Aku terdiam penuh tanda tanya. Rasanya apa yang ku buat ini menjadi bahan untuk meledek kegagalan Raka. Bahkan tanpa bertanya, aku sudah berspekulasi kalau dia akan lolos karena memenangkan pertandingan.
Tapi, memang sebenarnya itu yang harus terjadi kan? Dia telah menang dari sekian banyak orang, melawan ketua prajurit, tapi kenapa dia sendiri yang tak lolos dalam pemilihan anggota baru?? Sangat mencurigakan bukan?
"Apa ini suatu kecurangan? Harusnya kamu bisa lolos kan?" Protesku.
Raka menatap datar ke arahku. "Apa yang membuatmu yakin kalau aku akan lolos?"
"Tentu saja, kamu adalah salah satu orang yang menang melawan ketua prajurit, lantas apa lagi masalahnya?" Ucapku, bertanya.
Ia hanya mendengus. "Itu adalah pemikiran ku beberapa tahun yang lalu, kala pertama kali ikut pemilihan prajurit dan aku gagal." Kini pandangannya teralih pada banyak makanan di hadapannya. "Sebenarnya, sejak awal aku masuk dan melihat banyak makanan di atas meja, aku merasa ini seperti sebuah ejekan untukku, tapi karena kau bilang ini adalah penyambutan kedatanganku karena aku lelah, aku cukup memakluminya. Tapi ketika kau mengira kalau aku lolos, pemikiran awalku itu muncul kembali." Lanjutnya. Membuat hatiku seketika mendung mendengarnya.
Aku menggeleng. "Tak ada yang mengejek mu. Hanya saja aku berpikir kalau kamu tak akan gagal. Aku yakin sekali." Ucapku panik.
Ia beranjak dari meja makan, seolah kehilangan selera untuk menikmati menu makanan ini lagi. "Aku sudah selesai." Singkatnya, membuatku menggenggam kedua tanganku dengan erat.
Aku lantas menatap ke arah Bu Sari yang hanya melemparkan senyum kecut padaku. "Terimakasih sudah berusaha keras." Ujarnya, membuatku meringis.. benar-benar ingin menangis.
Raka pergi dari rumah. Tak tahu kemana. Ia pergi tanpa mengucap sepatah katapun. Meninggalkan aku dan Bu Sari berdua di dalam rumah.
"Sebenarnya.. apa yang terjadi, Bu? Aku yakin ibu tahu sesuatu. Waktu aku bersemangat untuk menyambut kedatangan Raka, ibu terlihat tak bersemangat. Apa ibu sudah tahu hasil yang akan di dapatkan Raka memang seperti ini?" Tanyaku sambil menerka. Dan Bu Sari hanya menganggukkan kepalanya.
"Mungkin kamu belum tahu ini. Raka sudah kesekian kali mengikuti pelatihan, meski telah mengalahkan musuh dan berpotensi menjadi anggota prajurit, tapi dia terus gagal di hasil akhir." Raut wajah Bu Sari nampak sedih.
"Ibu sudah menyuruhnya untuk berhenti, tapi ada tekad kuat yang membuatnya benar-benar ingin menjadi anggota prajurit. Dan ibu tak mengerti tekad apa yang terus membuatnya bertahan dan berusaha." Lanjutnya, dengan suara yang sedikit lirih. Ia mengangkat kepala, dan berusaha mengembangkan senyumnya ke arahku.
Aku terdiam. Tak dapat berkata-kata selain membalas tatapan Bu Sari.
"Apakah ini ada suatu kecurangan? Kenapa terkesan begitu tidak adil?" Protesku, membuat Bu Sari hanya menggeleng lemah.
"Ini murni keputusan dari jenderal.." Aku mengernyit dalam, mendengar penjelasan Bu Sari.
"Bukankah di sana tadi tak terlihat adanya jenderal atau pun panglima. Atau jangan-jangan, aku yang tak menyadari kedatangan mereka?"
Bu Sari sedikit terkesiap. "Ya.. mereka tak akan datang hanya untuk itu. Mereka hanya akan mulai melatih kalau para prajurit baru telah masuk ke dalam camp prajurit kerajaan." Terangnya, membuatku kembali menautkan alis.
"Kalau mereka tak datang, berarti mereka tak melihat bagaimana kelangsungan pertandingan? Yang artiannya, bukan mereka yang menentukan lolos atau tidaknya seseorang. Pasti ada perwakilan mereka yang melakukannya kan?" Aku mulai berspekulasi tak jelas, intinya sulit bagiku untuk menerima kegagalan Raka.
