. Tempatnya benar-benar membuatku takjub. Ini benar-benar balai kota zaman kerajaan seperti di buku-buku sejarah yang pernah ku baca.
Balai kota ini merupakan halaman luas yang memang di khususkan untuk menyelenggarakan suatu acara kerajaan. Di depan balai kota ini, kami bisa melihat pagar tinggi yang mengelilingi istana kerajaan.
Tampak begitu megah, saking tingginya pagar ini, kami hanya mampu melihat atap istana saja dari sini. Aku benar-benar penasaran dengan rupa kerajaan ini pada masanya. Masih indah dan kokoh tentunya. Tapi kasta rendahan sepertiku mana boleh masuk ke dalam. Bahkan melihat atapnya saja sudah sangat luar biasa bagi kami.
Di luar perbatasan balai kota, aku bisa melihat pasar yang menjajakan makanan ringan zaman dulu. Nanti aku mau mampir dan melihatnya juga.
Di antara kerumunan yang ada dan yang berlalu lalang, aku malah sibuk memperhatikan baju yang mereka kenakan.
Kerumunan ini terbagi menjadi kelompok-kelompok. Tentu saja pembedanya ada pada baju yang mereka kenakan. Yang mengenakan baju kain, mereka agaknya tidak sudi bergerombolan di dekat kami. Mereka benar-benar memberikan jarak dan batasan nyata.
Sementara yang mengenakan baju dari kulit kayu, pandangan mereka semua lusuh dan selalu tertunduk seolah tak memiliki harga diri. Ternyata kasta kaya dan miskin sudah sangat terlihat sejak zaman dahulu.
"Ayu, mau ini?" Nur datang sambil menyodorkan ku makanan. Mirip seperti cilok namun di tusuk layaknya sate. Ini juga memiliki saus yang melumurinya. Entah terbuat dari apa.
Aku menerima makanan tersebut. "Wah!! Kau cantik dan sangat baik!! Terimakasih banyak!" Tuturku hingga membuat Nur tersipu.
"Jangan selalu memujiku. Kau bahkan lebih cantik." Balasnya memuji.
Ketika aku hendak menyantap makanan yang di berikan Nur, tubuhku langsung di dorong-dorong oleh orang-orang yang agaknya mulai merapatkan barisan ketika suara lantang pengawal terdengar di balai kota.
Untuk memperbesar suaranya, kami hanya perlu diam dan bungkam, karena mungkin pada zaman ini, mic belum di temukan. Jadi perlu kesadaran tinggi bagi para rakyatnya untuk diam.
Dan zaman ini sungguh taat akan aturan dan memiliki kesadaran diri tinggi. Semuanya diam bersamaan, berbeda sekali dengan pelaksanaan upacara hari Senin di sekolah. Walau sudah di teriak-teriakan pembina upacara di mic untuk diam, masih saja siswanya berisik dan mengabaikan.
Pengawal kerajaan tersebut berdiri di tempat tinggi layaknya podium. Ia membacakan sebuah gulungan, berisi maksud dan tujuan di adakannya acara ini. Kami mendengarkannya dengan seksama.
Ketika memasuki puncak acara, gerbang istana pun terbuka. Menampakkan kendaraan seperti tandu indah dengan banyak hiasan dan guratan rumit dari kayu mewah yang di bawa dengan cara di pikul oleh empat orang pengawal. Dua di depan dan dua di belakang.
Sementara di sisi kiri, kanan, depan dan belakang tandu tersebut di kawal ketat oleh banyak pengawal istana. Aku benar-benar takjub memandangnya, kedua mataku terbelalak dan tak henti-hentinya berdecak kagum.
Aku mulai celingak-celinguk, berusaha mengintip wajah yang ada di balik tirai tersebut. Namun secara bersamaan, semua orang lantas duduk bersimpuh di tempat sambil menundukkan pandangan, ketika dua buah kaki mulai keluar menuruni tandu.
