Hana pulang dari kantin sekitar pukul 16.00 wib. Sebab kantin baru tutup pukul 15.00 wib, sebelum pulang Hana selalu membersihkan kantin. Sehingga Hana selalu pulang sedikit sore. Berbeda hari ini, Hana sengaja tidak langsung pulang. Dia menunggu seseorang di depan gedung bertingkat milik keluarga Prawira.
Hana berdiri di samping pos satpam. Dia menunggu dengan sabar, sesekali Hana berbicara dan bercanda dengan para satpam. Hana sebenarnya pribadi yang mudah bergaul, tapi sedikit tertutup saat berurusan dengan laki-laki. Hana selalu nyaman, jika berteman dengan orang yang jauh lebih tua darinya. Sebab Hana menganggap mereka seperti orang tuanya sendiri. Kehilangan orang tua diusia yang sangat muda. Membuat Hana merindukan kasih sayang orang tua.
"Diana, lihat di pos satpam. Gadis berhijabku sedang menungguku, aku akan menemuinya" ujar Adrian antusias, Diana hanya diam tanpa menanggapi perkataan Adrian. Terlihat Adrian berjalan sangat cepat ke arah Hana. Rafa yang baru saja keluar dari lift, melihat Adrian mendekati hanya menggelengkan kepala.
"Gadis berhijabku, sedang menungguku?" ujar Adrian percaya diri, Hana menggeleng lemah. Diana yang berada di belakang Hana, tersenyum melihat Adrian yang terlalu percaya diri.
"Maaf pak, aku sedang menunggu Diana. Ada yang saya katakan padanya!" sahut Hana sopan, Adrian menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Dia menutupi rasa malunya, karena terlalu percaya diri.
"Diana, kita bicara sebentar! Aku ingin meminta bantuanmu" ujar Hana lirih, Diana mengangguk lalu berjalan mendekat pada Hana.
"Ada apa Hana? Jarang sekali kamu mencariku. Ada masalah apa?" ujar Diana cemas, Hana menggeleng lemah.
"Nanti malam dia akan berkunjung ke rumahku. Aku tidak ingin berdua saja dengannya. Jika kamu bersedia, menginaplah di rumahku. Hanya untuk malam ini saja, aku mohon. Besok pagi hari minggu, jadi kamu tidak terlalu lelah!" ujar Hana, Diana mengangguk pelan.
"Baiklah, aku akan menginap di rumahmu. Kita ambil pakaianku di kost. Lalu berangkat menuju rumahmu. Sekalian kita beli makanan di jalan, sebagai teman begadang nanti malam!" tutur Diana, Hana mengangguk pelan. Adrian yang berada tidak jauh dari mereka, tanpa sengaja mendengar pembicaraan Hana dan Diana. Adrian tidak percaya, jika Hana sudah memiliki tunangan. Diana dan Hana keluar dari kantor bersama. Mereka pergi menggunakan sepeda matic milik Hana.
"Adrian, kenapa kamu selalu mengekor Diana? Lama-lama kamu jatuh cinta pada Diana!" ujar Rafa, Adrian menggeleng. Dalam hatinya bukan Diana yang sedang dia kejar, melainkan Hana.
"Siapa yang mengatakan aku mengekor Diana? Aku sedang mencoba dekat dengan Hana, tapi sayangnya dia sudah milik orang lain. Dia sudah memiliki tunangan!"
"Adrian, bertunangan belum tentu menikah. Jika kamu memang menyukainya, kejar sampai dapat. Jika kamu menyerah, lupakan saja dan hempaskan dia sejauh mungkin!" ujar Rafa sinis, Adrian mengangguk tanda setuju.
"Rafa, nanti malam kamu akan kemana? Ini malam minggu, tidak mungkin kamu akan berdiam diri di rumah. Rencananya kamu akan bermalam dengan siapa? Wanita yang malang mana yang akan menjadi korbanmu kali ini."
"Aku hanya akan pergi ke club. Aku sudah bosan bersama wanita-wanita yang gila harta. Jika kamu ingin ikut, aku akan menjemputmu. Kita berpesta semalam suntuk" tutur Rafa, Adrian mengangguk pelan. Keduanya bukan hanya ahli dalam bisnis, tapi juga sangat jago untuk urusan minum-minum.
"Aku ikut denganmu, agar aku bisa melupakan wanita berhijabku yang sudah milik orang lain!" ujar Adrian, lalu keduanya keluar dari kantor.
