Rapat antara Rafa dan Rama berlangsung kurang lebih 2 jam. Selama rapat tatapan Rafa mengunci sosok Rama. Dia melihat dengan seksama setiap inci bagian tubuh Rama. Seakan ingin mencari kelemahannya. Namun sebagai seorang laki-laki, Rama sangatlah sempurna. Ketampanan dan wibawanya hampir sama dengan Rafa. Perbedaan diantara mereka hanya iman dan harta.
Rama pribadi yang taat, dia kelak mampu menjadi seorang imam yang baik. Sebaliknya Rafa hidup dalam dunia malam yang penuh dengan maksiat. Alasan sebenarnya Hana memilih Rama, bukan karena hartanya. Tapi lebih kepada iman seoran Rama Tri Wijaya. Hana menerima pinangan Rama, karena Hana membutuhkan imam dunia akhiratnya. Bukan kebahagian dunia yang penuh tipu daya.
Rafa tidak menyangka jika rapat dengan pihak Rama akan selama ini. Dia belum sempat sarapan, sebab dia masih grogi bila bertemu Hana. Oleh karena itu, Rafa memutuskan sarapan setelah rapat. Namun kenyataannya rapat yang berlangsung lama, apalagi rekan bisnisnya tak lain tunangan Hana. Membuat amarah Rafa bergejolak. Dia marah pada Rama tanpa sebab. Ingin rasanya Rafa membatalkan kontrak kerja dengan Ram. Namun sikap profesional menghalanginya.
"Permisi, saya bisa bicara dengan Hana. Dia pelayan di kantin ini!" sapa Rama sopan pada bu Minah. Meski ragu dan takut, bu Minah akhirnya mengangguk. Dia menyuruh Rama duduk, lalu pergi memanggil Hana di dapur.
Tak berapa lama Hana keluar dari dapur. Hana terkejut melihat Rama ada di kantin tempat dia bekerja. Dia tidak menyangka jika Rama akan senekat ini. Hanya demi bertemu dengannya. Beberapa hari ini Hana sengaja menghindar darinya. Hana ingin Rama melupakan cintanya, demi janjinya pada orang tua Rama.
"Kak Rama, sedang apa kamu disini? Bagaimana kak Rama tahu aku bekerja disini?" ujar Hana, Rama menunduk terdiam. Sebenarnya Rama tidak berniat menemui Hana. Namun kegelisahan hati Rama, serta rasa takut kehilangan Hana. Membuat Rama nekat menemui Hana. Dia bertekad akan menyelesaikan masalahnya hari ini juga.
"Maaf, jika aku mengganggumu. Aku tadi bertemu dengan Diana. Maka dari itu, aku tahu jika kamu bekerja disini. Aku sudah tidak tahan, melihatmu terus menghindar dariku. Setidaknya katakan kesalahanku, sehingga kamu menjauh dariku!" ujar Rama, Hana diam seribu bahasa. Dia bingung harus menjelaskannya seperti apa? Tidak mungkin dia mengatakan, semua sikapnya demi janjinya pada orang tua Rama. Tentu semua itu akan memancing amarah Rama pada kedua orang tuanya.
"Maaf kak, bukan maksudku menghindar. Beberapa hari ini kesehatanku kurang baik. Bahkan aku tidak masuk bekerja. Hari ini aku bekerja, karena sudah dua hari aku tidak masuk!" ujar Hana menerangkan, Rama terkejut mendengar penjelasan Hana. Dia tidak mengira jika Hana sedang sakit.
"Kamu sakit apa? Kenapa malah tidak menghubungi kakak? Jika terjadi sesuatu padamu, apa yang harus aku lakukan?" tutur Rama cemas, Hana menggeleng. Rama melihat wajah Hana sedikit pucat, ingin rasanya Rama menggenggam tangan Hana. Namun apa daya Rama? Batasan diantara mereka menghalangi keduanya untuk saling menyentuh.
"Tidak akan ada yang meminta pertanggung jawaban kak Rama. Kita masih belum memiliki hubungan yang serius. Lagipula aku sudah terbiasa hidup sendiri. Jadi aku bisa menjaga diriku sendiri!"
"Maaf jika kak Rama terlalu berharap menjadi bagian terpenting dalam hidupmu. Aku sadar sampai saat ini, kamu belum menyukaiku. Hanya satu harapanku, belajarlah membuka hatimu untukku. Aku akan menunggumu!"
