"Diana, kita makan di kantin bersama! Aku yang akan traktir!" sapa Adrian tiba-tiba, Diana yang terkejut memegang dadanya yang berdetak hebat. Diana menoleh pada Adrian yang berada di sampingnya. Terlihat Adrian tersenyum semanis mungkin. Berharap Diana bersedia ikut dengannya ke kantin.
"Pak Adrian, ini masih sangat pagi. Jika aku pergi ke kantin. Pak Rafa bisa menggantungku. Memangnya pak Adrian tidak sarapan di rumah!" ujar Diana kesal, Adrian menggeleng. "Jika aku sarapan di rumah. Aku tidak akan bisa melihat Hana!" batin Adrian.
"Jika Rafa marah, aku yang bertanggung jawab!" sahut Adrian memaksa pada Diana. Terlihat Rafa mendekat pada mereka. Kebetulan Hana salah satu sekretaris pribadi Rafa. Jadi Diana cukup dekat dengan dua penguasa perusahaan Prawira.
"Ada apa dengan Adrian? Kenapa pagi-pagi sudah mengekor padamu?" tanya Rafa dingin, Diana menunduk ketakutan. Dia sudah sangat mengenal karakter bos besarnya. Jika dia dalam mode dingin, itu artinya sedang ada masalah serius.
"Pak Adrian memaksa saya ikut pergi ke kantin. Padahal saya sudah menolak!" ujar Diana ketakutan.
"Ikutlah dengan kami ke kantin. Minta yang lain menghandle sementara pekerjaanmu."
"Pak Rafa juga akan pergi ke kantin!"
"Sejak kapan kamu berani bertanya padaku? Apalagi mengulang perintahku!" sahut Rafa dingin, Diana menggeleng lemah. Sebaliknya Adrian senang bisa pergi ke kantin. Berharap bisa melihat Hana wanita berhijabnya.
Mereka bertiga pergi ke kantin bersama. Setibanya di kantin, suasana masih sangat sepi. Tidak ada karyawan yang datang. Bu Minah kebetulan sedang keluar, tinggalah Hana sendirian di kantin.
Ketika melihat Rafa, dia ragu untuk mendekat. Namun demi sebuah tanggung jawab. Akhirnya Hana mendekat pada Rafa dan kedua temannya. Salah satunya Diana, sahabatnya.
"Kemana bu Minah? Kenapa kamu yang datang?" ujar Rafa, Hana menunduk tanpa berani menatap mata indah Rafa. Diana dan Adrian melihat perbedaan cara bicara Rafa pada Hana. Penuh kebencian tapi tersisip sebuah rasa cinta.
"Maaf tuan Rafa, ibu sedang keluar kantin. Dia pergi menjemput putri dan cucunya. Sebentar lagi mereka datang." ujar Hana, Rafa terdiam terkesima mendengar suara lembut Hana.
"Hana, tolong buatkan aku kopi saja. Tanpa gula, karena aku yakin minumanku akan manis saat diseduh olehmu!" ujar Adrian merayu, Hana mengangguk lemah.
"Hana, aku secangkir teh dan roti khas buatanmu! Terima kasih" ujar Diana, Rafa melihat ke arah Diana dan Adrian.
"Kalian berdua berani memesan lebih dulu dariku. Aku saja belum memesan makanan. Dengan santainya kalian mendahuluiku!"
"Rafa, bila menunggumu lama. Bukankah kamu hanya akan memesan, jika bu Minah yang datang!"
"Kamu, buatkan aku nasi goreng dengan telur mata sapi. Jangan diberi cabai, aku tidak suka pedas!" titah Rafa dingin, Hana mengangguk lalu meninggalkan mereka bertiga. Adrian menatap kepergian Hana, kedua matanya tak berkedip. Pesona Hana terpancar nyata dibalik gamis dan hijab panjangnya.
"Diana, kita pergi ke rumah Hana. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Aku yakin bisa menjadikannya istriku!" ujar Adrian, Diana menggeleng lemah.