Aku yang punya gaya reflek yang buruk, hanya melongo beberapa saat. Lenganku seketika di tarik, membuatku jatuh terduduk sambil menoleh ke arah Nur yang melakukannya.
"Apa yang kamu lakukan?! Bersimpuh lah kalau tak mau ketahuan pengawal dan di hukum mati!!" Bisik Nur ketakutan, sementara aku masih saja melongo tak paham.
"Kenapa? Aku benar-benar ingin melihat wajah raja Anggara."
"Sssttt!! Ia mendesis, sedikit kesal. "Mana ada yang boleh menatap yang mulia raja Anggara secara langsung?! Itu perbuatan hina, apalagi di lakukan oleh kasta rendah seperti kita. Itu aib bagi raja! Kalau ketahuan, kau akan di tangkap pengawal yang mengeliling tandu raja." Bisiknya hingga membuatku mengangguk paham. Meski sebenarnya cukup bingung dan tak terima.
"Pengawalnya galak sekali!!" Gerutuku sambil berbisik.
Meski terus tertunduk, namun ekor mataku bisa menangkap Raja yang mulai berjalan ke tempat yang mirip podium. Ia hanya naik ke atas sana sesaat dan mengesahkan para anggota prajurit baru, setelah itu ia kembali menuruni podium dan masuk ke dalam tandu.
Selepas kepergiannya, barulah kami boleh mengangkat kepala kami. Anggota prajurit baru telah berbaris dengan rapi di depan istana kerajaan. Aku langsung saja menemukan sosok Raka di antara ratusan prajurit meski mereka mengenakan pakaian serupa.
Ku lihat Raka nampak menilik sekitar, seolah mencari sesuatu yang hilang. Pandanganku lekat ke arahnya, hingga tanpa sadar, kedua matanya melakukan kontak denganku.
Aku terkesiap kaget, salah tingkah, dan tentunya ada perasaan aneh yang ku rasakan begitu saja. Aku tak mampu menatap kedua matanya berlama-lama, alhasil aku hanya menunduk. Apakah aku malu??? Dia bukanlah yang mulia raja, lantas untuk apa aku menunduk ketika melihatnya?
"Kamu membuatnya karena kamu mencintainya kan?" Terka Kun, namun itu benar-benar membuatku tersedak.
Seketika perkataan Kun kemarin kembali terngiang-ngiang di kepalaku. Mungkinkah.. aku benar-benar??
"Tidak tidak tidak!!" Gumamku panik, membuat Nur menoleh ke arahku.
"Kamu kenapa?" Tanyanya heran, dan aku hanya menggelengkan kepala.
Ku lirikkan lagi mataku menatap ke arah Raka. Ia masih saja memandangiku dari jauh. Kenapa ya?? Rasanya begitu mendebarkan??
Ku tundukkan kepalaku, menatap gelang akar Bahar yang hendak ku berikan padanya. Cemilan dari Nur pun belum sempat ku makan. Aku jadi bimbang, apakah harus ku berikan atau tidak?? Rasanya, tiba-tiba saja aku kehilangan nyali untuk bertemu dengannya.
Acara pelantikan pun selesai. Para prajurit di bubarkan dari barisan. Di keramaian, tubuhku kembali mendapat dorongan dan tabrakan, hingga memisahkan aku dengan Nur dan juga aku tak dapat menemukan Bu Sari sejak tadi. Mereka bubar serentak ketika acara telah selesai, dan aku benar-benar terkurung di antara mereka.
Aku berjalan terbawa arus, benar-benar tak dapat pergi dari kerumunan ini. Tubuhku terus terdorong dan merasakan sakit, sampai ada yang tanpa sengaja menyikut kepala dan tubuhku, membuatku lantas terjatuh begitu saja di atas tanah.
Cemilan ku jatuh dan terinjak-injak tanpa ampun. Aku menengadah ke atas, ketakutan dengan orang-orang berbadan besar yang sepertinya benar-benar mampu untuk menginjak-injak tubuhku seperti yang mereka lakukan pada makananku.
