Dengan was-was aku menyembunyikan kain tersebut di bawah tempat tidur. Aku tak ingin benda itu terlihat oleh siapapun, termasuk Raka dan Bu Sari.
Kalau kain ini benar adanya, berarti keberadaan hantu itu nyata. Dan bisa jadi semua perkataan Kun itu juga benar. Tapi pertanyaannya, siapa yang akan mati terlebih dahulu di antara kami bertiga, dan siapa yang tak memiliki jasad, lalu siapa yang mati di bantai???
Jangan-jangan, yang akan mati di bantai adalah aku, karena aku ketahuan berasal dari masa depan, atau bahkan karena aku telah membocorkan aib sang ratu???
Tidak tidak tidak!! Itu tidak akan mungkin terjadi!! Tidak sama sekali. Tak akan ada yang mati. Bisa saja Kun Kun itu cuma sok tahu dan menakutiku.
"Kenapa kau rusuh begitu?"
Aku yang sedang duduk berjongkok menghadap kasur langsung berteriak dan berbalik ketika melihat Raka yang entah kapan telah berada di belakangku. Dengan reflek aku memukulinya, dan tanpa sengaja malah mengenai.....
"Arrgh!!" Ia mengerang kesakitan, sambil menutupi benda pusakanya. Bahkan ia sampai bersujud, saking sakitnya.
Aku menatap panik ke arahnya, namun tak berani untuk mendekatinya. "Sa.. salah sendiri kenapa mengageti ku begitu!!" Bentakku, sedikit ketus namun sebenarnya aku merasa bersalah dan khawatir.
Ia yang sedang bersujud pun mengangkat kepalanya ke arahku, sedikit meringis. "Kau mau membunuhku, hah?!" Bentaknya sambil terus menggeram dengan tubuh yang bergetar.
"Pu.. pukulan macam itu tak akan membunuh siapa-siapa!!"
"Lihat-lihat dulu di mana tempat kau memukul!! Ini adalah nyawa bagi pria!!" Bentaknya dengan wajah yang memerah.
"Maafkan aku!!" Akhirnya aku mengalah dan berteriak penuh penyesalan.
Aku langsung berlari melangkahi tubuh Raka, keluar dari dalam rumah tanpa berniat untuk berlama-lama berada di dekatnya. Bisa-bisa perasaan bersalahku akan bertambah besar jika aku melakukan hal demikian.
Ketika aku melompat keluar, aku berpapasan dengan Bu Sari yang baru saja datang dari luar sambil membawa seikat sayuran di tangannya.
Ia menatapku dengan heran. "Ayu? Mau kemana?" Ia bertanya.
"Menyirami tanaman!!" Sahutku cepat.
Sembari menyirami tumbuhan yang ku tanam, aku mendengar suara gaduh Raka yang agaknya masih merasa kesal padaku, dan aku juga mendengar suara Bu Sari yang mengkhawatirkan keadaan anaknya yang masih bersujud di situ.
Selepas aku menyelesaikan tugasku, Raka keluar rumah sambil menampar tumbuhan mawar yang baru saja ku lepaskan dedaunan keringnya.
"Hei!! Jangan lakukan itu!!" Bentakku kesal, namun ia nampak tak perduli.
"Itu balasan perbuatan mu tadi! Tak bertanggungjawab!!" Keluhnya, membuatku menahan geli.
"Mawar ini tak bersalah, kalau kau tak senang. Pukuli aku saja! Bukankah yang memukuli mu itu aku!" Balasku, membuatnya menatap sengit ke arahku.
"Kau kira aku tak bisa memukul perempuan, makanya kau bilang begitu? Bagian mana yang ingin ku pukuli, katakan padaku!!" Gerutunya, membuatku menatap sinis sambil menyipitkan mataku.
