Sepeninggalan Raka, aku duduk termenung di samping kedai yang terbuat dari kain goni dengan bentuk serupa pondok yang biasa ada di pantai. Mirip seperti saung tapi terkesan sangat tradisional.
Aku tak takut pulang sendirian dan tertinggal dari kerumunan, aku masih ingat jalan pulang meskipun jaraknya cukup jauh.
Di dalam kedai, aku bisa mendengar suara obrolan pelanggan yang memesan minuman dan cemilan.
Aku tak bermaksud untuk menguping, hanya saja itu memang terdengar jelas di telingaku.
"Aku adalah saudagar kaya dan aku memiliki banyak domba. Aku benar-benar muak dengan pajak tinggi yang di tetapkan oleh kerajaan!"
Aku terbelalak mendengarnya. Apakah mereka tengah menceritakan hal buruk mengenai raja yang sangat ku hormati itu??
"Jangan berbicara dengan suara keras. Kau akan di hukum mati jika ada pengawal kerajaan yang mendengarkan celotehan tak bermakna mu itu!!"
"Lagi pula kau tak akan jadi miskin hanya karena membayar pajak kan? Setahuku, pajak dan sebagainya itu di atur oleh penasehat raja, jadi jangan berbicara dengan kesan kalau yang mulia raja itu buruk!!"
"Sebenarnya bukan itu saja yang membuatku kesal!! Kau tau kan tanggal 17???"
"Hei!! Diam lah!! Apa aku harus menyumpal mulut mu agar kau diam?? Kau banyak minum, kau pasti mabuk!!" Balas temannya, namun yang sejak tadi bermulut besar sama sekali enggan menggubris larangan dari temannya itu.
Tanggal 17?? Apa maksud dengan tanggal 17 itu??
Gubraaak!!!
Aku lantas terkesiap kaget, hanya karena mendengar suara benda jatuh. Itu karena fokusku benar-benar teralihkan pada pembicaraan orang-orang yang ada di kedai, hingga suara seremeh itu pun membuatku benar-benar terkesiap.
"Tidak!! Jangan!! Ampuni aku!!" Seorang remaja tanggung nampak di seret oleh empat orang yang ku yakini sebagai pengawal kerajaan. Aku melihat ciri-ciri baju yang mereka kenakan.
Beberapa orang keluar dari dalam kedai, begitu juga denganku yang langsung beranjak ketakutan.
"Tolong.. tolong hamba pengawal kerajaan.. itu adalah ketidaksengajaan anak hamba." Pinta perempuan tua sambil berusaha memeluk anaknya yang di seret paksa.
"Aah!! Sialan!! Lepaskan dan menurutlah pada kami! Kau memohon sambil menangis darah pun tak akan mengubah hukuman anakmu pada yang mulia raja!!"
Aku langsung mengernyit, apa-apaan itu??
"Tapi tolong para pengawal yang terhormat.. anakku tidak mengerti."
"Anakmu sudah remaja kan?? Dan kau juga sudah memberitahu larangan mengenai yang mulia raja kan?!" Perempuan tua itu terdiam dengan air mata yang mengalir di wajahnya. Sementara sang anak terus berusaha meminta perlindungan pada ibunya.
Si ibu merunduk dan bersimpuh di hadapan para pengawal. Ia merapatkan kedua tangan di hadapan wajahnya, dan memohon dengan tubuh yang begitu gemetaran.
"Hamba mohon, ampuni anak hamba!" Pintanya sambil terisak.
Namun langkahku bergerak cepat ketika sebuah tombak yang di bawa oleh salah satu pengawal hendak di arahkan pada sang ibu.
Tanpa sadar aku menyergah, berdiri dengan mantap di hadapan mata tombak yang berkilauan, menandakan kalau itu adalah benda yang sangat tajam.
Tombak tersebut terhenti, bukan karena aku.. tapi karena seseorang yang kembali melindungiku. Seorang pria menahan tongkat tombak tersebut dengan satu tangannya. Tenaganya memang luar biasa, dan anak tadi langsung berlari ke pelukan ibunya.
"Heh!! Prajurit yang baru di lantik? Berani sekali kau menghadapi terjanganku?!" Ia menatap remeh ke arah lelaki yang kemungkinan memiliki pangkat atau derajat di bawahnya. Ia berdiri tegap di hadapanku.
"Kau hampir melukai temanku." Sahutnya sambil melepaskan cengkeramannya pada tombak. Aku terbelalak ketika ia yang sedang memunggungiku lantas menoleh ke arahku.
Lagi-lagi Raka??
