Pertarungan di mulai dengan sorakan penonton. Ternyata sejak zaman dulu, manusia sudah menyukai hal-hal seperti ini ya?? Aku berasa nonton konser K-Pop, hanya saja sekarang tak sedang membawa lighstick.
Raka dan Juna sama-sama membungkuk untuk memberi salam, kemudian mereka memasang kuda-kuda dengan mengarahkan pedang ke hadapan masing-masing.
Sorot mata mereka sama-sama tajam. Meski Raka sedikit datar, tapi aku menangkap keseriusan pada wajahnya. Sementara raut wajah Juna sulit untuk ku artikan. Seperti mendendam tapi di satu sisi, ada pandangan tulus layaknya seorang kakak kepada adiknya.
Pertarungan di mulai dengan teriakan kencang dari Juna. Juna menyergah dan berlari kencang ke arah Raka dengan tebasan pedang kayu yang ia arahkan ke kepala Raka.
Dengan sigap Raka menghindari serangan tersebut dengan setengah kayang, kemudian berdiri lagi dengan sempurna dan bersiap untuk memberikan serangan balasan.
Tubuhnya sedikit membungkuk, namun kedua kakinya menapak dengan kuda-kuda yang begitu kuat. Bahkan aku bisa melihat urat betisnya, karena ia memakai celana setengah tiang.
Raka membalas dengan serangan serupa, namun sedikit menukik, agar Juna tak dapat menghindari serangannya dengan gaya yang sama. Namun aku mengakui kehebatan Juna, dalam kondisi yang begitu cepat, ia bergerak reflek dengan membanting tubuhnya sendiri ke sisi kiri, dan berguling untuk menjaga jarak dari Raka.
Raka nampak lengah, hingga tubuhnya nyaris mendapat tendangan dari Juna, meski Juna melakukannya dalam posisi setengah duduk.
Raka berguling di udara, seperti salto. Sejauh ini, masing-masing hanya melakukan serangan dan juga menghindar. Aku belum melihat adanya serangan berarti.
Kini mereka mengatur napas sambil saling memandangi satu sama lain. Terus terang saja, aku terbawa suasana dan rasanya napasku ikut tersengal saking gugupnya. Entah kenapa aku begitu takut kalau Raka sampai mendapat pukulan, terluka atau pun kalah. Tujuannya begitu tulus, sayang sekali kalau ia sampai harus kalah lagi di tahun ke enam ini.
Pertarungan kembali di lanjutkan dengan teriakan keras dari Juna seperti di awal pertandingan. Ia kembali menyergah, namun kali ini ia tak hanya mengayunkan pedang, namun sembari mengaitkan kakinya menyapu permukaan tanah dengan gaya berputar.
Raka langsung berguling ke belakang untuk menghindar, namun gerakan yang sama tentu telah di baca oleh Juna. Dengan cepat ia segera beranjak dan melompat tinggi, mengayunkan pedangnya ke belakang dan menebasnya ke arah depan dengan begitu kuat.
Semua orang berteriak ketika telah yakin kalau Raka akan mendapat pukulan telak. Namun lagi-lagi kami di kejutkan dengan pertahanan sempurna dari Raka.
Ia meletakkan pedangnya membentang di atas kepala, menghalau serangan Juna yang begitu cepat. Tangannya nampak bergetar begitu pula dengan Juna.
Mereka sama-sama menahan dan menekan pedang tersebut hingga senjata dari kedua lelaki ini lantas patah. Kayu tebal pun tak sanggup menahan tenaga dua orang ini.
Patahan kayu tersebut membuat Juna dengan cepat menerjang bagian perut Raka, karena posisi lelaki dingin itu sedang berlutut.
Ia terperosok lumayan jauh dari arena pertandingan, namun tak lantas membuatnya keluar dari perbatasan. Ia beranjak kembali, dengan wajah yang kian memerah dan sorot mata yang terlihat benar-benar menyeramkan. Ia menekan dan menahan perutnya, membuat cairan darah lantas keluar dari dalam mulutnya yang berusaha ia katup dengan rapat.
Dia terluka dalam, dan sepertinya pelatihan yang ia laksanakan beberapa hari ini tak menguntungkan kondisinya. Namun ia masih saja beranjak dan berdiri dengan tangan kosong tanpa senjata.
Ia mengepalkan kedua tangannya ke arah Juna yang masih menggenggam senjata yang telah patah. Juna menyungging senyum sambil melemparkan senjata tersebut, dan melakukan kuda-kuda yang sama dengan Raka.
