Makanan Lezat

Terdengar suara burung yang mulai berkicau, angin juga mulai menggoyangkan tanaman. Ririn tidak tidur selesai sholat shubuh sedangkan yang lain, tertidur selesai sholat shubuh. Ririn segera keluar kamar untuk menyiapkan sarapan. Membuka kulkas dan melihat masih ada sisa telur. Ririn akan membuat telur dadar dengan tambahan, bawang putih, bawang merah, cabai merah sebagai penyedap. Tapi, terlebih dahulu, Ia membuka tirai jendela, mematikkan beberapa lampu, membuka pintu depan agar udaranya masuk ke dalam rumah. Agar tidak terlalu sepi, Ririn menyalakan televisi sebagai teman dan satnya, ia memasak.

Merasa kedinginan, Linda terbangun karena tidak tahan dengan angin yang masuk ke dalam kamarnya. Linda mengambil ponselnya untuk melihat suhu pagi hari. Suhunya mencapai 19 derajat, pantas saja ia merasa kedinginan. Linda mencoba meregangkan tubuhnya tiba-tiba, ia mendengar suara orang yang memotong sesuatu. Linda jadi teringat kejadian yang waktu itu. Ia keluar kamar perlahan-lahan, melihat Ririn yang sedang memotong sesuatu di dapur. Sebelum menghampiri Ririn di dapur, Linda pergi ke kamar Ririn untuk mengeceknya. Ternyata Ririn tidak ada di dalam kamarnya. Linda pergi ke kamar mandi yang di sebelah kamar Ririn, dan Ririn tidak ada di dalam.

"Ini aku, Lin. Ndak usah takut" Kata Ririn.

"Aduh, Rin...pas kamu ngomong aku jadi kaget" Kata Linda sambil mengusap-usap dadanya.

"Lah kamu, ngecek sana ngecek sini. Kaya nggak percaya kalau ini aku"

"Ya, aku takut kaya kemarin"

Linda mendekati Ririn yang sedang memotong bawang dan cabai. Linda terus menemani Ririn sampai selesai memasak, ia tidak berani menunggu di ruang tengah sendirian. Tidak lama, Nia dan Yuli terbangun. Mereka langsung ke kamar mandi lalu, pergi ke meja makan. Sebentar lagi, telur dadarnya selesai. Yuli terus melihat ke seluruh ruangan dan memperhatikan Linda yang berada di samping Ririn. Yuli terus memperhatikan gerakan Linda, wajah Linda, melihat cara Linda tersenyum dan tertawa.

"Kamu lihat apa sih, Yul? Serius amat" Tanya Nia.

"Memang bukan Linda"

"Apanya yang bukan Linda?"

"Lin, jam 2 pagi tadi...kamu keluar kamar nonton tv, nggak?" Tanya Yuli.

"Hah? Ngapain aku keluar jam segitu? Nonton juga" Jawab Linda.

"Berarti benar, aku kemarin langsung masuk kamar, nggak negur kamu"

"Tadi malam kamu lihat apa?" Tanya Ririn.

"aku jam 2 pagi keluar kamar, aku haus. Aku pergi ke dapur. Eh, aku lihat Linda lagi nonton tv. Aku mikir, nggak mungkin Linda nonton tv jam segitu. Tak lihat wajahnya itu, pokoknya bukan kaya Linda. Aku baca do'a langsung masuk kamar, biar dia nggak ngikut"

"Untung nggak kamu sapa. Kalau di sapa, iih..." Kata Nia.

"Kamu kok bisa tahu kalau, itu bukan aku?" Tanya Linda.

"Karena semuanya berbeda, Lin. Yang tak lihat tadi, mukanya pucat, kantung matanya lebar dan sangat hitam terus, senyumannya nyeremin deh. Pasti kamu ngelihat Ririn kemarin kaya gitu"

"Iya, kemarin aku lihatnya kaya gitu tapi, tak ajak ngomong aja. Pikirku, Ririn sakit soalnya wajahnya pucat"

"Oh, aku tahu. Kalau lihat salah satu dari kita, di mana pun. Ngerasa kalau itu bukan kita, sebaiknya ngejauh, jangan disapa" Kata Nia.

"Udah ah, sarapan dulu. Pagi-pagi udah ngomongin hantu" Kata Ririn.

Mereka segera sarapan karena, pagi ini Ririn dan Nia yang memiliki jadwal kuliah pagi pukul 09.00. Sedangkan Linda dan Yuli, memiliki jadwal kuliah setelah sholat dhuhur.

***

Nia memilih naik sepeda milik Ririn karena, ia berencana akan menginap lagi untuk memastikan hantu tersebut. Ririn juga merasa senang karena, di rumah tidak hanya berdua dengan Linda. Semakin ramai, Ririn dan Linda semakin senang.

Sampai di dalam kelas, Ririn dan Nia segera masuk ke dalam kelas. Tidak lama kemudian, dosen datang dan langsung mengajar. Untung saja, mereka masuk kelas sebelum dosen tiba di dalam kelas. Jika dosen sudah tiba lebih dulu maka, nilai mahasiswa tersebut akan dikurangi lima point.

