"Terus ini yang bayar siapa?" tanya Dewa sambil menunjuk jus jeruk diatas meja.
Arsel hanya mengangkat bahu seolah tidak mau tau. Dewa mengela nafas, ia berjalan menuju ke dapur. Hari ini dia tidak ingin emosi karena di rumahpun dia terus dibuat kesal oleh Nona.
Setelah jus mangga siap, dia mengantarnya ke meja Arsel.
"Oke, kita berangkat," ucap Arsel sambil melihat jam mahalnya.
Dewa meletakkan gelas ke meja itu sampai tumpah, dia merasa dikerjai oleh Arsel. Arsel memandangnya dengan tersenyum sinis.
"Jangan main-main dengan pekerjaan orang!" ucap Dewa.
"Siapa yang main-main? Kau saja yang baper."
Arsel berdiri sambil membenarkan jasnya, ia berjalan keluar dari restoran itu. Dewa kembali ke ruangannya dan meminta izin kepada Papa Nisa untuk istirahat makan siang di luar.
"Jam 1 sudah harus kembali ya, Dewa?" ucap Papa Nisa.
"Siap, om!"
Dewa segera keluar tak lupa memakai jaketnya, dia langsung masuk kedalam mobil yang dikendarai Arsel.
Dalam perjalanan, mereka saling terdiam apalagi Dewa memalingkan wajah.
"Nona akan mengajakmu makan siang dengan keluarga besarnya. Disana terdapat orang tua Nona dan ketika kakak Nona, ku harap kau tidak mempermalukan dirimu sendiri," ucap Arsel.
"Oh."
Jawaban mengesalkan dari Dewa membuat Arsel membanting setir dan seketika Dewa terjedot pintu.
Duaaak...
Arsel tersenyum tipis, Dewa mengelus kepalanya dan tidak tinggal diam. Dia menarik kerah Arsel membuat dirinya tidak fokus menyetir.
"Lepaskan! Kau akan mati jika tidak melepaskan kerah ini," ucap Arsel.
"Yaudah kita mati bersama," ejek Dewa.
Arsel membanting setir lagi, tetapi Dewa tetap kekeuh menarik kerah jas Arsel. Arsel semakin kesal dan emosi sampai dia mengerem mendadak membuat wajah Dewa tidak sengaja terbentur ular Arsel.
Omegat, bukannya yang harus ku cium milik istriku tetapi malah milik pria ini. Batin Dewa.
Apa yang dia lakukan? Batin Arsel.
Arsel lalu menjambak rambut Dewa dan menariknya, bukannya langsung cepat bangkit seakan Dewa ingin terus berada di tempat sakral itu.
"Aduh... Lepaskan!" ucap Dewa.
"Jijik sekali aku."
"Aku yang lebih jijik pe'ak. Huh... bibirku terkontaminasi dengan ular kadut," ucap Dewa sambil mengelap bibirnya.
Mereka lalu bergeser saling menjauhi. Rasa jijik membuat mereka merinding. Apalagi Dewa yang tidak sengaja mencium ular milik Arsel. Setelah itu mereka saling terdiam dan memalingkan wajah.
Setelah sampai, Arsel langsung masuk dan Dewa mengikutinya. Arsel membuka bagasi mobil untuk mengambil papper bag dan melemparnya ke arah Dewa.
"Cepat ganti baju ini! Kau harus terlihat rapi," ucap Arsel berbicara tanpa memandang Dewa.
Dewa langsung menangkapnya, dia ikut masuk dan mencari kamar mandi. Setelah sampai di kamar mandi, ia membuka tas itu dan melihat terdapat setelah jas biru dongker.
Makan siang pun harus memakai jas juga? Dasar orang kaya!
Dewa segera memakainya, dia terlihat tampan dan berwibawa. Setelah itu ia keluar dan melihat Arsel sudah di depan pintu.
"Enjeng... Huh... Ngagetin aja," ucap Dewa melangkah mundur sambil memegangi dadanya.
"Nona sudah menunggu diatas. Cepat!"
Dewa mengikuti langkah Arsel, mereka memasuki lift dan saling terdiam. Dewa bersiul supaya suasana tidak menjadi canggung. Beberapa detik kemudian mereka sampai. Mereka langsung keluar dan masuk ke ruangan VVIP.
Ketika masuk ruangan itu, Dewa sangat terkejut. Banyak pria berjas sudah berada disana. Nona melirik Dewa dan mengisyaratkan untuk duduk disebelahnya.
"Ada apa ini? Aku takut," bisik Dewa.
"Tidak apa-apa, kita hanya makan siang bersama."
