"Diana, ketuk dengan keras. Jangan lembek seperti itu. Kamu seperti orang belum makan saja!" ujar Adrian kesal, Diana cemberut mendengar ocehan Adrian. Rafa diam membisu, perdebatan Ardian dan Diana tidak mampu merebut kegelisahannya.
Rafa takut jika Hana memintanya pergi setelah kejadian tadi siang. Rafa benar-benar kalut, dia tidak bisa lagi memikirkan hal lain selain Hana. Lama Diana mengetuk pintu, tak ada tanda-tanda pintu akan terbuka.
"Diana, ketuk lagi jangan malas. Hana pasti ada di dapur. Jadi dia tidak bisa mendengar ketukanmu yang sangat pelan!"
"Cerewet, kenapa bukan pak Ardian saja yang mengetuk. Tenaga laki-laki lebih kuat!" sahut Diana kesal, Adrian mendorong tubuh Diana bergeser sedikit. Diana terhunyung hampir saja terjatuh. Rafa memilih menepi, dia menyendiri di samping rumah Hana. Kebetulan ada telpon masuk.
"Hana…oh…Hana!" teriak Adrian lantang, Diana terkekeh melihat tingkah kocak Adrian. Pertama kalinya dia melihat Adrian yang selalu serius. Kini berubah sangat lucu dan menggemaskan. Lama Adrian berteriak, tapi tetap sama tak ada tanda pintu akan dibuka. Tenggorokan Adrian mulai terasa kering, dia memutuskan berhenti berteriak.
"Diana, kemana sahabatmu pergi? Sudah lama kita menunggu dia tidak datang juga! Apa dia tidak tahu? Pangeran kodok menantinya!" ujar Adrian kesal, Diana membalas dengan gelengan kepala. Dia tidak pernah tahu, kemana Hana pergi? Hampir seminggu ini, dia tidak bisa menghubungi Hana. Kesibukan di kantor yang membuat Diana tidak bisa mengunjungi Hana.
"Pak Adrian memang cocok menjadi pangeran kodok! Suka melompat dari satu wanita ke wanita yang lain!" sahut Diana sinis, Adrian melotot ke arah Diana. Sebaliknya Diana merasa menang bisa menyindir Adrian. Baik Rafa dan Adrian sebelas dua belas soal wanita. Mungkin karena wajah dan harta yang mereka miliki.
Terdengar suara sepeda motor berhenti. Diana melihat Hana datang dengan membawa banyak barang belanjaan. "Pantas saja diketuk tidak menyahut. Hana saja baru pulang!" gerutu Diana. Hana terkejut melihat Diana dan Adrian. Sebenarnya dia sudah melihat mobil Rafa di depan. Namun ada rasa tidak percaya, Rafa datang menemuinya. Apalagi setelah kejadian tadi siang.
"Diana, sejak kapan kamu datang? Ada urusan apa? Kenapa hanya berdua?" ujar Hana cemas takut terjadi sesuatu pada Rafa. Sebab saat dia datang, hanya terlihat Diana dan Adrian.
"Memangnya kamu berharap siapa lagi yang datang? Rafa!" goda Adrian, Hana mengangguk pelan. Dia bukan mengharap kedatangan Rafa, tapi lebih karena cemas tidak melihat Rafa datang bersama mereka berdua.
"Hana, sini aku bantu! Kamu belanja banyak sekali, apa suamimu akan datang? Aku jadi penasaran, seperti apa wajah suamimu?" cerocos Diana sembari mengangkat barang belanjaan Hana. Adrian mendekat pada Hana, "Aku datang bersama suamimu. Dia sedang emosi, takutnya kamu bisa dilahapnya. Itu lihat dia sedang sibuk dengan kekasihnya!" bisik Adrian. Hana tersenyum mendengar perkataan Adrian. Entah kenapa sedikitpun Hana tidak terganggu dengan perkataan Adrian?
