Setelah pertemuan Hana dengan kedua orang tua Rama. Sikap Hana jauh berubah, setiap kalia Rama ingin bertemu, Hana selalu menghindar. Bahkan tidak jarang Hana mengacuhkan panggilan telpon dari Rama. Bukan Hana merasa terhina dengan penolakan keluarga Rama, tapi pernikahan tanpa sebuah restu. Tidak akan pernah bahagia, sampai kapanpun?
Pagi ini Hana berangkat sedikit siang. Sebenarnya kondisi Hana masih belum pulih. Namun demi sebuah tugas, Hana memaksakan tetap bekerja. Hana menggunakan kendaraan umum. Dia takut jika mengendarai sepeda motor, sebab kepalanya masih terasa pusing.
Hana datang di perusahaan Prawira sekitar pukul 08.00 wib. Sebelumnya Hana sudah menghubungi bu Minah. Jika dia akan datang terlambat. Hana berjalan tergesa-gesa, tanpa sengaja dia menginjak ujung gamisnya. Tubuh Hana kehilangan keseimbangan, tubuhnya terhuyung ke depan. Hana menjerit histeris, ketakutan saat akan terjatuh.
"Aaaaa!" teriak Hana, tanpa diduga Rafa juga baru saja datang. Ketika dia mendengar suara teriakan, Rafa berlari ke arah Hana. Dengan sigap dia menopang tubuh Hana yang hendak terjatuh. Rafa memeluk erat tubuh Hana, agar dia tidak jatuh.
"Kalau jalan hati-hati, jangan sampai kelalaianmu membuat orang lain rugi dan kamu sendiri celaka!" ujar Rafa sesaat setelah menolong Hana.
"Maaf pak, saya tadi terburu-buru!"
"Meski kamu berjalan secepat mungkin. Kantin juga tidak akan kabur. Kecuali kamu berlari karena terlambat!" ujar Rafa sinis, Hana menunduk terdiam. Dia memang salah, karena datang terlambat. Namun Hana menunduk bukan karena terlambat, tapi lebih kepada kagey saat Rafa memeluknya. Pelukan pertama yang diterima Hana dari seorang laki-laki. Hana memegang dadanya yang terus berdetak.
"Kenapa kamu seperti orang kaget? Jangan katakan, aku laki-laki pertama yang memelukmu!" ujar Rafa sinis, Hana mengangguk pelan.
"Ternyata kamu benar-benar culun. Pelukan seperti itu saja, kamu sudah katakutan. Jangan terlalu percaya diri, aku memelukmu karena ingin menolongmu. Kamu bukan tipeku, jadi tidak perlu bangga. Banyak wanita yang sudah tidur denganku!" ujar Rafa sinis, Hana terus menunduk, dia tidak berani menatap wajah Rafa. Apalagi setelah mendengar, Rafa tekah tidur dengan banyak wanita. Semakin membuat Hana tidak suka pada pribadi Rafa.
"Maaf pak!"
"Pergilah ke kantin, kasihan bu Minah sudah menunggumu. Lain kali hati-hati bila berjalan. Jika tidak ada saya, kamu sudag pingsan akibat jatuh tadi" ujar Rafa sembari melangkah meninggalkan Hana. Rafa berjalan sembari memegang dadanya yang beraetak hebat. Entah kenapa Rafa bisa grogi saat memeluk Hana. Padahal Rafa tidur dengan banyak wanita yang jauh lebih cantik dari Hana. Tidak pernah merasakan debaran aneh ini.
Hana meninggalkan lobi, dia berjalan perlahan menuju kantin. Sesampainya di kantin, Hana langsung meminum segelas air mineral. Hana ingin melupakan kejadian yang terjadi. Dia tidak ingin mengingat bayangan Rafa saat memeluknya.
Bu Minah melihat gelagat aneh Hana hanya terdiam. Hana meminta pada bu Minah, untuk melayani Rafa jika nanti datang ke kantin. Hana ingin menghindar dari Rafa. Bu Minah mengerti dengan makasud perkataan Hana.
Ditempat berbeda di perusahaan ini. Diana tanpa sengaja bertemu Rama. Kebetulan hari ini Rama akan melakukan kerja sama dalam penbangunan pabrik.
"Kak Rama, sedang apa di kantor ini! Apa kak Rama ingin bertemu dengan Hana? Tapi kenapa dia seperti sedang membawa sebuah berkas!"
"Kak Rama sedang apa di kantor ini? Apa kak Rama ingin bertemu dengan Hana? Tapi kenapa dia seperti sedang membawa berkas. Apa dia rekan kerja perusahaan? , yang akan melakukan rapat pagi ini." batin Diana.
Diana berjalan menghampiri Rama yang sedang berdiri di depan pintu ruang rapat. Rama datang bersama salah satu asisten pribadinya. Penampilannya berbeda, dia terlihat lebih tampan dan rapi. Semenjak SMU Rama menjadi idola di sekolah. Selain pintar, Rama juga tampan.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" sapa Diana sopan, Rama menoleh pada Diana. Dia terkejut saat melihat Diana. Meski hanya sekali bertemu, Rama sudah saat hapal dengan wajah Diana!.
