"Wah benarkah?? Jadi ini yang namanya kue beras?" Pekikku girang.
Aku sudah sampai di rumah Nur, ternyata jaraknya tak terlalu jauh dari rumah Raka. Hanya saja halaman yang membatasi antara pondok satu ke pondok yang lainnya cukup jauh, makanya rumah Nur tak terlihat dari rumah Raka.
"Memangnya kamu belum pernah membuatnya??" Nur bertanya ragu, mungkin takut membuatku tersinggung.
"Ah!! Kau tahu, memasak adalah keahlian terburukku!! Aku sempat ragu apakah aku bisa menjadi seorang ibu." Ceplosku, sambil menyomot beberapa kue beras buatan Nur.
"Benarkah?? Atau kau hanya sedang merendah?" Terkanya.
Aku sedikit meringis senyum. "Sebenarnya bisa, tapi tak cukup baik. Hanya mampu menguasai beberapa menu yang ku suka saja." Terangku.
"Raka sangat suka makan, apakah kamu tak pernah membuatkannya sesuatu?"
"Hem.. kalau bisa, aku benar-benar ingin meracuninya. Tapi setiap masakan yang ku buat bersama Bu Sari, ia selalu menaruh kecurigaan terhadapnya. Jadi sepertinya aku tak mampu untuk membunuhnya dengan racun!"
Nur langsung terbahak. "Jangan bercanda. Kamu lucu sekali. Apakah ia menyukaimu?"
Aku meringis masam. "Hiii, dia sepertinya ingin menghabisi nyawaku kalau ada waktu. Ia benar-benar menganggap ku seorang pengganggu!"
Nur terdiam setelah mendengar jawabanku. "Kalian sepertinya dekat sekali." Ucapnya lirih.
"Hah? Kenapa kamu berpikiran begitu?"
"Semua wanita yang berada di dekatnya, akan merasa risih dan serba salah. Jadi merasa tidak nyaman sama sekali, padahal beberapanya telah menaruh hati padanya." Suaranya terdengar lemah.
"Dia lelaki yang buruk ya? Padahal tidak terlalu tampan, tapi sok jual mahal!" Gerutu ku.
"Itu benar!!" Sebuah suara tiba-tiba saja membuatku dan Nur terkesiap. Kami melihat sesosok pria bertubuh kekar di depan pintu. Kulitnya kecoklatan dan mengkilap, wajahnya serius dan sepertinya dia orang yang kaku dan tegang.
"Kakak?" Gumam Nur sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Kakak?" Aku mengulangi perkataannya, sambil ikut beranjak.
"Duduk saja." Singkatnya sambil menghampiri meja.
Aku dan Nur kembali duduk, sementara ia langsung mengarahkan tatapan tajamnya kepadaku.
"Kau siapa? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya."
"Sama, aku juga tak pernah melihatmu." Aku membalik ucapannya.
"Namaku Arjuna, seorang prajurit terkuat yang kelak akan di angkat menjadi panglima!" Tukasnya, membuatku tersedak.
"Pa.. panglima?" Tanyaku, ragu. "Ah, namaku Ayu. Aku tinggal bersama Raka dan ibunya." Aku memperkenalkan diri.
"Kau calon istrinya??"
Aku menggeleng cepat, nyaris membuat kepalaku tercabut dari batang leher. "Tidak tidak!! Tidak akan mungkin terjadi." Sahutku. "Aku cuma menumpang di rumahnya karena aku terluka. Nanti kalau sudah sembuh, aku akan pergi." Tambahku.
"Jadi.. kau tak ada hubungan dengannya?" Arjuna kembali memastikan.
"Tentu saja!!" Sahutku yakin, sambil melirik ke arah jendela pondok. Aku kembali mengalihkan pandanganku sambil meminum air, namun ketika menyadari kalau langit di luar sudah nampak gelap, aku langsung terkesiap dan menyemburkan airku ke wajah Arjuna.
"Ahk!! Apa-apaan ini?" Ia mengeluh, benar-benar marah seolah ingin membunuhku.
