Beberapa hari ini Hana datang tanpa sepeda motor matic kesayangannya. Hujan yang turun hampir setiap hari, membuat sepeda motor tuanya mogok. Alhasil sepeda motor Hana harus keluar masuk bengkel, semenjak sering kehujanan. Hana memutuskan menggunakan angkutan umum untuk pergi bekerja.
Semenjak Hana menggunakan kendaraan umum. Bu Minah selalu memintanya pulang lebih awal. Hana pulang satu jam lebih cepat dari biasanya. Sebab saat sore hari angkutan umum terkadang jarang. Apalagi kondisi hujan seperti ini. Kebanyakan orang menggunakan jasa Ojek online atau taxi online.
Sekitar pukul 15.00 wib, Hana sudah keluar dari perusahaan Prawira. Dia sengaja pulang lebih awal, agar mudah mendapatkan angkutan umum. Saat berjalan di lobi, tanpa Hana sadari ada sepasang mata yang mengawasinya. Dua bola mata indah yang sengaja menjauh hanya karena rasa cemburu dan kesal. Sepasang mata indah milik Rafa Akbar Prawira. Pemimpin tertinggi perusahaan ini.
"Hmmmm, jangan terlalu serius menatapnya. Lihat dua bola matamu seakan hendak meloncat melihat Hana. Tidak perlu gengsi, jika cinta katakan. Sebelum janur kuning benar-benar melengkung" goda Adrian pada Rafa, sontak saja Rafa seketika menoleh. Dia melihat Adrian berdiri tepat di sampingnya.
"Sejak kapan kamu disini? Datang tanpa suara!" ujar Rafa kesal, Adrian senyum-senyum sendiri. Dia melihat Rafa yang salah tingkah, karena keciduk sedang memperhatikan Hana.
"Aku bukan datang tanpa suara. Kamu yang terlalu serius melihat Hana. Meski ada petir di atas kepalamu. Kamu juga tidak akan mendengarnya. Sebab kamu hanya memikirkan dan memperhatikan Hana!" sahut Adrian santai, Rafa menoleh menatap tajam ke arah Adrian yang terlalu banyak bicara.
"Diam kamu, apa kamu ingin menggosipkanku dengan pelayan kantin itu. Jangan sampai itu terjadi. Aku pastikan akan membuatmu membayar lunas. Kamu tunggu saja perhitunganku!" ancam Rafa, Adrian mengangguk seakan ingin melihat amarah Rafa. Walai sebenarnya Rafa juga berharap bisa bersama Hana. Namun harga diri Rafa terlalu tinggi. Dia tidak ingin menjadi pergunjingan satu kantor, karena memiliki hubungan dengan pelayan kantin.
"Kita lihat Rafa, seberapa kuat kamu menahan hasratmu. Jangan menyesal jika Hana, benar-benar menjadi milik Rama. Saat semua itu terjadi, kamu hanya akan gigit jari. Kita lihat saja!" balas Adrian jauh lebih percaya diri. Sebab Adrian yakin hanya Hana yang bisa merubah Rafa saat ini. Meski Hana tak pernah menyadari.
"Diam kamu!" sahut Rafa ketus, Adrian mengangguk seraya tersenyum. Dia ingin melihat Rafa yang jauh lebih baik bila bersama dengan wanita seperti Hana. Adrian sudah lelah melihat sahabatnya berhubungan dengan wanita yang haus akan hartany. Meski Rafa hanya menganggap mereka sebagai sebuah permainan. Rafa akan membuangnya bila sudah bosan, sebaliknya Rafa akan menyayanginya disaat dia membutahkannya.
Terlihat Hana berjalan menjauh dari lobi. Hana berjalan dengan sedikit menunduk, apalagi bila berhadapan dengan laki-laki yang bukan mukrimnya. Dengan menunduk Hana merasa adem, dia bisa menjaga pandangannya dari zina mata. Rafa yang diam-diam memperhatikan Hana merasa kesal. Sebab jika dengan menunduk, Hana akan sulit melihat jalan di depannya.
"Kenapa berjalan dengan menunduk? Jika dia kepentok dinding bagaimana? Seharusnya dia menatap lurus ke depan. Agar semua orang tidak meremehkannya." batin Rafa kesal. Dia selalu berharap Hana menjadi pribadi yang kuat dan tegas.
Hana sudah sampai di halte dekat kantornya. Langit sore ini sangat mendung dan disertai angin. Suara petir bergemuruh saling bersahutan. Hana tidak takut petir, yang kini hanya takutkan. Tidak mendapatkan angkutan umum. Jika semua terjadi, Hana harus pulang menggunakan apa?
Rafa yang keluar kantor setelah Hana.Tanpa sengaja melihat gadis berhijabnya duduk sendiri sedang menunggu angkutan umum. Awalnya Rafa akan meninggalkan Hana, tapi dia batalkan. Rafa tidak tega melihat Hana sendirian. Entah bisikan darimana yang membuat Rafa sangat khawatir pada Hana.
