Setelah mengantar Adrian pulang. Rafa tidak kembali ke rumahnya. Dia gelisah memikirkan Hana yang secara resmi telah menjadi istrinya. Rafa ingin bersama dengan Hana, tapi harga dirinya seolah melarangnya untuk kembali ke rumah Hana. Rafa tidak ingin Hana merasa besar kepala. Jika Hana mengetahui Rafa menyukainya sejak lama. Rafa ingin Hana dulu yang mengutarakan cinta.
Lama Rafa berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk kembali menuju rumah Hana. Setidaknya dia ingin melihat kondisi istrinya. Rafa sangat menyukai Hana. Namun entah kenapa setiap bertemu Hana? Rafa selalu arogan dan sombong. Semua itu yang membuat Hana tidak pernah menyukai Rafa. Sikap arogan Rafa yang seolah tidak butuh bantuan orang lain.
Sesampainya di lingkungan rumah Hana. Rafa berhenti tidak jauh dari rumah Hana. Terlihat lingkungan sekitar sudah sepi. Rumah Hana sebagian besar lampunya sudah dimatikan. Rafa memutuskan tetap di dalam mobil. Dia tidak ingin mengganggu Hana dengan kedatangannya tengah malam seperti ini. Rafa hanya ingin memastikan Hana baik-baik saja.
Tok Tok Tok
Rafa terkejut mendengar ada yang mengetuk pintu mobilnya. Seketika dia menoleh, terlihat Hana sedang berdiri di samping mobil Rafa. "Kenapa selarut ini dia belum tidur?" batin Rafa. Dengan ragu-ragu Rafa membuka pintu mobil, dia turun dengan perasaan kikuk. Hana sudah mendengar kedatangan Rafa. Namun Hana menunggu Rafa masuk ke dalam.
Lama Hana menunggu Rafa tak kunjung turun, akhirnya dia putuskan untuk menghampiri Rafa. Dia melihat Rafa tertidur di dalam mobil. Sebenarnya Hana tidak ingin membangunkannya. Namun Hana tidak tega melihat Rafa harus tidur dalam posisi seperti itu. Bagaimanapun Rafa sekarang suaminya? Suka atau tidak, Hana harus menghormati Rafa.
"Kenapa pak Rafa tidak turun? Bukankah tidur seperti itu sangat tidak nyaman!" ujar Hana ramah, Rafa menatap tajam ke arah Hana. Dia marah saat Hana memanggilnya dengan sebutan bapak. Rafa kesal melihat sikap Hana, tanpa berkata Rafa membalikkan badan. Dia akan kembali ke rumah.
"Tunggu, kenapa tiba-tiba pergi? Setidaknya izinkan aku mencium tanganmu, baru bapak bisa pergi!" ujar Hana lugu, dia sama sekali tidak merasa kemarahan Rafa hanya karena panggilan bapak. Rafa memberikan tangannya dengan kasar, Hana meraih tangan Rafa lalu mencium punggung tangannya dengan lembut. Ada desiran aneh dihati Rafa, saat bibir mungil Hana menyentuh punggung tangannya.
"Hana, apa aku setua itu? Sampai kamu memanggilku bapak!" ujar Rafa dingin, Hana menggeleng lemah. Hana memanggil bapak sebagai cara menghormati Rafa, tidak lebih.
"Aku hanya ingin menghargai anda yang kini menjadi suamiku. Tidak ada maksud menganggap anda lebih tua. Maaf jika panggilan saya membuat anda tersinggung!" ujar Hana lirih, tanpa berani menatap wajah Rafa. Meski kini dia istri seorang Rafa Akbar Prawira, Hana tidak pernah merasa bangga diri. Bahkan wajah Rafa, Hana tidak terlalu memahaminya. Rafa melihat Hana menunduk, ingin rasanya tangan Rafa menarik tubuh Hana. Memeluknya erat menyalurkan semua rasa cinta ada.
"Kenapa kita seolah atasan dan bawahan? Apa tidak bisa hubungan kita sedikit menghangat? Setidaknya ada panggilan yang jauh lebih enak didengar. Bukankah aku suamimu, sudah seharusnya aku mendapatkan apa yang menjadi hakku?" ujar Rafa, Hana terkejut mendengar perkataan Rafa. Tubuhnya bergetar hebat, ada rasa takut jika Rafa benar-benar ingin memiliki Hana seutuhnya.
"Apa yang menjadi hak suamiku akan kuberikan jika dia memintanya? Namun setidaknya saat ini, sebagai seorang istri aku belum siap lahir dan batin. Jadi aku berharap, sebagai seorang suami anda menghargainya!"
"Panggil aku dengan sebutan kakak! Dimanapun kita bertemu? Namun kamu harus, terap rahasiakan pernikahan kita. Aku tidak ingin, siapapun mengetahui pernikahan kita?" ujar Rafa, Hana mengangguk pelan. Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Hana melihat laki-laki tampan yang kini menjadi suaminya.
"Kak Rafa, ingin masuk atau pulang. Ini audah larut malam, sebaiknya menginap. Tapi maaf, di rumah Hana tidak ada kasur empuk seperti di rumah kak Rafa!" ujar Hana lirih, Rafa tersenyum penuh arti. Hatinya terasa hangat saat Hana memanggilnya dengan panggilan kakak. Pertama kalinya Rafa merasa bahagia, dia merasakan apa itu cinta sesungguhnya?