"Kyaaaa!! Maafkan aku!!" Pekikku panik sambil beranjak dan menyeka wajah serta lehernya dengan usapan tanganku.
Ia terdiam, sementara Nur tak mengucapkan sepatah katapun. Sambil menyeka wajahnya, ia terlihat menatap lekat ke arahku, bahkan aku tak melihat ia mengedip sama sekali.
"Wajahmu asing seperti tak berasal dari sini." Tiba-tiba ia mengatakan hal seperti itu, lantas membuatku segera mematung.
"Duduklah, Yu.. Biar aku yang memberikan kak Juna handuk." Ujar Nur sambil berlalu meninggalkan kami.
Aku pun menuruti perkataan Nur dan duduk di hadapan kakaknya yang kaku ini. Dia mirip sekali dengan kanebo kering.
Kami terdiam cukup lama, sambil sesekali mencuri pandang. Aku tak suka situasi canggung seperti ini, jadi sebaiknya aku akan mulai membuka topik.
"Otot tanganmu besar sekali, apa kau berlatih keras setiap hari?" Juna nampak terkesiap, kesombongan sedikit terlihat dari wajahnya.
"Kau menyadarinya??" Aku mengangguk. "Aku ingin menjadi prajurit terkuat, makanya aku tak akan kalah dari siapapun dalam hal fisik, kekuatan dan kecerdikan di Medan perang nanti." Aku terdiam. Dia sangat ambisius.
"Apa kau tahu latihan seperti apa yang di lakukan Raka setiap hari?"
Aku sedikit mengernyit mendengar pertanyaannya. Kenapa harus bertanya seperti itu?? Apakah dia ingin mengalahkan Raka?? Dia bilang mau jadi prajurit terkuat kan?? Mungkin saja, pasti begitu!! Tidak salah lagi.
"Aku baru dua hari bersamanya. Dia selalu menghilang dan pulang dalam keadaan lebam. Aku pun tak tahu apa yang dia lakukan di luar sana." Sahutku jujur. Membuat Juna nampak kecewa.
"Kenapa menanyakan itu? Kau ingin berbuat curang atau mencontoh cara latihannya? Apa kekuatanmu di bawah Raka?"
Brak!!
Ia langsung menggebrak meja, membuat tubuhku melompat dari atas kursi saking kagetnya.
"Aku yang melatihnya!! Jadi bagaimana bisa kau berpendapat seperti itu!! Aku ini sangat kuat, dan para jenderal mengakui hal itu!!"
Aku langsung panik dan berteriak. "Maafkan ketidaksopananku!!!"
Awalnya wajah Juna nampak dingin, namun perlahan ia kembali menghangatkan tatapannya. "Maaf, tak seharusnya aku mengagetkanmu." Ujarnya, nampak menyesal.
"Kau kesal karena aku menyebut kemampuanmu di bawah Raka?? Kelihatannya memang aku yang salah dan memancing emosimu. Jadi kau tak perlu minta maaf padaku." Balasku berujar.
"Maaf lama, aku kesulitan menemukan handuknya." Tutur Nur sembari masuk dari pintu belakang rumah.
Bersamaan dengan kedatangan Nur, suara pintu rumah bagian depan mereka tiba-tiba saja terketuk. Nur beralih setelah memberikan Juna handuk. Ia membuka pintu, namun tamu tak diundang tersebut langsung mendorong pintu hingga terbuka dengan lebar.
Arjuna langsung beranjak melihat kehadiran lelaki tersebut, apalagi aku. "Raka?!" Seruku kaget.
"Pulang!! Ibu khawatir padamu!!" Ia langsung bicara terus terang.
"Wah wah!! Ternyata Raka ya? Prajurit dengan postur tubuh paling kecil dan juga prajurit yang paling keras kepala." Juna nampak begitu senang dengan kedatangannya.
"Cepat!" Raka sama sekali tak menghiraukan perkataan Juna.
"Raka, kamu sudah datang. Apa tidak sebaiknya makan beberapa kue beras sebelum berlalu?" Tawar Nur dengan lembut.