Ketika aku memejamkan mata, aku merasakan sebuah dekapan hangat yang membuatku membuka mata dengan cepat.
Kedua mataku langsung memandanginya dalam jarak yang teramat dekat. Lelaki itu menatapku dengan sendu, dan ia menggunakan tubuhnya sendiri untuk melindungiku.
"Raka?" Gumamku takjub.
"Ayo pergi dari sini! Kalau kau diam, kau benar-benar bisa mati terinjak-injak." Ucapnya sambil menarik tanganku, membuatku beranjak dari tempatku terjatuh.
Ia memelukku dari samping, seolah menjaga agar tak ada yang bisa menabrak dan mendorong tubuhku seperti tadi.
Aku memang terlindungi karena tubuh Raka, tapi lelaki ini beberapa kali meringis ketika dorongan demi dorongan menghantam bagian tubuhnya.
Ia membawaku ke samping kerumunan, di mana ada tempat yang lumayan aman di ujung sana.
Kami bisa bernapas lega ketika berhasil terlepas dari lautan arus manusia. Sesak sekali di sana, dan kalau tak ada Raka, aku tak tahu bagaimana nasibku tadi.
"Terimakasih ya Raka, kau telah melindungiku dari kaki-kaki gajah it-" Perkataanku lantas terhenti, ketika menatap Raka yang berjarak dekat dengan ku, dan lagi ia masih memelukku.
"Kamu membuatnya karena kamu mencintainya kan?" Terka Kun, namun itu benar-benar membuatku tersedak.
"Gyaaaaah!!" Aku langsung mendorong tubuh Raka ketika perkataan Kun kembali muncul di ingatanku. Raka meringis kesal, mungkin saja ia kaget karena aku mendorongnya tiba-tiba.
"Kau!!" Sentaknya.
"Maafkan akuuu!!" Pekikku ketakutan, sambil melindungi kepalaku, sekalian menutupi wajahku yang terasa memanas. Pasti sekarang wajahku memerah padam.
"Kenapa kau ketakutan begitu? Berhentilah berbuat konyol begitu!! Aku tak akan membunuhmu di sini, bodoh!!" Bentaknya hingga membuatku mengintipnya dari balik bulu mata.
"A.. anu.. Aku juga tak tahu kenapa bisa ketakutan begini!" Jawabku apa adanya.
Ia hanya mengernyit sambil menggelengkan kepalanya. "Di mana ibu?" Tanyanya, dan perkataan itu sukses membuatku panik sambil menoleh ke sekelilingku.
"Sudah ku duga kalau kau akan terpisah dari orang-orang di desa." Ia terdengar mengeluh, meski masih saja tak berekspresi.
"Iya!! I.. Itu memang benar!! Tapi setidaknya, aku bisa bertemu denganmu sebelum kau masuk ke istana kan?" Ujarku spontan, membuatnya menatap heran.
"Kenapa memangnya? Kau ingin bertemu denganku?" Tanyanya tak percaya.
"Bu.. bukan begitu maksudku!! Yang ku maksud adalah.." Aku terdiam. Ayo Ayu, katakan sesuatu!! Kau tak suka di ejek Kun bodoh, tapi kenyataannya kau memang bodoh Ayu!!
"Tak usah mengatakan apapun. Kau terlihat depresi sejak ku tatap dari jauh tadi."
Aku kembali terkesiap. Jadi sungguh, tadi itu dia memang benar-benar memandangiku??
"Katakan pada ibu, semua baju dan peralatanku sudah ku ambil dari camp." Ujarnya.
"Jadi.. kau langsung ingin masuk ke dalam istana?!" Tanyaku tak percaya, dan ekspresi diam Raka seolah menyatakan kebenaran. "Kenapa kau tak berpamitan untuk terakhir kalinya pada ibumu?!"
"Aku sudah melakukan itu tadi! Aku sudah bertemu dengan ibu dan dia bilang kalau dia kehilanganmu!! Nur pun tak tahu di mana keberadaan mu! Kenapa kau suka sekali menyusahkan orang lain di segala tempat dan situasi?!"
