Bab 11 : Arsel tidak suka Dewa?

"Aku iri dengan burung disana, terbang bebas tanpa hambatan. Sementara aku sudah menikah

diumurku  yang akan menginjak 19 tahun ini. Sebenarnya aku masih ingin kuliah dan bekerja untuk membanggakan orang tuaku tetapi semua itu tinggal rencana,” ucap Dewa dengan mata yang memerah.

Mas Supri menepuk punggung Dewa, ia memang merasa kasihan dengan bocah itu. Dia sudah harus menjadi suami disaat umurnya masih muda. Bahkan Mas Supri yang hampir 30 tahun masih betah menjomblo.

" Jangan bersedih! Mungkin ada berkah dibalik semua ini dan lagi pula sepertinya Nona juga menyukai anda."

Nona menyukaiku? Sepertinya tidak mungkin. Dia sangat cuek kepadaku.

"Jika memang begitu aku cukup senang setidaknya pernikahan ini tidak hambar," ucap Dewa sambil tersenyum.

Setelah itu Dewa segera berangkat bekerja. Hari ini dia berangkat lebih awal karena harus membantu membuka restoran. Setelah berganti pakaian dan menyisir rambutnya, ia bergegas ke restoran dengan diantar Mas Supri. Walau dia kini sudah diperlakukan seperti tuan muda tetapi ia harus ingat jika dirinya harus kembali ke asalnya setelah kembali nanti.

Setelah itu ia memasuki mobil mewah dan Mas Supri melajukan mobilnya menuju ke restoran. Sedari tadi Dewa hanya melamun membuat Mas Supri heran.

"Kenapa, Dewa?" tanya Mas Supri.

Dewa menghela nafas, ia bergantian menatap wajah Mas Supri dari spion atas. "Pengantin yang mengenaskan sepertinya cuman aku doang. Sudah punya istri cuek, mau makan pun harus pakai drama dulu. Belum lagi belum dapat jatah malam pertama," ucap Dewa.

Mas Supri tertawa, bocah itu ternyata adalah pria yang normal. Dewa hanya terheran melihat ekspresi supirnya.

20 menit kemudian, mereka sudah sampai di depan restoran. Dewa segera turun dan tidak lupa menyuruh sang supir menjemputnya lagi nanti malam. Dewa langsung masuk dan melihat Papa Nisa dan Nisa sudah bersiap membuka restoran.

"Selamat pagi semua," ucap Dewa.

"Pagi juga, oh ya Dewa. Tugasmu mengelap meja dulu," ucap Papa Nisa.

Dewa menganggukkan kepala lalu segera mengelap meja. Nisa dengan modus mendekatinya dan berbasa-basi mengajaknya mengobrol. Nisa melihat senyuman manis dan lesung pipi dari Dewa membuatnya berbunga-bunga. Andai saja dia bisa merebut hati Dewa betapa senangnya dia.

"Dewa, kenapa kau gak kuliah saja?" tanya Nisa.

"Mungkin dua tahun lagi aku bisa kuliah."

Nisa mengerutkan dahi. "Kenapa harus nunggu 2 tahun lagi?"

Dewa tersenyum, ia menggelengkan kepala. Tidak mungkin dia bilang jika dirinya sudah menikah dan harus menafkahi istrinya. Papa Nisa melihat putrinya yang asyik mengobrol dengan Dewa. Dia tersenyum, sepertinya ia harus menjodohkan Nisa dengan Dewa.

Setelah semua meja di lap, Dewa bisa beristirahat sejenak sambil menunggu pelanggan datang. Sedari tadi ponselnya bergetar tetapi dia tidak berani mengangkat karena sedang bekerja. Dewa memilih mematikan ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya.

Disisi lain,

Nona merasa geram karena bocah itu tidak mengangkat teleponnya. Di ruangannya, ia memegangi kepalanya karena sang ayah mendadak mengajaknya makan siang bersama keluarga besar.

"Arsel, nanti kau langsung jemput Dewa saat jam istirahat tiba," ucap Nona.

"Baik, Nona."

Nona masih kepikiran kejadian kemarin, ia masih takut jika Dewa masih berkomunikasi dengan mantan pacarnya. Bagaimanapun Dewa adalah suaminya. Dia tidak ingin ada perselingkuhan selama kontrak pernikahan sedang berlangsung.

"Nona, Tuan Altaf sepertinya masih mengharapkan anda," ucap Arsel.