Hampir satu jam Hana menunggu angkutan umum. Namun tak satupun yang lewat, Hana mulai cemas dan takut. Suara petir terdengar sangat keras, menandakan akan turun hujan. Angin bertiup sangat kencang, bahkan hijab Hana hampir terlelas tertiup angin yang sangat kencang.
Rafa mulai khawatir, melihat Hana yang tak kunjung mendapatkan angkutan umum. Rafa bimbang meninggalkan Hana atau mengantarnya pulang. Lama Rafa berpikir, tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya. Hana berteduh di dalam halte yang mulai rusak. Angin kencang membuat hujan membasahi hijab Hana.
TIN TIN TIN
Terdengar suara klakson mobil berkali-kali. Hana mendongak melihat tak jauh dari tempatnya. Berhenti sebuah mobil sport keluaran terbaru. Hana diam tak bergeming, dia tidak merasa mengenal mobil itu. Hana mengacuhkan mobil tersebut, Hana berpikir orang dalam mobil salah mengenali. Hana memeluk tubuhnya yang basah, dia mulai merasa kedinginan. Rafa merasa marah, melihat Hana mengangcuhkannya.
"Masuk, jangan semakin membuatku kesal!" ujar Rafa marah, dia turun dari mobil tanpa menggunakan payung. Derasnya hujan dengan cepat membuat Rafa basah kuyub.Kedua bola mata Hana membulat sempurna. Dia tidak menyangka, jika pria dalam mobil itu pemilik perusahaan tempat kantinnya berada.
"Masuk!" ujar Rafa kasar, dia membuka pintu depan mobilnya. Hana diam tak bergeming. Sangat tidak mungkin bagi Hana duduk berdua dalam satu mobil. Rafa menatap tajam ke arah Hana. Tubuh Rafa sudah basah sempurna, bibirnya mulai membiru karena kedinginan. Hujan turun dengan sangat deras, seolah tak memberi ampun pada setiap makhluk yang disiramnya.
"Aku sudah katakan masuk, jangan membuatku semakin marah. Kamu ingin aku berbuat kasar! Kamu tidak lihat aku sudah basah kuyub. Jika dalam hitunga ketiga kamu tidak juga masuk. Jangan salahkan aku, jika aku akan menggendongmu masuk ke dalam mobil!" ancam Rafa, Hana tetap diam. Dia bingung hendak memilih yang mana? Jika dia tidak masuk mobil, itu artinya dia membiarkan Rafa menyentuhnya. Tentu saja Han tidak akan pernah berharap semua itu terjadi. Jika dia masuk ke dalam mobil, sama saja dia berduaan dengan yang bukan mukhrim.
"Satu, dua, tiiii...!" ujar Rafa, secepat kilat Hana berlari masuk ke dalam mobil. Menerobis derasnya hujan, dia tidak ingin Rafa menggendongnya. Meski tidak terlalu mengenal Rafa, Hana sedikit mendengar. Jika Rafa tipe orang yang tegas dan selalu melakukan apa yang dia katakan?
"Jika sejak awal kamu bersedia masuk ke dalam mobil. Tentu aku tidak perlu basah kuyub!" ujar Rafa kesal, sesaat setelah memasuki mobilnya. Hana mendekap tubuhnya yang mulai terasa dingin. Rafa lupa jika AC mobil menyala, seketika Rafa mematikannya. Di dalam mobil Rafa membuka bajunya yang basah, dia menggantinya dengan T-shirt pendek. Han sedikitpun tidak menoleh pada Rafa. Dia menunduk agar tidak melihat Rafa yang sedang berganti pakainan.
Bug
"Pakai itu untuk mengurangi dinginmu. Nanti kita berhenti di mini market. Sekadar untuk mencari minuman hangat!" ujar Rafa dingin, sembari melempar jaketnya tepat ke tubuh Hana.
"Terima kasih!" ujar Hana lirih, Rafa menoleh heran. Dia tidak menyangka jika akhirnya Hana bersedia bicara dengannya.
"Aku pikir kamu bisu dan tuli. Sejak tadi aku bertanya, kamu diam tanpa sedikitpun ingin mengucapkan menanggapi!" sahut Rafa kesal, dia merasa aneh bila saat Hana berbicara padanya. Suara yang dikenalnya dulu, kini sedang berada disampingnya.
"Maaf, jika saya salah lagi!" ujar Hana, Rafa mengacuhkan Hana. Dia sedang mencoba menutupi rasa gugupnya. Berada dalam satu mobil yang sama dengan Hana. Rafa pura-pura fokus mengemudikan mobilnya. Membelah derasnya hujan.
TERIMA KASIH😊😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Dwi setya Iriana
dua sifat yg bertolak belakang
2021-04-11
1
Audrey_16
hadir Thor 💜
2021-03-21
0
Laura hussein
gak sabar nunggu Up-nya 👌
karya terbaik mu patut diacungi jempol kak 👍
favorit 👌
2021-03-02
0