Sarapan Nasi Goreng

"Diana, kita makan di kantin bersama! Aku yang akan traktir!" sapa Adrian tiba-tiba, Diana yang terkejut memegang dadanya yang berdetak hebat. Diana menoleh pada Adrian yang berada di sampingnya. Terlihat Adrian tersenyum semanis mungkin. Berharap Diana bersedia ikut dengannya ke kantin.

"Pak Adrian, ini masih sangat pagi. Jika aku pergi ke kantin. Pak Rafa bisa menggantungku. Memangnya pak Adrian tidak sarapan di rumah!" ujar Diana kesal, Adrian menggeleng. "Jika aku sarapan di rumah. Aku tidak akan bisa melihat Hana!" batin Adrian.

"Jika Rafa marah, aku yang bertanggung jawab!" sahut Adrian memaksa pada Diana. Terlihat Rafa mendekat pada mereka. Kebetulan Hana salah satu sekretaris pribadi Rafa. Jadi Diana cukup dekat dengan dua penguasa perusahaan Prawira.

"Ada apa dengan Adrian? Kenapa pagi-pagi sudah mengekor padamu?" tanya Rafa dingin, Diana menunduk ketakutan. Dia sudah sangat mengenal karakter bos besarnya. Jika dia dalam mode dingin, itu artinya sedang ada masalah serius.

"Pak Adrian memaksa saya ikut pergi ke kantin. Padahal saya sudah menolak!" ujar Diana ketakutan.

"Ikutlah dengan kami ke kantin. Minta yang lain menghandle sementara pekerjaanmu."

"Pak Rafa juga akan pergi ke kantin!"

"Sejak kapan kamu berani bertanya padaku? Apalagi mengulang perintahku!" sahut Rafa dingin, Diana menggeleng lemah. Sebaliknya Adrian senang bisa pergi ke kantin. Berharap bisa melihat Hana wanita berhijabnya.

Mereka bertiga pergi ke kantin bersama. Setibanya di kantin, suasana masih sangat sepi. Tidak ada karyawan yang datang. Bu Minah kebetulan sedang keluar, tinggalah Hana sendirian di kantin.

Ketika melihat Rafa, dia ragu untuk mendekat. Namun demi sebuah tanggung jawab. Akhirnya Hana mendekat pada Rafa dan kedua temannya. Salah satunya Diana, sahabatnya.

"Kemana bu Minah? Kenapa kamu yang datang?" ujar Rafa, Hana menunduk tanpa berani menatap mata indah Rafa. Diana dan Adrian melihat perbedaan cara bicara Rafa pada Hana. Penuh kebencian tapi tersisip sebuah rasa cinta.

"Maaf tuan Rafa, ibu sedang keluar kantin. Dia pergi menjemput putri dan cucunya. Sebentar lagi mereka datang." ujar Hana, Rafa terdiam terkesima mendengar suara lembut Hana.

"Hana, tolong buatkan aku kopi saja. Tanpa gula, karena aku yakin minumanku akan manis saat diseduh olehmu!" ujar Adrian merayu, Hana mengangguk lemah.

"Hana, aku secangkir teh dan roti khas buatanmu! Terima kasih" ujar Diana, Rafa melihat ke arah Diana dan Adrian.

"Kalian berdua berani memesan lebih dulu dariku. Aku saja belum memesan makanan. Dengan santainya kalian mendahuluiku!"

"Rafa, bila menunggumu lama. Bukankah kamu hanya akan memesan, jika bu Minah yang datang!"

"Kamu, buatkan aku nasi goreng dengan telur mata sapi. Jangan diberi cabai, aku tidak suka pedas!" titah Rafa dingin, Hana mengangguk lalu meninggalkan mereka bertiga. Adrian menatap kepergian Hana, kedua matanya tak berkedip. Pesona Hana terpancar nyata dibalik gamis dan hijab panjangnya.

"Diana, kita pergi ke rumah Hana. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Aku yakin bisa menjadikannya istriku!" ujar Adrian, Diana menggeleng lemah.