"Ya.. memang ada perwakilannya. Dan yang telah memutuskan pantas atau tidaknya seseorang menjadi prajurit kerajaan adalah pelatih mereka." Jawab Bu Sari hingga membuat kedua mataku terbelalak lebar.
"Pelatih?" Gumamku penuh arti.
Seketika aku beranjak dari meja makan, membuat Bu Sari terkesiap kaget dan menengadahkan kepalanya ke arahku. "Ada apa?" Tanyanya panik.
"Ibu tunggu di sini, aku mau bertemu dengan seseorang dulu." Lanjutku sambil berjalan cepat ke arah pintu keluar, meskipun dalam keadaan tertatih.
"Kamu mau kemana, Yu?" Tanya Bu Sari sambil mengekoriku.
"Keluar sebentar, Bu. Ayu tak akan pergi jauh dari desa ini." Lanjutku meyakinkan, membuatnya berhenti di pekarangan depan rumahnya.
.........
Aku berdiri di depan pintu dengan tubuh kaku dan tangan yang terkepal kuat. Aku mengerekatkan gigi, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh. Setiap kali aku marah dan kesal, maka aku akan selalu menangis. Itu benar-benar membuatku terlihat lemah di hadapan orang lain.
Ku ketuk pintu rumah tersebut sebanyak tiga kali, lalu menunggu seseorang yang berada di balik sana membukakan pintu.
Merasa tak ada jawaban, aku pun melakukannya berkali-kali. Tak sopan memang, tapi aku perlu bicara sesuatu.
Kriiiet..
Pintu rumah terbuka. Menampakkan seorang gadis yang entah memiliki kesibukan apa di dalam sana. Ia menatapku dengan bingung, mungkin karena wajahku yang kian memerah padam.
"Ayu? Ada apa??" Ia bertanya, heran dan penasaran. Aku menilik ke dalam rumahnya dari pintu yang ia buka.
"Nur, apa kak Juna ada di dalam?" Tanyaku cepat.
Nur sedikit mengernyit sambil menatap ke arah sejurus dengan tatapanku. "Hanya ada ibu di dalam. Kakak belum pulang." Sahutnya.
"Kapan dia akan pulang?"
"Mungkin nanti malam. Atau bahkan besok." Jawabnya.
Aku meringis kesal. "Memangnya dia kemana?? Kenapa harus pulang besok?" Desakku.
"Kamu terlihat begitu kacau. Ayo masuk dulu, biar aku buatkan minuman." Ajaknya sambil menarik tanganku.
Aku pun duduk di kursi dan menghadap ke arah meja dengan gelisah. Tak lama berselang, Nur muncul sambil memberikanku minuman.
"Minumlah." Ujarnya, membuatku menuruti perkataannya. "Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kedatanganmu ke sini ada hubungannya dengan Raka?"
Aku terkesiap ketika mendengar terkaannya. "Kenapa kau bisa tahu?" Tanyaku sambil meletakkan cangkir minuman di atas meja.
"Raka gagal kan?" Terkanya lagi, membuatku sedikit murung.
"Padahal kakakmu belum pulang dari camp pelatihan. Tapi kau sudah tahu kenyataan bahwa Raka telah gagal. Apakah itu sudah menjadi hal yang terdengar biasa dan tak mengejutkan lagi bagi orang-orang di desa ini?" Ujarku, mengeluarkan semua unek-unek yang ada di dalam hatiku.
Nur tertunduk beberapa saat. "Sebenarnya aku hanya menebak. Dan aku berharap agar Raka dapat lolos kali ini. Tapi ketika melihat kedatanganmu dan juga raut wajahmu, itu seolah menjadi pembenaran atas dugaan burukku." Ia berkata lirih, sedikit parau.
Aku terdiam. Ternyata Nur pun berharap kalau Raka bisa lolos kali ini. "Lalu, di mana kak Juna?" Tanyaku. "Aku ingin berbicara sesuatu padanya." Lanjutku lagi.
"Dia dan ketua prajurit yang lain sedang membawa anggota prajurit baru menemui jenderal. Ini biasanya memakan waktu yang cukup lama, karena dia juga harus menemani prajurit baru di sana." Ujarnya menerangkan.
Aku sedikit mematut. "Bisakah aku datang dan menemuinya sekarang? Kau tinggal menunjukkan jalannya saja padaku. Aku benar-benar ingin menanyakan sesuatu." Pintaku, sedikit mendesak.