...☆☆☆☆☆...
Malam harinya, Hana dan Diana sedang makan bersama. Mereka sengaja membeli makanan di luar. Sehingga sampai di rumah mereka tidak perlu memasak. Sebenarnya Diana berasal dari lingkungan ini juga. Namun karena jarak tempih yang jauh, Diana memutuskan kost.
Malam ini Hana dan Diana ingin mengenang masa-masa SMU mereka. Dimana selalu ada Hana dan Diana di tempat yang sama. Hana hanya memiliki Diana sebagai, satu-satunya sahabatnya. Selama ini, Diana selalu ada di saat Hana susah ataupun senang. Begitu juga malam ini, Diana orang pertama yang akan mengenal laki-laki yang mengkhitbah Hana.
"Hana, dia janji datang jam berapa? Kenapa lama sekali? Aku sampai mengantuk menunggunya!" ujar Diana kesal, Hana tersenyum tipis.
"Sebentar lagi dia datang, biasanya dia datang setelah sholat isya. Jadi sabar saja dulu, mungkin masih di jalan. Memangnya kamu tidak penasaran dengannya?"
"Aku memang penasaran, tapi menunggu selama ini. Aku juga bosan, apalagi dia laki-laki seharusnya cepat dalam berdandan!" ujar Diana kesal. Hana meninggalkan Diana yang kesal, dia membuatkan Hana roti isi sebagai pengganjal perutnya. Agar tidak bicara terus tanpa henti.
Sekitar setengah jam kemudian, terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah Hana. Mobil biasa yang sudah sedikit lama, tapi masih sangat layak digunakan. Turun seorang pemuda bertubuh tegap dan memakai kacamata. Diana melongo melihat laki-laki yang turun dari mobil tersebut.
Diana menoleh pada Hana, seakan meminta penjelasan. Apa benar dia laki-laki yang akan menikah dengan Hana? Sebaliknya Hana menyahutinya dengan anggukan kecil. Laki-laki itu berjalan mendekat, setelah mengucapkan salam dia duduk di kursi depan rumah. Meski Hana dan dia bertunangan. Tidak pernah, Hana mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Apa kabar Dik? Lama tidak bertemu!" sapa Rama, Hana tersenyum. Sedangkan Diana terkesima melihat Rama Tri Wijaya sedang berada di dekatnya. Diana duduk tidak jauh dari Hana dan Rama.
"Alhamdulillah baik kak! Kabar kakak dan kedua orang tua bagaimana?"
"Alhamdulillah baik juga!" sahut Rama, Hana tersenyum. Hana menoleh pada Diana, terlihat Diana berharap berkenalan dengan Rama.
"Kak Rama, dia Diana sahabat Hana. Dia salah satu fans kakak waktu di SMU. Kebetulan Diana menjadi pengurus OSIS, saat kak Rama menjadi ketuanya!" ujar Hana memperkenalkan Diana, Rama mengangguk pelan. Sebagai tanda hormat dan menyapa Diana.
"Terima kasih, selalu ada untuk Hana!" ujar Rama sopan, Diana mengangguk sembari tersenyum. Rama idola para wanita saat SMU, tapi Hana sedikitpun tidak peduli dengan ketampanan dan popularitas Rama saat itu. Hana pribadi yang acuh. Itu juga yang menjadi alasan Hana yang selalu menjauh dari keramaian.
"Dik, Aku kamari hanya ingin menanyaakan kesiapanmu menikah denganku. Aku sudah tidak bisa menunggu terlalu lama" ujar Rama, Hana menunduk terdiam. Sebenarnya Hana tidak berniat menikah diusia yang masih sangat muda.
"Aku selalu siap kak, tapi setelah restu orang tua kak Rama. Jika restu itu, belum bisa aku dapatkan! Maaf kak Rama, aku tidak ingin menikah denganmu!"
"Dik, ini hidup kita. Tidak semestinya meraka ikut campur masalah kita secara pribadi!"
"Kak Rama mungkin lupa, jika sebelum menikah denganku. Orang tua kak Rama yang lebih dulu membahagiakanmu! Jadi berbaktilah, sebelum aku masuk ke dalam keluargamu!" ujar Hana lirih, Rama tertunduk lesu.
...☆☆☆☆☆...
Terima Kasih😊😊😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
👑
semangat semangat semangat 😘
2021-05-22
0
Dwi setya Iriana
like like like like lagi
2021-04-11
1
Audrey_16
like Thor💜
2021-03-19
0