Nevan yang berada di paling depan terus berlari dan berusaha mencari jalan keluar dari hutan. Nevan melihat ada cahaya di depan sana tapi, saat ia ingin menghampiri cahaya tersebut, cahayanya langsung menghilang. Beberapa lampu yang disediakan staff penginapan tiba-tiba, padam. Membuat seluruh hutan terlihat sangat gelap dan pencahayaan hanya dari lampu lentera listrik yang dibawa oleh Nevan dan Yuli. Lentera itu pun sepertinya akan mati karena sudah dipakai melebihi tiga puluh menit. Terpaksa, mereka mengeluarkan ponsel mereka untuk menambah penerangan di dalam hutan tapi, Nevan dan Yuli tidak mengeluarkan ponselnya. Mereka memegang lentera terlebih dulu, jika baterai lentera mulai habis, barulah mereka akan menghidupkan senter yang ada di ponsel mereka.
"Van, kita di mana sih? Dari tadi muter-muter aja" Kata Ririn.
"Aku juga bingung. Gelap gini, gimana mau lihat ke depan" Kata Nevan.
"Kita bisa telepon Bu Sania, kan?"
Linda segera mencari nomor telepon Bu Sania dan mencoba menghubungi beliau. Karena di dalam hutan tidak ada sinyal jadi, Linda tidak bisa menghubungi Bu Sania. Terpaksa, mereka berjalan perlahan-lahan untuk menemukan jalan keluar. Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Nevan dari samping, membuatnya berteriak dan mengejutkan yang lain.
"Kalian cari jalan keluar?" Tanya seorang wanita yang membawa lentera api.
"Iya, kita bingung mau keluar" Jawab Nevan.
"Kayanya kalian mulai capek. Kalian bisa istirahat dulu di rumahku"
"Memangnya, rumah mbaknya di mana?" Tanya Nia curiga.
"Rumahku dekat sini. Ya, bisa dibilang aku tinggal di dalam hutan"
"Sendirian?"
"Nggak. Aku tinggal sama orang tuaku tapi, mereka belum pulang. Kalian bisa istirahat di rumahku dan nemenin aku"
"Ya sudah, kita istirahat dulu aja. Nanti, kita jalan lagi. Siapa tahu, nanti ada sinyal" Kata Linda.
Mereka semua menyetujui perkataan Linda. Mereka mengikuti wanita tersebut dari belakang. Tapi, sebenarnya mereka takut untuk ikut dengan wanita tersebut, takut jika ia pembunuh atau ia bukan manusia melainkan, hantu. Tapi, wanita tersebut terlihat baik jadi, mereka menerima tawaran wanita tersebut. Tidak lama, mereka sampai di depan rumah wanita tersebut. Dari luar, rumahnya tampak jelek dan kotor tapi di dalam, terlihat sangat mewah dan bersih. Wanita tersebut mempersilakan mereka untuk duduk di ruang tamu, ia akan membuat minuman.
"Eh, rumahnya bagus benget. Tapi, kenapa milih di dalam hutan?" Tanya Yuli.
"Mungkin, mereka maunya di dalam hutan. adem...terus, rawan malingkan? Siapa yang bakal mau masuk ke dalam hutan?" Kata Ririn.
"Ah, kamu benar juga. Kalau di sinikan nggak bakal ada yang curi. Tapi, dari depan kelihatannya jelek loh..." Kata Linda.
"Ya, itu buat nyamarin rumahnya. Kalau ada orang yang lewat, mereka nggak tertarik" Kata Nevan.
Tidak lama, wanita tersebut keluar dengan membawa teh hangat dan buah-buahan. Mereka mulai meminum teh tersebut, karena kelelahan setelah berjalab tanpa arah.
"Namaku Lola. Kalian ngapain malam-malam di hutan?"
"Ah, kita mahasiswa dari Malang. Kita di dalam hutan itu, lagi main game, disuruh sama dosen kita. Staff penginapan sudah pasang lampu tapi, lampunya pada mati jadi, kita kebingungan mau cari jalan keluar" Kata Nevan.
"Namaku Linda, itu Ririn, Yuli, Nia, terus...itu Nevan"
"Senang bisa ketemu sama kalian"
"Kenapa bangun rumah di dalam hutan?" Tanya Yuli.
"Ayahku suka sama hutan jadi, beliau ingin tinggal di dalam hutan. Tanpa diganggu tetangga, suara kendaraan dan polusi udara"
"Oh, begitu. Tapi, kamu nggak takut?" Tanya Yuli.