"Pak Adrian yang tampan. Aku sudah mengatakan, jika Hana sudah dipinang. Apalagi rumahnya jauh dari sini. Butuh waktu sampai satu jam. Dia hidup hanya sendirian, jadi sangat tidak mungkin akan membiarkan kita ke rumahnya!"
"Serius Diana, rumahnya jauh sekali dari sini. Sungguh wanita tangguh, idaman hati abang!" ujar Adrian, Diana hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat Adrian yang terpesona pada Hana.
"Jadi kamu mengajak Diana, hanya ingin mengenal pelayan itu!" sahut Rafa dingin, Adrian hanya mengangguk. Dia malas meladeni sikap kasar Rafa.
Tak lama Hana datang membawa pesanan mereka bertiga. Secangkir kopi tanpa gula. Secangkir teh dan roti isi. Nasi goreng dan telur mata sapi dengan sebotol air mineral. Hana menyajikan semuanya dengan sangat hati-hati.
"Tunggu, kamu tetaplah disini. Sebelum aku memintamu pergi. Aku ingin melihat bagaimana rasanya masakanmu? Awas saja jika rasanya aneh. Kamu akan menerima hukuman dariku!" ujar Rafa ketus, Hana terdiam. Dia meremas ujung gamisnya, takut jika masakannya tidak sesuai dengan lidah Rafa. Sebenarnya Hana tidak mencicipi masakannya, sebab dia sedang berpuasa.
Rafa memakan nasi goreng bautan Hana. Saat satu sedok nasi goreng masuk ke dalam mulutnya. Kedua bola mata Rafa membulat sempurna, Adrian dan Diana yang melihatnya merasa cemas. Takut jika Rafa marah pada Hana. Sebaliknya Hana tertunduk, dia merasa bersalah kenapa bersedia memasak padahal dia tidak bisa mencicipinya.
Rafa mengunyah sangat pelan makanannya. Seakan-akan sulit baginya untuk menelan nasi goreng tersebut. Adrian menggelengkan kepala ke arah Rafa. Berharap dia tidak marah pada Hana. Setelah nasi goreng tertelan sempurna. Rafa menaruh sendoknya kasar, dia membuka botol air mineral yang disediakan Hana.
"Kamu, kenapa ketakutan melihatku? Angkat kepalamu, tatap mataku. Katakan sebenarnya, masakan apa yang kamu berikan padaku!" ujar Rafa dingin, Adrian memegang tangan Rafa untuk menenangkannya. Hana mengangkat kepalanya perlahan, pertama kalinya kedua bola mata indahnya menatap wajah Rafa Akbar Prawira. Keduanya saling menatap satu sama lain.
"Tuan Rafa, maaf jika masakan saya berantakan. Saya sengaja tidak terlalu memakai MSG, karena saya tidak ingin anda sakit. Sebenarnya saya juga tidak bisa mencicipi nasi gorengnya. Jika tuan Rafa marah, silahkan itu hak anda. Sebab karena saya sarapan anda jadi berantakan!" ujar Hana lirih, lalu menunduk kembali.
"Maksud kamu apa? Memberikan makanan padaku, tapi kamu sendiri tidak mencobanya. Apa kamu ingin menjebakku?" ujar Rafa kesal, Hana menggeleng lemah. Tangannya meremas ujung hijabnya, keringat dingin mulai menetes. Ketakutannya bukan karena amarah Rafa padanya atau dipecat. Namun dia takut jika kesalahannya berimbas pada bu Minah.
"Jangan hanya menggeleng, jawab pertanyaanku. Aku juga heran, kenapa kamu memberiku air mineral? Padahal jelas kamu tahu, aku selalu memesan es jeruk setiap kali kemari. Kamu sengaja ingin merusak hariku!"
"Rafa, ini hanya makanan. Kenapa kamu semarah ini? Memangnya kamu sedang memikirkan apa? Hana sudah ketakutan, kasihan dia!" ujar Adrian, Rafa menoleh seraya menatap tajam ke arah Adrian. Diana mengetahui dengan baik, jika saat ini Rafa sedang tidak baik-baik saja. Amarahnya mampu bertahan selama sehari. Itu artinya dia harus bersiap menerima amarah Rafa.