"Pak Adrian yang tampan. Aku sudah mengatakan, jika Hana sudah dipinang. Apalagi rumahnya jauh dari sini. Butuh waktu sampai satu jam. Dia hidup hanya sendirian, jadi sangat tidak mungkin akan membiarkan kita ke rumahnya!"

"Serius Diana, rumahnya jauh sekali dari sini. Sungguh wanita tangguh, idaman hati abang!" ujar Adrian, Diana hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat Adrian yang terpesona pada Hana.

"Jadi kamu mengajak Diana, hanya ingin mengenal pelayan itu!" sahut Rafa dingin, Adrian hanya mengangguk. Dia malas meladeni sikap kasar Rafa.

Tak lama Hana datang membawa pesanan mereka bertiga. Secangkir kopi tanpa gula. Secangkir teh dan roti isi. Nasi goreng dan telur mata sapi dengan sebotol air mineral. Hana menyajikan semuanya dengan sangat hati-hati.

"Tunggu, kamu tetaplah disini. Sebelum aku memintamu pergi. Aku ingin melihat bagaimana rasanya masakanmu? Awas saja jika rasanya aneh. Kamu akan menerima hukuman dariku!" ujar Rafa ketus, Hana terdiam. Dia meremas ujung gamisnya, takut jika masakannya tidak sesuai dengan lidah Rafa. Sebenarnya Hana tidak mencicipi masakannya, sebab dia sedang berpuasa.

Rafa memakan nasi goreng bautan Hana. Saat satu sedok nasi goreng masuk ke dalam mulutnya. Kedua bola mata Rafa membulat sempurna, Adrian dan Diana yang melihatnya merasa cemas. Takut jika Rafa marah pada Hana. Sebaliknya Hana tertunduk, dia merasa bersalah kenapa bersedia memasak padahal dia tidak bisa mencicipinya.

Rafa mengunyah sangat pelan makanannya. Seakan-akan sulit baginya untuk menelan nasi goreng tersebut. Adrian menggelengkan kepala ke arah Rafa. Berharap dia tidak marah pada Hana. Setelah nasi goreng tertelan sempurna. Rafa menaruh sendoknya kasar, dia membuka botol air mineral yang disediakan Hana.

"Kamu, kenapa ketakutan melihatku? Angkat kepalamu, tatap mataku. Katakan sebenarnya, masakan apa yang kamu berikan padaku!" ujar Rafa dingin, Adrian memegang tangan Rafa untuk menenangkannya. Hana mengangkat kepalanya perlahan, pertama kalinya kedua bola mata indahnya menatap wajah Rafa Akbar Prawira. Keduanya saling menatap satu sama lain.

"Tuan Rafa, maaf jika masakan saya berantakan. Saya sengaja tidak terlalu memakai MSG, karena saya tidak ingin anda sakit. Sebenarnya saya juga tidak bisa mencicipi nasi gorengnya. Jika tuan Rafa marah, silahkan itu hak anda. Sebab karena saya sarapan anda jadi berantakan!" ujar Hana lirih, lalu menunduk kembali.

"Maksud kamu apa? Memberikan makanan padaku, tapi kamu sendiri tidak mencobanya. Apa kamu ingin menjebakku?" ujar Rafa kesal, Hana menggeleng lemah. Tangannya meremas ujung hijabnya, keringat dingin mulai menetes. Ketakutannya bukan karena amarah Rafa padanya atau dipecat. Namun dia takut jika kesalahannya berimbas pada bu Minah.

"Jangan hanya menggeleng, jawab pertanyaanku. Aku juga heran, kenapa kamu memberiku air mineral? Padahal jelas kamu tahu, aku selalu memesan es jeruk setiap kali kemari. Kamu sengaja ingin merusak hariku!"

"Rafa, ini hanya makanan. Kenapa kamu semarah ini? Memangnya kamu sedang memikirkan apa? Hana sudah ketakutan, kasihan dia!" ujar Adrian, Rafa menoleh seraya menatap tajam ke arah Adrian. Diana mengetahui dengan baik, jika saat ini Rafa sedang tidak baik-baik saja. Amarahnya mampu bertahan selama sehari. Itu artinya dia harus bersiap menerima amarah Rafa.

