"Buahahaha... Dewa, kau pasti akan menjadi milikku bagaimanapun caranya. Aku mencintaimu sayang," ucap Elara sambil mengelus wajah Dewa yang terpampang di tembok kamarnya.
Bara masuk ke kamar Elara, Elara memang memiliki kepribadian yang berbeda dari anak lain. Dia sangat ambisius dalam segala hal termasuk urusan cinta. Elara tersenyum menyeringai lalu terkejut saat sang papa sudah ada dibelakangnya.
"Papa?"
"Ela, papa mohon jangan seperti ini! Dewa sudah menjadi suami Tante Nona," ucap Bara.
Elara meraih vas bunga lalu membanting tepat disamping papanya dan seketika pecah. Dia tersenyum kecut tidak merasa bersalah hampir menyakiti papanya.
"Papa bilang mereka hanya menikah kontrak 'kan? Dengan kekuatan tanganku maka mereka pasti akan segera berpisah. Buahhahaha..."
Elara lalu berlari ke sudut ruangan, dia duduk didepan kanvas lalu mulai menggambar. Bara merasa sedih melihat putrinya seperti ini. Elara menggambar wajah perempuan dengan abstrak menggunakan cat warna merah lalu menuliskan nama seseorang. "Claraquin Nuna Alona . Aku pasti akan menjauhkanmu dari Dewa ku, Buaahahaa."
Bara memandang sendu tingkah putrinya yang semakin hari semakin aneh. Dia lalu memanggil Dokter Logan untuk berkonsultasi mingguan mengenai tingkah laku putrinya. Dokter Logan segera datang setengah jam kemudian.
Konsultasi hari ini hanya berdua saja di kamar gadis labil itu. Dalam sesi tanya jawab, Elara masih melukis abstrak. Dokter Logan tidak merasa terganggu yang terpenting Elara masih mau diajak bicara.
"Ela, jawab dengan jujur! Kau ada masalah?" tanya Dokter Logan.
"Masalah? Huhuhu... pacarku di rebut tanteku sendiri. Itu masalahnya."
Dokter Logan membaca setiap ekspresi wajah Elara mulai dari gerak mata, gerak bibir dan hidungnya yang berkedut ketika berbicara aneh.
"Ela, perasaanmu hari ini bagaimana?" tanya Dokter Logan.
"Sama seperti biasanya. Aku akan senang jika kau pergi dari kamarku."
Dokter Logan tersenyum, dia menggeser kursinya dan mendekati Elara yang semakin menggerakkan tangannya untuk melukis wajah seseorang yang sangat seram.
"Kau mau coklat? dokter akan memberikanmu coklat jika menjawab pertanyaan selanjutnya," ucap Dokter Logan.
Elara tertawa terbahak-bahak lalu menatap tajam Dokter Logan. Dokter tampan itu hanya tersenyum kecil lalu memberikan sebatang coklat untuk Elara. Coklat itu berbentuk lucu dan menarik, Elara langsung merebutnya.
"Nah, sekarang sesi tanya jawab. Jawab yang jujur!" ucap Dokter Logan.
***
Nona sedang duduk disamping ayahnya yang sedang terbaring. Nona adalah anak perempuan satu-satunya yang harus merawat kedua orang tuanya jika sedang sakit. Ibu Nona juga berada disamping begitu sedih. Ayah yang sudah siuman memandang wajah mereka dengan geli.
"Kenapa kalian begitu panik? Aku sangat sehat," ucap Ayah.
"Huh... Dalam situasi ini kau bisa sangat senang," jawab Ibu.
Ayah lalu memandang wajah Nona, dia mengusap wajahnya. Nona tersenyum lalu menggenggam tangan ayahnya.
"Putri ayah sudah hamil 'kah?" tanya Ayah.
Nona menjadi malu bercampur terkejut. Hamil? Malam pertama saja belum melakukan. Nona lalu menggelengkan kepalanya.
"Jangan di tunda! Umurmu juga sudah matang untuk hamil," ucap Ayah.
Ibu yang mendengarnya cukup kesal. Dia tidak bisa membayangkan jika Nona hamil anak Dewa yang miskin dan tidak punya pendidikan tinggi.
"Ayah jangan memikirkan yang aneh-aneh dulu. Ayah harus memikirkan kesehatan ayah!" ucap Nona mengalihkan pembicaraan.
Ayah mengusap pipi Nona, anak tercantiknya selalu membuatnya cemas. Saat teman-teman Nona memutuskan menikah muda dibawah umur 25 tahun Nona malah memilih fokus dengan pekerjaannya dan disaat teman-teman Nona sudah memiliki momongan Nona belum juga menikah. Ayah mencoba menjodohkan secara politik dengan Altaf, Nona tidak keberatan. Tetapi Altaf yang justru mengkhianati Nona. Sampai Nona meminta izin kepada ayahnya untuk menikah dengan pria pilihannya sendiri yaitu Dewa. Dewa adalah cinta pertama Nona. Bocah itu sudah merebut hati Nona yang sedingin es.