Nona meletakkan bolpoinnya, dia menghela nafas panjang. Kekecewaan kepada Tuan Altaf masih menjalar di seluruh pikirannya. Kenapa Tuan Altaf saat itu tidak datang ke pertunangan mereka? Nona sendiripun tahu jika ini adalah pernikahan politik bersama Tuan Altaf tetapi sifat Nona yang memilih profesional dalam pekerjaannya harus menyetujui perjodohan ini walau pada akhirnya Tuan Altaf mengkhianatinya sendiri.

"Jangan bicarakan Altaf! Itulah sebabnya jika dia bertindak semaunya sendiri."

Nona melirik ponselnya, Dewa bahkan tidak menelpon dia kembali membuat Nona semakin kesal.

"Yang harus kita pikirkan adalah Dewa, bocah itu masih labil apalagi dia dikelilingi gadis-gadis cantik," ucap Nona.

"Anda mengkhawatirkan Dewa?" tanya Arsel.

Nona langsung tergagap dan langsung menyuruh Arsel kembali ke ruangannya. Wajah Arsel seketika kecewa, dia memang tidak menyukai Dewa.

Arsel kembali ke ruangannya, dia melihat wajah Nona dari balik tembok kaca yang menyekat antara ruangannya. Dia sangat menyukai Nona tetapi dia sadar jika hubungannya adalah sebatas atasan dan asisten pribadi.

6 tahun kita sudah bersama, Nona. Andai saja anda melihat saya sebentar. Pasti anda bisa melihat cinta saya yang tulus untuk anda.

***

Dewa sedang membawa baki makanan dari dapur, saat akan melangkah keluar seolah bajunya ditarik oleh seseorang. Tanpa menengok dia menyuruh orang itu melepaskannya.

"Jangan begitu! Aku sedang membawa makanan jika jatuh bagaimana? Cepat lepaskan bajuku!" ucap Dewa.

Dewa mencoba melangkah lagi tetapi bajunya masih ditarik oleh seseorang. "Oi! Jangan bercanda! Aku harus segera mengantar makanan ini."

Nisa yang melihatnya dari jauh hanya terheran, dia langsung sadar jika Dewa berbicara sendiri. Senyuman mengembang dari sudut bibirnya. Dia langsung menghampiri Dewa.

"Dewa, kenapa?" tanya Nisa.

Dewa akan menjawab tetapi jemari Nisa langsung menutup mulut Dewa. Tangan Nisa yang lainnya melepaskan baju Dewa yang menyangkut di handle pintu.

"Jadi dari tadi nyangkut?" tanya Dewa malu.

Nisa menganggukkan kepala. "Yaudah, segera antar makanan itu!"

"Siap, bu bos!"

Nisa tersenyum memperhatikan pria idaman yang sekarang bekerja bersamanya. Sampai suatu ketika pria tampan berjas datang dan langsung menghampiri Dewa.

"Hei kau! Nona menyuruhmu untuk datang ke kantornya," ucap Arsel.

Dewa menatap Arsel. Dia langsung berjalan meninggalkan Arsel. Arsel langsung mencegahnya.

"Jangan membuatku untuk menyeretmu masuk mobil!"

Dewa menepis tangan Arsel, ia merasa tidak suka dengan perlakuan Arsel kepadanya.

"Kau tidak lihat jika aku sedang bekerja?" tanya Dewa.

Arsel melihat jam tangan mahalnya. Dia langsung menyunggingkan senyuman. "Kurang 15 menit lagi kau istirahat."

Dewa mengehela nafas. "Mau kurang 15 menit pun belum jatahku untuk beristirahat. Aku disini kerja ikut orang bukan milik sendiri dan tidak bisa seenak jidat pulang," ucap Dewa.

Arsel tersenyum kecut, ia menarik kursi lalu duduk dengan kaki yang diangkat keatas meja. Dia dengan angkuhnya menatap Dewa.

"Bawakan aku camilan dan jus jeruk! Kau masih ada waktu 15 menit 'kan?" ucap Arsel.

Dewa mendengus, ia langsung berjalan menuju dapur untuk menyerahkan kertas pesanan Dewa. Dewa menunggu sekalian dan menatap Arsel yang tersenyum menyeringai kearahnya.

Kenapa dia seolah tidak menyukaiku? Bikin kesal saja.

Setelah pesanan siap, Dewa segera menyerahkannya ke meja Arsel.