"Iya!! Ini enak!! Kenapa juga kau terburu-buru dan menggangguku? Sudah datang tak di undang, memaksa orang lain pulang pula!! Pulang saja sendiri sana!!" Keluhku, tanpa menghiraukan wajah Raka yang nampak begitu marah dan kesal kepadaku.
"Kau tak kembali selepas mandi, kau membuat ibu khawatir, benar-benar menyusahkan!!" Balasnya ketus.
"Ya sudah, duduk saja di sini sebentar. Tak sopan tahu kalau datang dan membuat gaduh!!" Balasku, dan agaknya mendapat persetujuan dari Juna.
"Huh!! Apa mentalmu akan jatuh jika berhadapan lama denganku?" Ledek Juna hingga membuat Raka berjalan ketus sambil duduk di antara kami.
"Berikan aku minum!" Pintanya, dan Nur segera memberikan apa yang ia inginkan.
Sejak kedatangan Raka, suasana bertambah canggung. Dia hanya saling tatap dengan Juna, pandangannya begitu sengit. Apa mereka sedang berbicara bahasa hati?? Ooh, so sweet sekali~
Sudah pasti bukan itu!!
"Apa.. kalian saling berdebat dan berkata kalau salah satu dari kalian itu lebih baik?" Terkaku, membuat tatapan tajam itu lantas di lemparkan kepadaku. "Maafkan aku!!" Pekikku sambil menutup wajah dengan ketakutan.
"Habisnya, kalian sudah begitu sejak beberapa menit yang lalu. Apakah jadi prajurit kuat sebagus itu?" Lagi-lagi mereka menatapku seolah akan memakanku hidup-hidup. "Maafkan aku!!!" Pekikku sambil kembali menutup wajahku.
Suasana kembali canggung, dan Nur anteng sekali dengan keheningan ini. "Jadi... Apakah kalian sudah melihat wajah Ratu?" Mereka bertiga serentak menoleh ke arahku.
"Bukankah Raka sudah pernah ke sana." Perkataan Juna lantas membuatku terkesiap.
"Benarkah?"
"Cukup!!" Sentak Raka dengan sedikit amarah.
"Untuk apa dia datang ke sana?"
"Berhentilah bertanya!!" Ia kembali membentak ku.
"Aku tak mau berhenti!" Sahutku.
"Untuk berusaha mempertahankan cintany-"
Buagh!!
Hantaman keras Raka menghantam ke dagu Arjuna, membuat lelaki tersebut jatuh terduduk di atas tanah. Aku dan Nur kelabakan sekaligus kaget dengan reaksi Raka.
"Cih!! Masih saja emosian jika aku membahas tentang itu!!" Keluh Juna sambil menyeka darahnya.
"Ayo pulang!!" Ujarnya terdengar marah, sambil menarik tanganku dengan kasar.
"Ah!! Itu sakit sekali!!" Keluhku. "Tak seharusnya kau pulang setelah membuat rusuh!! Setidaknya minta maaflah dulu!!" Keluhku, sambil menampik tangannya dariku.
"Aku akan menyeretmu kalau sampai kau tak mau pulang!!" Bentak Raka lagi, dan mau tak mau aku harus menuruti kemauannya.
"Nur, kak Juna.. terimakasih hidangannya. Dan maafkan kemarahan orang ini!!" Lanjutku meski terus di seret Raka keluar.
..........
Di perjalan pulang, kami hanya saling terdiam. Aku bisa melihat tangannya yang terkepal masih bergetar dengan sangat. Ia tak memberikan wajahnya padaku. Dan aku hanya bisa melihat cahaya lentera di setiap pondok yang sedikit memberikan penerangan untuk jalan pulang kami.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kau marah sekali?" Tanyaku, namun ia hanya membisu.
"Jangan datang lagi ke sana!! Kalau tidak, aku akan benar-benar membunuh mu bahkan sebelum kakimu sembuh!" Tukasnya dingin.
"Memangnya kalau membunuh seseorang itu tak akan di hukum?"
"Ck! Berhentilah bertanya!!" Ia terdengar kesal.
"Dan lagi, bagaimana kau bisa menemukanku di sana? Aku tak pernah bilang kalau aku pergi ke sana." Lanjutku.