"Diam kamu, aku sedang bicara dengannya!" ujar Rafa, Adrian memilih diam. Watak sahabatnya ini sulit ditebak. Bahkan cenderung berubah-ubah. Namun dibalik sikap kasarnya, Rafa pribadi yang baik. Hanya saja kehilangan sosok ibu, membuatnya kekurangan kasih sayang.
"Tuan Rafa, anda tidak perlu marah pada orang lain. Semua ini murni kesalahan saya. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Alasan saya memberikan air mineral, bukan karena ingin merusak hari anda. Saya merasa anda sedang flu, jadi tidak baik jika mengkonsumsi es di pagi hari. Apalagi setelah memakan nasi goreng yang berminyak. Itu akan semakin membuat tenggorokan anda kering. Meski anda tidak peduli pada kesehatan, tapi setidaknya saya tidak ingin membuat orang lain sakit dengan masakan saya" tutur Hana, Rafa menatap lekat wajah Hana yang manis. Sedikitpun dia tidak mengalihkan pandangannya.
"Jika untuk rasa masakan, maafkan saya. Seharusnya sejak awal saya menolak membuatkannya untuk anda. Sebab saya tidak bisa mencicipi masakannya. Bukan saya ingin membela diri atau mencari alasan. Namun saat ini saya sedang berpuasa. Sekali lagi saya minta maaf. Jangan salahkan bu Minah, karena kelalaian saya dalam melayani tuan!" tutur Hana lirih, Rafa mengangguk lemah. Adrian dan Diana menahan napas panjang, selama Hana berbicara. Mereka takut alasan Hana akan membuat Rafa semakin marah. Rafa tipe pribadi yang tidak mudah menerima sebuah alasan.
"Darimana kamu tahu aku sedang flu?" ujar Rafa dingin, Adrian melongo melihat sahabatnya banyak bicara. Biasanya dia akan mengakhiri hidup orang yang bersalah padanya.
"Ketika anda berbicara tadi, suara anda terdengar berbeda. Sesekali saya mendengar anda bersin-bersin!" sahut Hana ramah.
"Pergilah kembali ke dapur!" titah Rafa dingin, Hana berjalan menjauh dari mereka. Hana memegang dadanya. Jantungnya berdetak sangat hebat, bahkan tubuhnya gemetaran. Aura Rafa membuatnya sangat takut.
"Semoga bu Minah tidak terkena imbas atas kesalahanku. YA ALLAH maha pembolak-balik hati. Buatlah tuan Rafa memaafkan bu Minah. Agar tidak terusir dari perusahaan ini. Amin!" batin Hana sesampainya di dapur kantin.
Sepeninggal Hana, Rafa meneruskan memakan nasi gorengnya. Andrian dan Diana merasa heran. Kenapa Rafa terus saja memakan nasi goreng yang rasanya berantakan? Adrian merampas piring berisi nasi goreng. Dia menyuapkan satu sendok penuh, lalu memakannya.
"Rafa, kamu keterlaluan!" ujar Adrian dengan mulut penuh nasi goreng. Rafa tersenyum mendengar perkataan Adrian. Hanya Diana yang bingung melihat kedua bosnya bersikap aneh.
"Pertama kalinya ada orang yang peduli pada kesehatanku. Meski selama ini, aku merendahkannya. Namun sedikitpun dia tidak membalasku, malah dia menjagaku. Wanita yang sangat unik!" batin Rafa.
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
👑
Rate 5, favorit n boom like meluncur 🚴🚴🚴
q kasih mawar hiji 🤭🤭
2021-05-22
0
Dwi setya Iriana
diam2 suka ya kayaknya rafa
2021-04-11
1
Abel Jihan
hemmm si Rafa di balik sikap sombongx id ad benih.... yg mulai tumbuh ni
2021-04-10
1