"Aku akan menginap, tapi tunggu sebentar. Aku mengambil baju ganti. Tubuhku terasa lengket, aku harus segera mandi!" ujar Rafa, Hana menganggguk lalu pergi meninggalkan Rafa. Hana masuk ke dalam rumah, tanpa berpikir ingin menunggu Rafa.
"Dia pergi tanpa menungguku. Dasar Hana, awas saja kamu. Seandainya hubungan kita lebih baik dari ini! Aku sudah buat perhitungan denganmu!" batin Rafa kesal. Dia melihat punggung Hana semakin menjauh. Rafa kesal tapi bahagia. Dia bisa menginap di rumah Hana.
Rafa berjalan perlahan memasuki rumah Hana. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Rumah Hana sangat sederhana, tapi tertata rapi. Hana tidak memiliki banyak barang, tapi rumah Hana sangat nyaman. Terlihat Hana keluar dari kamar, dia membawa handuk bersih.
"Kak Rafa, kamar mandinya ada di samping dapur. Ini handuk bersih, tapi maaf sudah pernah aku pakai. Jika kak Rafa tidak bersedia, aku akan pergi ke mini market seberang. Membelikan kak Rafa handuk!" ujar Hana, Rafa mengangguk. Rafa bersikap seolah tidak mengingkan handuk bekas, tapi hatinya bersorak bisa menggunakan barang milik Hana.
"Kemarikan, jika kamu membeli handuk. Aku akan semakin lama mandinya. Lebih baik menggunakan handuk yang ada saja. Tunggu, kamu tidak memiliki penyakit kulit!" ujar Rafa ketus, Hana menggeleng lemah. Rafa berjalan menuju kamar mandi. Hana menatap punggung laki-laki yang telah menjadi suaminya. Dia benar-benar tidak menyangka. Jika statusnya bukan lagi sendiri, tapi sudah bersuami.
Tak lama Rafa kembali, dia terlihat lebih segar. Hana lupa mengatakan, jika di rumahnya tidak ada air hangat. Namun Hana tetap diam, seandainya Rafa bertanya baru dia akan menjawab. Hana sudah menyiapkan secangkir kopi dan sepiring mie instan.
"Kak Rafa, makanlah dulu tapi Hana belum sempat belanja. Hanya ada mie instan, Hana juga sudah membuatkan kopi!" ujar Hana, Rafa mendekat. Dia tidak pernah memakan mie instan, Rafa sangat tidak suka dengan mie instan. Rafa akan marah, jika saat dia lapar tidak ada makanan. Namun anehnya Rafa tetap diam saat Hana menyiapkan sepiring mie instan.
"Hana, ini kamu simpan. Jika kurang kamu bisa menghubungiku. Ponsel ini sudah mencatat no ku. Jangan simpan no laki-laki lain tanpa seizinku. Terutama no Rama, tunanganmu!" ujar Rafa dingin, Hana mengangguk. Hana teringat akan Rama. Dia harus menjelasakan semua pada Rama. Hana harus mengakhiri pertunangannya dengan Rama.
"Kak Rafa, aku minta izin bertemu kak Rama besok. Aku harus menyelesaikan semua masalah diantara kami!" ujar Hana
Uuuhhhukk
Rafa tersedak mendengar perkataan Hana. Segera Hana memberikan segelas air.
"Aku baru mengatakan, jangan menyimpan no Rama. Kenapa sekarang kamu malah menemuinya?" ujar Rafa sinis.
"Kak Rafa, aku harus mengakhiri hubungan kami. Lagipula aku akan pergi dengan Diana. Aku tidak akan menemuinya sendiri!"
"Kenapa harus dengan Diana? Kenapa tidak bersamaku? Apa kamu tidak rela dia mengetahui bahwa kita sudah menikah!" ujar Rafa kesal, Hana menggeleng seraya tersenyum. Rafa melihat senyum manis Hana. Ingin rasanya Rafa mencium bibir mungil yang baru saja tersenyum dengan sangat manis.
"Bukankah kak Rafa sendiri yang tidak ingin mengakuiku sebagai seorang istri. Jadi sangat tidak mungkin aku mengajakmu pergi berdua!" ujar Hana dingin, lalu pergi meninggalkan Rafa sendirian. Rafa menepuk jidatnya pelan, "Kenapa aku harus keceplosan? Bukankah memang aku yang tidak ingin orang lain mengetahui pernikahan kami!" batin Rafa. Dia melihat Hana sudah masuk ke dalam kamar.
"Hana, aku tidur dimana?" teriak Rafa sekeras mungkin, Hana membuka pintu kamarnya.
"Kak Rafa berharap tidur dimana? Kamar di rumah ini hanya ada dua. Jika kak Rafa ingin tidur terpisah denganku, tidurlah di kamar depan. Namun jika kak Rafa bersedia tidur sekamar denganku, silahkan saja masuk ke kamarku!" ujar Hana santai, Rafa melongo mendengar jawaban Hana yang sangat santai. Sebaliknya jantung Rafa berdegub sangat kencang, pertama kalinya dia merasa gugup saat akan tidur sekamar dengan seorang wanita.
"Apa lebih baik aku tidur di kamar depan? Jika tidur sekamar dengan Hana, pasti semalaman aku tidak bisa tidur!" batin Rafa bimbang.
...☆☆☆☆☆*...
TERIMA KASIH😊😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Anna Irhamna Bona
dasar s Rafa aneh cinta tapi gengsi 🤣😃
2021-04-14
1
Anggra
dasar kak Rafa aneh😄😄
2021-04-12
1
Dwi setya Iriana
love you thor
2021-04-11
0