"Dia yang muncul mendadak, jadi mana ku tahu kalau itu akan melukainya atau tidak!! Aku hanya berusaha menjaga yang mulia."
Aku mengernyit mendengarnya. "Me.. memangnya apa yang telah keluarga ini lakukan, sehingga harus di perlakukan seperti itu? Apakah dia membuat yang mulia raja dalam bahaya?" Tanyaku di sela-sela ketakutan.
"Bocah ini.. berani menatap mata yang mulia raja dengan mata hinanya!! Tidakkah itu suatu aib baginya? Kasta rendahan, tak punya hak untuk menatap kaum bangsawan. Kalian harusnya tau diri dan malu!!"
Kedua mataku terbelalak dan dadaku terasa terhantam benda berat. Apa-apaan itu?? Apa cuma karena itu dia harus di perlakukan begitu?? Apa karena itu dia harus di hukum begitu??
"Kerajaan macam apa ini?!" Gumamku hingga membuat raut marah terpancar dari mata para pengawal di hadapanku.
"Maafkan perkataannya. Dia menderita penyakit langka yang tak bisa di sembuhkan. Ia kehilangan ingatannya, dan ia tak sadar atas perbuatan dan perkataannya!" Raka berusaha menjelaskan hal tak masuk akal pada mereka.
"Tidak!! Aku melakukannya dengan sada- upph!!" Mulutku langsung ia bungkam.
Raka segera menyeretku menjauh dari mereka. Ia terus membungkam mulutku meski aku berusaha melawannya. Tenaganya memang tak main-main, bahkan aku tak bisa membuka mulutku untuk menggigit tangannya.
"Puaaah!!" Aku bernapas lega ketika ia melepaskan bekapannya dariku.
"Hei, gadis dungu!! Apa kau cari mati? Kau mau mati hah?!" Ia membentak, namun setengah berbisik. Ia melotot kejam ke arahku, membuatku merasa sedikit terancam.
"Tapi aku tak menyetujui apa yang mereka lakukan!! Bukankah ini kerajaan yang damai?! Aku tak pernah membaca kejahatan macam ini dalam sejarah!!" Keluhku, hingga membuat Raka nampak melongo, sementara aku baru saja sadar kalau sudah kelepasan bicara. "Maksudku, aku tak pernah mendengarnya dari Nur dan Bu Sari!!" Dalihku.
"Sekarang kau sudah melihatnya sendiri kan? Perlakuan seperti itu memang hal yang wajar di lakukan untuk memberikan perlindungan pada Raja!"
"Tapi kenapa? Dan apakah raja mengetahuinya??" Aku malah mendebat Raka.
"Apa itu penting untuk kau ketahui? Kalau mau, tanya saja pada yang mulia raja!!" Balasnya.
"Oh?! Begitu boleh ya? Lewat pintu mana aku bisa masuk dan menemui ra-"
Raka langsung menarik lenganku. Aku lantas terkesiap, sedikit merasa sakit. "Kau memang dungu, apa otakmu itu sudah bertukar dengan domba atau sejenis kambing?!"
"Apa?! Kambing?!" Seketika aku langsung teringat dengan makhluk aneh berwarna putih yang menyebalkan itu. Bukankah dia yang sering memanggilku kambing??
"Melihat matanya saja, kasta seperti kita tak di perbolehkan, apalagi kau mau bertemu dengannya?! Apa kau ini bodoh? Belum pernah aku bertemu dengan orang bodoh dan ceroboh sepertimu!!" Tukasnya menggeram.
"Ah! Benar juga. Melihat matanya saja tak boleh. Tapi, apa yang salah sih dari melihat matanya saja?" Aku kembali mengeluh karena tak mempercayainya.
"Raja itu di anggap sebagai yang termulia, jadi para pengawal berusaha agar tak ada yang berani melakukan hal buruk padanya. Jadi batasan di sini sangat nyata. Jangankan menyentuh, kaum rendahan tak punya hak untuk menatap kaum di atas mereka apalagi raja. Makanya sekarang kau pulang ke rumah!! Perpisahan kita tadi sudah ku atur dengan baik biar terlihat manis, ujung-ujungnya kau masih saja bertingkah bodoh dan itu membuatku sebal, bodoh!"
Aku mengerjapkan mataku ke arahnya. "Sudah kau atur agar terlihat manis?? Jadi... Kau bersikap manis tadi karena tahu itu perpisahan kita?? Waaa?!" Aku langsung tertawa sendiri. "Sepertinya kau memang telah jatuh cinta padaku. Iya kan?" Desakku hingga membuatnya mendengus.