Aku menatap sengit. "Tak tahu terimakasih, padahal kalau tak ada aku, kau tak akan masuk ke dalam sana!!" Bentakku kesal, membuat Raka diam seketika.
"Kalau itu kau memang benar. Aku kan sudah berterimakasih, dan berhentilah mengungkit-ungkit hal itu!! Apa kau berniat pamrih? Kau sudah menumpang di rumahku!!" Ia malah balas membentak ku.
"Aaah!! Apa kau tak punya kata-kata lain untuk menyerangku?! Selalu membawa-bawa rumah dan mengusir ku!!" Aku mengeluh, membuat Raka seketika mengangkat kepalan tangannya ke arahku.
Aku terkesiap, mencoba membentengi diri dengan lenganku sambil menutup mata, namun perlindungan ku itu sia-sia, ketika merasakan kelembutan tangan Raka di atas kepalaku.
"Aku tak akan mengusir mu seperti dulu. Pulanglah sekarang." Sahutnya sambil melepaskan tangannya dari atas kepalaku.
Aku mengerjap heran, apalagi setelah ia berbalik dan hendak meninggalkanku. Aku menatap gelang besar, seukuran tangan Agam yang kini berada di pergelangan tanganku.
"Oh!! Raka, tunggu dulu!!" Seruku, membuatnya seketika berhenti dan menoleh ke arahku.
Aku berjalan mendekatinya, sambil melepaskan gelang tersebut dan mengambil tangannya. Ia nampak bingung, terlebih setelah aku berusaha memasukkan gelang tersebut ke dalam tangannya.
"Apa ini?" Tanyanya heran.
"Ini gelang, kenang-kenangan dariku untukmu. Ini buatan temanku. Aku meminta di buatkan khusus untukmu. Jadi, ini adalah hadiah karena kau telah berhasil menjadi prajurit." Tukasku ketika gelang tersebut telah melingkar di tangannya.
"Ingat pesanku!! Jangan sering melukai diri sendiri, jangan terlalu memaksakan diri, jangan terlambat makan, dan berjuanglah dengan kuat di Medan pertempuran, dan satu lagi pesanku padamu." Kedua alisnya terangkat menatapku.
"Kapan-kapan kau harus kembali ke rumah, jangan mati di Medan pertempuran ya." Ucapku sambil tersenyum, membuatnya menatapku sambil melongo, dan aku tak bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan.
"Kau pikir aku selemah itu? Aku tak akan mati meski kakiku tinggal satu!! Aku akan pulang dengan menyeret tubuh ku kalau itu memang benar-benar terjadi." Ujarnya hingga membuatku meringis ngeri.
"Oke!! Itu benar-benar menakutiku!!" Keluhku.
Ia hanya terdiam sambil menatap gelang yang kini menghiasi tangannya. Beberapa saat setelahnya, ia langsung menatapku dengan sendu.
"Apa.. aku boleh mencium tanganmu?" Tanyanya tiba-tiba, membuat jantungku seketika berdebar tak karuan.
"Ke.. kenapa harus melakukan i-" Aku lantas terdiam ketika ia langsung menunduk di hadapanku dan mengambil tanganku untuk kemudian menciumnya.
Terasa hangat dan lembut. Tatapannya yang menghangat kini terpejam ketika kecupan bibirnya mendarat di punggung tangan ku.
"Aku akan mendengarkan semua titah mu." Ujarnya, terdengar begitu tulus. Wajahku memerah padam, dan tak ada yang bisa ku lakukan selain tersenyum dalam diam.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
Ira Resdiana
aaahh so swiiiiiiiittt... /Smile//Chuckle/
2024-11-13
0
Ray
Jatuh Cinta.....
Berjuta Rasanya....
Wah ada yg kasmaran ini. Pasti pipinya Ayu merah seperti kepiting rebus 🤔😂
2024-10-19
0
V.I.A
titah itu apa y??
2024-08-05
0