Aku seorang Dewa tampan dan maco harus memakai piyama pink bermotif hello kitty?
"Apa tidak ada baju lain?" tanya Dewa.
"Tidak ada, jika tidak mau lebih baik telanjang saja."
Dewa melepas handuk yang terlilit dipinggangnya. Nona berteriak keras dan menyuruh Dewa untuk memakainya lagi.
"Kau sungguh gila. Kenapa melepas handukmu didepanku?"
"Nona bilang jika aku telanjang saja jika aku tidak mau memakai baju ini. Ya aku pilih telanjang saja," jawab Dewa santai.
Nona mendengus, ia meraih ponselnya dan menelpon Arsel untuk membawakan beberapa baju dan celana untuk bocah mengesalkan itu.
"Apa kau lihat-lihat?" tanya Nona sambil menutup telponnya.
Dewa berdecih, sedangkan Nona memalingkan wajah karena melihat roti sobek milik Dewa. Walaupun Dewa masih bocah tetapi dia memiliki bentuk tubuh yang bagus dikarenakan dia pemain basket andalan sekolahnya.
Setengah jam kemudian,
Arsel membawa sekantong pakaian untuk Dewa. Dewa langsung memakainya di kamar mandi. Sedangkan Arsel masih menatap Nona.
"Sepertinya bocah itu sangat merepotkan Nona?" tanya Arsel.
"Ya, wajar saja dia masih ABG. Sudah sana keluar!"
"Baik, Nona."
Beberapa menit kemudian, Dewa keluar dari kamar mandi sambil mengelap rambutnya yang masih basah. Nona memalingkan wajah, ia tidak ingin tahu jika ia mengagumi ketampanan Dewa.
Hoaaaam...
Dewa menguap dan langsung merebahkan dirinya diranjang besar itu tetapi Nona yang didepannya langsung menendang pantatnya.
GUBRAAAK...
"Aahhh... Kenapa Nona mendorongku?" tanya Dewa.
"Siapa yang menyuruhmu tidur disini?"
"Lalu?"
"Tempatmu tidur disofa," ucap Nona.
Dewa mendengus kesal lalu segera merebahkan dirinya disofa. Acara seharian ini membuat mereka lelah sampai melewatkan malam pertama uhuy-uhuy.
Keesokan harinya.
Sinar mentari menyerempet mata Dewa, bocah tampan itu mengecek matanya. Dia menyipitkan mata tatkala melihat Nona sedang dipakaikan pakaian dan aksesoris rambut.
Cih... Sungguh Tuan Putri. Jangan-jangan pakai ****** ***** saja dipakaikan pelayannya. Batin Dewa sambil menahan tawa.
Ponsel Dewa berdering, ia mendapat pesan dari temannya.
Jo
Bro, hari ini cap 3 badak. Eh maksudku cap 3 jempol.
Dewa
Cap tiga jari maksudmu?
Jo
Tul,
Dewa
Oke
Dewa bangun dari sofa lalu masuk ke kamar mandi sedangkan kini Nona sedang dipakaikan sepatu oleh pelayannya. Nona menyuruh pelayan pria untuk datang ke kamarnya.
"Panggilkan Mas Supri kemari!"
"Baik, Nona."
Setelah beberapa menit, pelayan yang berkulit sawo matang ini datang ke kamar Nona, dia langsung menunduk hormat.
"Tolong mandikan, Dewa! Buat badan dekilnya menjadi bersih dan kau juga harus melulurinya," ucap Nona.
"Siap, Nona."
Mas Supri lansung masuk ke kamar mandi yang ternyata tidak dikunci. Dia melihat Dewa sedang jongkok di WC duduk.
"Arrgh... Siapa kau? Pergi sana! Menganggu orang setor saja," ucap Dewa panik.
Mas Supri yang berwajah dingin menaikkan alisnya. "Tuan Muda, anda harus duduk bukannya berjongkok di toilet duduk," ucap Mas Supri.
"Siapa yang kau panggil Tuan Muda? Huh... Toilet ini sungguh tidak asyik. Kami orang miskin jika tidak mendengar bunyi pluung dari WC seperti kurang afdol," ucap Dewa.
Dewa menaikkan celananya dan mendorong Mas Supri untuk keluar. "Sepertinya orang-orang disini tidak normal semua," ucap Dewa.
"Saya hanya mengikuti perintah Nona untuk memandikan anda."
"Apa kau bilang? Huh... Menjijikan sekali. Sudah sana keluar, aku bisa mandi sendiri," ucap Dewa sambil mendorong Mas Supri keluar dan menutup pintu dengan kuat.
BRAAAK...
Nona sedikit terkejut, Mas Supri langsung bersujud didepan Nona. Dia merasa gagal memandikan Nona.
"Sudahlah, kau boleh keluar."
"Baik, Nona." Mas Supri merasa terharu dengan kebaikan Nonanya. Dia langsung keluar dari kamar Nona.