Mereka mulai bertarung dengan tangan kosong, dan ini sama saja menegangkannya seperti tadi. Sekarang mereka tak saling memperlihatkan permainan pedang, tapi lebih ke skill khusus dari kemampuan bela diri mereka.
Serangannya cepat dan bertubi-tubi. Pukulan, tendangan berputar, tendangan di udara, pertahanan, menghindar dan semuanya mereka lakukan dalam satu waktu yang berdekatan.
Aku tak melihat raut kelelahan dari wajah Raka namun aku melihat raut itu dari wajah Juna. Pertandingan mereka cukup lama, tapi bukan berarti membosankan. Tetap saja mereka berdua tak mengizinkan kami untuk bernapas dengan lega meski hanya sebentar.
Ku lihat Juna nampak mengatur napas, hingga gerakan dan serangannya menjadi sangat lambat. Kesempatan ini ternyata di gunakan Raka untuk melakukan serangan mengejutkan.
Ia langsung melompat dan salto, dengan kaki yang siap untuk menghantam bagian kepala Juna. Seperti penglihatanku, Juna pun mengetahui alur serangan Raka. Ia membentengi diri dengan membuat pertahanan dengan kedua lengan yang ia letakkan di atas kepala.
Namun secara mengejutkan, arah serangan Raka tiba-tiba saja berubah. Kaki yang awalnya melayang di udara dan di atas kepala Juna kini malah bergerak menyamping ke arah lehernya.
"Tendang!!" Seruku tiba-tiba, namun serangan itu ternyata bukanlah sebuah tendangan, melainkan kuncian berputar hingga membuat Raka dan Juna jatuh terhempas bersamaan di atas arena pertandingan.
Meski sama-sama terjatuh, bedanya, leher Juna terkunci oleh lipatan kaki Raka yang membelitnya. Raka menarik lengan Juna di antara kuncian kakinya, membuat Juna menepuk-nepuk tanah, menandakan kalau ia kehabisan napas dan tak dapat bergerak sama sekali.
Pertandingan pun terhenti dengan wajah cengo dan mulut yang menganga di antara kami. Tepuk tanganku membuat kesunyian kian meredup. Mereka pun melakukan hal serupa sambil bersorak gembira, seolah berterimakasih karena telah memberikan pertandingan yang luar biasa seru di bandingkan beberapa pertandingan sebelumnya.
Raka lantas melepaskan belitannya dan beranjak, membiarkan Juna merasa malu dengan kekalahannya.
Pertandingan selesai dengan lima orang yang bertarung selepas Raka dan Juna. Aku sudah sangat menantikan pengumumannya, apakah Raka akan lolos kali ini?? Menurut dugaanku, dia akan lolos kali ini.
Tapi ternyata lolos atau tidaknya perserta tak akan di umumkan secara gamblang di hadapan kami semua, melainkan secara tertutup dan hanya di ketahui oleh para peserta yang mengikutinya saja.
Para penonton satu-persatu mulai membubarkan barisan. Aku masih menunggu sampai Raka keluar dari dalam camp pelatihan, namun di antara keramaian, ternyata Bu Sari berhasil menemukanku.
"Ayu?" Sapanya heran. "Sejak kapan kamu di sini?? Kamu menonton pertandingan Raka??"
Aku mengangguk. "Iya!! Itu seru sekali!! Raka sangat keren dan kuat, juga bersemangat!! Untung saja aku bisa bangun cepat dan menyusul kemari. Kalau tidak, rugi sekali karena tak bisa melihat pertandingan keren ini." Ujarku hingga membuat wajah Bu Sari lantas berubah.
"Ah, ibu minta maaf karena tak membangunkanmu. Kamu tidur nyenyak sekali dan tak bergerak sama sekali. Raka bilang agar ibu membiarkanmu tertidur." Jelasnya, merasa tidak nyaman atas perkataanku. Apakah kalimatku tadi terkesan menyindir??
"Oh!! Maaf, itu tidak masalah. Ibu jangan merasa sungkan." Tuturku. "Pasti Raka tak mau aku melihat pertandingannya. Dia kan menyebalkan sekali. Pasti dia berpikiran seperti ini.. kalau aku datang, maka dia akan kalah. Kalau tadi itu dia kalah, pasti aku yang akan menjadi kambing hitamnya!!" Ujarku berprasangka buruk kepadanya.