Hana berjalan perlahan mendekat pada Rafa yang berdiri membelakanginya. Terlihat Rafa sedang mendapat telpon. Sepertinya terjadi sesuatu dengan pekerjaannya.
"Kak Rafa!" sapa Hana lirih, dia takut Rafa kaget mendengar suaranya. Seketika Rafa membalikkan badannya, dia menoleh pada Hana. Sontak saja Rafa mematikan ponselnya. Rafa terlihat kikuk melihat Hana sudah berada di belakangnya. Rafa mematung menatap Hana.
"Kak Rafa!" sapa Hana lagi saat melihat Rafa hanya diam saja.
"Hmmmm!" sahut Rafa dingin, Hana menarik tangan kanan Rafa. Dia mencium lembut punggung tangan Rafa. Diana melihat sikap Hana pada Rafa terkejut bukan main. Dia tidak pernah melihat Hana menyentuh tangan laki-laki. Rafa orang pertama yang dipegang bahkan dicium. Layaknya seorang istri pada suaminya.
"Hana dan pak Rafa!" ujar Diana lirih, Adrian mengangguk lemah sembari tersenyum. Diana benar-benar tidak percaya. Jika Rafa tak lain suami Hana.
Hana membuka pintu, Diana mengekor di belakang Hana. Diana benar-benar penasaran, dia ingin mengetahui jalan cerita yang sebenarnya.
"Silahkan masuk, maaf rumah Hana kecil. Sebentar aku buatkan minuman!"
"Diana, kamu menginap di sini atau pulang!" tanya Hana, Diana mengangguk pelan. Rafa melotot ke arah Diana, seakan meminta dia untuk tidak menginap.
"Hana, sepertinya aku pulang saja. Besok pagi aku ingin bangun siang!" ujar Diana, Hana tersenyum. Hana berjalan menuju dapur. Dia membuatkan minuman untuk Adrian dan Rafa.
"Hana, kamu istrinya pak Rafa!" ujar Diana menyelidiki, Hana diam hanya seutas senyum yang dia berikan pada Diana. Hana tidak mungkin mengaku, meski kepada sahabatnya. Semua tergantung Rafa, kapan dia akan mengatakan pada dunia? Jika Hana itu istrinya.
"Diana, mandilah dulu! Kamu pakai bajuku saja. Bukankah ukuran kita sama! Tidak perlu sungkan" ujar Hana sesantai mungkin.
Rafa melihat Hana tanpa berkedip, dia melihat sikap Hana sangat biasa seolah tidak pernah ada masalah diantara mereka! Rafa bingung ingin memulai dari mana. Hana datang membawa secangkir kopi untuk Rafa dan Adrian.
"Silahkan, sebentar lagi aku siapkan makan malam!" ujar Hana, Rafa menggeleng.
"Kita makan di luar saja!" ujar Rafa dingin. Adrian terkekeh melihat Rafa yang terus mempertahankan harga dirinya. Rafa seolah tidak pernah butuh Hana.
"Kak Rafa, pakaian kakak sudah aku siapkan di kamar. Kakak bisa membersihkan diri! Aku sholat dulu!" ujar Hana, Rafa mengangguk dia berjalan menuju kamar Hana.
"Semangat kawan, jangan jual mahal!" goda Adrian, Rafa melempar bantal sofa tepat dimuka Adrian.
Bugh
"Diam, jangan banyak bicara!"
Rafa memasuki kamar Hana, dia melihat Hana sedang sholat. Rafa tertegun, melihat betapa berbedanya dia dengan Hana. Keimanan Hana yang membuatnya dia tetap menghormati Rafa dan dengan sepenuh hati menganggap Rafa sebagai suaminya. Rafa melihat Hana khusyuk menyerahkam semua hidupnya di atas jalan takdir.
