"Aku iri dengan burung disana, terbang bebas tanpa hambatan. Sementara aku sudah menikah
diumurku yang akan menginjak 19 tahun ini. Sebenarnya aku masih ingin kuliah dan bekerja untuk membanggakan orang tuaku tetapi semua itu tinggal rencana,” ucap Dewa dengan mata yang memerah.
Mas Supri menepuk punggung Dewa, ia memang merasa kasihan dengan bocah itu. Dia sudah harus menjadi suami disaat umurnya masih muda. Bahkan Mas Supri yang hampir 30 tahun masih betah menjomblo.
" Jangan bersedih! Mungkin ada berkah dibalik semua ini dan lagi pula sepertinya Nona juga menyukai anda."
Nona menyukaiku? Sepertinya tidak mungkin. Dia sangat cuek kepadaku.
"Jika memang begitu aku cukup senang setidaknya pernikahan ini tidak hambar," ucap Dewa sambil tersenyum.
Setelah itu Dewa segera berangkat bekerja. Hari ini dia berangkat lebih awal karena harus membantu membuka restoran. Setelah berganti pakaian dan menyisir rambutnya, ia bergegas ke restoran dengan diantar Mas Supri. Walau dia kini sudah diperlakukan seperti tuan muda tetapi ia harus ingat jika dirinya harus kembali ke asalnya setelah kembali nanti.
Setelah itu ia memasuki mobil mewah dan Mas Supri melajukan mobilnya menuju ke restoran. Sedari tadi Dewa hanya melamun membuat Mas Supri heran.
"Kenapa, Dewa?" tanya Mas Supri.
Dewa menghela nafas, ia bergantian menatap wajah Mas Supri dari spion atas. "Pengantin yang mengenaskan sepertinya cuman aku doang. Sudah punya istri cuek, mau makan pun harus pakai drama dulu. Belum lagi belum dapat jatah malam pertama," ucap Dewa.
Mas Supri tertawa, bocah itu ternyata adalah pria yang normal. Dewa hanya terheran melihat ekspresi supirnya.
20 menit kemudian, mereka sudah sampai di depan restoran. Dewa segera turun dan tidak lupa menyuruh sang supir menjemputnya lagi nanti malam. Dewa langsung masuk dan melihat Papa Nisa dan Nisa sudah bersiap membuka restoran.
"Selamat pagi semua," ucap Dewa.
"Pagi juga, oh ya Dewa. Tugasmu mengelap meja dulu," ucap Papa Nisa.
Dewa menganggukkan kepala lalu segera mengelap meja. Nisa dengan modus mendekatinya dan berbasa-basi mengajaknya mengobrol. Nisa melihat senyuman manis dan lesung pipi dari Dewa membuatnya berbunga-bunga. Andai saja dia bisa merebut hati Dewa betapa senangnya dia.
"Dewa, kenapa kau gak kuliah saja?" tanya Nisa.
"Mungkin dua tahun lagi aku bisa kuliah."
Nisa mengerutkan dahi. "Kenapa harus nunggu 2 tahun lagi?"
Dewa tersenyum, ia menggelengkan kepala. Tidak mungkin dia bilang jika dirinya sudah menikah dan harus menafkahi istrinya. Papa Nisa melihat putrinya yang asyik mengobrol dengan Dewa. Dia tersenyum, sepertinya ia harus menjodohkan Nisa dengan Dewa.
Setelah semua meja di lap, Dewa bisa beristirahat sejenak sambil menunggu pelanggan datang. Sedari tadi ponselnya bergetar tetapi dia tidak berani mengangkat karena sedang bekerja. Dewa memilih mematikan ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya.
Disisi lain,
Nona merasa geram karena bocah itu tidak mengangkat teleponnya. Di ruangannya, ia memegangi kepalanya karena sang ayah mendadak mengajaknya makan siang bersama keluarga besar.
"Arsel, nanti kau langsung jemput Dewa saat jam istirahat tiba," ucap Nona.
"Baik, Nona."
Nona masih kepikiran kejadian kemarin, ia masih takut jika Dewa masih berkomunikasi dengan mantan pacarnya. Bagaimanapun Dewa adalah suaminya. Dia tidak ingin ada perselingkuhan selama kontrak pernikahan sedang berlangsung.
"Nona, Tuan Altaf sepertinya masih mengharapkan anda," ucap Arsel.
Nona meletakkan bolpoinnya, dia menghela nafas panjang. Kekecewaan kepada Tuan Altaf masih menjalar di seluruh pikirannya. Kenapa Tuan Altaf saat itu tidak datang ke pertunangan mereka? Nona sendiripun tahu jika ini adalah pernikahan politik bersama Tuan Altaf tetapi sifat Nona yang memilih profesional dalam pekerjaannya harus menyetujui perjodohan ini walau pada akhirnya Tuan Altaf mengkhianatinya sendiri.