"Diam kamu, aku sedang bicara dengannya!" ujar Rafa, Adrian memilih diam. Watak sahabatnya ini sulit ditebak. Bahkan cenderung berubah-ubah. Namun dibalik sikap kasarnya, Rafa pribadi yang baik. Hanya saja kehilangan sosok ibu, membuatnya kekurangan kasih sayang.

"Tuan Rafa, anda tidak perlu marah pada orang lain. Semua ini murni kesalahan saya. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. Alasan saya memberikan air mineral, bukan karena ingin merusak hari anda. Saya merasa anda sedang flu, jadi tidak baik jika mengkonsumsi es di pagi hari. Apalagi setelah memakan nasi goreng yang berminyak. Itu akan semakin membuat tenggorokan anda kering. Meski anda tidak peduli pada kesehatan, tapi setidaknya saya tidak ingin membuat orang lain sakit dengan masakan saya" tutur Hana, Rafa menatap lekat wajah Hana yang manis. Sedikitpun dia tidak mengalihkan pandangannya.

"Jika untuk rasa masakan, maafkan saya. Seharusnya sejak awal saya menolak membuatkannya untuk anda. Sebab saya tidak bisa mencicipi masakannya. Bukan saya ingin membela diri atau mencari alasan. Namun saat ini saya sedang berpuasa. Sekali lagi saya minta maaf. Jangan salahkan bu Minah, karena kelalaian saya dalam melayani tuan!" tutur Hana lirih, Rafa mengangguk lemah. Adrian dan Diana menahan napas panjang, selama Hana berbicara. Mereka takut alasan Hana akan membuat Rafa semakin marah. Rafa tipe pribadi yang tidak mudah menerima sebuah alasan.

"Darimana kamu tahu aku sedang flu?" ujar Rafa dingin, Adrian melongo melihat sahabatnya banyak bicara. Biasanya dia akan mengakhiri hidup orang yang bersalah padanya.

"Ketika anda berbicara tadi, suara anda terdengar berbeda. Sesekali saya mendengar anda bersin-bersin!" sahut Hana ramah.

"Pergilah kembali ke dapur!" titah Rafa dingin, Hana berjalan menjauh dari mereka. Hana memegang dadanya. Jantungnya berdetak sangat hebat, bahkan tubuhnya gemetaran. Aura Rafa membuatnya sangat takut.

"Semoga bu Minah tidak terkena imbas atas kesalahanku. YA ALLAH maha pembolak-balik hati. Buatlah tuan Rafa memaafkan bu Minah. Agar tidak terusir dari perusahaan ini. Amin!" batin Hana sesampainya di dapur kantin.

Sepeninggal Hana, Rafa meneruskan memakan nasi gorengnya. Andrian dan Diana merasa heran. Kenapa Rafa terus saja memakan nasi goreng yang rasanya berantakan? Adrian merampas piring berisi nasi goreng. Dia menyuapkan satu sendok penuh, lalu memakannya.

"Rafa, kamu keterlaluan!" ujar Adrian dengan mulut penuh nasi goreng. Rafa tersenyum mendengar perkataan Adrian. Hanya Diana yang bingung melihat kedua bosnya bersikap aneh.

"Pertama kalinya ada orang yang peduli pada kesehatanku. Meski selama ini, aku merendahkannya. Namun sedikitpun dia tidak membalasku, malah dia menjagaku. Wanita yang sangat unik!" batin Rafa.

...☆☆☆☆☆...