"Bukankah yang benar-benar kelihatan menyukai ku itu, kamu?" Ia malah membalik ucapanku.
Aku langsung kikuk dan benar-benar gagu. "Ma.. ma.. mana mungkin a.. aku menyukaimu?!" Balasku sambil merinding.
"Benarkah tidak?"
Aku mengangguk.
Namun tiba-tiba saja kedua tangan besarnya ia letakkan di pundakku. Aku terkejut, sambil menoleh ke tangan kanan dan kirinya.
Lalu ketika aku mengalihkan pandangan pada wajahnya, ia malah mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang berderu. Seketika jantungku pun ikut bergemuruh.
Deg..
Deg...
Deg....
Wajahku terasa memanas, dan sungguh.. aku benar-benar merasa sakit perut sekarang. Tanganku menjadi dingin dan bibirku bergetar hebat. Ia menatap sendu ke arahku dengan jarak yang benar-benar dekat, dan...
"Gyaaaaa!!" Aku langsung berteriak dan reflek menampar wajahnya.
Ia terlihat kaget dan kesal, sambil melepaskan tangannya dari pundakku dan mengusap wajahnya yang mulai memerah dengan bentuk telapak tanganku.
Aku ketakutan bukan kepalang, apalagi ketika wajahnya tiba-tiba saja nampak mengerikan dan pandangannya seolah benar-benar ingin memakanku hidup-hidup.
"Beraninya kau menamparku?!" Bentaknya dengan suara yang menggeram seperti monster.
Aku langsung menutupi wajahku dengan kedua tangan sambil berteriak. "Kyaaaaa!! Ampuni aku, dan jangan membunuhku!!", Pekikku ketakutan.
Ia langsung mendengus, dan tak ku rasakan sesuatu yang menghantam atau menghajarmu. Ku intip wajahnya dari balik tanganku.
"Kau tak memukul ku?" Tanya ku heran.
"Jadi kau minta di pukul?!" Tawarnya dengan wajah yang sungguh-sungguh. "Kelihatan sekali kan, siapa yang menyukai siapa sekarang?"
Aku langsung melepaskan tangan yang menutupi wajahku. "Apa kau bilang?!"
"Kalau kau biasa saja dan tak punya perasaan lebih, mau ku dekatkan wajahku seperti apa pun kau akan biasa saja. Dan tak akan mungkin sepanik itu!"
Aku mengerjap tak percaya. Kenapa dia benar?? Kenapa aku harus malu?? Apakah aku benar-benar...
"Tidaaaak!! Kenapa harus orang dari zaman yang berbeda tuhaaaaaaan?!" Pekikku penuh frustasi, membuat Raka mengernyit bingung.
"Kau ini punya penyakit!! Pulanglah sekarang, sebelum kau mati di tangan para pengawal!!" Ia terdengar mengusirku. Namun aku masih melongo dan mematung di tempat.
"Pergi bodoh!!" Ia mendorong tubuhku hingga membuatku terpelanting beberapa langkah meski tak jatuh.
"Apa kau tak tahu caranya bersikap lembut? Dasar beringas, seperti kucing garong!!" Bentakku sambil berlalu dari hadapannya.
"Kau juga dungu seperti-"
"Jangan ejek aku kambing!!" Sergahku sebelum ia menyelesaikan perkataannya.
Ia menatapku dengan mata jahil. "Oh, jadi kau mau di panggil itu? Yasudah!! Kambing dungu!!"
"Gyaaaaah!!" Aku berteriak kencang. "Kuuun!! Aku akan membunuhmu karena mengejekku kambing!!" Jeritku hingga membuat beberapa orang menatap heran ke arahku.
"Siapa Kun?" Gumam Raka sambil mengernyitkan dahi.
.........
Aku berjalan pulang dengan beberapa orang yang agaknya tertinggal dari kerumunan sepertiku.
Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan mengenai anak dan ibu-ibu tadi. Semua orang melihatnya, tapi sama sekali tak ada yang berniat untuk membantunya. Itu seolah sudah menjadi hal yang wajar.
Padahal, hampir semua buku sejarah yang ku baca mengenai raja Anggara, kerajaan yang ia kuasai benar-benar aman dan damai. Apakah jangan-jangan... peraturan ketat seperti pemungutan pajak, hukuman mati dan tanggal tujuh belas itu di turunkan oleh penasehat kerajaan??? Dan raja sama sekali tak tahu menahu akan hal itu??
