Terlihat seorang wanita berdiri diantara persawahan yang terbentang luas.Wanita berhijab yang terlihat menawan dengan menggunakan gamis panjang. Dia sedang menatap sang mentari pagi. Sang fajar terbit membawa kehangatan dan semangat baru. seorang wanita yang tak lain, Hana Khairunnisa.
Hampir satu bulan lebih Hana berada di desa ini. Jauh dari keramaian kota. Hana memutuskan pergi mengunjungi keluarga dari ayahnya. Kebetulan salah satu kakak ayahnya meninggal, sedangkan sang kakek sedang sakit. Hana sementara merawat kakek yang lama tak pernah dia temui.
Keluarga Hana berasal dari desa terpencil. Jauh dari kota tempat tinggal Hana saat ini. Butuh sekitar 5 jam perjalanan untuk sampai di kota. Sedangkan menuju desanya, butuh waktu hampir 2 jam. Hana baru pertama kalinya datang ke desa ini. Dia tidak pernah menyangka, jika sang ayah berasal dari desa yang sangat jauh. Butuh waktu hampir 7 jam lebih, agar sampai di desa ini.
Namun rasa lelah Hana terbayar lunas. Dia melihat betapa indahnya pemandangan desa. Sangat alami dan sejuk, sawah dan pegunungan yang terbentang di sekitar desa. Awalnya Hana hanya akan tinggal selama seminggu atau lebih. Namun dia enggan meninggalkan desa ini. Dia terlanjur jatuh hati pada keindahan dan alaminya pemandangan desa.
Sebelum berangkat Hana sudah mengatakan pada Rama. Hanya dua orang yang tahu, jika Hana tidak ada di kota tersebut. Diana satu-satunya sahabatnya yang mengetahui keberadaan Hana. Namun sesuai permintaan Hana, Diana dilarang mengatakan pada siapapun? Terutama kepada bos besar yang sombong, Rafa Akbar Prawira.
"Hana, sudah siang! Kita harus pulang, kakek pasti sedang mencarimu. Dia tidak ingin jauh darimu. Ayo kita segera pulang!" ujar Salsa lantang, dia sepupu dari Hana. Selama di desa ini. Salsa satu-satunya teman untuknya. Mereka bahkan berbagi tempat tidur.
"Sebentar lagi, Aku belum puas melihat mentari pagi. Tubuhku belum terasa hangat, kekek sudah bisa mengerti kebiasaanku selama di sini. Jika di kota aku tidak akan pernah bisa melihat semua ini. Sekarang aku ingin melihatnya sepuas mungkin!" ujar Hana santai, Salsa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Hana senang melihat mentari. Maklum saja Hana melakukan semua itu. Dua hari lagi, dia akan kembali ke kota.
"Salsa, sudah waktunya aku kembali ke kota. Aku harus melanjutkan hidupku di sana. Rumah peninggalan ayah dan ibu, sudah terlalu lama aku tinggal." ujar Hana serius, Salsa menganggguk.
"Kapan rencananya kamu akan pulang? Apa kakek sudah mengijinkan?" ujar Salsa, Hana mengangguk.
"Dua hari lagi, kakek sudah mengetahuinya. Bahkan beliau yang memintaku segera kembali!" ujar Hana, raut wajah Salsa berubah sedih. Dia berhambur memeluk Hana. Saudara yang baru saja dia temui. Harus kembali pergi dan menjauh.
"Aku pasti akan merindukanmu. Seandainya aku boleh ikut denganmu. Pasti aku akan senang. Namun jika aku pergi, kasihan kakek sendirian di sini!" ujar Salsa lirih, Hana mengangguk pelan. Dia memahami sikap Salsa yang sedih mendengar kepergiannya. Hubungan yang baru terjalin, tapi penuh dengan kasih sayang.
Di sisi lain dunia ini, tepatnya ruangan CEO muda Rafa Akbar Prawira. Terlihat seorang pemuda sedang berkutat dengan berkas-berkasnya. Setelah kepergian Hana sebulan yang lalu. Rafa menjadi pemimpin yang arogan. Dia bekerja siang dan malam tanpa henti. Setelah pulang dari kantor, Rafa akan datang melihat rumah Hana. Berharap wanita berhijab sudah pulang ke rumahnya.
BRAAAKKK
Rafa membanting berkas dengan sempurana. Terlihat kertas-kertas berceceran. Adrian yang kebetulan masuk, terkejut melihat kertas berserakan di lantai. Segera Adrian memanggil Diana. Sedangkan Rafa menunduk sembari menutup kepalanya. Terlihat jelas dia sangat frustasi.
"Rafa, sudah cukup kamu menyalahkan diri. Hana pergi bukan, karena kemarahanmu. Dia pergi ada urusan keluarga. Diana saja sahabatnya, tidak mengetahui keberadaannya!" ujar Adrian menenangkan, Rafa membisu. Sebaliknya tubuh Diana bergetar. Dia sengaja menyembuyikan kenyataan. Bahwa Diana tahu keberadaan Hana.