"Kak Rama, sebaiknya pikirkan kembali pertunangan ini. Aku tidak ingin melukai hati orang tuamu. Menikahlah dengan wanita yang sepadan denganmu. Jangan kecewakan kedua orang tuamu. Apalagi sampai saat ini, hatiku belum yakin pada pertunangan ini. Hidup sebatang kara mengajarkan aku arti kehilangan. Kasih sayang orang tuaku, tidak kurasakan sejak aku belia. Jadi jangan sia-siakan kasih sayang kedua orang tua. Jangan menyesal setelah mereka tiada!" tutur Hana, Rama terdiam. Dua hati yang ingin bersatu, tapi terhalang status sosial yang berbeda.
"Apa tidak mungkin kita bersatu? Beri aku kesempatan untuk membuktikan pada orang tuaku. Bahwa kamu wanita yang paling tepat untukku. Tunggu aku sukses, akan kubawa kamu menemui orang tuaku. Selama itu bersabarlah, aku harap kamu tidak mengakhiri hubungan ini!"
"Terserah kak Rama, akan tetap seperti ini. Selamanya aku tidak akan menikah denganmu. Bila kedua orang tuamu, tidak merestui kita!" ujar Hana tegas, Rama mengangguk menerima keputusan Hana. Tidak ada pilihan lain, selain menanti datangnya restu dari orang tuanya. Rama sangat menyayangi Hana. Semenjak SMU Hana sudah merebut hatinya. Kesederhanaan Hana mengetuk pintu hati Rama. Sikap acuhnya yang tak pernah mengidolakan Rama. Membuat Rama tertarik, dia berpikir Hana gadis polos yang mampu menjaga harga dirinya.
Terdengar suara pintu kantin terbuka, dua orang masuk ke dalam kantin. Seketika Hana mendongak melihat ke arah pintu. Kedua matanya membulat sempurna, ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Rafa. Kedua mata Rafa penuh amarah, dia kesal melihat Hana duduk berdua dengan Rama.
"Rafa, tidak perlu melotot. Dia memang Hana, wanita berhijab pelayan kantin!" goda Adrian, Rafa menoleh menatap tajan Adrian. Jelas terlihat kemarahannya, Rafa duduk tidak jauh dari Hana dan Rama. Hana yang melihat Rafa datang, tiba-tiba gugup. Tangannya mulai bergetar, rencananya ingin menghindar dari Rafa gagal sudah.
"Kak Rama, maaf Hana tinggal. Hana harus melayani mereka!" ujar Hana sopan, Rama mengangguk sembari pamit pulang. Rama berjalan menjauh, saat berada disamping Rafa. Rama membungkuk seraya tersenyum, sebagai sebuah tanda sapaan. Rafa membalas dengan anggukan.
"Tuan Rafa, anda ingin pesan apa?" ujar Hana sopan, Rafa menatap tajam Hana. Seakan ingin melahapnya, Adrian terkekeh melihat bos sekaligus sahabatnya cemburu tanpa alasan.
"Adrian, kita pergi sekarang. Aku tidak napsu makan sekarang!" ujar Rafa ketus, dia berdiri meninggalkan Hana. Adrian mengikuti Rafa, tepat di sebelah Hana.
"Jangan terlalu dipikirkan. Rafa sedang cemburu, jadi emosinya tidak terkendali!" bisik Adrian, saat dia melihat Hana ketakutan. Hana berpikir Rafa marah, karena melihat Rama berada di kantin. Hana mengelus dadanya, jantungnya berdetak sangat hebat. Seakan ingin melompat dari tempatnya.
"Lain kali kalau ingin bertemu pacarmu. Jangan di perusahaanku. Apalagi di depanku, jika tidak kamu akan menyesal. Aku tidak main-main!" ujar Rafa ketus, Hana melongo mendengar ancaman Rafa. Hana bingung bagaimana Rafa bisa tahu? Jika Rama itu tunangannya, bahkan amarah Rafa cenderung berlebihan.
"Rafa, tidak perlu kamu semarah itu. Amarahmu bisa menunjukkan rasa cemburumu. Bukankah kamu pernah mengatakan. Sebelum janur kuning melengkung, Hana masih milik umum. Jadi kejarlah dia jika memang kamu mencintainya!"
"Siapa yang mengatakan aku menyukainya? Dia hanya pelayan kantin, tidak lebih. Derajatnya jauh di bawahku, jadi kamu jangan mengada-ada!" ujar Rafa sinis, Adrian tersenyum melihat sahabatnya marah-marah tidak jelas.
"Berani sekali dia menemui Hana di kantorku. Apa dia tidak tahu aturan setiap kantor? Seenaknya saja menemui pegawaiku. Jika bukan karena kerja sama itu. Sudah aku usir dia dari kantin!" batin Rafa kesal.
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Rasyha Nailu R
yaeeeh Rafa cemburu sama Rama
2021-04-24
2
Diana Mardiany
Rafa si manusia aneh 😄😄
2021-04-12
2
Anggra
jaim bgt sich u pak Rafa 😄
2021-04-12
1