Semenjak kedatangan Rama ke kantin. Semenjak itu pula Rafa tidak pernah pergi ke kantin. Bagi Adrian itu sudah sangat biasa, Rafa marah karena melihat Hana duduk berdua dengan Rama. Sebaliknya Hana yang menjadi alasan kemarahan Rafa. Sedikitpun tidak pernah merasa bersalah. Baginya tidak ada masalah Rafa datang atau tidak ke kantin. Semua sama saja, asalkan bu Minah masih tetap bisa berjualan di kantin.
Hana tidak pernah peduli dengan ketidakhadiran Rafa di kantin. Jangankan peduli kenapa Rafa tidak pernah datang lagi? Hana bahkan seolah tidak pernah mengenal atau bertemu Rafa. Seorang bos besar seperti Rafa, mampu makan dimana saja? Dia bebas memilih dengan kekayaan yang dia miliki.
Terdengar pintu kantin terbuka. Bu Minah menghampiri pelanggan yang datang. Belum sampai mendekat, kedua bola mata bu Minah membulat sempurna. Dia melihat sosok berwibawa yang pernah menjadi tuannya. Tuan besar Prawira, tidak lain kakek dari Rafa Akbar Prawira. Ada rasa takut bu Minah bertemu dengan beliau. Setelah bertahun-tahun, hari ini beliau khusus datang menemuinya.
"Tuan besar!" sapa bu Minah gugup. Kakeh Rafa duduk tanpa ada rasa canggung. Dia berbeda dengan Rafa, sikap dan penampilannya jauh dari kata mewah dan glamour. Cara hidupnya sangat sederhana, kekayaan yang dia dapat hasil kerja keras setelah hidup penuh dengan kesusahan. Hal itu yang membuat tuan Ardi sangat menghargai sebuah kerja keras. Daripada hanya hidup berfoya-foya.
"Minah, apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana usahamu di sini? Semua lancar, apa Rafa menjagamu dengan baik?" cecar tuan besar Ardi, bu Minah mengangguk pelan. Dia tidak berani menatap orang yang pernah berjasa pada hidupnya. Tuan Ardi berbeda dari putra dan putrinya. Tuan Ardi memiliki hati yang baik dan dermawan. Kepindahan bu Minah ke kantin perusahaan. Semua atas persetujuan tuan Ardi.
"Saya sangat baik tuan, usaha saya juga sangat lancar. Tuan Rafa sangat menjaga saya. Dia tidak pernah membiarkan saya dalam kesusahan selama berada di sini!" sahut bu Minah, tuan Ardi mengangguk mengerti. Beliau mengedarkan pandangannya. Seakan sedang mencari sesuatu. Bu Minah hanya diam, dia tidak berani bertanya. Apa yang sedang di cari oleh tuan Ardi.
"Minah, siapa gadis yang membuat Rafa kelabakan akhir-akhir ini? Dimana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin melihat, gadis yang membuat cucuku Rafa tak berkutik!" ujar tuan Ardi santai, bu Minah bingung mendengar pertanyaan tuan Ardi. Dia tidak mengetahui, siapa orang yang dimaksud?
"Maksud tuan Ardi siapa? Saya tidak pernah melihat tuan Rafa bersama seorang wanita kemari? Bahkan saya tidak pernah mendengar, ada gosip tentang tuan Rafa. Sungguh tuan Ardi, saya tidak mengetahui siapa wanita itu?" ujar bu Minah lirih, tubuhnya bergetar hebat. Dia ketakutan mendengar perkataan tuan Ardi. Bu Minah tidak ingin disalahkan dan dianggap membantu menyembuyikan pacar Rafa.
Hana masuk ke dalam kantin. Seperti biasa Hana akan pergi ke mushola di jam seperti ini. Hana melakukan sholat sunah. Bu Minah mengizinkan Hana, karena di jam seperti ini kantin masih sangat sepi. Tuan Ardi melihat Hana dengan seksama. Gadis berhijab panjang dengan gamis indahnya. Tuan Ardi tersenyum, dia kini mengetahui alasan di balik sikap aneh Rafa akhir-akhir ini!
"Apakah dia gadis yang membuat Rafa frustasi? Minta dia melayaniku, aku ingin melihat alasan Rafa menyukai gadis ini. Ingat jangan pernah katakan, siapa sebenarnya aku padanya? Aku ingin mengenalnya tanpa status seorang Ardi Prawira!" ujar tuan Ardi tegas, bu Minah mengangguk. Dia menyusul Hana yang berjalan menuju dapur. Bu Minah meminta Hana melayani tuan Ardi, tanpa mengatakan siapa sebenarnya orang yang akan dilayaninya?
"Iya, tuan ada yang bisa saya bantu! Anda ingin memesan apa?" tawar Hana sopan, tuan Ardi menatap Hana lekat. Dia menelisik seluruh bagian wajah Hana, penampilan Hana yang tertutup. Wajah Hana yang cantik tanpa polesan make up, sederhana tapi menyejukkan mata. Senyum manis Hana, keramahan Hana saat menyapa. Sedikit membuat seorang tuan Ardi Prawira senang. Dia melihat pribadi yang jauh berbeda dari keturunannya yanga mulai terperangkap dalam kemewahan.
