Bara begitu terkejut, Elara langsung menggenggam tangan Dewa tetapi Dewa menepisnya. Nona yang berada disana cukup cemburu. Rupanya memang benar jika Dewa adalah primadona disekolahnya.
"Dewa mumpung ada papaku disini, ayo kita berkencan!" ucap Elara.
Dewa menepis tangan Elara, Bara langsung menarik tangan Elara supaya mendekatinya.
"Wuih... Playboy rupanya?" ucap Bayu menambah suasana menjadi runyam.
"Pah, Dewa adalah orang yang sering aku ceritain. Papa pernah bilang 'kan untuk menuruti semua keinginanku?" ucap Elara.
Bara mengusap wajahnya dengan kasar. Istrinya mencoba menenangkannya. Sepertinya akan ada pertikaian setelah ini. Elara masih bingung dengan sikap orang tuanya yang selalu mendukungnya akan tetapi sekarang seolah tidak mendukungnya sama sekali.
"Ela, kita hanya teman. Tolong jangan berpikiran lebih dari itu!" ucap Dewa dengan halus.
"Kenapa? Aku menyukaimu dan rasanya ingin sampai mati aku harus mendapatkanmu," ucap Elara ambisius.
Sang mama mencoba memberi pengertian jika Dewa sudah menikah dengan tantenya. Elara sangat terkejut, dia memandang tantenya yang duduk dibangku tetapi tidak menatapnya. Elara langsung mendekati Nona dan menggoyang-goyangkan bahu Nona dengan kesal.
"Tante sengaja ya menikah dengan Dewa? Tante tahu 'kan jika Dewa cowok yang aku taksir? Kenapa tante tega denganku? Dasar pedofil!" ucap Elara.
Bara langsung menarik tubuh Elara. Elara menjadi histeris dan mengamuk. Gadis itu memang dikenal ambisius dalam segala hal, orang tuanya langsung membawa keluar.
Dewa tidak menyangka jika teman sekelas yang termasuk lulusan terbaik bersifat menyeramkan seperti itu. Dewa lalu mencoba mendekati Nona tetapi Bagas mencegahnya.
"Kau pulang saja!" ucap Bagas.
"Tidak bisa, keadaan Nona juga masih syok. Aku suami Nona dan harus menjaganya," ucap Dewa.
Bayu dan Bagas berdecih, dia mendorong tubuh Dewa tetapi Nona langsung menarik tangan Dewa.
"Kakak saja yang pulang! Aku ingin disini bersama suamiku," ucap Nona.
Mendengar itu, Dewa semakin senang. Dia duduk disamping Nona sambil menggenggam tangannya dengan erat. Bayu dan Bagas saling berpandangan, mereka memang harus pulang karena juga memiliki keluarga masing-masing. Mereka juga mengajak sang mama untuk pulang tetapi Mama menolak dan memilih menunggu suaminya bersama Dewa dan Nona.
Setelah Bayu dan Bagas pulang, sang mama memilih menunggu didalam ruangan yang merawat suaminya. Sedangkan Nona dan Dewa menunggu didepan ruangan. Mereka saling terdiam di keheningan malam.
Jam terus saja berdetak menggema di ruangan yang sudah sepi itu. Nona terus saja diam mungkin karena syok mengetahui ayahnya tiba-tiba sakit.
"Nona lapar atau haus? Biar aku belikan di kantin?" tanya Dewa.
Nona menggelengkan kepala. Dewa lalu mencoba merangkul Nona dan menyandarkan kepala Nona di dadanya. Dekapan Dewa membuat Nona menjadi lebih tenang. Belaian tangan Dewa di rambut Nona membuatnya semakin terbuai dengan kenyamanan. Aroma tubuh Dewa yang nyaman membuat Nona menjadi mengantuk lalu terlelap dalam mimpi yang indah di dekapan sang suami.
Nafas Nona terdengar teratur, Dewa mengintip sedikit dan benar saja Nona sudah tertidur. Wajah Nona sangat cantik dan elegan saat tengah tidur. Dewa tersenyum lalu mengecup pucuk kepala Nona lalu ikut tertidur bersamanya.
Disisi lain,
Setelah Elara pulang bersama orang tuanya, dia langsung ke kamar dan membantingi apa yang ada didepannya. Dia menjadi seperti orang gila, mama dan papanya mencoba menenangkannya.
"Ela, ku mohon jangan seperti ini! Dia sudah menikah dengan tantemu," ucap Bara.
"Kenapa bisa? Dewa itu milikku. Papa harus memisahkan mereka!" teriak Elara.
"Elara sayang, tenang! Mama akan mencari pria yang lebih baik dari temanmu itu," ucap Mamanya.
