Sarah berdiri lalu menghampiri Dewa, ia mengambil air dan menyiramkan ke wajah Dewa.
"Dasar cowok centil!" ucap Sarah.
"Apa-apaan ini?" ucap Nona tidak terima dengan sikap gadis itu.
"Itu balasan untuk cowok yang genit. Untung saja kita sudah putus," ucap Sarah.
Sudah putus? Bocah ini punya mantan secantik ini? Batin Nona sambil memperhatikan pakaian Sarah yang minim dan kekinian.
Dewa berdiri, ia menghela nafas. Dia menatap Sarah. Wajah dan bajunya kini basah kuyup.
"Sebab inilah aku mutusin dirimu. Kekanakkan!" ucap Dewa dengan sorot mata yang tak main-main.
Sarah menelan ludah. Selama 2 tahun berpacaran dengan Dewa si ketua basket itu baru pertama kali melihat kemarahan Dewa. Sarah mundur perlahan dan langsung lari dan mengambil tasnya. Teman-temannya ikut keluar dari restoran itu. Dewa melihat bajunya yang basah, ia meminta izin kepada Nona untuk kembali bekerja.
"Dia mantan pacarmu?" tanya Nona menghentikan langkah Dewa.
"Iya, tapi sudah putus."
"Cabe-cabean begitu?" tanya Nona.
Dewa tersenyum kecut. "Walau terlihat begitu dia masih terlihat imut dan tidak jutek," sindir Dewa.
Arsel menatap tajam Dewa. Dewa menjulurkan lidah dan kembali bekerja sebelum papa Nisa marah kepadanya.
Nona berdiri dan menyuruh Arsel membayar makanannya sedangkan dia kembali ke mobil.
Di tempat parkir, ia tidak sengaja bertemu dengan rombongan Sarah. Sarah nampak kesal dan memonyongkan bibirnya saat akan masuk mobil.
"Eh itu 'kan cewek yang tadi," ucap teman Sarah menunjuk Nona.
Sarah langsung memandangnya, ia keluar dari mobil. "Apa lihat-lihat? Tidak pernah lihat cewek cantik? Huh... Apaan tuh pake pakaian gitu? Dasar kampungan! Paling tuh mobil alpard rentalan," teriak Sarah yang mengejek Nona.
"Apa maksud anda bilang begitu?" ucap Arsel mengagetkan gadis-gadis nakal itu.
Arsel menatap tajam, gadis itu langsung masuk ke mobilnya dan segera meninggal kan parkiran itu.
Arsel lalu menghampiri Nona.
"Saya akan mencari gadis nakal itu dan menyuruhnya meminta maaf kepada anda," ucap Arsel.
"Tidak perlu. Dia hanya bocah labil tidak perlu diladeni."
****
Setelah seharian bekerja, Dewa memutuskan untuk langsung pulang. Hari pertama bekerja badannya terasa nyeri. Tetapi dia sangat puas, walau tanpa menggunakan ijazah ia sudah mendapatkan pekerjaan dan itu berkat Nisa dan berkat Nisa, Papanya memberi gaji ke Dewa secara harian.
Dewa tersenyum karena ia pulang sudah membawa uang.
Tin... tin...
Ketika sedang menunggu angkot, mobil mewah yang nampak familiar berhenti didepannya.
"Tuan muda, silahkan naik!" ucap Mas Supri.
Dewa langsung naik, akhirnya ia bisa pulang setelah menunggu angkot selama setengah jam.
"Mas kok tau jika aku pulang jam segini?" tanya Dewa.
"Semua tentang Tuan muda, saya mengetahuinya."
"Oh begitu. Nona sudah pulang?"
"Cieee... yang nyariin istrinya," goda Mas Supri.
Dewa berdecih. Apa salahnya ingin tau tentang istrinya? Mas Supri tertawa, ia meminta maaf dan mengatakan jika Nona sudah berada dirumah.
"Tuan muda tidak lelah?" tanya Mas Supri.
"Pasti lelah, Mas. Tapi lelahku menghasilkan duit. Walau gak seberapa tapi setidaknya gak bergantung pada Nona," ucap Dewa.
"Tuan muda ini hebat sekali. Pria lain hanya memandang harta milik Nona tapi tuan muda ini tidak. Pria langka, saya bangga," puji Mas Supri.
Dewa tersenyum. Pernikahannya memang terpaksa tetapi untuk menafkahi Nona bukan terpaksa lagi tetapi kewajiban seorang suami. Martabatnya seorang pria akan turun jika Nona yang menafkahinya.