"Dewa dimana?" tanya Ayah.
"Dia sedang bekerja. Semalam dia ikut menjaga ayah."
"Dia memang anak yang baik. Semoga hubungan kalian bisa lebih dari sekedar kontrak," ucap Ayah.
Ibu yang mendengarnya langsung protes. "Kontrak tetaplah kontrak, setelah 2 tahun mereka harus bercerai. Itu yang tertulis di surat kontrak. Altaf masih menunggu Nona sampai 2 tahun kedepan," ucap Ibu.
Nona hanya memperhatikan raut wajah sang ibu yang tidak suka dengan pernikahannya. Ya, memang benar ini hanyalah sekedar kontrak pernikahan. Nona memang harus menepati kontrak yang dia buat sendiri.
Disaat bersamaan, Arsel datang. Dia menjemput Nona untuk berangkat bekerja. Ayahnya menyuruhnya untuk berangkat ke kantor. Beliau tidak mau ditunggu. Nona berpamitan dengan ayahnya dan tidak lupa mencium tangannya.
"Ibu, jika keadaan ayah memburuk segera hubungi aku!" pinta Nona.
"Baiklah, hati-hati sayang!"
Nona dan Arsel keluar dari ruangan itu. Arsel juga membawakan baju kantor Nona. Nona harus berganti baju sendiri dan menyisir rambutnya sendiri di kamar mandi. Waktu juga sudah terlalu siang untuk pulang ke rumah.
Setelah berganti pakaian, Nona segera menuju ke mobil sambil diikuti Arsel. Arsel membacakan agenda Nona hari ini. Perusahaan Nona bergerak di bidang properti rumah tangga seperti sofa, lemari, tempat tidur dan barang pecah belah lainnya. Nona juga ikut memantau proses produksi di pabriknya sampai semua barang itu masuk ke distributor dan toko-toko kecil.
Nona memberi nama produknya dengan sebutan Alona, nama produk ini sangat terkenal bahkan sudah di ekspor sampai luar negeri.
"Arsel, jam makan siang aku ingin makan makanan yang dijual di restoran tempat bekerja Dewa dan aku ingin yang mengantar makanan itu adalah Dewa sendiri," pinta Nona sambil masuk ke mobil.
Arsel mengernyitkan dahi, dia menganggukkan kepalanya lalu segera melajukan mobil ke kantor. Dalam perjalanan, Nona dengan iseng mengecek akun medsos milik Dewa dan sebagian besar pengikutnya adalah perempuan. Tidak banyak foto disana, hanya ada 3 foto saja. Dewa memang begitu tampan apalagi saat tersenyum.
Disisi lain,
"Uhuk... uhuk... uhuk...."
Dewa terbatuk-batuk saat minum. Nisa langsung menepuk punggung Dewa.
"Apaan sih? Minum saja sampai keselek," ejek Nisa.
"Biasa, orang tampan banyak yang ngomongin."
Nisa tersenyum kecut lalu duduk diseberang Dewa. Dia menghela nafas panjang membuat Dewa bingung.
"Si Ela upload fotomu dan di komen sama si Sarah. Bakal ada perang besar nih," ejek Nisa.
"Haha... Biarkan mereka bertengkar, aku disini biasa saja," jawab Dewa.
Nisa tertawa, Elara dan Sarah memang tipe orang yang kuat. Mereka sampai menjadi anggota cheersleader supaya bisa menyemangati Dewa saat bertanding basket.
"Tapi kau bakal pilih Elara atau Sarah?"
Dewa tertawa, dia mengatakan sudah ada wanita lain di hatinya dan kini mereka sudah dekat. Nisa semakin yakin jika wanita yang dimaksud Dewa adalah dirinya karena hanya Nisa yang dekat dengan Dewa dan tidak ada wanita lain.
"Dewa, nanti jam 12 antar makanan ini ke kantor pusat Alona. Akan ada tips tambahan juga untukmu," ucap waiters lainnya.
"Aku? Aduh... Jadi jam makan siangku hilang dong?" ucap Dewa.
"Tenang aja, nanti aku akan bilang papa untuk menambah jam makan siangmu," ucap Nisa.
Dewa menganggukkkan kepala. Dia lalu melanjutkan pekerjaannya lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
Elisanoor
akibat terlalu memanjakan anak ya begini
2023-11-20
0
Rusnadi
ya mungkin nona juga baik
2022-12-05
0
Kinan Rosa
ya si Nisa jadi ke ge'er ran lo
2022-11-29
0