Setelah puas mendesak dan membujuk Nur, akhirnya ia mau menemaniku menemui kakaknya di camp pelatihan baru.
Sampai di sana, kami berdua di hadang oleh dua orang prajurit yang berjaga di pintu masuk.
"Ada keperluan apa?" Tanya mereka. Nur segera menjawab dengan beberapa alasan, sementara aku hanya fokus menilik ke arah dalam camp pelatihan.
"Oh, Juna?? Kalau begitu tunggu lah. Dia setidaknya harus mendapatkan izin dari jenderal mengenai hal ini." Ucap salah seorang yang membiarkan temannya masuk ke dalam, sementara ia masih berdiri untuk menghadang kami.
"Kenapa kamu tidak ikut temanmu ke sana? Apa kamu begitu yakin kalau kami akan menerobos masuk?" Tanyaku, membuat Nur menyikut lenganku sambil tersenyum hambar ke arah prajurit tersebut.
"Salah satunya memang karena itu. Tapi, setidaknya kalian berdua bisa membuat mataku sedikit lebih cerah." Ujarnya, nampak mengeluh.
"Oh, apakah di dalam sana kau hanya melihat lelaki?? Jadi, kau merasa bosan dan lelah karena itu?" Terkaku, membuat Nur nampak mengernyit malu.
"Wah!! Kau begitu memahami ku. Apa kau sudah punya calon suami? Kau ini pengertian, dan sepertinya cocok di jadikan istri. Kau belum punya suami atau calon suami kan?" Desaknya lagi, membuatku sedikit risih.
"Sudah!! Dia kekasih kak Juna." Sambar Nur hingga membuatku terkesiap. Aku langsung menatap ke arahnya, sementara Nur langsung mengedipkan matanya.
"Oh, ya!! Dia itu kekasih ku. Ehee.." Ujarku sambil meringis masam.
Tak lama berselang, prajurit tadi datang dengan Juna yang berada di sisinya. Kami benar-benar tak dapat leluasa melihat orang-orang dan aktivitas yang berada di dalamnya, dari perbatasan ini.
Camp ini di kelilingi oleh spanduk dari kertas tebal berwarna coklat, yang menutupi kayu berukuran kecil yang tertanam di dalam tanah.
"Nur? Kenapa kamu ke sini?" Tanya Juna, sambil menatap adiknya. Nur hanya diam sambil menoleh ke arahku. "Kau? Kenapa-"
Aku langsung menarik tangan Juna tanpa basa-basi, menyeretnya menjauhi dua orang prajurit yang kemungkinan akan menguping pembicaraan kami.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Juna heran, ketika kami telah berjalan cukup jauh dari keramaian yang ada.
"Ini tentang hasil pertandingan!! Aku rasa kalian telah melakukan kecurangan!!" Sentakku, marah. Sementara Nur hanya menatap ragu ke arah kakaknya.
"Nur, kau pulanglah. Kakak mau bicara dengan perempuan ini." Ujarnya bertitah, membuat Nur segera berlalu setelah berpamitan padaku.
"Jadi kau kesini karena Raka mengadu sambil menangis di rumahnya?" Ia terdengar mengejek dan tidak suka.
"Mana ada yang seperti itu!! Dia pulang dengan wajah datar!! Kau tahu!! Aku sudah memasak banyak makanan untuk menyambut keberhasilannya, tiba-tiba dia pulang dengan wajah yang sulit ku artikan, dan ternyata ia malah gagal dalam pemilihan anggota prajurit yang baru!! Lalu yang menjadi permasalahannya, hanya dia sendiri yang gagal dalam pemilihan tersebut, padahal dia kan sudah menghajarmu sampai kalah!!" Ujarku panjang lebar, membuat Juna nampak mengeraskan rahangnya menatapku.
"Jadi ini yang kau maksud dengan kecurangan?"
"Ya!!" Sahutku tanpa pikir.
"Menang kalah itu bukanlah suatu hal yang dapat menentukan terpilihnya prajurit baru atau tidak. Ada banyak hal yang kami pertimbangkan, dan Raka tak berubah selama mengikuti pelatihan setiap tahun."
"Tak berubah?? Aku benar-benar tak mengerti. Pertimbangan apa lagi yang melatarbelakanginya? Bukankah Raka itu orang yang sangat kuat dan cerdik. Dia bisa menghajarmu sampai kalah tadi." Perkataanku lagi-lagi membuat Juna semakin kesal.
