Hana berjalan keluar restoran bersama teman-temannya. Semenjak restoran ini mulai diminati, Zyan menambah beberapa pegawai. Sehingga sistem kerja dibagi menjadi dua, siang dan malam. Hanya Hana yang mendapat pengecualian, karena lokasi rumahnya yang sangat jauh. Teman-teman Hana tidak ada yang merasa keberatan. Bagi mereka Hana rekan kerja yang sangat baik.
Sore ini hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras. Kebetulan hari ini Hana tidak membawa sepeda motornya, Rafa memaksa mengantar Hana. Jika Hana tidak bersedia, Rafa tidak mengizinkan Hana untuk bekerja. Hana menyetujui permintaan Rafa, tapi dengan syarat dia turun jauh dari restoran. Hana tidak ingin teman-temannya melihatnya turun dari mobil mewah.
Selama di dalam mobil, Rafa terus menggenggam tangan Hana. Sikap Rafa sangat aneh, seakan dia tidak ingin melepas tangan Hana. Sebaliknya Hana biasa saja dengan sikap Rafa. Baginya setiap sentuhan Rafa sudah halal untuknya. Jadi tidak ada alasan Hana untuk menolak. Namun untuk hadirnya sebuah cinta, Hana masih tidak bisa memastikannya.
Sore ini dengan membawa payung, Hana bingung akan pulang menggunakan apa? Jika taxi online, tentu saja akan sangat mahal. Bila menumpang temannya, dia tidak enak. Sebab sebagian besar mereka tinggal dekat dengan restoran. Rafa tidak berjanji menjemputnya. Jadi secara tidak langsung, Hana harus pulang sendiri.
Hana berjalan perlahan menembus derasnya hujan. Hana putuskan menunggu angkutan kota yang lewat. Jauh lebih murah bila menggunakan angkutan kota. Hana bisa sedikit berhemat untuk keperluan yang lain. Lama Hana menunggu, tidak ada tanda-tanda angkutan kota yang lewat. Terlihat sebuah mobil sport berhenti tepat di depan Hana.
TIN TIN TIN
Suara klakson mobil terdengar sangat nyaring. Hana diam tak bergeming, dia merasa tidak mengenal mobil itu. Hana membuang pandanganya ke arah yang lain. Namun mobil itu tidak juga pergi.
TIN TIN TIN
Suara klakson mobil memecah suara derasnya air hujan. Hana tetap tenang, dia tidak ingin menghampiri mobil tersebut. Lama-kelamaan Hana merasa risih. Dia putuskan pergi menjauh, Hana terpaksa menggunakan jasa ojek online. Mungkin lebih cepat sampai rumah dan lebih aman.
"Hana!" sapa seseorang sembari menarik tangannya. Hana terkejut, dia menepis tangan itu dan seketika berteriak. Sebegitu takutnya Hana, dia menutup mata sembari berteriak. Dia terlalu takut untuk melihat siapa yang sedang memegang tangannya.
"Aaaaaa!" teriak Hana, sontak saja Rafa cemas bila orang lain mengira dia berbuat yang tidak-tidak. Rafa menarik Hana sekuat tenaga, Rafa memeluk Hana menenggelamkannya di dalam dada bidangnya. Hana mulai tenang, dia merasa mengenali harum parfum yang tercium oleh hidungnya.
"Hana, aku Rafa!" bisik Rafa tepat di samping telingan Hana. Rafa merasakan Hana mulai tenang, sebaliknya Hana mengerjapkan mata. Memberanikan diri, melihat siapa yang sedang memeluknya?
"Kak Rafa, kenapa tiba-tiba sudah ada di sini?" ujar Hana kesal, Rafa terkekeh melihat gadis berhijabnya kesal. Rafa sudah menunggu Hana sejak satu jam yang lalu. Namun dia tidak langsung menghampiri Hana. Rafa berharap Hana menghubunginya, memintanya untuk menjemput Hana. Sepertinya khayalan Rafa terlalu tinggi. Bahkan di saat hujan sederas ini. Hana tetap diam tak bergeming. Dia tidak berpikir untuk meminta bantuan Rafa.
"Hana, kenapa kamu mengacuhkanku? Sudah sejak tadi aku membunyikan klakson. Bukannya menghampiriku, kamu malah pergi!" ujar Rafa kesal, Hana bingung mendengar perkataan Rafa. Hana tidak melihat mobil Rafa, bagaimana dia berpikir akan menghampiri Rafa?
"Kak Rafa aneh, kapan kak Rafa menyapaku? Aku tidak melihat mobilmu. Malah yang aku lihat, mobil aneh itu yang terus membunyikan klakson. Aku pergi karena takut!" ujar Hana lirih, Rafa terkekeh mendengar perkataan Hana. Rafa lupa jika dia menggunakan mobil yang baru di belinya kemarin. Jelas saja Hana tidak mengenali mobilnya. Bahkan Rafa tidak membuka pintu kaca mobilnya. Sampai kapanpun Hana tidak akan mengenali mobil Rafa?
