"Diana, bisa menemaniku menemui kak Rama!" ujar Hana, Diana menoleh melihat Hana datang. Terlihat Diana sedang merapikan beberapa berkas, Hana sengaja datang langsung ke kantor. Lagipula sebentar lagi sudah masuk jam makan siang. Hana tidak ingin bertemu berdua dengan Rama. Apalagi untuk mengatakan sebuah perpisahan. Mungkin sebuah pertemuan yang tidak pernah Rama harapkan.
"Aku bisa menemanimu, tapi aku hanya bisa keluar saat jam makan siang. Masih kurang lima belas menit!" ujar Diana, sembari melihat jam tangannya. Hana mengangguk mengerti, dia memang ingin mengajak Diana untuk makan siang.
"Diana, bolehkah aku menunggumu di sini. Aku janji tidak akan mengganggumu. Kamu bisa tetap bekerja, anggap saja aku tidak ada!" ujar Hana, dia duduk di sofa tak jauh dari meja Diana. Hana menunggu Diana dengan sabar, dia mengambil majalah yang tergeletak di meja. Kedua bola mata Hana tertarik pada artikel dalam majalah itu. Cover majalah tak lain wajah suaminya. Ternyata laki-laki yang menikah dengannya. Bukan laki-laki sembarangan.
Hana larut dalam artikel tersebut. Majalah tersebut mengulas kehidupan seorang Rafa Akbar Prawira, pewaris keluarga Prawira. Majalah juga mengulas kehidupan pribadi Rafa bersama seorang pengusaha sukses lainnya. Seorang wanita karir dengan segudang prestasi. Ternyata kehidupan Rafa berantakan setelah putusnya hubungan mereka berdua. Hana juga membaca sepak terjang Rafa dalam dunia malam. Semua terkupas secara rapi.
Tak lama terdengar suara wanita anggun berjalan menghampiri meja Diana. Dia menanyakan keberadaan Rafa. Dia ingin membuat janji bertemu dengan Rafa. Penampilannya sangat anggun dan modis. Cara bicaranya lembut dan teratur, menunjukkan dia bukan wanita sembarangan. Setelah Diana menghubungi Rafa, wanita itu dipersilahkan masuk.
"Hana, ayo kita pergi. Sudah jam makan siangku, aku harus bergegas. Sebab jam makan siangku hanya satu jam!" ujar Diana memanggil Hana. Seketika Hana berdiri, dia menghampiri meja Hana. Tepat di depan meja Diana yang terletak di samping pintu ruangan Rafa.
"Kak Rafa!" ujar Hana, sontak saja Rafa menoleh. Dia melepaskan pelukan wanita itu, Rafa melihat Hana sedang menatap ke arahnya. Hana menunduk malu, dia melihat apa yang tak seharusnya?
"Hana, ayo kita berangkat!" ujar Diana, sesaat setelah melihat Hana terdiam. Tubuh Hana seolah kaku, dia tidak menyangka akan melihat semua itu. Rafa suaminya sedang memeluk wanita lain, bahkan mereka melakukan hal yang tak seharusnya? Hana marah dan jijik, kenapa dia bisa melihat semua ini?
"Hana!" panggil Diana ketiga kalinya, Hana tersadar dari lamunannya. Segera dia berjalan mengikuti langkah kaki Diana. Mereka berpapasan dengan Adrian di depan pintu lift. Hana menunduk tanpa ingin melihat Adrian. Sedangkan Rafa yang terkejut melihat Hana berada di luar ruangannya, mendorong wanita itu dengan kasar. Rafa sudah tidak peduli dengan wanita itu. Pendapat Hana tentangnya yang mengusik pikirannya.
"Rafa, aku tadi melihat Hana! Dia sepertinya sedang kesal. Aku menyapanya, jangankan menjawab dia malah menundukkan kepalanya!" ujar Adrian santai, Rafa semakin gusar mendengar perkataan Adrian. Sesillia Anastasya wanita anggun yang pernah dekat dengan Rafa. Sekaligus rekan kerja Rafa dalam bisnis dan dunia malam.