"Jangan bicarakan Altaf! Itulah sebabnya jika dia bertindak semaunya sendiri."
Nona melirik ponselnya, Dewa bahkan tidak menelpon dia kembali membuat Nona semakin kesal.
"Yang harus kita pikirkan adalah Dewa, bocah itu masih labil apalagi dia dikelilingi gadis-gadis cantik," ucap Nona.
"Anda mengkhawatirkan Dewa?" tanya Arsel.
Nona langsung tergagap dan langsung menyuruh Arsel kembali ke ruangannya. Wajah Arsel seketika kecewa, dia memang tidak menyukai Dewa.
Arsel kembali ke ruangannya, dia melihat wajah Nona dari balik tembok kaca yang menyekat antara ruangannya. Dia sangat menyukai Nona tetapi dia sadar jika hubungannya adalah sebatas atasan dan asisten pribadi.
6 tahun kita sudah bersama, Nona. Andai saja anda melihat saya sebentar. Pasti anda bisa melihat cinta saya yang tulus untuk anda.
***
Dewa sedang membawa baki makanan dari dapur, saat akan melangkah keluar seolah bajunya ditarik oleh seseorang. Tanpa menengok dia menyuruh orang itu melepaskannya.
"Jangan begitu! Aku sedang membawa makanan jika jatuh bagaimana? Cepat lepaskan bajuku!" ucap Dewa.
Dewa mencoba melangkah lagi tetapi bajunya masih ditarik oleh seseorang. "Oi! Jangan bercanda! Aku harus segera mengantar makanan ini."
Nisa yang melihatnya dari jauh hanya terheran, dia langsung sadar jika Dewa berbicara sendiri. Senyuman mengembang dari sudut bibirnya. Dia langsung menghampiri Dewa.
"Dewa, kenapa?" tanya Nisa.
Dewa akan menjawab tetapi jemari Nisa langsung menutup mulut Dewa. Tangan Nisa yang lainnya melepaskan baju Dewa yang menyangkut di handle pintu.
"Jadi dari tadi nyangkut?" tanya Dewa malu.
Nisa menganggukkan kepala. "Yaudah, segera antar makanan itu!"
"Siap, bu bos!"
Nisa tersenyum memperhatikan pria idaman yang sekarang bekerja bersamanya. Sampai suatu ketika pria tampan berjas datang dan langsung menghampiri Dewa.
"Hei kau! Nona menyuruhmu untuk datang ke kantornya," ucap Arsel.
Dewa menatap Arsel. Dia langsung berjalan meninggalkan Arsel. Arsel langsung mencegahnya.
"Jangan membuatku untuk menyeretmu masuk mobil!"
Dewa menepis tangan Arsel, ia merasa tidak suka dengan perlakuan Arsel kepadanya.
"Kau tidak lihat jika aku sedang bekerja?" tanya Dewa.
Arsel melihat jam tangan mahalnya. Dia langsung menyunggingkan senyuman. "Kurang 15 menit lagi kau istirahat."
Dewa mengehela nafas. "Mau kurang 15 menit pun belum jatahku untuk beristirahat. Aku disini kerja ikut orang bukan milik sendiri dan tidak bisa seenak jidat pulang," ucap Dewa.
Arsel tersenyum kecut, ia menarik kursi lalu duduk dengan kaki yang diangkat keatas meja. Dia dengan angkuhnya menatap Dewa.
"Bawakan aku camilan dan jus jeruk! Kau masih ada waktu 15 menit 'kan?" ucap Arsel.
Dewa mendengus, ia langsung berjalan menuju dapur untuk menyerahkan kertas pesanan Dewa. Dewa menunggu sekalian dan menatap Arsel yang tersenyum menyeringai kearahnya.
Kenapa dia seolah tidak menyukaiku? Bikin kesal saja.
Setelah pesanan siap, Dewa segera menyerahkannya ke meja Arsel.
"Ini camilan dan jus jeruknya. Selamat menikmati!" ucap Dewa.
"Tunggu! Jus jeruk ini tukar saja dengan jus mangga."
Dewa langsung mengambil jus jeruk itu lalu dengan rasa sabar kembali ke dapur lagi. Arsel merasa senang bisa mengerjai bocah mengesalkan itu selagi tidak ada Nona.
+++++++
Author lagi sibuk mau terbitin buku. Jadi belum bisa update tiap hari. Awal bulan mungkin sudah update normal lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
Zaky Abdillah
lanjut thor
2023-06-26
0
Pepen Sumarna
Arsel cinta terpendam pasti jadinya cinta bertepuk sebelah tangan,...
2023-04-25
0
Roganda tua Hasiholan
gas ngap
2023-01-26
0