TERIMA KASIH😊😊😊

Terpopuler

Comments

👑

👑

Rate 5, favorit n boom like meluncur 🚴🚴🚴
q kasih mawar hiji 🤭🤭

2021-05-22

0

Dwi setya Iriana

Dwi setya Iriana

diam2 suka ya kayaknya rafa

2021-04-11

1

Abel Jihan

Abel Jihan

hemmm si Rafa di balik sikap sombongx id ad benih.... yg mulai tumbuh ni

2021-04-10

1

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan
2 Makan siang
3 Sarapan Nasi Goreng
4 Rama Tri Wijaya
5 Tamu di Pagi Hari
6 Pertemuan tak Terduga
7 Sebuah kebetulan
8 Tumis Kangkung
9 Berdua dalam Satu Mobil
10 Kepergian Hana
11 Mentari Pagi
12 Menginap
13 Pulang ke Kota
14 Malam Pertama
15 Cemburu
16 Makan Siang
17 Amarah Rafa
18 Kunjunga Malam Hari
19 Pelukan Pagi Hari
20 Ketakutan Hana
21 Pertemuan
22 Masuk Rumah Sakit
23 Makan Malam
24 Hana pulang dari Rumah Sakit
25 Malam di Apartement
26 Sebuah Keputusan
27 Pagi yang Indah
28 Cinta yang Indah
29 Rafa Sakit
30 Akhir Sebuah Hubungan
31 Wajah yang Dirindukan
32 Hati yang Terpaut
33 Kata Maaf
34 Istri yang Terabaikan
35 Rafa Kebingungan
36 Pendarahan
37 Sikap Tegas Rafa
38 Senyum yang Menghilang
39 Sarapan Bersama
40 Tantangan
41 Pesta yang Meriah
42 Keteguhan yang Diragukan
43 Tumbangnya sang Pewaris
44 Cinta yang Rumit
45 Rumah Sakit
46 Penolakan
47 Raditya Naufal Wirawan
48 Arti Sebuah Harga Diri
49 Air mata itu
50 Putri yang Cantik
51 Sebuah Kebenaran
52 Rumah Baru
53 Amarah Sesil
54 Makan Malam Bersama
55 Makan Siang yang Gagal
56 Teguhnya Cinta
57 Suara Merdu Hana
58 Pertemuan tak Terduga
59 Pemakaman
60 Ayunan Kayu
61 Cemburu....
62 Kiara Putri Prawira
63 Hadiah Terindah
64 Diana Larasati Permana
65 Kepergian Hana
66 Pulang
67 Muhammad Rizal Saputra
68 Satu Nama dalam Dua Sujud
69 Karmila Intan Safitri
70 Malam yang Sunyi
71 Baby Fathan
72 Langitku
73 Obat untuk Sesama
74 Muhammad Fathan Alfarizqi
75 Surat Terakhir
76 Kisah dibalik 6 tahun
77 Izinkan aku memanggilmu mama
78 Suamiku Surgaku
79 Restu yang Dinanti
80 Malam Terakhir
81 Ana Uhibbukka fillah
82 Wahai Makmumku...
83 Suara Hati Kiara
84 Sepiring Berdua
85 Nyaman dan Cinta itu Beda
86 Secercah Harapan
87 Dua Wanita Terhebat
88 Antara Cinta dan Balas Budi
89 Putri Kecilku
90 Mama...
91 Harta paling Berharga
92 Makan Malam Tertunda
93 Memaafkan atau Meninggalkan
94 Harta Bukan Segalanya
95 Rayuan Tengah Malam
96 Cinta itu Rasa Nyaman
97 Laki-laki Terhebat
98 Kamu Makmumku
99 Hari Pertunangan
100 Hana Merajuk
101 Kepastian yang Ditunggu
102 Malam Pertama
103 Pagi yang Mengejutkan
104 Cemburu Demi Cintanya
105 Permintaan Maaf
106 Pagi yang Hangat
107 Hanya Dia yang Kucinta
108 Hukuman
109 Sebuah Keputusan
110 Jalan-jalan Malam
111 Akhir Sebuah Cinta
112 Sarapan Pagi
113 Sakitnya tuan Ardi
114 Sarapan Bersama
115 Kita Ditakdirkan Berjodoh
116 Pelukan yang Dirindukan
117 Kesalapahaman
118 Akhirnya