"Kau mengulangi kalimat yang mengesalkan itu berkali-kali!!" Keluhnya membentak.
"Ahk!! Maafkan aku!! Soalnya hanya itu yang ada di dalam pikiranku." Gumamku, ketakutan.
"Raka memanglah kuat. Sejak dulu dia sudah sangat dan semakin bertambah kuat tiap mengikuti pelatihan."
"Maka dari itu aku sempat bertanya padamu, latihan macam apa yang ia lakukan agar bisa menjadi sekuat itu."
"Meski mengancam, Raka tak pernah lolos dalam pelatihan. Aku yang pernah sama-sama menjadi calon prajurit dan mengikuti pelatihan bersamanya, benar-benar takut dan merasa kalau dia lah yang akan terpilih karena dia terlalu kuat dan dominan di antara yang lain."
"Tapi nyatanya, dia adalah orang pertama yang di nyatakan gagal dalam pelatihan, meskipun ia berhasil mengalahkan ketua prajurit kala itu."
"Semua orang sangat heran, sampai menuduh kalau ketua prajurit telah melakukan kecurangan."
Aku langsung tertegun. Aku juga sekarang berpikiran seperti itu pada lelaki yang ada di hadapanku. Pasti dia curang. Dia kan pelatih Raka dan yang lain. Mungkin saja kegagalan Raka adalah hal yang mereka sengaja.
"Memang nampak sangat curang." Timpalku gamblang.
"Tapi penilaian yang awalnya tak aku pahami sepertimu, menjadi ku mengerti setelah aku melatihnya langsung." Lanjutnya, dengan tatapan mata yang begitu sengit ke arahku.
"Raka, benar-benar tak pantas menjadi salah satu anggota prajurit kerajaan." Perkataannya lantas membuatku terkesiap.
"Kenapa?" Tanyaku cepat, sedikit tertohok rasanya.
"Raka itu egois, dan keras kepala. Tak memiliki empati dan tak dapat bekerjasama dengan orang lain."
"Meski dia kuat, tapi di dalam peperangan, keutamaan yang di butuhkan adalah memiliki rasa saling mempercayai satu sama lain dan memahami kekuatan masing-masing. Ini bukanlah tentang siapa yang paling kuat, tapi tentang siapa yang bisa bekerjasama dalam squad mereka masing-masing."
"Sikap Raka yang seperti itu, hanya akan menghabiskan seluruh squad-nya, dan membuat banyak orang mati terbunuh. Dia tak akan bisa menjadi seorang pemimpin atau pun prajurit."
"Dia bertindak sesuka hati, namun tak memikirkan resiko yang akan di terima oleh orang lain." Jelas Juna hingga membuatku terbungkam.
Jadi ini alasan yang di katakan Raka tadi. Apakah dia sudah tahu alasan dan penyebabnya. Kalau sudah tahu, kenapa dia masih mengulangi kesalahan yang sama sampai berkali-kali di tolak menjadi prajurit?
"Aaah!! Dia bodoh!!" Keluhku sambil menepuk dahi.
"Sejujurnya, kekuatan Raka sangat di butuhkan. Kalau dia sudah ikut berperang dan memiliki banyak pengalaman, aku yakin ia akan menjadi seorang jenderal yang kuat. Tapi, harapan para ketua prajurit pupus, ia tak berkembang sama sekali, hanya kekuatannya saja yang bertambah." Penjelasan Juna benar-benar membuatku bertambah kesal padanya.
"Ah, kak Juna.. bukankah kau seorang ketua prajurit."
Ia mengangguk. "Ya. Memangnya kenapa?"
"Apakah aku boleh meminta tolong padamu. Satu permintaan saja.." ujarku, memohon.
Ia sedikit mengernyit. "Kenapa meminta bantuanku? Aku tak yakin dapat membantumu."
"Yaaaah!! Tolong lah. Cuma kakak yang bisa."
Ia terdiam sembari berpikir sejenak. "Memangnya apa yang kau inginkan dariku."
"Aku ingin... Kak Juna, mempertemukan aku dengan jenderal atau pun panglima. Ada hal penting yang ingin ku katakan padanya."
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
Ray
Apakah Juna akan mengabulkan permintaan Ayu bertemu dengan Jendral?
2024-10-19
0
Yeni Setianingsih
hu hu sama kayak aqu,kalau emosi pasti nangis padahal g mau nangis 😭😭
2022-07-31
0
Nacita
gigih sekali s ayu ini ya 😂😂
2021-10-13
1