Elara semakin histeris, dia lalu menjambaki rambutnya sendiri seperti orang gila. Papa dan mamanya sangat bingung melihat putri satu-satunya seperti ini.
Bara mencoba memeluk Elara dan mengusap rambutnya. Elara menangis tersedu-sedu.
"Papa harus janji denganku untuk mendapatkan Dewa. Papa harus janji!" ucap Elara.
Bara hanya terdiam, ia melirik istrinya yang sama bingungnya. Setelah beberapa menit Elara terdiam, Bara segera membopong Elara untuk tidur di ranjangnya. Bara sangat menyayangi putrinya dan selalu menuruti setiap keinginannya tetapi kali ini akan jauh berbeda.
***
Pagi hari, Dewa terbangun dari terlelapnya. Bahunya sangat pegal karena harus menyangga kepala Nona. Dia melirik Nona yang masih tertidur begitu nyaman. Tangan Dewa mencoba menepuk pipi Nona dengan lembut. Nona mengerjapkan mata lalu melihat disekelilingnya. Dirinya tersadar berada di dada Dewa lalu langsung berdiri.
"Maaf," ucap Nona.
Dewa tersenyum. "Sana cuci muka! Setelah ini kita sarapan. Aku juga harus berangkat bekerja," ucap Dewa sambil berdiri dan mencari kamar mandi.
Nona menatap punggung Dewa, dia tersenyum tipis. Banyak perempuan yang menyukai Dewa. Nona merasa bersyukur bisa menikah dengannya walau sebatas nikah kontrak.
Setelah mencuci wajah, mereka lalu bertemu di kantin. Dewa memilih sarapan dengan soto dan minum teh hangat. Sedangkan Nona lebih memilih makan nasi kuning yang terbungkus oleh mika. Mereka makan dengan diam dan tenang, Nona sedari tadi melirik Dewa.
"Oh ya, Nona. Ini uang jatahmu 2 hari kemarin. Maaf hanya bisa menjatahmu segini. Aku tahu uang ini tidak bermanfaat untukmu bahkan untuk membeli bedakmu saja kurang," ucap Dewa.
Nona tersenyum, dia menolak dengan halus. Itu adalah uang Dewa, dia tidak pantas menerima hasil jerih payah Dewa saat bekerja.
"Gunakan uang ini untuk keperluanmu saja!" ucap Nona.
"Aku akan sangat sedih jika aku tidak bisa menafkahimu walau hanya sedikit. Jadi terimalah dan kalau bisa uang ini untuk belanja sederhana. Kau bisa memasak 'kan? Aku suka masakan sederhana seperti sayur lodeh dengan ikan asin beserta tempe. Kapan-kapan masakin, ya?" pinta Dewa.
lo**deh? Makanan mana itu? Dari bahasanya seperti makanan Italia? Makanan Perancis atau bahkan Spanyol?
Sambil berpikir, Nona menggaruk kepalanya. Dia bahkan juga baru pertama kali memakan nasi kuning di mika ini. Memang terlihat enak dan gurih. Sepertinya Nona harus melepas makanan bulenya, Nona memang blasteran bule jadi makanan yang dia konsumsi tak jauh dari roti gandum tetapi sesekali dia tetap memakan nasi.
Nona melahap makanannya dengan pelan, dia menyuapkan nasi kuning itu dengan perlahan. Nona mencoba melihat postur tubuh Dewa yang tinggi. Memang begitu tampan.
"Kau berolahraga seperti gym?" tanya Nona.
Dewa mengerutkan dahi. "Untuk apa? Membuang uang saja."
"Tapi bentuk tubuhmu seperti bukan anak SMA."
Dewa tertawa kecil, "Ya kan aku sudah lulus SMA. Kau lupa jika aku pemain basket. Kapan-kapan akan ku ajak menontonku saat bertanding," ucap Dewa.
Nona hanya menganggukan kepala. Mereka lalu menghabiskan makanan habis tak tersisa dan saat akan membayarnya mereka berebut untuk membayar.
"Dewa, biar aku saja yang bayar," ucap Nona.
"Bagaimana jika kita suit saja? Yang kalah yang harus membayar."
Mereka langsung suit dan yang menang adalah Nona jadi Dewa yang harus membayar makanan mereka. Uang Dewa memang tidak banyak tetapi masak sang istri yang membayarinya makan? Dewa tidak mungkin merepotkan istrinya.
****
Jika suka dengan cerita ini mohon untuk meninggalkan komen, vote, beri hadiah dan likenya supaya otor makin semangat buat update cerita ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
Deni Kurniawan
oke
2024-06-18
0
khanafi
lumayan laaah ada lucu' lucu nya
2024-01-08
0
rony
lumayan menghibur .jadi sering2 senyum bacanya.konyol
2023-10-01
1