"Hana, maafkan aku. Mungkin aku tidak pantas menjadi suamimu. Namun jangan pernah berpikir meninggalkanku. Tunggu aku pantas untukmu. Selalu ingatkan aku akan dirimu, istri berhijabku!" ujar Rafa tiba-tiba, dia memeluk erat tubuh Hana. Menyadarkan kepalanya pada punggung Hana yang tertutup mukena. Hana merasakan kehangatan pelukan Rafa. Sebuah pelukan yang tidak pernah dia rasakan dari laki-laki lain.
"Kak, aku tidak pernah berpikir menjauh atau menyesal menikah denganmu. Pernikahan kita mungkin terpaksa, tapi pertemuan kita itu suatu keharusan. Tidak ada kata menyesal dalam pikirku menikah denganmu, karena bukan aku yang memilihmu. Tapi ALLAH SWT yang memilihkanmu untukku. Tidak ada kebanggaan aku menikah denganmu, karena sampai saat ini aku belum mampu menjadi istri yang sempurna!"
"Maksudmu apa?" ujar Rafa, dia membalik tubuh Hana 180° menghadapnya. Tatapan Rafa mengunci wajah Hana. Dia melihat setiap inci wajah Hana. Wanita yang manis penuh dengan keimanan.
"Kak Rafa, aku mungkin akan mengabdi padamu. Namun maafkan aku, seandainya aku tidak bisa melakukan kewajibanku sebagai seorang istri. Bukan aku jijik atau marah padamu. Namun hatimu masih memilihnya. Aku tidak ingin menjadi alasan hancurnya sebuah hati!" Rafa tertunduk malu, dia mengingat setiap perilakunya dengan Sesil.
"Kak Rafa, tangan ini masih milik orang lain. Jadi tidak akan pernah menjadi milikku. Aku istrimu, tapi untuk menjadi milikmu sepenuhnya mungkin butuh waktu. Izinkan aku memantapkan Hati, bahwa hati ini milikku!" ujar Hana sembari menempelkan wajahnya di dada bidang Rafa. Desiran hangat mengusai Rafa, gugup dan gelisah memenuhi pikiran Rafa. Hana melepaskan pelukan Rafa. Dia membuka mukena di depan Rafa. Rambut panjang hitam Hana terurai, satu lagi yang membuat Rafa mampu kehilangan akal!
"Kak Rafa, sebaiknya mandi secepatnya! Aku tidak ingin pak Adrian dan Diana menunggu terlalu lama!"
"Hana!"
"Hmmmmm!"
"Seandainya hatiku telah memilihmu. Bersediakah kamu menjadi milikku seutuhnya!"
"Meski hatimu tidak memilihku, selamanya aku milikmu seutuhnya. Dalam setiap langkahku ada ridhomu. Di belakang namaku ada namamu. Dalam hatiku hanya kamu yang tertulis!"
"Itu artinya kamu menyukaimu!" ujar Rafa bangga, Hana menggeleng lemah.
"Cinta itu akan ada di saat hati tidak tersakiti. Aku mengabdi padamu atas nama ikatan suci. Bukan sebuah cinta yang akhirnya menyakiti!" ujar Hana santai, dia keluar dari kamar untuk menemui Adrian dan Diana.
"Hatiku telah memilihmu, bahkan telah hancur oleh dirimu. Aku tidak pantas kamu cintai, tapi aku tidak sanggup bila kamu pergi. Tunggu aku Hana. Percayalah kelak aku akan pantas menerima cinta sucimu!" batin Rafa. Hana pergi menghilang di balik pintu. Meninggalkan Rafa yang tertegun menatap istrinya yang penuh dengan ketegaran.
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Sunoqi
ohhh authorr so sweet sekali dirimu
2021-06-27
0
Rasyha Nailu R
hana puitis bangt kamu sampai menyayat hati
2021-04-24
4
Siti Chotijah
andai aku seperti Hana....bisa berkata puitis bgtu
2021-04-14
3