"Sesil, kamu ada di sini. Kapan kamu datang dari luar negeri?" ujar Adrian ramah, Sesil hanya tersenyum. Adrian mendekat pada Rafa, dia merasa kekesalan Hana ada hubungannya dengan keberadaan Sesil.
"Apa yang kalian lakukan? Apa Hana melihat semuanya?" bisik Adrian, Rafa mengangguk. Adrian sudah menduga semua karena Sesil.
Kamu tahu sendiri, aku selalu kalah bila dekat dengan Sesil. Sekarang aku bingung harus bagaimana? Hana melihat semuanya, dia akan semakin kesal padaku!" ujar Rafa lirih, Adrian menggelengkan kepalanya. Dia sudah menyerah jika berhubungan dengan asmara Rafa dan Sesil. Mereka berdua saling membenci, tapi akan bersama setelah bertemu.
"Rafa, kita makan siang! Aku sudah lapar!" ujar Sesil, tanpa menunggu persetujuan Rafa. Sesil menarik tubuh Rafa sekuat tenaga. Sesil ingin makan siang bersama Rafa.
Di cafe depan kantor Prawira, Hana sedang bertemu dengan Rama. Mereka sengaja bertemu di sini, agar tidak mengganggu Diana. Hana sudah mantap mengatakan semua yang terjadi selama ini. Dengan berakhirnya pertunangan Rama dengan Hana. Keluarga Rama akan bahagia. Walaupun sebenarnya Hana harus terjebak dalam pernikahan penuh dengan duka.
Setelah mengatakan semua alasan pernikahannya. Bagaimana semua terjadi? Bahkan kehidupan pernikahan yang harus Hana sembuyikan dari orang lain. Hana dan Rama memutuskan menjalin pertemanan. Kekecewaan Rama akan sedikit terobati dengan pertemanan yang terjalin. Diana memeluk erat Hana. Dia tidak menyangka, jika sahabatnya harus menikah dengan cara seperti ini.
"Sudahlah Diana, aku tidak semerana itu. Kamu tidak perlu mengasihaniku. Doakan saja aku tetap bisa bertahan. Apa yang terjadi sudah tertulis? Lagipula tidak akan ada sedih selamanya, pasti akan ada bahagia."
"Kamu benar Hana, mungkin saja cintaku yang menang. Sekarang aku mengalah, nanti aku yang akan menjadi pemenangnya!" ujar Rama, dia berpikir akan mendapatkan Hana meski sudah menjadi janda. Hana dan Diana tertawa mendengar perkataan Rama.
"Kak Rama, ada Diana yang lajang. Malah berharap aku yang menjadi janda. Sungguh kamu keterlaluan!" ujar Hana, Rama akhirnya tertawa mendengar gurauan Hana. Diana menyikut lengan Hana.
"Jangan bawa-bawa aku dalam cinta segitga kalian!"
"Bukan cinta yang segitiga, tapi tepung cap segitiga yang ada!" ujar Hana menimpali, seketika mereka tertawa bersama. Semua kesedihan menghilang tak tersisa. Hana melupakan semua yang dia lihat. Rama melupakan kandasnya pertunangannya dengan Hana. Sebaliknya Diana melupakan sejenak dirinya yang masih jomblo.
Terdengar pintu cafe dibuka, masuk tiga orang beriringan. Rama yang melihat Rafa dan Adrian mengangguk menyapa. Sedangkan Diana sudah biasa mengacuhkan mereka jika di luar jam kantor. Rafa membalas Rama dengan senyuman. Hanya Hana yang terua menunduk, dia tidak ingin melihat Rafa dengan wanita itu. Apalagi mereka dalam posisi berpelukan. Mereka menunjukkan bahwa mereka menjadi pasangan yang paling romantis.
"Diana, aku pamit ke toilet sebentar. Setelah itu kita pulang!" ujar Hana, Diana mengangguk. Hana berjalan perlahan menuju toilet. Dia melewati meja Rafa, tapi tak sedikitpun Hana menoleh.
"Hana!" sapa Rafa, Hana menoleh lalu berjalan menjauh. Hana mengacuhkan Rafa, dia tidak ingin kedekatan mereka dilihat orang lain. Rafa mulai kesal melihat Hana mengacuhkannya.