"Mau kau ke neraka sekalipun, aku bisa tahu di mana keberadaan mu!!" Sahutnya.
"Oooh!!" Ia sedikit menyelis ketika aku terdengar memahami sesuatu. "Jangan-jangan.. kau bisa mengenaliku dari bau ya?! Semacam pendeteksi bau?? Apa aku punya bau khusus?!" Aku mulai mengendus aroma tubuhku.
"Hanya anjing yang punya kemampuan itu!" Balasnya ketus.
"Lalu, kalau bukan dengan bau.. jadi dengan apa?"
"Kau bertemu dengan Nur siang tadi. Kalian bercakap-cakap, dan kau tak mengenali siapa pun di sini, tentu saja aku berpikir kalau kau akan pergi ke sana! Jadi berhentilah meracau begitu! Perempuan aneh!!" Lagi-lagi bahasanya terdengar kasar dan dingin. Terus terang saja, sekeras apapun hatiku, aku tetap merasa sedih kalau terus di perlakukan seperti seorang musuh.
"Apa aku menyusahkan mu?"
"Ya!" Ia menyahut dengan cepat, bahkan tak berpikir sedikitpun ketika menjawabnya.
Aku merungut masam. "Kalau begitu maafkan aku."
"Bisa tidak kau berhenti mengoceh?!" Aku terkesiap ketika ia tiba-tiba membentak ku. "Aku benci sifatmu yang begitu!! Cepatlah sembuh dan menjauhlah dari hidupku!!" Napasnya terdengar berderu.
Aku terdiam. Sudut hatiku terasa aneh, seperti terluka dan sedih. Aku tak tahu, kenapa dia bersikap sedingin itu bahkan aku tak tahu apa kesalahan yang ku lakukan padanya.
Ia menoleh ke arahku ketika tak mendengar suaraku lagi. Aku terdiam. Meski ia menatapku, tapi tetap saja itu adalah raut dingin, bukan raut khawatir.
"Apa kau.. begitu membenci ku?" Tanyaku parau. Ia hanya mendecakkan lidahnya tanpa menjawab.
"Kalau begitu aku tak akan mengganggumu, atau berada di dekatmu. Lalu.. lupakan saja mengenai janjiku yang akan membuatmu mencintaiku. Sepertinya aku tak akan mampu melakukan itu." Ujarku hingga membuat langkahnya terhenti.
"Sebenarnya aku tak mengerti bagaimana cara membuat orang lain mencintaiku. Aku juga tak pernah melakukan itu. Aku hanya mencintai seseorang yang tak di takdirkan untukku. Lalu perkataanku tadi siang, anggap saja hanya omong kosong." Lanjutku pelan.
Aku langsung berjalan mendahuluinya ketika selesai mengatakan kalimat menyedihkan tersebut. Sepertinya aku salah paham. Meski ini bukan duniaku, tak sepatutnya aku berkata seenaknya begitu. Harusnya sejak awal, aku tak perlu mencampuri urusan manusia di zaman ini. Cukup berbaur tanpa membuat orang lain menyadari kehadiranku, lalu pulang dan berlalu. Harusnya seperti itu.
Sesampainya di rumah, Bu Sari nampak menunggu kedatangan ku di depan pintu. Hanya saja aku tak mau bicara dan langsung melompat ke tempat tidur dan memunggungi mereka.
Ku dengar Bu Sari menuduh Raka melakukan sesuatu yang menyakiti perasaanku, dan dengan entengnya ia tak mengakui hal tersebut.
..........
Keesokan harinya, aku terbangun karena suara aktivitas yang di lakukan oleh Bu Sari dan juga Raka. Aku enggan bangun, rasanya menyedihkan dan aku tak betah lagi di sini. Aku mau kembali, tapi bagaimana caranya??
Sepertinya anak lelaki yang menjumpai ku di depan toko bunga waktu itu mengetahui sesuatu. Atau bahkan dia lah yang membuatku berada di tempat ini??