119 Bebek Panggang pedas
120 Bintang Hati
121 Ardilla Fitri Adiwijaya
122 Rafa Jodohku
123 Senyummu Kekuatanku
124 Hana Khairunnisa
125 Janji
126 Cemburu yang Tidak Diperlukan
127 Bimbinglah Aku...
128 Semua Sudah Diatur...
129 Faiq Sang Pemenang
130 Kesabaran tak pernah sia-sia
131 Annisa Maulida Zahro
132 Muhammad Faiq Alhakim
133 Farah Nur Fitriya
134 Davina Nur Latifah
135 Sikap Dingin yang Menjadi
136 Perkenalan
137 Putri yang Kembali
138 Sakit Maag
139 Sholat Berjamaah
140 Akhiranya...
141 Suara Hati
142 Siapa Dia???
143 Mama Segalanya...
144 Makmum yang diimpikan...
145 Berjuanglah...
146 Izinkan Aku Menikahinya...
147 Malam Itu...
148 Persetujuan
149 Wanita Impian
150 Perjalanan ke luar kota
151 Vania Aulia Azzahra
152 Amarah Faiq
153 Persetujuaan
154 Demi Dia...
155 Aku Pergi..
156 Derasnya Hujan...
157 Maaf
158 Satu Nama
159 Hati yang Memilih
160 Akhirnya...
161 Permintaan...
162 Kantin Rumah Sakit
163 Bukan Salahku...
164 Akhir Tiga Hati
165 Cinta yang salah
166 Semua Sudah Tertulis...
167 Sikap Manja yang Kurindukan
168 Calon Keponakan yang Menyusahkan
169 Pertemuan yang Aneh
170 Kedua kalinya
171 Adik peremapuanku ...
172 Cinta Segitiga
173 Mengakhiri atau Meneruskan
174 Kesempurnaan Cinta...
175 Sisi yang Lain
176 Keteguhan...
177 Aku Mencintaimu dengan Iman...
178 Cinta Vania
179 Menantu yang Terbaik
180 Mama Tersenyumlah
181 Ketenangan yang Terusik
182 Semua Bisa Terjadi
183 Cemburu yang Elegant
184 Di bawah Langit Bertasbih
185 Ayah
186 Wajah Halal yang Kurindukan
187 Malam Pinangan
188 Ahcmad Faiz Akbar
189 Sikap yang Bijak
190 Cinta itu Menghargai
191 Akad Nikah
192 Meriahnya Pesta
193 Cinta yang Terpendam
194 Air Mata Faiq
195 Kemesraan di Pagi Hari
196 Lahirnya Sang Pewaris
197 Sahabat akan Selalu Ada
198 Janjian
199 Vania marah
200 Pertengkaran...
201 Rapat
202 Diam Annisa
203 Langit Malam
204 Jangan Ragukan Cintaku...
205 Dilema Fathan
206 Pertemuan...
207 Makan Siang
208 Kenangan masa lalu
209 Aku Berbeda
210 Perdebatan
211 Proyek Pembangunan
212 Aku Memilih Keluargaku
213 Berdua di Mobil
214 Rumah sakit
215 Kepergian Hana
216 Mantan Terindah
217 Maaf...
218 Saling Menyayangi
219 Tanding Basket
220 Nuur Aini Rahma
221 Malik Fazal Gavi
222 Indahnya....
223 Sebuah Kejujuran
224 Persetujuan
225 Vania Sakit
226 Amarah Raihan
227 Akhirnya Berakhir
228 Kenangan Raihan
229 Muhammad Malik Fajar
230 Dokter Daffa
231 Kekesalan Vania
232 Dilema Raihan
233 Isi Hati
234 Fakta Terkuak
235 Rintihan
236 Sarapan
237 Dokter Cantik
238 Chalisa Putri Ananta
239 Adikku Kecilku
240 Dokter Rey
241 Hargai Dia
242 Maaf
243 Penolakan
244 Sikap Manja Rafa
245 Rama si Culun
246 Rama Dwi Sanjaya
247 Wanita hebat
248 Dua Saudara Kandung
249 Satu Keluarga
250 Hasutan tak Penting
251 Gerimis malam...
252 Pembatalan kontrak
253 Akhir Bahagia (END)
Episodes