"Kau tidak waras! Pergi lah cari kesibukan lain! Kenapa kau malah memantauku di sini?!" Keluhku sambil mengusirnya. Namun ia enggan berlalu, malah masih saja memukuli tumbuhan mawar milikku.
"Raka!! Kenapa kau lakukan itu lagi!!" Kali ini aku membentak padanya.
"Karena sepertinya kau begitu menyayangi mawar ini!! Aku akan menyakiti apa pun yang kau sukai!"
Perkataannya membuatku menatap lirih. Sebegitu benci kah dia padaku?? Karena ia tak ingin menyakitiku langsung, makanya ia memilih untuk menyakiti apa yang ku sukai.
Aku tak mau terlihat kalah dan lemah darinya. "Kalau kakiku sudah sembuh, aku akan pergi dengan membawa mawar ini!!" Perkataanku membuat Raka terkesiap. "Aku tak akan membiarkan kau menyakiti apapun yang ku miliki!" Tambahku, namun tiba-tiba saja Raka lantas menarik batang mawar ini, membuat akarnya tercabut dari dalam tanah.
Aku terbelalak menatapnya, kenapa dia tega sekali??
"Kau!!" Geramku sambil berdiri berhadapan dengannya.
"Kalau begitu pergi lah sekarang!!" Ujarnya, sambil menyodorkan mawar itu padaku. Aku menatap geram, sambil menampik tangannya, membuat tanaman mawar tersebut jatuh di atas tanah.
Mendengar perkataan Raka, Bu Sari dengan sigap segera keluar dan berusaha melerai kami berdua. "Raka, jangan lakukan itu pada Ayu! Kamu tidak kasihan padanya? Dia tak punya keluarga di sini selain kita. Jadi bersikap baiklah padanya!" Bu Sari mencoba menasehatinya sambil menahan lenganku agar tak pergi dari rumahnya.
"Keluarga selain kita? Bahkan dia bukan lah siapa-siapa, apalagi keluarga! Dia cuma orang asing yang datang dan mengganggu ketenangan keluarga kita!" Aku langsung terkesiap kaget mendengar perkataan Raka.
Demi apapun, orang ini berbicara tanpa memikirkan perasaan orang yang sedang ia ajak bicara. Ia mengatakan apa yang ingin ia katakan, dan terus terang saja itu terdengar jahat.
Padahal perbuatan yang ia lakukan hanya sepele, kenapa juga aku harus marah. Dan kenapa juga karena emosi, aku malah berkata yang tidak-tidak begitu juga dengan dirinya.
Hatiku terasa pedih, ada rasa sesak yang hinggap di dadaku, membuat wajahku memerah dan mataku berkaca-kaca.
Aku langsung berlalu dari hadapannya, sambil membiarkan bunga mawar yang di beri Raka tergeletak begitu saja di atas tanah tanpa sempat ku tanam kembali.
Raka dan Bu Sari melihat kepergianku, dan agaknya Bu Sari berusaha menyuruh Raka mengejar dan menahanku. Namun aku tahu itu tak akan terjadi, Raka bukanlah seseorang yang perduli pada orang lain. Dan ia tak akan menyusulku, bahkan dia akan lebih suka kalau aku benar-benar pergi.
*Bu Sari POV
Aku melihat kepergian Ayu. Meski telah mendesak dan meminta agar Raka menyusul, tapi anakku yang satu ini benar-benar tak perduli.
Aku khawatir, takut terjadi sesuatu pada Ayu, dan bagaimana kalau ia benar-benar pergi? Aku terlanjur menyukai anak baik itu.
"Sudah lah Bu! Biarkan dia pergi!" Balas Raka angkuh.
Aku menatap dalam kearahnya. "Kenapa kamu bersikap begitu pada Ayu? Apa dia pernah menyakitimu?!" Tanyaku, benar-benar tak mengerti. Anakku hanya diam dan membisu, sebelum menjawab.
"Aku hanya mencabut mawar yang ia tanam. Harusnya ia tak perlu semarah itu kan?!" Ia membela diri.