15 menit kemudian.
Di meja makan, sudah tersedia sarapan. Nona sangat anggun mengunyah semua makanan itu. Terlihat Arsel berdiri dibelakang Nona seperti patung. Dia adalah sekertaris Nona yang dingin serta kejam.
Disaat bersamaan, Dewa datang sudah menenteng tas dan menggunakan seragam sekolah. Pelayan menarik kursi untuk Dewa.
"Silahkan duduk, tuan."
Dewa sedikit risih dengan sebutan tuan. Dia lalu segera duduk berseberangan dengan istrinya yang sedang makan dalam diam.
Dewa melihat Arsel memasang wajah tidak suka kepadanya. Tatapan Arsel seolah penuh ancaman.
"Kenapa kau memakai seragam sekolah?" tanya Nona.
"Aku harus ke sekolah untuk cap 3 jari. Kenapa Nona memakai pakaian rapi?"
Nona mengambil gelas lalu Arsel menuangkan air putih untuk Nona. "Hari ini aku ke kantor sebentar. Ada sesuatu yang harus kuurus."
Nona meminum air putih, Dewa memandangnya heran. Segitunya cara orang kaya minum segelas air putih? Tampak berkelas dan elegan.
Pelayan meletakkan piring di depan Dewa, mereka menaruh selembar roti dan memberinya selai. Pelayan lain juga memberikan Dewa segelas susu hangat.
Kenapa si Arsel memandangiku seperti itu? Dirumah ini memang tidak ada yang normal.
"Jangan hanya berbicara didalam hati!" ucap Arsel membuat Dewa terkejut lalu tersedak.
Tatapan Arsel semakin tajam. Nona segera mencairkan suasana.
"Arsel, kau harus lebih sopan dengan majikanmu. Dewa adalah majikan barumu," ucap Nona.
Tatapan Arsel melunak, ia langsung memalingkan wajah.
Nona langsung terbangun dari kursinya. Dengan sigap Arsel membawakan tasnya.
"Aku akan berangkat ke kantor sekarang. Aku harap sebelum aku pulang kau sudah berada dirumah," ucap Nona.
Ekor mata Dewa mengikuti setiap langkah istrinya pergi. Dia mendengus dan menyantap roti yang berada di depannya.
Setelah selesai sarapan, ia segera meraih tasnya dan pergi berangkat sekolah.
"Tuan muda, mulai sekarang saya menjadi supir pribadi anda," ucap Mas Supri.
"Jangan memanggilku tuan muda! Aku hanya cowok murahan yang dijual oleh orang tuaku sendiri," ucap Dewa kesal.
"Tapi tuan..."
"Pergi sana! Urusi urusanmu sendiri!" bentak Dewa.
******
Setelah melakukan cap 3 jari. Dia langsung pulang dengan teman dekatnya sebut saja Jojo. Mereka berjalan kaki menuju jalan raya. Sekolah mereka masuk gang cukup jauh membuatnya harus berjalan kaki setiap pulang dan pergi dari sekolahnya.
"Cong, mau kerja dimana?" tanya Jojo kepada Dewa.
"Gak tau."
"Pengangguran nambah lagi," ejek Jojo.
Jojo, anak yang banyak tingkah itu melihat segerombolan mangga muda milik warga. Dia melihat batu didepannya lalu tersenyum menyeringai.
"Jangan aneh-aneh!" ucap Dewa yang bisa menebak pikiran konyol temannya.
"Tenang saja!"
Jojo mengambil batu dan dengan percaya diri melempar ke gerombolan mangga muda itu tetapi meleset.
Dewa mengendus seolah mengejek, ia menepuk dadanya untuk menyombongkan diri jika ia bisa menjatuhkan mangga itu sekali timpuk dengan batu.
Dewa mengambil batu, ia mundur dan dengan percaya diri melempar batu itu dengan kuat lalu.
"Aaaawwwww... Siapa yang melempar batu ini?" tanya bapak-bapak.
Dewa dan Jojo terkejut, disaat bersamaan si bapak yang membawa anjing menyuruh anjingnya mengejar bocah nakal itu. Dewa dan Joko lari terbirit-birit.
GUK.. GUK.. GUK..
Dalam keadaan ngos-ngosan mereka masih saja berdebat dan menyalahkan satu sama lain.
"Bodoh kau, cong!" ucap Jojo.
"Kampret! Itu salahmu," jawab Dewa.
Dewa dan Jojo langsung naik ke angkot yang lewat didepannya. Joko langsung menjulurkan lidah mengejek anjing yang sudah tidak lagi mengejarnya.
Nafas mereka terengah-engah didalam angkot yang sesak itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
Safei
lemot
2024-06-18
0
Lee yeon seinaa
bener bener dewa konyoll
2023-11-26
1
Tuthy Dzaky Syarif
mampir yg K2 kli
2023-10-06
0