Tak mungkin kan sejarah itu di buat asal-asalan. Pasti semuanya di dapat dari sumber-sumber terpecaya, dan dari cerita rakyat yang beredar.
Kalau memang sejarah berbeda dengan apa yang terjadi pada zamannya, kemungkinannya sih cuma ada dua. Yang pertama, si sumber yang memberikan informasi mengenai kerajaan Aridul ini telah berbohong..
Atau yang kedua.. mungkin saja apa yang terjadi tadi memanglah perbuatan sepihak dari orang-orang yang berpengaruh di kerajaan, dan itu di lakukan tanpa sepengetahuan sang raja?
Kalau seandainya memang raja yang memerintahkan itu, kenapa tidak saat mereka satu kontak, perintah itu langsung di turunkan. Kenapa harus menunggu jeda ketika raja sudah masuk ke dalam istana lagi??
Kalau memang raja yang semena-mena pada hal itu, dan semua orang sudah mengetahuinya.. harusnya titah hukuman itu langsung di turunkan di hadapan semua rakyat kan? Karena orang-orang pasti sudah merasa lumrah dengan hal tersebut.
Tapi.. kenapa harus di lakukan tertutup? Dan tak di hadapan raja langsung??
Apakah ini memang perbuatan sepihak dari orang-orang yang terlalu mengabdikan diri pada sang raja, jadi.. mereka melakukannya atas kemauan mereka sendiri, dan tak mau sampai raja mengetahui perihal ini??
Aaarghh!! Pusiiiiing!! Aku memang dungu dan selalu berspekulasi atas penilaian pribadi dan tak bisa objektif!!
"Menyebalkaaaaan!!" Pekikku sambil menunduk dan mengusal kepalaku dengan mata yang terpejam.
Ketika aku membuka mata, langkahku kian terhenti tatkala melihat dua buah kaki yang berdiri tegap di hadapanku, seolah sedang menghadang laju jalanku.
Aku terbelalak sebelum berani mengangkat kepala dan menatap mereka berdua. Mungkinkah ini adalah pengawal yang mengikuti ku sampai ke sini??
"Tidaaaak!!" Pekikku sambil menutup wajah dan bersujud di hadapan mereka. "Ampuni aku, dan jangan membunuhku!!" Pekikku. Dan ku rasa di tempat ini tak ada orang lain lagi. Aku berjalan terlalu lama sehingga tertinggal dari barisan yang lain. Jadi kalau di bunuh dan mati di sini, tak akan ada yang tahu dan tak akan ada yang menemukanku??
"Dari mana kamu tahu kalau saya memang ingin membunuhmu?!" Suara ini seperti tak asing di telingaku. Serak-serak becek??
"Becek matamu!! Kamu kira saya kubangan lumpur dari tahi b*bi?!" Kecamnya hingga membuatku mengangkat kepala, menatap dua orang lelaki tampan yang sudah berpamitan pada kami tadi pagi.
"Lah?! Loh?! Agam? Dan kuntilanak?!" Segahku kaget.
"Kuntilanak emakmu!! Nama saya Kun Fayakun!!! Agam memberikan nama itu, jadi jangan mengubahnya!!" Ia membentak nyaring, membuat telingaku benar-benar sakit. "Gam, boleh tidak kalau giginya saya gebuk?!" Ia menunjukku sambil menatap Agam.
"Gak." Singkat lelaki itu datar.
"Bukannya kalian berdua udah pergi ya? Kok balik lagi?" Tanyaku heran, sambil beranjak dari atas tanah berpasir.
"Kik bilik ligi?!" Kun meledekku dengan bibir yang ia doer-doerkan. "Sini kau!! Saya tempeleng pakai tongkat nabi Musa!!" Pekiknya sambil mengejar ku dengan sebilah kayu sepanjang lengannya, dan berukuran sekecil jari kelingkingnya.
Aku lantas berlari secara reflek mengelilingi Agam, takut kalau dia akan benar-benar memukuliku dengan kayu itu. Wajahnya terlihat bersungguh-sungguh.
"Kun, Ayu.." Agam menyapa dengan suara yang rendah. Ia menundukkan kepalanya, sambil tersenyum meski kami tak dapat melihat matanya. "Berhenti, atau mau gue yang turun tangan ngeberhentiin kalian berdua?" Tanyanya dalam, sambil mengangkat wajahnya ke arah kami.
Sesungguhnya itu benar-benar wajah tampan yang teduh, tapi entah kenapa.. aku benar-benar merasa ketakutan melihat auranya. Benar-benar menggetarkan sukma yang ada.
