"Pak Rafa, tunggu sebentar saya butuh tanda tangan bapak!" panggil Diana sopan pada Rafa yang hendak keluar dari ruangannya. Semenjak sarapan dengan nasi goreng buatan Hana, Rafa semakin sering sarapan di kantin. Dia selalu meminta Hana sendiri yang menyiapkannya. Begitu juga pagi ini, Rafa berniat pergi ke kantin untuk sarapan.
"Cepatlah Diana, aku sudah lapar. Aku belum sempat sarapan tadi di rumah!" ujar Rafa berbohong, Diana bergegas mengambil berkas yang perlu ditandatangani Rafa. Adrian berjalan mendekat pada Rafa. Sebenarnya akan ada rapat sepuluh menit lagi. Adrian datang untuk mengingatkan Rafa.
"Rafa, kita segera berangkat. Mungkin mereka sudah menunggu kita!" ajak Adrian, Rafa menggeleng lemah. Kemudian memberikan berkas yang sudah ditandatangani pada Diana.
"Pergilah dulu, aku menyusul. Kalau perlu mulai rapat tanpa aku!" ujar Rafa dingin, dia berjalan meninggalkan Adrian yang bengong melihat sikap Rafa yang sedikit aneh.
"Tidak perlu terkejut, pak Rafa pergi ke kantin. Dia belum sarapan, untuk itu dia akan sarapan di kantin!" ujar Diana, Adrian mengangguk seraya tersenyum.
"Diana, sahabatmu benar-benar spesial. Dia telah membuat Rafa Akbar Prawira berubah!"
"Maksud pak Adrian apa? Bukannya setiap bertemu Hana, pak Rafa selalu memarahinya. Sudah jelas pak Rafa sangat membenci Hana! Pak Adrian yang aneh, memangnya minuman sisa malam minggu kemarin belum hilang!" ujar Diana, Adrian menatap tajam ke arah Diana.
"Kata siapa kami minum? Kami memang pergi ke club, tapi belum sempat kami minum. Rafa mengajak pulang, dia terlihat aneh!" ujar Adrian.
"Terserah pak Adrian, saya harus menyelesaikan semua ini. Sebelum pak Rafa datang!" ujar Diana ketus, meninggalkan Adrian yang sibuk bermain dengan pikirannya.
Sesampainya di kantin, Rafa langsung duduk di tempat biasanya. Kantin masih sepi, sebab hari masih sangat pagi. Bu Minah datang melayani Rafa. Namun anehnya bukan memesan makanan, Rafa menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia seolah sedang mencari sesuatu.
"Tuan Rafa, ingin pesan makanan apa?"
"Bu Minah, kemana dia si pelayan kantin?" ujar Rafa ketus, menutupi fakta bahwa dia sedang mencari Hana.
"Hana, tidak masuk pagi ini. Dia mengatakan sedang demam. Kemarin sore sepulang dari sini, Hana kehujanan" ujar Bu Minah, Rafa mengangguk lalu berdiri hendak pergi.
"Maaf aku tidak berselara makan! Semuanya sudah lenyap, lebih baik aku pergi sekarang." ujar Rafa kesal, dia tidak jadi sarapan. Bu Minah bingung melihat sikap aneh Rafa.
Akhirnya Rafa berjalan menuju ruang rapat dengan perut yang kosong. Pertama kalinya dia tidak ingin menyantap masakan bu Minah. Rafa hanya ingin sarapan, bila masakan itu dibuat oleh Hana. Rafa mulai bergantung pada Hana. Meski Rafa selalu mencoba mengingkarinya.
Setelah kehujanan kemarin sore, tubuh Hana demam. Biasanya Hana baik-baik saja meski dia kehujanan. Namun mungkin tubuh Hana sedang lemah, karena itu dia jatuh sakit. Hana meminta izin pada bu Minah tidak masuk kerja. Sebab kepalanya sangat pusing.
Rumah Hana sangat sederhana. Hanya ada dua kamar dengan satu kamar mandi. Dapur kecil yang selalu tertata rapi. Hana jarang masak, tapi setiap Hana di rumah dia lebih senang memasak. Hana berjanji tidak akan meninggalkan rumah ini. Dia akan merawat rumah peninggalan kedua orang tuanya.
Hana bukan pribadi pemalas, itu sebabnya Hana mulai bosan jika terus berbaring. Hana memutuskan berada di ruang tengah untuk menonton TV bersama. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Hana bergegas membukannya. Hana terkejut melihat tamu yang datang. Mereka tak lain, kedua orang tua Rama. Laki-laki yang dengan tegas meminang Hana. Namun belum mendapatkan restu kedua orang tuanya.