"Jika kau di lukai oleh seorang wanita, tak sepantasnya kamu melakukan hal buruk para wanita lain. Sebagaimana kebencian mu terhadap Anna. Jika yang melukaimu Anna, maka jangan memperlakukan seluruh wanita seperti Anna!!" Ujarku lirih, membuat Raka menundukkan kepalanya.
"Ku rasa ibu keliru." Tuturnya. "Aku begitu padanya bukan karena Anna. Tapi karena ada alasan lain yang melatarbelakanginya." Lanjutnya.
Di tengah ketegangan kami, Seseorang tiba-tiba saja datang dan menghampiri kami. "Apa aku mengganggu?" Ia bertanya, membuatku dan Raka terkesiap dan seketika bungkam.
Aku memperhatikan seseorang yang datang ini. Seragamnya.. kalau tak salah, ini adalah seragam.. "Ah.. ketua prajurit?!" Gumamku heran. "Apa yang membawamu datang ke sini?" Aku bertanya, dan ia langsung mengeluarkan sebuah gulungan dan memberikannya pada Raka.
"Ini, ada undangan dari jenderal Ardiansyah." Tukasnya, membuat Raka segera mengambil gulungan tersebut dan membacanya.
Ia sedikit terkejut, hingga membuat kedua alisnya berkerut sambil menatap ketua prajurit tersebut.
"Undangan ke camp prajurit??" Gumam anakku.
.........
Siang harinya, aku dan Raka pergi ke camp prajurit resmi untuk menghadiri undangan dari jenderal Ardiansyah. Aku sengaja menemani Raka, karena anak ini sedang begitu kesal dan keluar rumah dalam keadaan marah. Aku tak mau dia lepas kendali dan membuat perkara dengan jenderal. Terlebih aku tak tahu apa maksud dari di undangnya Raka ke tempat ini.
Kami memasuki camp prajurit setelah melalui pengawalan di jalur perbatasan. Kami melalui beberapa dinding penahan yang menutupi bagian dalam camp, kami pun sampai ke halaman dalamnya. Di mana terdapat banyak posko-posko yang merupakan tempat penginapan para prajurit.
Kami di arahkan oleh pengawal perbatasan ke sebuah posko yang berbeda dari yang lain. Meski ada beberapa perbaikan yang di lakukan, tapi posko yang satu ini bisa di katakan mirip dengan sebuah rumah pondok.
Kami di persilakan masuk, dan ternyata Raka langsung di sambut oleh seorang lelaki bertubuh gagah, kekar, berwajah garang, dan dia memang mirip dengan gambaran jenderal-jenderal kuat yang beredar di masyarakat.
Ya, dia terkenal meski kami tak pernah melihatnya. Dan baru kali ini aku melihat sosoknya secara langsung.
Ia duduk di dekat meja bundar yang besar, dimana di atasnya ada sebuah peta besar yang merupakan gambaran dari denah kerajaan Raja Anggara.
"Jadi kau yang bernama Raka?" Tanyanya dengan suara yang begitu bijaksana.
"Ya, jenderal." Raka membungkukkan tubuhnya memberi hormat, begitu juga dengan diriku.
"Kau mengajak ibumu?" Ucapnya sambil menatapku.
"Aku yang memaksa ingin ikut. Aku benar-benar ingin melihat kegagahan jenderal Ardiansyah secara langsung." Jelasku beralasan, hingga membuatnya tersenyum penuh kebanggaan.
"Baiklah. Kalau begitu, apa kau tau untuk apa aku memanggilmu kesini?" Tanyanya lagi, dan Raka hanya terdiam sesaat lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku tak tahu apa yang telah membuat anda memanggilku kemari." Sahut anakku. Ia memang terlihat kebingungan dan tak mengerti.