Updated 253 Episodes

1
Pertemuan
2
Makan siang
3
Sarapan Nasi Goreng
4
Rama Tri Wijaya
5
Tamu di Pagi Hari
6
Pertemuan tak Terduga
7
Sebuah kebetulan
8
Tumis Kangkung
9
Berdua dalam Satu Mobil
10
Kepergian Hana
11
Mentari Pagi
12
Menginap
13
Pulang ke Kota
14
Malam Pertama
15
Cemburu
16
Makan Siang
17
Amarah Rafa
18
Kunjunga Malam Hari
19
Pelukan Pagi Hari
20
Ketakutan Hana
21
Pertemuan
22
Masuk Rumah Sakit
23
Makan Malam
24
Hana pulang dari Rumah Sakit
25
Malam di Apartement
26
Sebuah Keputusan
27
Pagi yang Indah
28
Cinta yang Indah
29
Rafa Sakit
30
Akhir Sebuah Hubungan
31
Wajah yang Dirindukan
32
Hati yang Terpaut
33
Kata Maaf
34
Istri yang Terabaikan
35
Rafa Kebingungan
36
Pendarahan
37
Sikap Tegas Rafa
38
Senyum yang Menghilang
39
Sarapan Bersama
40
Tantangan
41
Pesta yang Meriah
42
Keteguhan yang Diragukan
43
Tumbangnya sang Pewaris
44
Cinta yang Rumit
45
Rumah Sakit
46
Penolakan
47
Raditya Naufal Wirawan
48
Arti Sebuah Harga Diri
49
Air mata itu
50
Putri yang Cantik
51
Sebuah Kebenaran
52
Rumah Baru
53
Amarah Sesil
54
Makan Malam Bersama
55
Makan Siang yang Gagal
56
Teguhnya Cinta
57
Suara Merdu Hana
58
Pertemuan tak Terduga
59
Pemakaman
60
Ayunan Kayu
61
Cemburu....
62
Kiara Putri Prawira
63
Hadiah Terindah
64
Diana Larasati Permana
65
Kepergian Hana
66
Pulang
67
Muhammad Rizal Saputra
68
Satu Nama dalam Dua Sujud
69
Karmila Intan Safitri
70
Malam yang Sunyi
71
Baby Fathan
72
Langitku
73
Obat untuk Sesama
74
Muhammad Fathan Alfarizqi
75
Surat Terakhir
76
Kisah dibalik 6 tahun
77
Izinkan aku memanggilmu mama
78
Suamiku Surgaku
79
Restu yang Dinanti
80
Malam Terakhir
81
Ana Uhibbukka fillah
82
Wahai Makmumku...
83
Suara Hati Kiara
84
Sepiring Berdua
85
Nyaman dan Cinta itu Beda
86
Secercah Harapan
87
Dua Wanita Terhebat
88
Antara Cinta dan Balas Budi
89
Putri Kecilku
90
Mama...
91
Harta paling Berharga
92
Makan Malam Tertunda
93
Memaafkan atau Meninggalkan
94
Harta Bukan Segalanya
95
Rayuan Tengah Malam
96
Cinta itu Rasa Nyaman
97
Laki-laki Terhebat
98
Kamu Makmumku
99
Hari Pertunangan
100
Hana Merajuk
101
Kepastian yang Ditunggu
102
Malam Pertama
103
Pagi yang Mengejutkan
104
Cemburu Demi Cintanya
105
Permintaan Maaf
106
Pagi yang Hangat
107
Hanya Dia yang Kucinta
108
Hukuman
109
Sebuah Keputusan
110
Jalan-jalan Malam
111
Akhir Sebuah Cinta
112
Sarapan Pagi
113
Sakitnya tuan Ardi
114
Sarapan Bersama
115
Kita Ditakdirkan Berjodoh
116
Pelukan yang Dirindukan
117
Kesalapahaman
118
Akhirnya
119
Bebek Panggang pedas
120
Bintang Hati
121
Ardilla Fitri Adiwijaya
122
Rafa Jodohku
123
Senyummu Kekuatanku
124
Hana Khairunnisa
125
Janji
126
Cemburu yang Tidak Diperlukan
127
Bimbinglah Aku...