"Ini camilan dan jus jeruknya. Selamat menikmati!" ucap Dewa.

"Tunggu! Jus jeruk ini tukar saja dengan jus mangga."

Dewa langsung mengambil jus jeruk itu lalu dengan rasa sabar kembali ke dapur lagi. Arsel merasa senang bisa mengerjai bocah mengesalkan itu selagi tidak ada Nona.

+++++++

Author lagi sibuk mau terbitin buku. Jadi belum bisa update tiap hari. Awal bulan mungkin sudah update normal lagi.

Terpopuler

Comments

Zaky Abdillah

Zaky Abdillah

lanjut thor

2023-06-26

0

Pepen Sumarna

Pepen Sumarna

Arsel cinta terpendam pasti jadinya cinta bertepuk sebelah tangan,...

2023-04-25

0

Roganda tua Hasiholan

Roganda tua Hasiholan

gas ngap

2023-01-26

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Prolog
2 Bab 2 : Dipenuhi orang aneh
3 Bab 3 : Catatan kegiatan?
4 Bab 4 : Sakit Perut?
5 Bab 5 : Saling jual mahal?
6 Bab 6 : Pekerjaan
7 Bab 7 : Pekerjaan Dewa
8 Bab 8 : Restoran
9 Bab 9 : Perkara gas elpiji
10 Bab 10 : Perhatian?
11 Bab 11 : Arsel tidak suka Dewa?
12 Bab 12 : Menantu yang diremehkan
13 Bab 13 : First kiss
14 Bab 14 : Nona kecewa
15 Bab 15 : Permintaan maaf Nona
16 Bab 16 : Permintaan maaf Nona
17 Bab 17 : Sesuatu yang tak terduga
18 Bab 18 : Ambisi
19 Bab 19 : Mulai suka
20 Bab 20 : Siang berkeringat
21 Bab 21 : Terlihat gembel
22 Bab 22 : Perhatian
23 Bab 23 : Romantisnya
24 Bab 24 : Zalina
25 Bab 25 : Gugatan
26 Bab 26 : Keluarga serakah
27 Bab 27 : Pengambilan ijazah
28 Bab 28 : Makan bersama
29 Bab 29 : Jalan-jalan ke mall
30 Bab 30 : Kemesraan
31 Bab 31 : Saling mencintai
32 Bab 32 : Jangan hina pekerjaan orang tuaku!
33 Bab 33 : Tertabrak
34 Bab 34 : Terfitnah
35 Bab 35 : Kebijakan Dewa
36 Bab 36 : Berkemas
37 Bab 37 : Sarah marah
38 Bab 38 : Nona cemburu
39 Bab 39 : Ke-uwu-an pasangan DeNo
40 Bab 40 : Sarah
41 Bab 41 : Pulang ke rumah
42 FIX, ini visualnya
43 Bab 42 : Nona dan Bara
44 Bab 43 : Bagaimana mau mempunyai bayi jika makan saja masih ikut Nona?
45 Bab 44 : Maafkan aku, Dewa!
46 Bab 45 : Nona mulai was-was
47 Bab 46 : Motivasi untuk Dewa
48 Bab 47 : Sarah
49 Bab 48 : Mandi syahdu
50 Bab 49 : Dekapan Bara
51 Bab 50 : Tambahan pekerjaan
52 Bab 51 : Penyesalan
53 Bab 52 : Predator
54 Bab 53 : Kesedihan Bara
