Para pengunjung restoran terkesima dengan ketampanan Dewa. Dewa yang mempunyai senyum manis serta kulit yang tidak terlalu putih membuat dia sangat tampan ala orang Indonesia.
Apalagi dia sangat ramah dengan para pengunjung.
"Cieee... Di gombalin mbak-mbak," ejek Nisa.
Percayalah dibalik kata ciee terdapat rasa sesak dan cemburu di hati. Dia berpura-pura baik saja.
"Apaan, Nis? Kita cuman ngobrol biasa kok."
Dewa lalu kembali melayani pelanggan lain. Nisa diam-diam mengabadikan Dewa dengan memotretnya. Andai saja ia bisa berpacaran dengan Dewa, pasti dia akan memberi jabatan tinggi kepada Dewa di restoran papanya.
Disaat bersamaan, seorang yang cantik keluar dari mobil mewah dengan pria yang tampan dan memakai jas rapi.
Arsel membukakan pintu dan menarik kursi untuk sang Nona.
Nisa menghampiri mereka dan memberikan daftar menu.
"Bisakah pria itu yang melayaniku?" tanya Nona sambil membuka kacamatanya.
Nisa langsung melihat Dewa.
"Kenapa? Dengan saya juga sama saja," ucap Nisa.
"Aku ingin pria itu yang melayaniku. Semoga saja kau tidak membuatku berkata untuk ketiga kalinya," ucap Nona.
Nisa kesal tetapi ia meredam emosinya dan segera menyuruh Dewa untuk melayani wanita aneh itu. Dewa belum mengetahui yang akan ia layani adalah istrinya sendiri. Ketika membalikkan badan, ia menatap meja nomor 3.
Nona? Kenapa dia ada disini?
Dewa melangkah pelan seolah tidak yakin, dia melangkahkan kakinya perlahan demi perlahan. Nona melihatnya dan Dewa refleks tersenyum dan langsung berjalan cepat.
"Tolong bawakan kami makanan spesial di restoran ini!" ucap Nona.
"Baik."
Dewa membalikkan badan, ia melangkah baru 2 langkah tetapi langsung terhenti dan membalikan badan kearah Nona lagi.
"Nona, masakan disini sangat pedas, kau yakin masih mau memesan?" tanya Dewa.
"Bawakan saja! Makan atau tidak kumakan itu bukan urusanmu," ucap Non ketus.
"Tapi Nona, jika perutmu sakit aku tidak bertanggung jawab. Tapi jika perutmu mual karena hamil pasti aku bertanggung jawab," ucap Dewa menggoda Nona.
Mendengar kata hamil, Nona langsung memerah. Bahkan bocah laknat itu belum berani menyentuhnya. Arsel yang berdiri dibelakang Nona memasang tatapan tajam kearah Dewa. Dewa hanya menjulurkan lidah seolah mengejek Arsel.
"Sudah sana! Kau membuatku kesal saja," ucap Nona sambil mengibaskan tangannya.
Dewa tersenyum, ia bertanya lagi kepada Nona untuk memastikan pesanan Nona.
"Jadi pilih makan pedas terus sakit perut atau pilih mual-mual karena hamil?" tanya Dewa membuat Nona semakin memerah.
"A--apa y--yang kau katakan? Aku lebih pilih sakit perut karena makan pedas," jawab Nona terbata-bata.
"Wow... Pilihan yang tepat. Siapa juga yang mau menghamili Nona jutek sepertimu? Sekali sentuh, kau langsung meraung seperti singa. Raoooorrr... Raoooorrr..." Dewa menirukan suara singa.
Arsel sudah tidak sabar lagi, ia mendekati Dewa tetapi dicegah oleh Nona.
"Nona, bocah itu mengesalkan," ucap Dewa.
Nona menggelengkan kepala. Dia menyuruh Arsel kembali ke belakangnya. Dewa menatapnya seolah penuh ejekan dan dia senang jika Nona selalu melindunginya.
"Cepat bawakan makanannya!" ucap Nona.
"Oke."
Dewa membalikan badan tetapi ia terhenti dan ingin bertanya lagi tetapi Nona sepertinya sudah tidak tahan dengan tingkah bocah itu.
"Cepat bawakan saja!" ucap Nona mulai hilang kesabaran.
"Wuiiih... Udah gak nahan, ya?" tanya Dewa.
Nona menatap tajam Dewa. Dewa hanya tersenyum manis membuat Nona tidak tega memarahi bocah itu.
"Satu atau dua?" tanya Dewa.
