Semua orang berkumpul di ruang tengah sambik menonton acara televisi. Sedangkan, Mona dan Yuli memasak di dapur untuk makan malam. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00, sebentar lagi akan memasuki waktu sholat magrib. Tiba-tiba, terdengar suara sepeda yang berhenti di depan rumah. Ririn segera berdiri dari duduknya dan melihat ke arah halaman depan. Yang memarkirkan sepedanya di depan rumah adalah Rendi. Ia turun sambil membawa sebuah kotak yang cukup besar.
"Ada apa, Ren?" Tanya Ririn.
"Ini...aku bawa sesuatu buat kalian pajang di dinding" Jawab Rendi.
"Kamu bawa jam dinding? Kenapa nggak kamu pajang aja di kamarmu?"
"...Aku nggak suka modelnya. Kamu ambil aja! Lagian, di kamarku udah ada jam"
Rendi memberikan kotak kardus pada Ririn, dan ia segera pergi dari halaman rumah. Ririn masuk ke dalam lalu, membuka kotak yang diberikan Rendi.
"Apa itu, Rin?" Tanya Linda.
"Ini, Rendi ngasih kita jam dinding. Katanya nggak suka sama modelnya" Jawab Ririn.
"Kaya apa sih, jam dinding nya?"
Perlahan-lahan Ririn membuka kotak tersebut. Dan cukup terkejut dengan model jam dindingnya. Jam dinding yang diberikan Rendi adalah jam dinding yang bisa mengeluarkan bunyi setiap dua jam sekali. Dan pasti, jam itu akan berbunyi saat jam menunjukkan waktu tengah malam.
"Ih...kok jam beginian sih, yang dikasihin ke kita?" Tanya Nia.
"Katanya, ini hadiah. Dia nggak suka terus, katanya di kamarnya sudah ada jam dinding. Makanya, dikasihin ke kita" Jawab Ririn.
"Tapi, kenapa jam model gini sih yang dibuat hadiah? Jam ini tuh seram kalau tengah malam"
"Iya. Jam ini bakal bunyi waktu kita semua tidur" Kata Ayu.
Jam dindingnya sudah terisi baterai. Mungkin, Rendi yang sudah memasukkan baterai ke dalam jam dinding. Ririn segera memasang jam tersebut di ruang tengah. Jadi, mereka tidak perlu melihat ponsel saat, ingin melihat waktu. Selesai memasang jam dinding tiba-tiba, lampu padam dan membuat semua orang terkejut. Beruntung, mereka belum menutup tirai jendela jadi, cahaya bisa masuk ke dalam rumah. Yang memiliki lampu listrik hanya Linda. Ia mengeluarkan dari kamar, memberikan lampu listrik itu pada Mona dan Yuli yang sedang memasak. Nia dan Ririn memutuskan pergi ke toko untuk membeli lilin. Tidak ada yang tahu, sampai kapan listrik padam. Mereka masuk ke dalam kamar untuk mengambil dompet dan ponsel mereka. Sepertinya, tidak hanya rumah mereka yang listriknya padam. Sekitar rumah penduduk juga padam jadi, mereka membawa ponsel untuk menerangi jalanan. Sampai di toko, Ririn memberi sepuluh lilin dan Nia membeli camilan sambil menunggu listriknya menyala. Terdengar suara adzan magrib, mereka segera pulang untuk menyalakan lilin. Rumah mereka akan sangat menakutkan saat, listrik padam. Saat listrik menyala, hantu selalu mengganggu mereka, bagaimana jika lampu padam?. Mereka sampai di depan halaman rumah. Rumah mereka terlihat benar-benar menyeramkan saat, tidak ada cahaya. Ririn segera menyalakan lilin untuk menerangi teras rumah lalu, menyalakan lilin di tempat yang penting seperti, ruang tengah dan kamar mandi. Dapur masih memiliki lampu listrik dan jika ada yang ingin ke kamar, mereka bisa menyalakan lilin untuk dibawa ke kamar.
"Huft...kok aku jadi takut ya?" Kata Mona yang masih membantu Yuli memasak.
"Aku juga takut, Mon. Aku nggak pernah ngerasakin mati lampu di sini" Kata Yuli.
"Kamu kalau tidur, lampunya nggak dimatiin?"
"Kalau di tempat kos ku, aku pakai lampu kecil buat tidur. Kalau di sini, aku nggak berani pakai lampu kecil"
"Kenapa?"
"Di sini agak horror kalau malam. Makanya, aku nggak matiin lampunya"
"Rumah ini horor banget ya?"
"Ssstt...jangan tanya yang aneh-aneh. Takut ada yang datang"
Mona langsung memukul mulutnya sendiri dan melanjutkan memasak. Sedangkan yang lain, sudah bersiap-siap untuk sholat magrib di kamar masing-masing.
"Mon...Yul, kalian ndak sholat?" Tanya Ayu.
"Iya, habis ini selesai kok" Jawab Mona.