Aku menyelis ketika mencium aroma makanan enak di dekat meja. Ku lirikkan mataku ke arah Raka yang tengah menguyah singkong rebus sambil menghadapkan tubuhnya lurus ke arahku.
"Berhentilah berpura-pura mati, kau sudah bangun beberapa jam lalu." Tegurnya hingga membuatku beranjak.
"Semoga kau tersedak singkong dan segera mati!!" Balasku kesal.
"Aku sudah menunggu mu bangun sejak tadi." Ujarnya, hingga membuatku sedikit mengernyit.
"Untuk apa? Kau ingin mengatakan hal buruk lagi? Bahkan sebelum sarapan nasi, aku tak mau kau suapi dengan cacianmu itu!!" Sahutku tanpa pikir.
Ia nampak merenggangkan tubuhnya sambil menghela napas panjang setelahnya. Ia tiba-tiba saja beranjak dan berjalan menghampiriku yang masih duduk di ujung tempat tidur.
"Jangan salah paham dan berpikir kalau aku mau minta maaf perihal semalam."
"Tidak minta juga kok!!" Sahutku ketus, sambil memandangnya dengan jengah. Ia kembali mendecakkan lidahnya.
Tiba-tiba saja ia merunduk di hadapanku. Di lumurinya lukaku dengan daun yang sudah di tumbuk. Apakah ia mencari daun ini sendiri dan menumbuknya juga??
"Yah bagus!! Kau sekarang mirip babu ku!!" Ujarku hingga membuatnya menekan daun tersebut dengan tenaga. "Aw!!" Keluhku kesakitan.
Ia terus menempelkan daun tersebut dengan perlahan, sambil menutupi semua luka ku.
"Kau bersemangat sekali untuk mengusirku, sampai-sampai rela mencari obatnya di hutan, menumbuknya dan mengobatinya padaku!" Terkaku penuh kecurigaan.
"Atau... Kau sudah menyukaiku?? Bukankah perhatian kecil itu sebagian dari rasa cinta?" Lagi-lagi ia menekan tangannya ke luka ku. "Aww!!" Keluhku lagi. "Kau memang benar-benar minta di pukuli?!" Bentakku kesal, namun ia hanya mengabaikan semua perkataanku.
"Sudah selesai!!" Tukasnya sambil berdiri di hadapanku.
"Aku tak suka berhutang budi pada orang lain, apalagi orang seperti mu! Aku mengobati mu karena kau telah membantuku pulih." Kedua mataku terbelalak mendengarnya.
"Hah?! Jadi... Ramuanku bereaksi pada tubuhmu??" Ia terdiam. "Nah!! Benar kan kata ku!! Kau akan berterimakasih padaku setelah ini!! Karena aku sudah membantu menjaga kondisi tubuhmu. Kau merasa segar kan saat bangun tidur. Benar kan?" Aku langsung mengoceh panjang lebar, bahkan sebelum sempat ia mengucapkan apapun.
Tiba-tiba saja ia mengangkat tangannya. Aku lantas terkesiap dan menutup mata. Apakah dia akan memukuliku seperti yang biasa di lakukan Nina padaku??
Namun ketika menutup mata, aku merasakan sebuah telapak tangan besar yang jatuh di atas kepalaku. Aku membuka mata dan menengadahkan kepalaku menatapnya.
Kami saling berpandangan. Wajahnya datar dan tatapan matanya terlihat kosong. "Terimakasih."
Singkatnya hingga membuatku terkejut. Dia.. berterimakasih padaku?? Apakah dia sedang melindur, atau jangan-jangan aku telah memasukkan jamur mabuk ke dalam ramuannya??
"Apa?" Tanyaku heran.
Ia hanya diam sambil duduk dan kembali memakan sarapannya. Ia menoleh sekelabat sambil berkata cepat. "Tak ku ulangi sampai tiga kali, tapi.."
"Terimakasih."
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
Ray
Oh...So Sweet😘❤️❤️
2024-10-18
0
may
Aw, manis sekali🤭
2024-01-17
0
elsa
setidaknya Raka tuuh sebenarnya hatinya lembut bangettt, gengsinya ajaa setinggi langitt
2023-12-24
0