"Maaf aku lupa, mobil yang aku gunakan bukan yang tadi pagi!" ujar Rafa seraya tersenyum, Hana kesal melihat sikap Rafa yang seolah tidak terjadi masalah. "Bagaimana aku bisa mengenali mobilnya? Jika dia mengganti mobilnya. Maklum saja Rafa suamiku, mampu membeli mobil setiap hari. Sungguh miris hidupku, harus berhubungan dengan pewaris keluarga Prawira" batin Hana kesal.
"Hmmmm, percaya aku. Kak Rafa, bukan hanya bisa mengganti wanita setiap saat. Mobilpun dia mampu membelinya setiap hari!" ujar Hana, seketika raut wajah Rafa berubah kesal. Sindiran Hana seakan menancap tepat ke lubuk hati terdalam Rafa. Hana tertunduk lesu, dia diam membisu. Hana merasa perkataannya sudah keterlaluan. Rafa berjalan menuju mobilnya, dia tidak peduli dengan Hana.
"Kak Rafa, Hana minta maaf!" teriak Hana sekeras mungkin agar bisa didengar Rafa. Namun Rafa tetap berjalan menuju mobilnya. Jangankan menyahuti permintaan maaf Hana, menoleh pada Hana Rafa tidak. Malah terlihat Rafa membuka pintu mobilnya kasar.
Braaaakkk
Suara pintu mobil Rafa mengejutkan Hana. Kerasnya bantingan pintu, menunjukkan betapa kesalnya Rafa. Hana menunduk takut melihat Rafa yang marah. Hana memang salah, tapi dia sudah berusaha minta maaf. Kedua mata Hana mulai terasa panas. Sejak kecil Hana paling takut melihat orang marah, apalagi padanya.
Hana mencoba setegar mungkin. Dia menahan air matanya agar tidak jatuh. Rafa diam mematung di dalam mobil. Mungkin Rafa kesal pada gurauan Hana. Namun sangat tidak mungkin Rafa membiarkan Hana pulang sendiri. Keduanya saling mematung di tempat masing-masing. Lama Rafa menunggu Hana, tapi tidak ada tanda-tanda dia masuk ke dalam mobil.
"Hana, cepat masuk!" ujar Rafa kesal, Hana menggeleng. Dia meremas tongkat payungnya erat. Hana takut melihat amarah Rafa. Sebaliknya Rafa heran melihat tubuh Hana bergetar hebat, seolah takut melihat Rafa.
"Hana, cepat masuk atau aku seret kamu. Aku masih banyak pekerjaan. Jangan karena dirimu aku terlambat!" ujar Rafa semakin kesal, Hana menggeleng lemah. Hana mundur beberapa langkah menjauh. Hana benar-benar takut melihat Rafa. Hana selalu tegar, tapi akan sangat takut bila melihat orang memarahinya.
"Kak Rafa bisa meninggalkanku sendiri. Anggap saja aku tidak ada. Kak Rafa tidak perlu mencemaskan wanita pelayan sepertiku. Urusanmu jauh lebih penting. Maaf jika aku telah melukaimu!" ujar Hana lirih, dia merasa sangat bersalah pada Rafa. Dia tidak pernah menyangka gurauannya menjadi bumerang untuknya.
"Terserah!" ujar Rafa kasar, dia melajukan mobilnya tanpa peduli pada Hana. Rafa sangat kesal melihat sikap Hana yang menyebalkan.
"Aku bukan wanita yang pantas kamu cintai. Masih banyak wanita lain, yang jauh lebih baik dariku. Jangan buat dirimu rugi dengan tetap bersama wanita sepertiku. Kak Rafa maafkan aku, tanpa sengaja aku telah melukaimu!" batin Hana sesal.
Sepeninggal Rafa, Hana menghentikan angkutan kota menuju tempat tinggalnya. Hana melupakan semua kejadian tadi. Hampir jam 19.30 wib, Hana baru sampai di rumahnya. Hana harus berjalan sekitar lima belas menit menuju rumahnya. Sebab itu Hana tiba di rumah sangat malam.
Hana tidak pernah merasa lelah atau mengeluh melakukan semua rutinitasnya. Hana sudah sangat terbiasa melakukan semuanya. Hidup sendiri sudah terlalu biasa bagi Hana. Jalan hidup yang dilaluinya sudah sangat sulit. Tidak akan ada yang membuatnya jatuh lagi.
"Hana, bisa kita bicara!" seketika Hana menoleh.
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Dwi setya Iriana
siapa yg negur hanna
2021-04-11
1
Audrey_16
like 💜
2021-03-25
0
Anita Jenius
Hadir kak..
5 like buatmu.
Mari kita saling dukung.
Semangat up terus ya..
2021-03-16
0