"Selamat pagi, saya akan mengadakan rapat dengan pimpinan perusahaan ini. Kalau tidak salah rapat akan dimulai pukul 08.30 wib. Jadi saya menunggu disini!" sahut Rama sopan. Diana tersenyum mendengar perkataan Rama. Ternyata dugaannya benar, dia rekan kerja perusahaan Prawira yang akan melakukan rapat pagi ini.
"Kak Rama masih ingat dengan saya?" ujar Diana ramah, Rama mengangguk pelan.
"Kamu Diana, sahabat Hana yang kamarin dulu sempat dikenalkan padaku. Jika kamu bekerj disini. Itu artinya Hana juga bekerja disini?" ujar Rama, Diana mengangguk kikuk. Dia bingung akan mengatakan atau tidak pada Rama. Jika Hana hanya seorang pelayan kantin.
"Iya, Hana bekerja disini. Apa kak Rama ingin bertemu dengannya?"
"Nanti saja, Hana pasti masih sibuk. Lagipula kantin pasti masih tutup" ujar Rama, Diana terkejut mendengar jawaban Rama.
"Kak Rama mengetahui pekerjaan Hana disini. Aku pikir Hana tidak menceritakannya pada kak Rama!"
"Diana, kamu jelas mengetahui siapa sahabatmu itu? Hana bukan tipe pribadi yang akan menutupi kelemahan atau keburukannya. Dia akan mengatakan semua dengan sangat jelas. Hana tidak pernah malu dengan kondisinya. Semua itu yang membuatku tertarik padanya, sekaligus jalan terjal kami bersatu!" tutur Rama lirih, Diana menunduk mendengar perkataan Rama.
"Maaf kak Rama, aku jadi mengingatkan luka hatimu" ujar Diana, Rama menggeleng lemah.
"Aku yang salah, belum mampu membuat keluargaku menerima Hana sepenuhnya. Bahkan akhir-akhir ini Hana sengaja menghindar dariku. Dia ingin aku membatalkan pernikahan kami!" ujar Rama, Diana diam. Diana mengetahui alasan Hana ingin membatalkan pernikahannya. Semua itu bukan karena keinginan Hana, melainkan permintaan orang tua Rama sendiri.
"Diana, kelihatannya kamu akrab sekali dengan pak Rama!" ujar Adrian yang tiba-tiba datang. Diana seketika menoleh ke arah Adrian. Diana terkejut sampai-sampai jantungnya berdetak hebat.
"Pak Adrian, kalau datang ucapkan salam! Jangan seperti hantu, datang tidak ada suaranya!"
"Kamu jangan melantur, laki-laki tampan seperti aku dikatakan hantu. Apa perlu aku minta rafa mencari sekretaris baru? Sebab sekretarisnya yang lama sedikit kurang waras!" sahut Adrian santai, Diana memoyongkan bibirnya.
"Kak Rama, dia pak Adrian tangan kanan sekaligus sahabat pak Rafa!" ujar Diana memperkenalkan Adrian pada Rama.
"Diana, memangnya dia siapa? Kelihatannya kamu sangat mengenalnya!" ujar Adrian, Diana mengangguk sembari tersenyum.
"Tentu saja, dia tunangan Hana. Laki-laki yang sudah mengkhitbah Hana!"
"Ternyata dia laki-laki yang menjadi tunangan wanita berhijabku. Penampilannya tidak buruk, bahkan hampir sejajar dengan Rafa. Namun soal ketenaran dan kekayaan pasti dia jauh di bawah rafa!" batin Adrian sembari menggut-manggut mengerti.
"Apa kabar pak Adrian? Saya Rama yang rencananya akan menjadi rekan baru perusahaan ini!" sapa Rama, sembari mengulurkan tangan.
"Selamat datang di perusahaan kami!" sahut Adrian sembari menjabat tangan Rama. Rafa berjalan pelan ke arah ruang rapat. Dia tersenyum pada Rama, mereka berdua berjabat tangan. Kemudian memasuki ruang rapat bersama-sama.
"Rafa, dia laki-laki yang mengkhitbah Hana. Dia tunangan Hana?" bisik Adrian tepat ditelinga Rafa.
"Apa!" teriak Rafa kaget, sontak Rama dan Diana berhenti berjalan. Adrian terkekeh melihat sahabatnya terkejut. Dia sudah menduga, jika Rafa sudah mulai tertarik dengan Hana. Jika tidak ada apa-apa? Rafa tidak akan terkejut seperti itu.
"Ada apa pak Rafa? Anda baik-baik saja!" ujar Rama, Rafa hanya mengangguk.
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Dwi setya Iriana
harta bukan penentu kwalitan iman seseorang,tapi mepribadianlah dan iman jadi harta berharga seseorang.
2021-04-11
2
Indra Ardiansyah
sok2an jaim thor
2021-04-10
1
Samsidar
ghhu
2021-04-05
1