"Dimana detective yang kamu sewa? Mencari satu orang saja. Dia tidak bisa, lalu buat apa dia dibayar mahal?" ujar Rafa emosi, Adrian terdiam. Diana yang sedang merapikan kertas yang berserakan, melihat jelas kegelisahan Rafa.
"Dia masih terus mencari keberadaan Hana. Tenang saja, kita pasti bisa menemukannya. Kamu harus sabar dan tenang. Aku yakin kita bisa menemukannya!"
"Kamu pikir selama sebulan, belum cukup sabar. Hana menghilang tanpa kabar. Jika terjadi sesuatu padanya, aku harus bagaimana?" ujar Rafa lirih, Adrian mendekat pada Rafa. Dia menepuk pundak Rafa pelan.
"Kita pasti bisa menemukannya. Aku akan menanyakan pada Diana. Mungkin saja Hana menghubunginya!" ujar Adrian, Rafa mendongak. Dia baru sadar, jika Diana satu-satunya sahabat Hana. Rafa berjalan mendekat pada Diana. Dia akan menanyakan lagi keberadaan Hana.
"Diana, dimana temanmu Hana? Aku tahu kamua pasti mengetahuinya!" ujar Rafa dingin, Diana menggeleng lemah. Dia mulai terlihat gugup, menandakan dia sedang berbohong. Rafa melihat ketakutan di kedua mata Diana. Rafa semakin mendesaknya, dia mulai yakin jika Diana mengetahui keberadaan Hana.
"Diana, jangan diam saja! Katakan dimana Hana sekarang? Aku hanya ingin meminta maaf. Katakan sekarang, jika tidak aku akan mencari tahu sendiri." ujar Rafa lirih, Diana tetap menggleng lemah. Dia tidak mengatakan yang sebennrnya. Tiba-tiba suara ponsel Diana berdering. Diana melirik nama yang tertulis di layar ponselnya. Diana terkejut melihat Hana yang sedang menghubunginya. Segera mematikan ponselnya sebelum Rafa menyadarinya.
"Diana, siapa yang mengubungimu? Hana yang sedang menghubungimu! Berikan poselnu padaku. Aku akan memeriksanya sendiri! Awas saja jika kamu menyembunyikan Hana dariku!" ujar Rafa ketus, Diana bimbang ingin memberikan ponselnya. Dia tidak ingin Rafa mengetahui. Hana baru saja menghubunginya.
"Tapi tuan Rafa, kenapa harus memeriksa ponsel saya! Hana tidak pernah menghubungi saya!" ujar Diana berbohong, Adrian mendekat pada Diana.
"Berikan ponselmu, sebelum Rafa semakin marah. Kamu tidak tahu, semalaman dia menunggu Hana di depan rumahnya. Rafa bisa lebih gila dari semalam. Jika kamu ketahuan menyembuyikan Hana. Tunjukkan saja ponselmu, biar dia puas!" bisik Adrian, Diana mengangguk ragu. Dengan tangan bergetar, Diana memberikan ponselnya. Dia takut membayangkan amarah Rafa. Saat mengetahui Diana telah berbohong. Rafa mengambil ponsel Diana dengan cepat.
"Diana, katakan maksud kamu apa dengan berbohong padaku?" ujar Rafa emosi, Adrian melirik ke arah Diana. Dia merebut ponsel Diana dari Rafa. Adrian merasa ada yang aneh, ternyata Hana baru saja menghubungi Diana. Panstas saja Rafa marah pada Diana.
"Maaf tuan Rafa, Hana tidak mengizinkan saya mengatakan keberadaannya pada siapapun? Terutama kepada anda. Hana ingin menenangkan diri sebentar. Setahu saya, Hana akan kembali dalam dua hari. Jadi saya pikir, tidak ada bedanya anda mengetahui keberadaan Hana sekarang!" ujar Diana menjelaskan alasan yang dikarangnya.
"Kamu pikir mencari Hana selama satu bulan itu tidak penting. Jika kedatangannya dua hari lagi tidak ada bedanya. Buat apa aku semarah ini padamu? Kamu jelas tahu, seberapa keras aku mencarinya. Dengan santainya kamu menganggap itu tidak berarti!" ujar Rafa marah, Diana menunduk merasa bersalah.
"Adrian, siapkan mobilku sekarang? Aku akan datang menjemputnya. Jika dia tidak bersedia pulang denganku. Aku akan membuatnya menikah denganku. Meski untuk itu aku harus memaksanya. Sementara Ponsel Diana aku yang bawa. Belikan dia ponsel yang baru!" ujar Rafa tegas, dia keluar dari ruangannya bersama Adrian. Tinggalah Diana mematung sendiri.
"Hana, kenapa kamu harus berurusan dengan tuan Rafa? Apa yang pernah kamu lakukan untuknya? Sampai dia begitu ingin menemuimu. Haruskah aku bahagia atu bersedih untukmu, Hana!" batin Diana.
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Dwi setya Iriana
lanjut lanjut❤💙❤💙❤💙❤💙cinta dan harapan akan berjalan beriringan.
2021-04-11
2
Maria Agustina Bungalay
sultan mahhhh bebas euyy
2021-04-10
2
Audrey_16
like like like 💜
2021-03-21
0