Seketika tubuhku mengeras layaknya batu. Perintahnya begitu mirip seperti fungsi remote yang mengontrol tubuhku. MUTLAK, cuma itu yang bisa ku tangkap ketika mendengar perintahnya.
"Dia yang mulai!!" Kun malah menuduhku.
"Gak!! Bohong!! Dia duluan yang ngejer gue!!" Aku berusaha membela diri.
Agam langsung mendengus dan membalikkan tubuhnya. "Ayo pulang." Ucapnya, dan sungguh.. sekali lagi perkataannya benar-benar mutlak, bahkan lebih mutlak dari perintah yang mulia raja agaknya.
Kun langsung berjalan ke sisi kirinya, sementara aku ikut berdiri di sisi kanannya.
"Lu ceroboh lagi?"
"Ah? Apa itu pertanyaan atau tebakan?" Tanyaku ketakutan.
"Pertanyaan." Singkat Agam.
Aku terdiam, memikirkan di mana letak kesalahanku. "Apa karena.. gue muncul pas ada anak-anak yang mau di bunuh?" Terkaku, membuat Agam dan Kun menatap tajam ke arahku. "Aaampuun!!!" Pekikku ketakutan.
"Kami gak tau apa yang udah lu lakuin, tapi.. tiap kali lu melakukan kesalahan, Kun bakalan kesakitan. Dan gue gak mau lu nyakitin dia!!" Ucap Agam dalam.
"Dengar itu!!" Timpal Kun.
"Kesakitan?? Maksudnya??"
"Kami masuk ke sini, tapi kami masih memiliki penghubung dengan dunia masa depan karena ada benang merah ini. Dan benang merah elu, tertinggal di sini, makanya elu gak bisa kembali.. Karena penghubung lu ada di sini."
"Kami emang sengaja memasukkan elu di sini, tapi tentunya kami gak sejahat itu, semacam memperalat secara langsung.. Kami harus bertanggungjawab dan gak bakal ngebiarin elu dalam bahaya sendiri. Kami juga harus mendapatkan konsekuensinya.."
"Pas elu terluka, Kun memakan darah yang berlumuran di anak panah yang ngelukain kaki elu. Jadi dia membuat penghubung antara diri lu dan dirinya. Semacam perjanjian darah." Terangnya, membuatku bergidik ngeri.
"Itu nyeremin tau!!" Keluhku.
"Lu bikin dia melanggar. Jin muslim gak makan darah, tapi karena ini demi ngelindungin dan ngejaga elu, dia rela dapat hukuman. Jadi tiap elu ngelakuin kesalahan, maka dia akan ngerasain kesakitan dari perbuatan yang elu buat." Terangnya, membuatku menatap khawatir ke arah Kun.
"Beneran begitu?" Tanyaku tak percaya. Namun tatapan dua orang ini sepertinya meyakinkan.
"Maaf Kun.. tapi," Aku meremas kedua tanganku sendiri sambil tertunduk takut. "Gue gak bisa ngebiarin ada orang yang nyakitin orang lain."
"Cih! Makanya saya benci perasaan perempuan! Perempuan itu merepotkan, berbeda dengan lelaki. Belum sehari kami meninggalkanmu, kamu sudah membuat masalah lagi!! Kau tau apa yang akan terjadi jika kau melakukan hal tadi?" Geram Kun padaku.
"Gue.. bakalan di bunuh pengawal tadi?" Terkaku.
"Masa bodo lah kau mau mati! Bukan itu!! Tapi keberlangsungannya.." Keluhnya geram. "Apa kau tak pernah berpikir, kalau perbuatanmu itu, akan di laporkan, dan sampai ke telinga raja dan para bawahannya??"
Aku mengernyit heran.
"Bagaimana mereka khawatir jika ada salah satu kasta rendahan yang berani menyergah dan melawan mereka."
"Kalau itu terjadi, tentu yang akan mendapatkan hukumannya bukan kamu saja, tapi.. satu desa, dan satu kasta.."
"Akan di hukum oleh pihak kerajaan!!"
Dadaku seketika tercekat dan kakiku kian melemas. Apakah artinya.. aku telah membahayakan..
Banyak orang?
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
Ray
Ayu gak berfikir sampe bisa membahayakan warga desa, karena Ayu bukan berasal dari jaman tersebut🤔🙏
Mungkin setelah Agam dan Adam memberikan alasan, baru Ayu menyadari kesalahannya🙏😘
2024-10-19
0
demiel mirael
😂😂😂😭😭 ketawa ngik ngik
2024-03-27
1
elsa
benteng nya tinggi ya yu hahahha
2023-12-24
0