Mereka mengambil lilin masing-masing untuk sholat di dalam kamar. Nia tidak ingin masuk ke dalam kamarnya jadi, ia akan sholat berjama'ah dengan Ririn sedangkan Ayu, memberanikan diri untuk sholat di dalam kamar Linda tapi, ia tidak menutup pintu kamarnya. Selesai memasak, Yuli dan Mona masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu. Saat sholat di dalam kamar, Ayu merasa ada yang lewat di depan kamar Linda. Ayu berpikir jika itu adalah Mona jadi, ia tidak merasa takut. Tapi, bayangan itu terus lewat di depan kamar Linda. Ayu mulai curiga jika, itu bukan Mona. Ayu mencoba membaca surah pendek dengan cukup keras tapi, tidak sampai semua orang dengar, hanya Ayu saja yang dengar suaranya.
"Allahu Akbar..."
Terdengar suara yang sangat pelan dari belakang Ayu, yang mengikutinya. Ayu semakin ketakutan tapi, ia tidak ingin berpikir yang aneh-aneh dan membuat sholatnya terganggu. Ayu tetap meneruskan sholatnya dengan khusyuk dan tidak menghiraukan suara yang ada di belakangnya.
Ririn dan Nia sedang melaksanakan sholat berjama'ah. Mereka mendengar suara lemari di kamar Ririn yang terbuka sendiri. Ririn terus membaca surah pendek tersebut meskipun, pintu lemari terus terbuka. Sedangkan Yuli dan Mona memilih sholat di ruang tengah. Mona tidak bisa sholat di dalam kamar karena, Ayu sholat di tengah-tengah jalan sedangakn Yuli, takut untuk sholat sendiri di dalam kamar. Dan semua sudah selesai melaksanakan kewajibannya, Yuli kembali pergi ke dapur untuk memanaskan makanannya yang sudah matang. Mereka memutuskan untuk makan di ruang tengah agar, semua orang bisa duduk bersama. Jika di meja makan, kursinya hanya empat, Mona dan Ayu tidak bisa ikut duduk di sana. Selesai memanaskan makanannya, Yuli memindahkan nasi goreng ke mangkuk yang cukup besar, meletakkan telur dadar di piring dan membawanya ke ruang tengah.
"Teman-teman, kalau udah selesai sholat. Ayo kita makan" Kata Yuli.
Mereka segera keluar dari kamar untuk makan malam. Mereka mulai mengambil piring tapi, tidak dengan Ayu yang masih ragu menatap nasi goreng dan telur dadar. Mona menepuk bahu Ayu yang hanya diam saja.
"Ayo makan! Jangan dilihatin aja" Kata Mona.
"Ini...beneran masakan kalian, kan?" Tanya Ayu.
"Iya, Yu. Yang masak aku sama Yuli" Jawab Mona.
"Kalian manusia, kan? Bukan hantu..."
"Apaan sih?!"
Ayu tidak percaya dengan perkataan Mona. Ia segera menyentuh tangan teman-temannya. Jika mereka bukan manusia, suhu tubuh mereka akan dingin tapi, suhu tubuh mereka hangat.
"Ada apa sih?" Tanya Linda.
"Aku ngerasa dejavu pas, kalian masak nasi goreng dan telur dadar. Di mimipiku, kalian masak tanah yanh dicampur belatung dan..."
"Ssstt...udah. Itu cuma mimpi. Kamu sih, dibangunin buat sholat ashar susah banget. Jadi, mimpinya aneh-aneh, kan?" Kata Mona.
"Jangan percaya sama mimpi. Ini yang masak orang, bukan hantu. Ayo makan sebelum, dingin. Kalau dingin, nasi goreng jadi keras" Kata Yuli.
Mereka segera menyantap makanan yang sudah dihangatkan. Saat mereka makan tiba-tiba, lampu menyala tapi tidak lama, lampunya padam lagi. Dan jika sudah begini, pasti lebih lama lagi. Jika bukan di rumah tersebut, mereka akan biasa saja saat, listrik padam. Tapi, mereka berada di rumah yang membuat mereka ketakutan dengan teroro yang mereka dapatkan dari makhluk yang tak terlihat.
Saat tengah makan tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu rumah mereka. Mereka sangat terkejut dan hampir tersedak. Ririn menyuruh mereka diam dan tidak ada yang boleh berteriak. Pintu terus diketuk dengan keras dan ada suara yang memanggil mereka.
"Linda..Ririn..Nia..Yuli, bukain pintunya dong..."
"Eh, kok kaya suara Nevan?" Tanya Linda.
"Kalau itu Nevan, ngapain dia ke sini? Dia nggak takut, apa?! Seluruh rumah di daerah sini kan listriknya mati" Jawab Ririn.
"Iya, benar juga. Apa dia bukan orang, makannya dia berani ke sini?" Tanya Nia.
Yuli menyarankan untuk tidak bersuara dan tetap melanjutkan makannya. Jika, Nevan yang di depan menelepon mereka barulah, mereka akan membukakan pintu untuknya. Tapi, pintu terus diketuk dengan keras dan sepertinya, sebentar lagi akan terbuka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
윤승아
lanjuttt 🙁😭
2021-04-02
1