"Hana, berhenti aku ingin bicara denganmu!" ujar Rafa kasar, dia menarik tangan Hana. Seketika tubuh Hana menabrak tubuh Rafa. Mereka saling berpelukan, sekuat tenaga Hana mendorong tubuh Rafa agar menjauh.
"Lepaskan, aku tidak ingin orang salah paham melihat kita. Aku harus segera pulang. Diana menungguku, dia harus segera bekerja!" ujar Hana, dia berjalan menjauh dari Rafa. Namun Rafa menahan tangan Hana, Rafa tidak membiarkan Hana pergi.
"Hana, kamu salah paham. Aku dan dia sudah tidak memiliki hubungan! Tidak seharusnya kamu membalasku dengan tertawa bersama Rama!"
"Kak Rafa, tidak ada yang butuh penjelasanmu. Siapapun wanita itu? Aku bukan siapa-siapamu yang berhak marah? Kak Rafa, lepaskan tanganku. Aku masih harus wawancara kerja. Aku tidak ingin datang terlambat!"
"Hana, cukup semua yang kamu katakan! Aku tahu semua salahku. Aku memang laki-laki tidak baik!" ujar Rafa lirih, dia merasa tidak pantas bersama Hana.
"Lepaskan tanganku, aku harus menemui Diana" ujar Hana dingin, Rafa melepaskan tangan Hana. Rafa tidak ingin menahan Hana lagi. Hana berjalan menjauh dari Rafa.
"Kak Rafa!" sapa Hana ramah, Rafa mendongak menatap ke arah Hana.
"Baik tidaknya seseorang tidak bisa diukur dengan penglihatan mata. Namun tidak akan pernah baik, seseorang jika dia terus mengulang kesalahan yang sama. Aku tidak akan memaksa kak Rafa berubah. Namun aku juga berharap, kak Rafa tidak menginginkanku berubah. Pernikahan kita sebuah jalan takdir, yang harus kita jalani suka atau tidak suka. Jangan pernah memaksakan dirimu sama denganku. Sesungguhnya kita jauh berbeda. Aku lemah di depanmu, dalam hal status dan harta. Kamu lemah di depanku, dalam hal iman dan kesetiaan. Mari kita jalan masing-masing. Aku tidak akan menuntut apapun darimu! Namun aku pastikan akan melakukan kewajibanku sebagai seorang istri. Kamu imamku dan surgaku, tidak akan ada berkah di setiap langkahku tanpa izin darimu!" tutur Hana lirih, Rafa menunduk malu. Perkataan Hana bagai sebuah belati yang menyayat hati dan harga diri Rafa. Dia merasa sangat rendah, Rafa tidak pernah merasa sehina ini. Dia merasa sangat bersalah.
"Hana, maafkan aku!"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kita memang berbeda, permisi aku pamit pulang. Salam untuk wanita yang pernah mengisi hatimu. Sesillia Anastasya, dia wanita anggun dan berkelas. Kalian terlihat serasi, jika memang kamu mencintainya. Halalkan dia, lepaskan aku" ujar Hana tegas, Rafa menggeleng. Hana mengacuhkan jawaban Rafa.
"Jangan pernah berpikir meninggalkanku!" ujar Rafa sembari memeluk Hana dari belakang.
"Aku tetap di sini, sampai kamu yang mengusirku. Kamu hadiah terakhir kakekku, aku akan menjaga hubungan ini sebaik mungkin!" ujar Hana, sembari melepaskan pelukan Rafa. Hana pergi meninggalkan Rafa tanpa menoleh lagi. Hana tidak sakit hati melihat Rafa bersama wanita lain. Namun Hana merasa hina, karena tidak bisa membela keluarganya. Semua itu demi permintaan Rafa suaminya yang ingin menyembuyikan pernikahannya.
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
💕apip 66🌱🐛💕
dalem banget ya kata² Hana buat Rafa 😢
2021-08-04
1
itin
authornya bak sang pujangga banyak kata kata puitisnya yang sangat manclep langsung kehati
2021-05-17
1
Rasyha Nailu R
nancep banget sampai ke hati
2021-04-24
2