"Itu karena... Aku akan memberimu kesempatan menjadi seorang prajurit dan mengikuti pelatihan resmi yang akan ku lakukan bersama calon prajurit yang lain." Perkataannya lantas membuatku terbelalak tak percaya, apalagi Raka. Dan sebenarnya, apa yang telah membuat Raka mendadak di terima jadi prajurit??
"Aku sangat tersanjung atas hal ini, tapi aku masih penasaran.. apa yang membuatku tiba-tiba saja di loloskan begitu? Bukankah aku yang pertama kali gugur dalam pemilihan calon prajurit baru tahun ini?" Tanya Raka.
Jenderal Ardiansyah langsung menghela napas panjang. "Kau belum ku loloskan. Kau harus melawanku terlebih dahulu agar aku bisa melihat sejauh mana kemampuan mu. Kalau kau tak begitu kuat untuk melawanku, maka aku bisa saja mengurungkan niatku itu."
"Ini bukan perihal janji, tapi nyawa. Karena jika sudah menjadi prajurit, maka kau akan mempertaruhkan banyak hal, termasuk nyawamu, rekanmu dan juga keluarga mu." Lanjutnya, membuat Raka mengernyitkan dahi.
"Janji?? Janji apa yang jenderal maksud?" Tanya anakku.
"Lihat ini." Sang jenderal mengulurkan kakinya yang sempat tersembunyi di balik meja, lalu mengangkat celana yang menutupi bagian betisnya.
Yang ku lihat adalah ikatan kain kuat yang rapi, dan sedikit bercak darah yang membasahi kain tersebut.
"Aku di sembuhkan oleh seorang gadis yang membantu pengantar makanan di camp ini. Dia mengobatiku tanpa pamrih, dan menolak untuk mendapatkan bayaran keping emas."
"Dia malah memohon dan memintaku untuk memasukkan seorang pria bernama Raka, tanpa memikirkan keinginannya sendiri." Terang jenderal Ardiansyah, hingga membuat Raka terbelalak.
Tubuhnya langsung kaku dan gemetar, seketika itu juga aku melihatnya mengepalkan tangan dengan begitu erat. Wajah datarnya mulai berekspresi, dan aku bisa melihat raut bersalah dari wajah anakku ketika menyadari hal ini.
*Bu Sari POV End
.......
.......
.......
.......
"Benarkah aku boleh tinggal di sini? Apa kau tak merasa terganggu?! Aku bertanya penuh semangat pada Nur. Aku sudah tak tahu lagi ingin lari kemana, tapi.. aku benar-benar tak mau lagi tinggal bersama Raka meski aku begitu menyukai Bu Sari yang baik hati.
"Ya, tentu saja, Yu. Lagi pula, kami menjadi kesepian semenjak Arjuna mulai melatih prajurit baru." Terang ibu Dedeh sambil menyodorkan makanan untukku.
"Apa Raka bersikap buruk padamu, makanya kau pergi dari sana?" Tanya Nur, dan dia memang benar.
"Kau sudah tahu kan bagaimana sikapnya? Dia benar-benar memuakkan!! Baru kali ini aku bertemu dengan lelaki kasar sepertinya!" Keluhku, dan Nur hanya menatap lirih ke arahku.
"Aku memahami perasaanmu. Bahkan aku sudah lebih dulu mendapatkan perlakuan begitu."
"Makanya kau membiarkan dia dekat dengan wanita lain meskipun kau menyukainya? Karena kau tahu, tak akan ada wanita yang tahan dengan sikapnya, atau bahkan.. manusia dan sejenis alien pun tak akan mau hidup bersamanya!" Cercahku pada Raka.
"Apa itu alien?"
"Oh! Itu adalah makhluk hijau, anggap saja rumput."
Nur hanya mengernyit, seolah masih penasaran dengan makhluk yang ku maksud. "Apa itu hantu?"