55 Bab 54 : Proses Revisi
56 Bab 55 : Proses Revisi
57 Bab 56 : Semua mengetahui
58 Bab 57 : Ibu kandung Sarah
59 Bab 58 : Tetangga
60 Bab 59 : Pingsan
61 Bab 60 : Meninggal
62 Bab 61 : Grup Chat
63 Bab 62 : Lamunan Dewa
64 Bab 63 : Apotek
65 Bab 64 : Kesialan
66 Bab 65 : Akhirnya
67 Bab 66 : Trauma Elara
68 Bab 67 : Isi hati
69 Bab 68 : Ungkapan Bara
70 Bab 69 : Dewa terjebak
71 Bab 70 : Kesedihan Bara
72 Bab 71 : Ternyata
73 Bab 72 : Cuci mobil
74 Bab 73 : Menyesali
75 Bab 74 : Jadian
76 Bab 75 : Wiratmaja yang aneh
77 Bab 76 : Apa yang sebenarnya terjadi?
78 Bab 77 : Kembar
79 Bab 78 : Puzzle mulai terkumpul
80 Bab 79 : Skizofrenia
81 Bab 80 : Pingsan dua kali
82 Bab 81 : Jepit rambut
83 Bab 82 : Mengelak
84 Bab 83 : Nagara
85 Bab 84 : Kaya tapi bodoh
86 Bab 85 : Perasaan ibu hamil
87 Bab 86 : Malam kelabu
88 Bab 87 : Terfitnah
89 Bab 88 : Cengeng
90 Bab 89 : Kejujuran
91 Bab 90 : Permintaan Nona
92 Bab 91 : Keposesifan
93 Bab 92 : Toko online
94 Bab 93 : Arsel meminta maaf
95 Bab 94 : Detektif Nagara
96 Bab 95 : Keponakan
97 Bab 96 : Alisa
98 Bab 97 : Kebenaran
99 Bab 98 : Maaf
100 Skip
101 Bab 99 : Beberes gudang
102 Bab 100 : Satu ronde saja
103 Bab 101 : Naik helikopter
104 Bab 102 : Nona Dewa
105 Bab 103 : Kesuksesan
106 Bab 104 : Bocah
107 Bab 105 : Menantu tak dianggap
108 Bab 106 : Pertengkaran
109 Bab 107 : Pembalasan
110 Bab 108 : Hamil?
111 Bab 109 : Nikah
112 Bab 110 : Cemburu
113 Bab 111 : Penganiayaan?
114 Bab 112 : Sebenarnya?
115 Bab 113 : Main hujan
116 Bab 114 : Dewa Arga
117 Bab 115 : Menuju akhir
118 Novel baru ZIAN & ELARA
119 Bab 116 : Menuju akhir 2
120 Bab 117 : SEASON 1 TAMAT
121 Bonus Chapter
122 Bonus Chapter
123 Bonus Chapter
124 Bonus Chapter Terakhir
125 SEASON 2 DIMULAI - Bab 1
126 Season 2 - Bab 2
127 Season 2 - Bab 3
128 Season 2 : Bab 4
129 Season 2 : Bab 5
130 Season 2 : Bab 6
131 Season 2 : Bab 7
132 Season 2 : Bab 8
133 Season 2 : Bab 9
134 Season 2 : Bab 10
135 Season 2 : TAMAT
136 Novel Baru
137 Bonus chapter : Arsel & Mona
138 Bonus chapter : Arsel & Mona 2
139 Bonus Chapter : Arsel & Mona 3
140 Bonus chapter : Arsel & Mona 4
141 Nih ....
142 Promo novel baru
143 Promosi novel
144 Novel baru
Episodes

