Dewa terus saja menghela nafas, ia turun dan menaiki lift dan terus-terusan kesal ketika
mengingat ucapan istrinya. Ucapan Nona tadi memang terkesan meremehkan Dewa.
Dia pikir hanya dia saja yang bisa mencari uang? Dia beruntung karena
keturunan orang kaya.
Dewa keluar dari lift, ia berjalan keluar dengan wajah ditekuk dan suram. Dia sampai berjalan tidak memperhatikan langkah dan menabrak pria tidak asing didepannya.
“Kau punya mata atau tidak?” tanya pria itu yang ternyata Tuan Altaf.
“Maaf.”
“Oh aku ingat jika kau anak pembantu di rumah Nona? Benarkan? Aku tidak salah lihat.”
Yang kau anggap anak pembantu ini
sudah menjadi suami sah Nona. Walaupun suami kontrak aku tetap halal untuk Nona.
“Sudahlah, tidak penting juga aku mengurusi debu sepertimu,” ucap Tuan Altaf mengejek.
Tuan Altaf menuju lift dan melewati Dewa tetapi Dewa langsung menyandungnya sehingga Tuan Altaf terjatuh dan menabrak pot bunga besar. Dewa melihatnya sambil terbahak-bahak.
“Wahahhaha... Enakkan nyungsep? Wahahaha...”
Dewa langsung menepuk pantatnya seolah mengejek Tuan Altaf yang begitu geram dan bercampur malu apalagi para pegawai yang ada di kantor itu meliriknya. Dewa berlari sebelum Tuan Altaf membalasnya.
Setelah menjauh dari gedung kantor milik Nona, Dewa mengontrol nafasnya. Dia cukup puas mengerjai pria yang sok itu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dewa segera mengangkatnya dan ternyata dari Nisa.
“Dewa? Gak jadi melamar?” tanya Nisa.
“Apakah masih bisa, Nis? Maaf aku mendadak ada urusan jadi tidak bisa tepat waktu untuk ke restoranmu,” ucap Dewa melalui panggilan telepon.
“Oke gapapa. Papa ku minta hari ini kau mulai bekerja. Jadi gak usah bawa lamaran dan langsung kerja aja.”
“Papamu gak marah? Aku datang terlambat?” tanya Dewa.
“Iya gak masalah. Yang penting hari ini datang.”
Dewa berterima kasih karena masih diberi kesempatan. Dia berjanjin selama bekerja di restoran Papa Nisa, ia tidak akan mengecewakan. Apalagi dia sudah pernah menjadi pelayan sebelumnya walaupun hanya sebentar. Dewa meraih sakunya dan mencari keberadaan uangnya tetapi ia lupa jika tidak mempunyai uang sama sekali apalagi restoran Papa Nisa cukup jauh dari ia berdiri sekarang.
Aku gak mungkin meminta uang kepada Nona tapi aku juga tidak punya sepeserpun untuk naik angkot kesana. Apa aku pinjam uang Nisa saja ya buat naik ojek kesana? Tapi gak enak juga, Nisa sudah beri aku pekerjaan masak aku suruh bayarin ongkos ojek juga? Walau entar aku ganti tetapi kesannya gak enak juga.
Disaat bersamaan, sebuah mobil hitam berhenti didepannya. Setelah berhenti ia melihat Mas Supri keluar dari mobil dan melepaskan kacamata nya. Dewa mengerutkan kening melihat Mas Supri yang tebar pesona padahal disekitar sana hanya ada dirinya seorang.
“Hallo tuan muda, pasti nungguin saya?” tanya Mas Supri.
“Cih.. kepedean!”
“Hahaha... Anda mau kemana? Biar saya antar.”
“Beneran nih?”
“Yadong, anda majikan saya sekarang. Kemanapun anda pergi akan saya antar,” jawab Mas Supri.
Mas Supri keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Dewa. Dewa masuk tetapi na’as kepalanya terbentur atas pintu.
“Eh... tuan muda, anda tidak apa-apa? Ada yang bocor?” tanya mas Supri.
“Hadeh, palingan bentar lagi hilang ingatan,” jawab Dewa sambil mengusap-usap kepalanya.
Setengah badan Mas Supri masuk mobil, ia memegangi kepala Dewa dengan panik. Nona memang memerintahkan untuk menjaga Dewa dan jangan sampai terluka sedikitpun. Disaat bersamaan, beberapa orang melihat mereka dan mengira sedang melakukan adegan tindakan senonoh di dalam mobil. Dewa langsung mendorong Mas Supri dan ia juga kesal karena pria itu bertindak berlebihan.
“Mereka mengira kita gay, bikin kesal saja.”
“Maaf, tuan muda. Saya hanya memastikan jika anda jangan sampai terluka,’ jawab Mas Supri.