Bu Sari langsung tertawa sambil menutup mulut dengan punggung tangannya. "Kalian terlihat dekat kalau seperti itu." Ujarnya hingga membuatku mengernyit sebal. "Ibu rasa dia mengkhawatirkan mu dengan tulus. Bahkan sebelum pergi, dia memperbaiki selimutmu dan berlutut di hadapanmu. Ibu dengar dia mengucapkan terimakasih." Lanjut Bu Sari hingga membuatku tercengang.
"Hah?? Raka begitu?? Kenapa terdengar seperti dongeng sebelum tidur?" Keluhku. "Ta.. tapi, bukan berarti aku tak mempercayai perkataan ibu." Ujarku, berusaha membenarkan arti dari ucapanku.
"Tak apa. Ibu sangat mengerti. Sebaiknya kita pulang sekarang. Terlalu lama berdiri tak baik untuk kakimu." Ujarnya sambil mengajakku beralih.
Aku sedikit mengernyit, kalau terluka secara fisik.. aku memang sulit untuk sembuh. Bisa memakan waktu yang lama hanya untuk proses penyembuhan meskipun aku rutin mengobatinya.
Tapi sepertinya itu tak berlaku untuk Raka. Telapak tangannya yang terluka di waktu yang sama denganku, telah sembuh meski masih menyisakan koreng yang telah terkelupas.
"Mm.. hari ini ibu mau memasak apa?" Tanyaku random, hingga membuat Bu Sari menoleh ke arahku.
"Ikan bakar. Kenapa?"
"Bagaimana kalau hari ini.. aku masak sesuatu untuk Raka?? Jadi saat dia pulang, kita akan menyambut keberhasilannya dengan makanan enak. Dia pasti senang dan terharu." Perkataanku lantas membuat wajah Bu Sari menjadi sendu.
"Kenapa?? Apa aku salah bicara, Bu?"
Ia lantas menatap lirih dengan wajah seperti tadi. "Tak ada. Ayo kita buat makanan spesial untuknya." Sahutnya, menyetujui ide ku.
Entah kenapa, tiba-tiba saja aku jadi kepikiran dengan perkataan orang-orang tadi. Apakah Raka akan kembali gagal seperti sebelumnya? Makanya reaksi Bu Sari sesedih itu. Tapi.. bukankah dia menang?? Menang dengan telak dan keren! Padahal, rata-rata calon prajurit yang melawan ketua prajurit, mereka semua akan kalah. Dan kemungkinan untuk menangnya sangat kecil.
Tapi sepertinya, yang di lihat dari pertandingan ini bukanlah menang atau kalah. Kalau rata-rata semua calon prajurit kalah, tak mungkin kan mereka hanya merekrut yang menang saja. Itu hanya ada beberapa, jadi mustahil sekali.
.........
Sesampainya di rumah, aku langsung memasak ikan yang lumayan besar dan membakarnya dengan beberapa bumbu. Aku menggunakan bumbu pepes, apakah di zaman ini ikan pepes bakar sudah ada?? Kalau belum, berarti ini akan jadi masakan yang baru pertama kali mereka makan. Jadi penasaran dengan reaksi dan komentar mereka.
Aku juga mengambil beberapa singkong di hutan, untuk ku buat menjadi beberapa onde-onde dengan isian gula pasir karena gula merah tak ada di sini.
Aku bersemangat sekali memberikan kejutan untuk Raka. Jadi tidak sabar menantikan kepulangannya.
Selepas memasak, aku menunggu di depan pondok sambil duduk meringkuk. Meski di minta untuk menunggu di dalam, tapi aku lebih senang menunggunya di sini. Jadi ketika dia datang, aku lah yang pertama kali akan tahu dan menyambutnya.
Matahari sedikit menurun, menandakan kalau hari sudah memasuki waktu sore. Mungkin sekarang sudah pukul satu atau dua. dan perutku sudah terasa lapar. Kue buatan ku juga sudah dingin, begitu pula dengan makanan yang ku masak.
Dalam kegelisahan ku, aku akhirnya melihat sosok lelaki bertubuh kekar di ujung jalan. Ia berjalan dengan wajah datar, nampak begitu kelelahan.
Aku segera beranjak dari tempat dudukku. "Bu!! Raka sudah pulang!!" Pekikku senang, dan dengan cepat Bu Sari keluar dari dalam rumah dan menghampiriku.
Ia menatap lekat ke arah anaknya, seolah berusaha menebak keadaan dengan melakukan hal tersebut.
Raka pun sampai dan terhenti di hadapan kami. Ia menatap wajahku dengan begitu sinis. "Apa yang membuatmu tersenyum?!" Tanyanya dingin.