"Assalammualaikum!" sapa seseorang di luar. Hana bergegas membuka pintu.
"Waalaikumsalam" sahut Hana, sembari membuka pintu. Kedua bola mata Hana membulat sempurna. Tamu yang sengaja datang ke rumah sederhananya. Tidak lain kedua orang tua Rama. Meski dengan perasaan takut, Hana mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.
Setelah mereka duduk, Hana segera membuatkan minuman untuk kedua orang tua Rama. Hana meletakkan minuman dengan sangat hati-hati. Lalu Hana duduk di depan mereka. Kedua orang tua Rama, bukan orang sembarangan. Mereka orang terpandang di lingkungan tempat tinggal Hana.
"Hana, kami merasa kamu sudah mengenal kami dengan sangat baik. Meski Rama tidak menceritakan tentang kami padamu. Kamu tentu mengenal kami dari lingkungan sekitar!" tutur ayah Rama ramah, Hana mengangguk pelan.
"Hana, kami datang kemari dengan maksud ingin memintamu membatalkan pertunanganmu dengan Rama. Bukan kami tidak menyukaimu, tapi Rama memiliki keluarga besar yang tidak akan mudah menerimamu. Demi kebaikan bersama, kami minta padamu. Batalkan pertunangan diantara kalian!" ujar ibu Rama, Hana menunduk terdiam.
Sebenarnya sampai saat ini, Hana belum yakin akan rasanya pada Rama. Bahkan mungkin cinta itu belum ada. Hana menerima pinangan Rama, karena Rama laki-laki pertama yang mengajaknya menikah. Meski Rama mengetahui latar belakang keluarga Hana.
"Maaf sebelumnya, bapak dan ibu terima kasih bersedia datang ke gubuk saya. Bukan hanya saya, hampir seluruh warga lingkungan sini mengenal keluarga anda. Tentang masalah pertunangan saya dengan kak Rama. Sebenarnya saya tidak bisa membatalkannya, kecuali kak Rama yang memintanya. Bukan saya tidak bersedia, tapi secara agama. Saya tidak berhak menerima pinangan orang lain. Sebelum pinangan pertama dibatalkan."
"Intinya kamu akan tetap bertunangan dengan Rama. Apa semua ini karena kekayaan kami? Jika iya, berapa yang kamu minta? Kami akan membayarnya, asalkan kamu bersedia membatalkan pertunangamu dengan Rama!" ujar ayah Rama sinis, Hana menggeleng seraya tersenyum.
"Tidak perlu tuan membayar saya. Masalah pertunangan kami, akan saya usahakan kak Rama membatalkannya. Saya menerima pinangan kak Rama, bukan karena harta yang dimilikinya. Sebab harta tidak terlalu berarti, dalam pernikahan hanya butuh saling mengerti dan menghargai. Percayalah pada saya, secepatnya saya akan meminta kak Rama membatalkan pertunangannya dengan saya!"
"Kamu yakin akan membatalkan pertunangan itu. Kamu tidak menyesal melakukan semua itu?" ujar ayah Rama tidak percaya.
"Demi permintaan orang tua, tidak akan ada kata menyesal dalam hidup saya. Kasih sayang anda pada kak Rama, jauh lebih besar daripada kasih sayang saya padanya. Jadi sudah seharusnya, saya membantu kak Rama membalas budi baik anda. Mungkin ini pertemuan pertama kita, tapi aku berharap bukan pertemuan yang terakhir." ujar Hana, kedua orang tua Rama mengangguk pelan. Setelah merasa urusannya selesai, kedua orang tua Rama pamit undur diri.
Sepeninggal orang tua Rama, Hana memikirkan cara untuk berbicara dengan Rama. Dia akan meminta Rama membatalkan pertunangan mereka. Hana tidak berharap menikah tanpa restu kedua orang tua Rama.
"Aku tercipta, karena ada seorang laki-laki yang kehilangan tulang rusuknya. Jika memang bukan Rama pemilik tulang rusuk yang hilang. Lebih baik akan menuruti keinginan orang tua Raman, untuk membatalkan pernikahanku! Tidak ada kata bahagia, bila ada hati orang tua yang terluka!" batin Hana.
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Rasyha Nailu R
hana wanita solehah idaman seitap laki laki
2021-04-24
2
Dwi setya Iriana
wanita saleha idama setiap lelaki.
2021-04-11
2
Audrey_16
hadir Thor 💜💜
salam dari
LOVE YOUR DADDY
BECAUSE LOVE YOU
I STILL WANT YOU
I CAN'T HAVE YOUR HEART
Terimakasih Thor 🙏💕
2021-03-20
0