Setelah sampai rumah. Mas Supri membukakan pintu mobil dan Dewa segera masuk ke rumah yang besar itu. Dia langsung ke kamar tetapi Nona tidak ada dikamar, ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan badan.
Setelah selesai mandi. Dewa menuju ke ruang makan tetapi tidak ada satu makanan pun yang tersedia. Dewa menuju ke dapur, ternyata sudah tidak ada pembantu satupun.
Dewa melihat isi kulkas dan ternyata tidak ada yang bisa dimakan.
Beginikah cara Nona menyambut suami pulang kerja? Huh... apa yang aku pikirkan? Aku hanya suami kontraknya. Dia mana peduli denganku?
Perut Dewa keroncongan. Akhirnya Dewa hanya menenggak air putih saja lalu kembali ke kamarnya. Saat masuk ke kamar, sudah ada Nona di kamar.
"Nona, pembantu hari ini tidak masak?" tanya Dewa.
"Itu hukumanmu."
"Hukuman apa?"
"Masih tidak sadar? Mantan pacarmu membuat ulah kepadaku," ucap Nona sambil berdiri mendekat kepada Dewa.
Dewa balik menatap Nona sehingga Nona memalingkan wajah.
"Sarah? Dia melakukan apa kepadamu?"
Nona diam dan duduk di bibir ranjang. Dewa masih menatapnya penuh tanda tanya.
"Dia tidak melakukan apa-apa," ucap Nona membuat Dewa semakin bingung.
"Jadi tidak ada makanan untukku dan isi dikulkas kosong juga disengaja?" tanya Dewa.
Nona menganggukkan kepala.
Dewa lantas menjadi kesal. Istri macam apa yang memperlakukan sang suami seperti itu.
"Oke, aku tidak akan meminta makanan kepadamu lagi. Aku akan cari makan sendiri," ucap Dewa.
Dia lalu mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan sejumlah uang hasil dari seharian bekerja.
"Ini nafkahku untukmu, memang tidak seberapa tapi mungkin bisa saja membayar tempat tinggalku disini," ucap Dewa sambil meletakkan 2 lembar uang 20 ribuan disamping Nona.
Dewa langsung keluar dari kamar, ia menuju ke minimarket terdekat. Nasibnya sangat buruk setelah menikah. Dalam perjalanan, perutnya terasa sangat melilit dan kakinya sangat pegal.
Nasib suami tiri. Makan cari sendiri. Dasar istri kejam!
Setelah sampai di minimarket. Dia membeli 2 bungkus mie instan dan satu botol minuman pengganjal lapar. Setelah membayar, ia segera pulang.
Sampai dirumah, ia segera memasak mie instan itu tetapi sialnya gas elpiji tidak ada alias sudah disembunyikan.
Dewa menghela nafas, segitukah istrinya memperlakukannya?
Akhirnya Dewa hanya meminum sebotol minuman energi untuk pengganjal lapar.
Perutku mulai sakit. Aku lupa membeli obat magh. Semakin lama aku disini semakin pula aku cepat mati.
Dewa kembali ke kamarnya dengan tubuh bergetar. Dia membuka pintu kamar dan langsung merebahkan dirinya disofa. Dia tidak menghiraukan Nona.
Dewa mencoba untuk memejamkan mata tetapi rasa lapar seolah mensugesti dirinya untuk makan sesuatu.
"Dewa, kau ingin makan? Biar aku pesankan makanan," ucap Nona.
"Tidak usah."
"Aku memang menyuruh bibi tidak memasak karena sore tadi aku harus datang ke perjamuan dengan klien," jelas Nona.
Dewa mendengus seolah tidak percaya ucapan Nona.
"Lalu dimana gas elpijinya? Kau kan sudah menyembunyikannya karena kau tahu pasti aku akan memasak mie instan," ucap Dewa.
"Gas elpiji? Aku seorang Nona besar tidak mengurusi gas elpiji. Kau mengira aku menyembunyikannya?" tanya Nona.
"Kau memang bukan yang menyembunyikannya tetapi kau menyuruh orang untuk menyembunyikannya."
Nona menjadi kesal, ia menimpuk kepala Dewa dengan bantal. Dia sangat kesal karena difitnah seperti itu.
"Aaaww... Dasar istri kejam!"
*****
Baca karya saya yg lain. Bikin ngakak juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
Elisanoor
keterlaluan,sekesel2 nya gw ,mkn mah ada aja .ini mah emng kebangetan
2023-11-20
0
@Heni khan 😚❤️🇵🇸
suami tiri wkwkwkwkw
2023-04-02
0
Hadini Rahman
tingkahnya bikin ngakak ajah dehh😅😂😂😂😂
2023-02-21
0