Dewa duduk didalam mobil sambil menaikkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya, dia ingin belajar menjadi orang kaya supaya tidak mempermalukan Nona. Dewa melihat kacamata yang menempel dibaju Mas Supri, ia langsung mengambil lalu memakainya.
“Bagaimana? Sudah seperti tuan muda?” tanya Dewa dengan gayanya yang dilebih-lebihkan.
“Mantab, tuan muda.” Mas Supri mengacungkan 2 jempolnya.
Dewa langsung menyuruh Mas Supri mengantarnya ke restoran. Mas Supri dengan sigap masuk mobil dan melajukan mobilnya.
“Tuan muda mau ke restoran itu ada perlu apa?” tanya Mas Supri.
“Aku ingin melamar pekerjaan.”
Mas Supri menaikkan alisnya. Dia melihat Dewa yang duduk dengan angkuh bak seorang tuan muda melalui kaca spion atas.
“Jadi direktur?” tanya Mas Supri.
“No.”
“Jadi manajer?
“No.”
“Jadi chef?”
“No.”
“Lalu jadi apa?” tanya Mas Supri heran.
“Pelayan.”
Mas Supri mengerem mendadak, ia begitu kaget. Dewa memasang wajah biasa saja, mereka saling berpandangan.
“Jika Nona tau bagaimana?” tanya Mas Supri.
“Tidak ada hubungannya dengan Nona.”
“Nona pasti tidak akan setuju.”
Dewa mendengus, bahkan Nona tidak berhak melarang suaminya sebagai seorang pelayan. Mas Supri lalu memutar balikan mobilnya membuat Dewa kesal. Dia tidak ingin sang tuan bekerja sebagai pelayan.
“Jika kau gak mau mengantar, cepat turunkan aku disini saja!” ucap Dewa.
Mas Supri tetap tidak mau dan Dewa tidak kehabisan akal, ia akan mengancam akan loncat dari mobil jika Mas Supri tidak mau putar balik atau menurunkannya dan akhirnya
Mas Supri mengalah dan memilih mengantarkan sang tuan sampai restoran.
Setelah sampai restoran, Nisa yang sedang membantu pelanggan mencatat makanan hanya terheran saat Dewa turun dari mobil mewah. Dewa langsung masuk ke restoran lalu dihampiri Nisa.
“Mobil siapa itu?” tanya Nisa.
“Itu taksi online, tadi gak sempat naik ojek jadi naik taksi online saja.”
Alasannya kok gak masuk akal, ya? Batin Nisa.
Nisa lalu menyuruh Dewa mulai bekerja, ia mengajari Dewa tugas apa saja yang harus dikerjakan. Dewa langsung paham karena tugasnya cukup mudah hanya menncatat pesanan lalu mengantarkannya dan sesekali mengelap meja. Sedari bekerja, Nisa
terus saja melirik Dewa. Dewa memang tampan dan tinggi membuat Nisa jatuh hati kepada Dewa tetapi ia takut mengungkapkan perasaannya karena minder, sebab mantan pacar Dewa sangat cantik bahkan primadona sekolahan.
“Eh, Sarah sudah gak ngabarin lagi?” tanya Nisa.
“Kami sudah lost kontak, kenapa?”
“Gakpapa, kau masih suka sama dia? Sarah selalu cerita sama temen-temen jika kau gak bisa move on dari dia,” ucap Nisa.
“Cewek mah gitu, cari sensasi padahal aku biasa saja. Yang mengajak putus kan aku bukan dia,” jawab Dewa.
Disisi lain,
Mas Supri melapor kepada Nona jika Dewa bekerja di sebuah restoran, wajah Nona biasa saja. Dia memang suka pria pekerja keras seperti Dewa.
“Apa saya harus menyeretnya kemari, Nona?” tanya Arsel yang sedari tadi mendengar percakapan mereka.
“Tidak perlu, aku ingin melihat suamiku bekerja keras dan tidak bergantung denganku.”
Nona berdiri lalu menatap jendela luar. Dia melihat hari ini sangat cerah, ia tersenyum tipis lalu membalikkan badan.
“Siapkan mobil! Aku ingin makan siang di restoran tempat Dewa bekerja,” ucap Nona.
****
Baca novel otor yang lain.
- Mendadak Menikahi CEO Somplak ( TAMAT )
- Jatuh Cinta Dengan Mafia Kejam (On Going)
- Mendadak Menikah Juna & Zara (TAMAT)
Semuanya bikin NGAKAK, baper, sedih. nano nano deh pokonya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
Amethyst
Wkwk kocak🤣
2023-02-25
1
Amethyst
Suka bgt karakternya dewa gokil abis
2023-02-25
0
Edah J
pokoknya ceritanya seruuu👍
2023-01-26
0