Updated 144 Episodes

1
Bab 1 : Prolog
2
Bab 2 : Dipenuhi orang aneh
3
Bab 3 : Catatan kegiatan?
4
Bab 4 : Sakit Perut?
5
Bab 5 : Saling jual mahal?
6
Bab 6 : Pekerjaan
7
Bab 7 : Pekerjaan Dewa
8
Bab 8 : Restoran
9
Bab 9 : Perkara gas elpiji
10
Bab 10 : Perhatian?
11
Bab 11 : Arsel tidak suka Dewa?
12
Bab 12 : Menantu yang diremehkan
13
Bab 13 : First kiss
14
Bab 14 : Nona kecewa
15
Bab 15 : Permintaan maaf Nona
16
Bab 16 : Permintaan maaf Nona
17
Bab 17 : Sesuatu yang tak terduga
18
Bab 18 : Ambisi
19
Bab 19 : Mulai suka
20
Bab 20 : Siang berkeringat
21
Bab 21 : Terlihat gembel
22
Bab 22 : Perhatian
23
Bab 23 : Romantisnya
24
Bab 24 : Zalina
25
Bab 25 : Gugatan
26
Bab 26 : Keluarga serakah
27
Bab 27 : Pengambilan ijazah
28
Bab 28 : Makan bersama
29
Bab 29 : Jalan-jalan ke mall
30
Bab 30 : Kemesraan
31
Bab 31 : Saling mencintai
32
Bab 32 : Jangan hina pekerjaan orang tuaku!
33
Bab 33 : Tertabrak
34
Bab 34 : Terfitnah
35
Bab 35 : Kebijakan Dewa
36
Bab 36 : Berkemas
37
Bab 37 : Sarah marah
38
Bab 38 : Nona cemburu
39
Bab 39 : Ke-uwu-an pasangan DeNo
40
Bab 40 : Sarah
41
Bab 41 : Pulang ke rumah
42
FIX, ini visualnya
43
Bab 42 : Nona dan Bara
44
Bab 43 : Bagaimana mau mempunyai bayi jika makan saja masih ikut Nona?
45
Bab 44 : Maafkan aku, Dewa!
46
Bab 45 : Nona mulai was-was
47
Bab 46 : Motivasi untuk Dewa
48
Bab 47 : Sarah
49
Bab 48 : Mandi syahdu
50
Bab 49 : Dekapan Bara
51
Bab 50 : Tambahan pekerjaan
52
Bab 51 : Penyesalan
53
Bab 52 : Predator
54
Bab 53 : Kesedihan Bara
55
Bab 54 : Proses Revisi
56
Bab 55 : Proses Revisi
57
Bab 56 : Semua mengetahui
58
Bab 57 : Ibu kandung Sarah
59
Bab 58 : Tetangga
60
Bab 59 : Pingsan
61
Bab 60 : Meninggal
62
Bab 61 : Grup Chat
63
Bab 62 : Lamunan Dewa
64
Bab 63 : Apotek
65
Bab 64 : Kesialan
66
Bab 65 : Akhirnya
67
Bab 66 : Trauma Elara
68
Bab 67 : Isi hati
69
Bab 68 : Ungkapan Bara
70
Bab 69 : Dewa terjebak
71
Bab 70 : Kesedihan Bara
72
Bab 71 : Ternyata
73
Bab 72 : Cuci mobil
74
Bab 73 : Menyesali
75
Bab 74 : Jadian
76
Bab 75 : Wiratmaja yang aneh
77
Bab 76 : Apa yang sebenarnya terjadi?
78
Bab 77 : Kembar
79
Bab 78 : Puzzle mulai terkumpul
80
Bab 79 : Skizofrenia
81
Bab 80 : Pingsan dua kali
82
Bab 81 : Jepit rambut
83
Bab 82 : Mengelak
84
Bab 83 : Nagara
85
Bab 84 : Kaya tapi bodoh
86
Bab 85 : Perasaan ibu hamil
87
Bab 86 : Malam kelabu
88
Bab 87 : Terfitnah
89
Bab 88 : Cengeng
90
Bab 89 : Kejujuran
91
Bab 90 : Permintaan Nona
92
Bab 91 : Keposesifan
93
Bab 92 : Toko online
94
Bab 93 : Arsel meminta maaf
95
Bab 94 : Detektif Nagara
96
Bab 95 : Keponakan
97
Bab 96 : Alisa
98
Bab 97 : Kebenaran
99
Bab 98 : Maaf
100
Skip
101
Bab 99 : Beberes gudang
102
Bab 100 : Satu ronde saja
103
Bab 101 : Naik helikopter
104
Bab 102 : Nona Dewa
105
Bab 103 : Kesuksesan
106
Bab 104 : Bocah
107
Bab 105 : Menantu tak dianggap
108
Bab 106 : Pertengkaran
109
Bab 107 : Pembalasan
110
Bab 108 : Hamil?
111
Bab 109 : Nikah
112
Bab 110 : Cemburu
113
Bab 111 : Penganiayaan?
114
Bab 112 : Sebenarnya?
115
Bab 113 : Main hujan
116
Bab 114 : Dewa Arga
117
Bab 115 : Menuju akhir
118
Novel baru ZIAN & ELARA
119
Bab 116 : Menuju akhir 2
120
Bab 117 : SEASON 1 TAMAT
121
Bonus Chapter
122
Bonus Chapter
123
Bonus Chapter
124
Bonus Chapter Terakhir
125
SEASON 2 DIMULAI - Bab 1
126
Season 2 - Bab 2
127
Season 2 - Bab 3
128
Season 2 : Bab 4
129
Season 2 : Bab 5
130
Season 2 : Bab 6
131
Season 2 : Bab 7
132
Season 2 : Bab 8
133
Season 2 : Bab 9
134
Season 2 : Bab 10
135
Season 2 : TAMAT
136
Novel Baru
137
Bonus chapter : Arsel & Mona
138
Bonus chapter : Arsel & Mona 2
139
Bonus Chapter : Arsel & Mona 3
140
Bonus chapter : Arsel & Mona 4
141
Nih ....
142
Promo novel baru
143
Promosi novel
144
Novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!