Aku lantas terbahak mendengarnya, aku berkelakar dan bercanda cukup lama dengan Nur dan ibunya. Mereka begitu baik. Hari ini aku benar-benar tak pulang ke rumah Raka. Dan sepertinya aku memang tak akan pulang lagi kesana. Bukankah dia membenciku? Ku rasa ia senang kalau aku tak kembali lagi ke situ.
Beberapa hari aku berada di rumah Nur, aku tidur di tempat tidur milik Arjuna. Setiap kali Bu Sari datang dan memintaku untuk pulang, aku menolaknya dengan halus. Aku takut kalau Raka akan bersikap kasar dan kembali mengusirku.
Di hari ke empat di rumah Nur, kakiku sudah mulai sembuh. Dan aku tak menyangka Bu Sari masih saja mendatangiku hanya untuk melihat keadaanku.
"Silakan minum." Ucap Nur, sambil meletakkan cangkir minuman di hadapan Bu Sari.
"Terimakasih, Nur." Singkatnya sambil tersenyum.
"Maaf, Bu.. seperti kemarin.. aku tak bisa pulang bersama ibu." Ucapku, bahkan ketika Bu Sari belum sempat mengatakan apapun.
Ia hanya tersenyum getir. "Ibu menghargai keputusan mu itu. Tapi bukan itu alasan ibu datang ke sini." Ucapnya, membuatku mengerjapkan mata beberapa kali.
"Lalu.. apa?" Tanyaku, bingung.
"Beberapa hari lagi adalah pelantikan prajurit resmi di balai kota. Ibu ingin mengajakmu pergi ke sana." Terangnya hingga membuatku mengernyit. "Terimakasih, berkat kamu.. Raka bisa di terima menjadi anggota prajurit resmi kerajaan." Aku langsung terbelalak mendengarnya. Ku kerjapkan mataku dengan sangat.
"Be.. benarkah??"
"Ya.. jadi, Raka sudah dua hari di latih oleh jenderal. Ia berhasil membuat jenderal kewalahan meski tak memenangkan pertandingan. Jadi dia secara resmi telah menjadi anggota prajurit yang baru, dan-"
Perkataan Bu Sari lantas terhenti ketika aku memeluknya dengan erat. Aku begitu terharu, benarkah Raka lolos menjadi prajurit? Kenapa aku malah sesenang ini?? Bukankah dia begitu menyebalkan dan bersikap kasar padaku?
Tapi.. aku benar-benar senang mendengar hal ini. "Syukurlah.. syukurlah kalau dia lolos.."
Pada akhirnya, aku kembali pulang ke rumah Bu Sari, karena tahu ia tinggal sendiri semenjak Raka meninggalkan rumah dan menjadi salah seorang prajurit.
Sampai di rumah, aku melihat semua tanamanku terawat dengan baik. Tapi aku tak melihat mawarku di sana. Apakah sudah mati dan di buang?? Waktu aku meninggalkan rumah, Raka mencabutnya dari dalam tanah dan membuangnya begitu saja kan??
"Ayu? Ada apa? Kenapa menunggu di luar?" Tanya Bu Sari, membuatku segera masuk sebelum dia menunggu.
Ketika aku masuk ke dalam rumah, aku lantas terkesiap kaget ketika melihat sesosok makhluk yang pernah ku temui sebelumnya, dan lagi.. dia membawa seorang lelaki tampan di sampingnya.
"Hai!! Ayu kambing, kita bertemu lagi!!" Ia memekik riang, membuatku ternganga tak percaya.
"Elu!! Kun kan?!"
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 198 Episodes
Comments
Ray
Penasaran KUN itu siapa dan apa hubungannya dengan Raka? Dan misi apa yg harus Ayu lakukan agar bisa kembali ke dunianya lagi?🤔
2024-10-19
0
may
Alien= rumput 👽
2024-01-17
0
elsa
lebih ke iseng siihh itu si Raka, bukan krna tega yu
2023-12-24
0