Linda dan Yuli berada di rumah sedang menonton acara televisi untuk mengurangi ketakutan mereka. Yuli juga melanjutkan mengerjakan tugas resume yang akan dikumpulkan nanti di kelas. Linda terus memikirkan perkataan Yuli, yang melihat ciri-ciri hantu yang menyerupai mereka. Tapi, jika Linda bertemu dengan hantu itu, apa yang harus ia lakukan?. Linda sangat bingung untuk membedakan hantu dan manusia.

"Yul..."

"Heem? Apa?"

"Pas kamu lihat hantu itu, kamu nggak ngerasa takut?"

"Awalnya, yang aku lihat itu kamu. Pas tau itu bukan, kamu...ya aku takut"

"Kalau aku ketemu yang begituan, gimana dong?"

"Ya, dilihat. Dia teman kita atau bukan. Kadang, kelihatan bedanya kok, kita yang asli sama hantu yang menyerupai kita"

Saat mereka membicarakan hantu, pintu rumah yang terbuka tiba-tiba tertutup dengan sendirinya. Padahal, anginnya tidak terlalu kuat. Karena terkejut, Linda dan Yuli mengusap dadanya. Karena Linda ketakutan, Yuli yang membuka pintu rumahnya lagi dan mengganjalnya dengan batu yang ada di depan rumah.

"Makannya, jangan ngomongin hantu. Hantunya marahkan?" Kata Yuli.

"Ya udah, kerjain tugas lagi. Aku mau nonton tv aja" Kata Linda.

Pembelajaran akhirnya selesai, Ririn dan Nia memutuskan untuk pergi ke kantin hanya sekedar membeli jajanan ringan karena, tadi pagi mereka sudah sarapan.

"Rin, Ni..."

Ririn dan Nia melihat ke arah orang yang memanggil nama mereka bersamaan.

"Ada apa, Ren?" Tanya Ririn.

"Kita presentasi kelompok 5. Kapan kita mau kerja kelompok?" Tanya Rendi.

"Oh ya, minggu depan kita maju. Mau kerjakin di mana?"

"Nggak tahu..."

"Ah, di rumah Ririn aja. Rumahnya luas, mumpung aku lagi nginap di sana" Kata Nia.

"Wah, boleh tuh. Nanti aku ajak Ferdi sama Nevan"

"Ok, aku tunggu habis sholat magrib ya. Jangan lama-lama. Cepat selesai, cepat pulang" Kata Ririn.

"Iya. Habis sholat magrib, aku sama anak-anak langsung ke sana"

Ririn dan Nia hanya mengangguk. Mereka pergi meninggalkan Rendi dan pergi ke kantin untuk membeli batagor.

***

Hari sudah semakin gelap, semua orang menyalakan lampu rumah mereka atau lampu yang menerangi jalanan. Sebelum pulang, Nia mengambil pakaian ganti dan Yuli juga mengambil pakaian ganti. Karena Nia dan Ririn yang berada di rumah sedangkan, Linda dan Yuli belum pulang jadi, yang menyiapkan makan malam adalah Nia dan Ririn.

"Kita masak atau beli, Rin?" Tanya Nia.

"Masak aja wes tapi, mau masak apa ya?"

"Lah, kamu malah balik tanya. Terserah kamu"

"Bentar, aku tak mikir dulu"

Sambil berpikir, Ririn melihat-lihat ponselnya untuk melihat resep makanan yang mudah tapi, kalau masakan Indonesia bahan-bahan masakannya kurang. Ririn melihat-lihat lemari makanan dan kulkas. Mencoba berpikir dan ia tahu akan memasak makanan apa. Nia membantu Ririn untuk memotong-motong daging ayam menjadi kecil lalu, menyiapkan adonan tepung dan menyiapkan wajan yang sudah terisi minyak. Ririn masih memasak makanan yang lain, ia menyuruh Nia untuk menunggu di meja makan saja karena Nia adalah tamunya. Nia hanya tertawa mendengar perkataan Ririn. Ia menurut dan menunggunya di meja makan. Setelah memasak beberapa menit, akhirnya masakan selesai.

Ririn segera meletakkan semua makanannya di atas meja makan dan ia juga menyiapkan empat minuman hangat. Tidak lama setelah makanan selesai, Linda dan Yuli datang. Mereka mencium aroma makanan yang sangat lezat, segera pergi menuju meja makan untuk melihatnya.

"Wah, siapa ini yang masak?" Tanya Linda.

"Ririn yang masak. Nggak nyangka aku, anak ini bisa masak kaya gini" Kata Nia.

"Ya udah, ayo makan. Habis magrib, aku mau kerja kelompok sama Nia, Rendi, Ferdi, Nevan" Kata Ririn.

"oke..oke, ayo kita makan. Perutku udah lapar" Kata Yuli.

Mereka makan sebelum terdengar adzan magrib.

Terpopuler

Comments

Nurhardiyanti Bundanya Raisa

Nurhardiyanti Bundanya Raisa

kenapa gk ngontrak bareng disitu aja,,,Nia sm Yuli biar jd rame

2021-08-15

2

윤승아

윤승아

lanjut kakkk😊

2021-03-03

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!