"Takut apa? Hantu? Ngapain harus takut. Mereka kan nggak kelihatan jadi, jangan takut. Kecuali mereka nampakin dirinya seperti ini, baru kalian takut"
"Seperti ini...maksudnya?" Tanya Nia.
"Iya, seperti ini. Bentuknya kaya kita gini"
Nia hanya mengangguk dan mereka melanjutkan minum teh hangatnya lalu, memakan buah-buahannya. Setelah beberapa menit istirahat di rumah Lola, Mereka mulai tertidur karena kelelahan berjalan di dalam hutan. Satu persatu mereka tertidur akhirnya, Nevan ikut tidur tapi, ia tidur di lantai dan para wanita tidur di sofa.
"Nak, ayo bangun. Ngapain di sini?"
Samar-samar terdengar suara itu ditelinga Nevan. Perlahan-lahan, Nevan terbangun dan melihat ada Bu Sania bersama beberapa staff penginapan. Bu Sania berusaha membangunkan dirinya. Nevan terbangun sambil mengusap-usap matanya yang masih terasa lengket.
"Bu Sania? Kenapa Ibu bisa di sini?" Tanya Nevan.
"Ibu itu nyariin kalian. Dari kemarin nggak pulang-pulang. Nggak tahunya, kalian tidur di sini" Jawab Bu Sania.
"Ibu kok bisa masuk rumah orang, sih?"
Merasa perkataan Nevan seperti orang yang melantur, Bu Sania memukul bahu Nevan pelan.
"Rumah orang apa sih?! Wong kalian semua tidur di tanah. Ini namanya rumah orang?"
Mereka semua mulai sadar dan melihat-lihat sekitar. Masih tidak percaya mereka mengusap-usap matanya lagi. Dan benar kata Bu Sania, mereka tidur di tanah dan sebagian tidur di atas batu yang cukup besar. Mereka bingung karena terbangun di tempat yang aneh dan matahari sudah terlihat cukup tinggi.
"Bu, ini jam berapa, ya?" Tanya Linda.
"Ini jam 9 pagi. Dari kemarin kalian nggak ada kabar, bikin Ibu takut" Jawab Bu Sania.
"Loh, tapi kayanya kita tidur cuma sebentar. Semalam semua lampu mati, Bu. Terus ada perempuan, namanya Lola. Dia ngajak kita ke rumahnya sambil minum teh" Kata Nia.
"Nggak mungkin, ada rumah di dalam hutan. Siapa yang mau hidup di tempat yang nggak ada listrik sama sinyal?" Tanya Bu Sania.
Mereka cukup terkejut dengan pertanyaan Bu Sania. Seharusnya, dari awal mereka curiga kalau, tidak mungkin seseorang tinggal di dalam hutan yang sangat gelap. Para staff membantu mereka untuk bangun dan membawa mereka kembali ke penginapan. Bu Sania menyuruh mereka untuk mandi lalu, pergi ke tempat makan untuk sarapan.
Sampai di dalam kamar, Nevan segera mengambil handuk dan pakaian ganti yang ada di dalam tasnya.
"Van, dari mana aja kamu? Semalam nggak pulang?" Tanya Rendi.
"Semalam, kita berlima mampir ke rumah hantu" Jawab Nevan.
"Rumah hantu? Maksudmu?"
"Ya, rumah hantu beneran. Dikasih minum, kasih buah. Pas bangun tidur, rumahnya udah nggak ada"
"Ih, kok bisa sih, Van? Tapi, kalian baik-baik aja kan?" Tanya Ferdi.
"Iya, kita baik-baik aja. Cuma bingung aja. Kok kita bisa nggak sadar. Kan, nggak mungkin ada orang yang tinggal di dalam hutan"
Nevan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai membersihkan tubuh, mereka pergi ke tempat makan. Di sana, Bu Sania sudah menyiapkan minuman madu hangat, untuk menenangkan mereka. Lalu, para staff yang berada di dapur membawa makanan untuk mereka. Karena sangat kelaparan, mereka segera memakan makanan tersebut. Bu Sania akan membiarkan makan terlebih dahulu sebelum, ia bertanya lebih dalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Bernala Siregar
kok gk ada respon kaget ato takut dh tsu mereka tidur d hutan. greget fikit dong thor...
2021-04-18
2
윤승아
lanjutttt
2021-03-22
1