"Buatkan aku makanan yang paling enak. Namun aku hanya inging makanan yang kamu masak sendiri!" pinta tuan Ardi tegas penuh wibawa.
"Tuan, saya hanya bisa memasak makanan kampung. Namun jika tuan menghendaki masakan modern, bu Minah bisa. Akan aku minta beliau yang memasak untuk tuan!" tolak Hana sopan, tuan Ardi menggeleng lemah.
"Aku bisa mengkonsumsi makanan apapun. Kamu buatkan makanan yang kamu bisa. Terserah padamu, aku pasti memakannya!" ujar tuan Ardi ramah, Hana mengangguk lalu pergi menuju dapur. Dia bertemu dengan bu Minah, Hana menceritakan pesanan pelanggan tadi. Bu Minah tersenyum mendengar perkataan Hana. Peertama kalinya tuan Ardi meminta seseorang yang baru dikenal, membuatkan makanan sesuai dengan kehendak pemasaknya.
"Silahkan tuan, saya tidak tahu kesenangan anda apa? Saya memasak sesuai kebiasaan. Maaf jika rasanya sedikit hambar, karena saya tidak terlalu menggunakan penyedap. Saya tidak ingin masakan saya mengganggu kesehatan anda!" ujar Hana, tuan Ardi tidak mendengarkan perkataan Hana. Dia fokus pada makanan yang ada di depannya. Masakan sederhana, tumis kangkung dengan telur mata sapi. Masakan yang sangat dirindukan oleh tuan Ardi. Masakan sederhana yang pernah menemaninya di masa tersulit. Suap demi suap tuan Ardi menyantap masakan Hana. Dia merasakan suapan yang penuh dengan kerinduan akan masa lalunya.
"Pantas saja dia memilih makan di kantin. Sekarang aku tahu alasannya!" gumam tuan Ardi lirih, Hana terdiam ketakutan. Dia takut masakan yang dibuatnya tidak sesuai dengan lidah orang ini.
"Aku suka masakanmu. Seandainya aku menawarimu bekerja di rumahku dengan gaji lima kali lipat di sini. Akankah kamu bersedia pindah dari sini?" ujar tuan Ardi, Hana menggeleng.
"Saya bekerja bukan semata mencari gaji yang tinggi. Saya sudah merasa nyaman bekerja di kantin ini. Lagipula bu Minah sudah menganggap saya seperti putrinya sendiri. Sangat tidak mungkin saya meninggalkan beliau!" ujar Hana mantap. Tuan Ardi bangga mendengar jawaban Hana. Sebuah kesetiaan serta ketulusan yang tidak tergantikan oleh harta. Tuan Ardi merasa bahagia jika memang dia wanita yang dicintai Rafa cucunya.
Setelah mendapatkan apa yang dia cari? Tuan Ardi pergi meninggalkan kantin. Sengaja dia membayar lebih, sebagai uang tip untuk Hana. Namun dengan sopan Hana menolak. Hana mengatakan dengan Ramah, seandainya tuan Ardi berlebih. Jauh lebih baik disumbangkan untuk pembangunan masjid atau anak yatim piatu.
Tuan Ardi tertegun mendengar perkataan Hana, bukan sakit hati akan penolakan atau sebuah nasehat. Namun sebuah kesadaran bahwa selama ini dia telah lupa. Bahwa apa yang dia miliki? Ada sebagian hak orang lain. Pertemuannya dengan Hana meninggalkan kesan yang mendalam. Setelah kepergian tuan Ardi, Hana langsung menuju dapur.
Sebaliknya sesaat setelah keluar dari kantin. Tuan Ardi bertemu dengan Rafa yang berjalan tergesa-gesa menuju kantin. Rafa yang mendapat kabar jika kakeknya datang. Segera bergegas menemuinya.
"Apa yang kakek lakukan di kantin? Bukankah tadi pagi kakek sudah sarapan?"
"Aku hanya ingin melihat, dia yang membuatmu frustasi. Ternyata pilihanmu tidak salah. Selain cantik dan sholeha, dia pintar memasak. Wanita yang tidak haus akan hartamu!"
"Maksud kakek apa? Wanita mana? Aku tidak mengerti apa yang kakek katakan?" ujar Rafa sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia sebenarnya sadar arah pembicaraan kakeknya.
"Sudah tidak perlu ditutupi. Kakek sudah tahu, jika memang kamu menyukainya, jadikan dia istrimu. Kakek akan mendukungmu!" ujar tuan Ardi, Rafa diam seribu bahasa. Dia tidak tahu jika kakeknya bisa secepat ini menyadari cintanya pada Hana.
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Anggra
suka dech ma kakek yg baik hati ....ga sombong 🥰🥰
2021-04-12
2
Dwi setya Iriana
kakek yg budiman tahu klo cucunya sedang jatuh cinta
2021-04-11
2
Abel Jihan
klo Rafa suka ama hana gmna hayo crax ngungkapin.... krn slma ini sikap sombongx lah yg d perlihatkan
2021-04-10
2