"Kamu." Balasku singkat, namun agaknya itu membuat reaksi yang besar terjadi padanya.
"Apa?" Ia seolah tak mempercayai ucapanku, atau bahkan tidak mengerti.
"Lihat!! Dan masuk lah!! Kami membuatkan sesuatu untuk mu di dalam!!" Ajakku sambil menarik tangannya.
Kami masuk ke dalam bersamaan, membuat Raka nampak terkesiap ketika melihat banyak menu makanan yang telah kami persiapkan. Ia mengernyit heran, menatap wajahku dan ibunya berulang-ulang.
"Siapa yang mati?"
Aku langsung mendengus mendengarnya. "Hus!! Sembarang!! Memangnya kau kira ini hajatan orang yang meninggal?! Tapi, memangnya di zaman ini, kalau ada orang meninggal, maka akan makan-makan juga ya?" Tanyaku bingung.
"Bicara apa kau ini?!" Keluh Raka, nampaknya yang benar-benar bingung di sini adalah dirinya.
"Ayo masuk dan makanlah!! Kami berdua membuatkan ini karena tahu kamu pasti lapar dan kelelahan kan?!" Tanyaku, namun ia nampak diam dan sesekali merunduk menatap lantai.
Ia berjalan ke meja makan, namun sejak tadi aku tak mendengar suara Bu Sari sama sekali. Ia seolah sedang mengkhawatirkan sesuatu, namun aku tak tahu tentang itu.
Raka mulai menyantap makanan yang ku buat dengan lahap, begitu pula dengan Bu Sari.
"Ikan apa ini?? Kuning dan berbumbu. Enak sekali." Ujar Raka mengomentari masakanku. "Terimakasih, Bu." Lanjutnya hingga membuatku mengernyit.
"Hei!! Katakan itu juga padaku! Aku yang telah membuatkan itu untuk mu!!" Sergahku cepat.
"Oh! Tak jadi! Ini tak enak sama sekali!!" Keluhnya. Mengesalkan sekali, rasanya ingin sekali ku hantam mukanya dengan kue di atas piring ini.
"Sebenarnya, apa yang membuat kalian melakukan ini?" Ia kembali bertanya.
"Tentu saja!! Karena kau tadi itu keren sekali!! Bagaimana hasilnya?? Apa kau lolos menjadi salah satu anggota prajurit?? Pasti lolos kan? Benar kan?? Iya kan?? Ini semua sambutan kemenanganmu dan sebagai tanda bahwa kamu telah resmi menjadi salah satu prajurit hari ini." Terangku hingga membuatnya mematung.
"Oh, jadi ini acara penyambutan kemenanganku?" Tanyanya datar, dan aku langsung mengangguk cepat.
"Tentu!! Selamat ya, karena sudah menjadi salah seorang prajurit kerajaan yang baru." Ucapku sambil tersenyum senang.
Raka hanya terdiam, sembari meletakkan tangannya di atas kepala ku dan menepuknya sambil mengalihkan pandangan, seolah tak mau terlihat hangat di hadapan ku. "Kau tak perlu melakukan ini." Singkatnya, sambil kembali memakan makanannya, dan mengalihkan tangannya dari kepala ku.
"Jadi.. hasilnya bagaimana, nak?" Tanya Bu Sari, sedikit berhati-hati, bahkan suaranya terdengar begitu pelan sekali.
"Aku.." Raka menjeda ucapannya sesaat, seraya memandangi raut wajahku dan sang ibu secara bergantian.
"Aku.. satu-satunya perserta yang gagal dalam pemilihan prajurit." Sahutnya, terdengar begitu lawak hingga membuatku terbahak saking gelinya.
"Ah Raka!! Ku kira kau tak suka bercanda seperti ini, tapi ternyata lawakanmu boleh juga." Ujarku sambil menyambung tertawaan yang tadi.
Raka lantas kembali makan dan mengabaikanku sesaat. "Kau kira aku bercanda?" Tanyanya dalam, membuatku menghentikan tawaku seketika.
"Hah? Jadi.. itu bukan candaan?"
Ia menganggukkan kepalanya. "Aku telah gagal, dan alasannya.."
"Sangat menyakitkan."
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
R-Mr.Ne
wah padahal gula pasir seharusnya lebih mahal, karena penyulingan lebih lama dari pada pengeringan dengan perebusan.
2024-11-29
0
Ray
Sakit Tak Berdarah😥😭
Sebenarnya apa alasannya Raka Tak Lolos? Penasaran kan?
2024-10-19
0
may
Ya ampun😢pasti sakit
2024-01-17
0