Nona melirik dasi Dewa yang berantakan, ia segera membenarkannya. Dia ingin terlihat manis didepan semua orang. Dewa melirik Nona dan Nona tersipu malu sampai tidak sadar jika dasi yang dibenarkannya mencekik leher Dewa.
"Uhuk... uhuk...," Dewa terbatuk.
Nona langsung sadar dan menurunkan dasi itu. Semua orang melihat kearah mereka dan Dewa berdehem.
"Eheeem..."
Nona kembali ke posisi duduknya dengan benar, ia nampak malu.
Dewa langsung menggenggam tangan Nona yang diatas meja membuat Nona terkejut.
"Biar terlihat romantis," bisik Dewa.
Setelah itu acara makan siang dimulai, Dewa heran kenapa satu keluarga besar itu hanya terdiam dan dingin satu sama lain seperti tidak punya roh. Dewa melirik ketiga kakak Nona yang tampan dan berwiibawa tetapi tidak ada diantara mereka yang saling berbicara.
Keluarga aneh.
Makanan mewah dan berkelas di hidangkan, untuk makanan pertama adalah steak sapi dengan daging kualitas terbaik.
Kecil sekali dagingnya? Mana kenyang?
Nona dengan sigap melepas genggaman Dewa dan mulai mengambil pisau dan garpu. Dia memotong dengan perlahan. dan nampak berkelas.
Dewa nampak ragu untuk makan, ia mengambil garpu disamping piringnya tetapi tangannya yang licin membuat garpu itu terjatuh dilantai dan menimbulkan suara yang nyaring.
Semua orang memperhatikannya. Dewa dengan sigap mengambil garpu itu tetapi saat akan menunduk kepalanya terbentur meja.
Duuuuk..
"Aaaw..."
Dewa tidak menghiraukan rasa sakitnya, ia menunduk lagi mengambil garpu itu tetapi saat kepalanya naik keatas dia terbentur meja lagi.
Duuuuk...
Dia menghela nafas lalu melihat disekelilingnya yang memperhatikannya dengan tatapan dingin.
Seketika Nona menarik garpunya dan menggantinya dengan yang baru.
"Makanlah dengan tenang!" ucap Nona.
Dewa mengambil garpu barunya, ia melirik cara makan Nona. Dewa mencobanya tetapi daging itu susah diiris mengunakan pisau. Dewa tidak sabar, ia mengambil daging secuil itu dengan tangan lalu melahapnya sekali kunyah.
"Nona, tidak ada nasi? Aku lapar sekali," ucap Dewa.
"Tidak ada."
Dewa menelan ludah padahal dirinya teramat lapar karena sudah bekerja setengah hari ini. Alamat, dia harus menahan lapar lagi sampai malam.
Dewa hanya melamun saat mereka sedang menikmati secuil daging masing-masing. Dewa heran, apakah cara makan orang kaya seperti itu? Terkesan pelit dam irit.
Kruyuuuuk...
Perut Dewa berbunyi dengan keras, semua orang memandangnya. Arsel yang sedari tadi berdiri dibelakang Nona ingin segera menyeret Dewa di perjamuan makan itu.
"Masih lapar?" tanya Nona pelan.
Dewa menggelengkan kepala, dia malu untuk mengakuinya.
"Pelayan, tolong bawakan nasi untuk suamiku!" ucap Nona.
"Baik, Nona."
Kupikir Nona egois ternyata dia masih perhatian denganku.
Ibu Nona memandang Dewa dengan tidak suka bahkan dia sempat tidak merestui pernikahan mereka.
"Ayahmu masih menjadi tukang kebun rumah Bara?" tanya Ibu seolah ingin menjatuhkan Dewa.
Bara adalah anak pertamanya dan sudah berkeluarga. Dia pria yang hebat karena bisa menaklukkan pasar
"Masih, bu," jawab Dewa sopan.
"Ibumu masih..."
"Cukup, bu! Tidak baik berbicara saat makan," ucap Nona.
Dewa merasa Ibu mertuanya sengaja menanyakan hal itu didepan para anak-anaknya yang sudah sukses. Sedangkan dirinya hanya bocah yang baru lulus sekolah yang belum sukses dan mapan.
"Ibu hanya bertanya kepada menantu kecilku, apakah salah?" tanya Ibu.
"Tidak salah, ibu. Memang ayah saya masih bekerja sebagai tukang kebun di rumah Bara," ucap Dewa.
Ibu tersenyum tetapi senyumannya seakan mengejek. Dewa hanya bisa bersabar dan berusaha untuk membalas senyuman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
Izaaz Abyan Akmal
ini bisa di jadikan pelajaran buat semua pembaca
2023-03-04
0
U. Boy
nwahahahah
2022-09-08
0
Aya Vivemyangel
😂😂😂😂😂 astaghfirullah ngakak 😂😂😂
2022-08-17
0