128
Semua Sudah Diatur...
129
Faiq Sang Pemenang
130
Kesabaran tak pernah sia-sia
131
Annisa Maulida Zahro
132
Muhammad Faiq Alhakim
133
Farah Nur Fitriya
134
Davina Nur Latifah
135
Sikap Dingin yang Menjadi
136
Perkenalan
137
Putri yang Kembali
138
Sakit Maag
139
Sholat Berjamaah
140
Akhiranya...
141
Suara Hati
142
Siapa Dia???
143
Mama Segalanya...
144
Makmum yang diimpikan...
145
Berjuanglah...
146
Izinkan Aku Menikahinya...
147
Malam Itu...
148
Persetujuan
149
Wanita Impian
150
Perjalanan ke luar kota
151
Vania Aulia Azzahra
152
Amarah Faiq
153
Persetujuaan
154
Demi Dia...
155
Aku Pergi..
156
Derasnya Hujan...
157
Maaf
158
Satu Nama
159
Hati yang Memilih
160
Akhirnya...
161
Permintaan...
162
Kantin Rumah Sakit
163
Bukan Salahku...
164
Akhir Tiga Hati
165
Cinta yang salah
166
Semua Sudah Tertulis...
167
Sikap Manja yang Kurindukan
168
Calon Keponakan yang Menyusahkan
169
Pertemuan yang Aneh
170
Kedua kalinya
171
Adik peremapuanku ...
172
Cinta Segitiga
173
Mengakhiri atau Meneruskan
174
Kesempurnaan Cinta...
175
Sisi yang Lain
176
Keteguhan...
177
Aku Mencintaimu dengan Iman...
178
Cinta Vania
179
Menantu yang Terbaik
180
Mama Tersenyumlah
181
Ketenangan yang Terusik
182
Semua Bisa Terjadi
183
Cemburu yang Elegant
184
Di bawah Langit Bertasbih
185
Ayah
186
Wajah Halal yang Kurindukan
187
Malam Pinangan
188
Ahcmad Faiz Akbar
189
Sikap yang Bijak
190
Cinta itu Menghargai
191
Akad Nikah
192
Meriahnya Pesta
193
Cinta yang Terpendam
194
Air Mata Faiq
195
Kemesraan di Pagi Hari
196
Lahirnya Sang Pewaris
197
Sahabat akan Selalu Ada
198
Janjian
199
Vania marah
200
Pertengkaran...
201
Rapat
202
Diam Annisa
203
Langit Malam
204
Jangan Ragukan Cintaku...
205
Dilema Fathan
206
Pertemuan...
207
Makan Siang
208
Kenangan masa lalu
209
Aku Berbeda
210
Perdebatan
211
Proyek Pembangunan
212
Aku Memilih Keluargaku
213
Berdua di Mobil
214
Rumah sakit
215
Kepergian Hana
216
Mantan Terindah
217
Maaf...
218
Saling Menyayangi
219
Tanding Basket
220
Nuur Aini Rahma
221
Malik Fazal Gavi
222
Indahnya....
223
Sebuah Kejujuran
224
Persetujuan
225
Vania Sakit
226
Amarah Raihan
227
Akhirnya Berakhir
228
Kenangan Raihan
229
Muhammad Malik Fajar
230
Dokter Daffa
231
Kekesalan Vania
232
Dilema Raihan
233
Isi Hati
234
Fakta Terkuak
235
Rintihan
236
Sarapan
237
Dokter Cantik
238
Chalisa Putri Ananta
239
Adikku Kecilku
240
Dokter Rey
241
Hargai Dia
242
Maaf
243
Penolakan
244
Sikap Manja Rafa
245
Rama si Culun
246
Rama Dwi Sanjaya
247
Wanita hebat
248
Dua Saudara Kandung
249
Satu Keluarga
250
Hasutan tak Penting
251
Gerimis malam...
252
Pembatalan kontrak
253
Akhir Bahagia (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!