"Apanya?"
"Pesananmu," ucap Dewa.
"Satu."
"Sekertarismu?" tanya Dewa lagi.
"Ku bilang hanya satu." Nona semakin kesal.
"Cieee... tidak dianggap," ejek Dewa kepada Arsel lalu berlari meninggalkan mereka.
Nona menghela nafas dan menghirup udara disekitarnya kuat-kuat. Semakin hari bocah itu semakin mengesalkan saja seperti disengaja.
Dewa memberikan kertas pesanannya ke dapur lalu keluar lagi untuk melayani pelanggan lain. Baru saja keluar, ia sudah dipanggil oleh orang yang ia kenal yaitu Sarah. Si mantan pacar yang sangat cantik jelita ulala ulala. Entah itu kebetulan atau bagaimana yang jelas Dewa tidak ada pilihan lain lagi.
"Eh, kau tidak bisa move on denganku sampai mengekorku?" tanya Sarah.
"Mengekor? Kau punya ekor?" jawab Dewa ngasal.
"What?!"
"Kau perempuan mana punya ekor. Aku laki-laki jelas punya ekor," ucap Dewa.
Sarah dan teman gengnya hanya mengerutkan dahi mendengar ucapan Dewa.
"Mana ekormu?" tanya teman Sarah seolah mengejek.
"Ekorku bukan dibelakang tapi di depan," jawab Dewa.
Para gadis cantik itu langsung memerah karena mengerti maksud ucapan Dewa. Sarah hanya memalingkan wajah. Dia juga nampak malu.
"Jadi mau pesan apa?" tanya Dewa sambil akan menulis dikertas.
Arsel sedari tadi menatap tajam Dewa, ia merasa tidak suka jika Dewa terlalu dekat dengan perempuan lain. Nona hanya meliriknya dan seolah tidak terjadi apa-apa.
Setelah para gadis itu memesan, Dewa segera menulisnya dan langsung ke dapur. Dia bertemu dengan Nisa yang sedang duduk.
"Nis, kau tidak apa-apa?" tanya Dewa.
"Iya, hanya istirahat bentar. Aku disini hanya sekedar bantu-bantu saja."
Dewa tersenyum lalu menepuk bahu Nisa membuat jantung gadis itu berdegup kencang.
"Makanan meja No 3 sudah siap," ucap seorang koki.
Dewa langsung mengambilnya dan mengantarkannya kepada Nona. Dewa meletakan hati-hati makanan itu diatas meja.
"Selamat menikmati makanannya," ucap Dewa ramah.
Dewa berjalan meninggalkan Nona.
"Tunggu!" ucap Nona menghentikan langkah Nona.
"Makanlah bersamaku!" pinta Nona.
"Maaf, tidak bisa. Aku harus kembali bekerja. Kau minta saja sekertarismu untuk menemanimu makan," ucap Dewa.
"Aku kenal dengan pemilik restoran ini," ucap Nona seolah mengancam Dewa.
"Ah, aku malah kenal sama anak pemilik restoran ini," ucap Dewa tidak mau kalah.
Nona menatap kesal. Bocah itu selalu ingin menang dalam setiap pembicaraan.
"Jika Nona menyuruh, kau harus mematuhinya. Apa kau tidak membaca panji-panji kontrak pernikahan?" tanya Arsel ikut geram.
"Tidak, bagiku itu tidak penting. Aku seorang suami harus mengikuti aturan aneh itu? Aku punya harga diri."
Nona bersedekap, ia menyipitkan mata melihat Dewa yang semakin hari semakin tidak patuh kepadanya.
"Ayahmu akan ku pecat." Nona tersenyum menyeringai.
Dewa langsung menarik kursinya dan duduk diseberang Nona. Dia langsung tunduk kepada Nona jika mengenai pekerjaan ayahnya.
"Nona, aku menemanimu makan sebentar saja, disini aku bekerja bukan main-main." Dewa memohon dengan wajah memelas.
Nona menganggukan kepala. Dia segera menyantap makanan itu dengan lahap, Nona melirik Dewa yang memperhatikannya.
"Kenapa diam saja?" tanya Nona.
"Melihat Nona makan saja aku sudah kenyang."
Disisi lain, Sarah dan teman-temannya melihat Dewa. Sarah sangat kesal melihat Dewa memodusi wanita yang terlihat lebih tua dari mereka.
"Seleranya jadi mbak-mbak?" tanya teman Sarah.
"Pantas saja dia mutusin aku, dia suka gaya perempuan seperti itu. Tidak keren, hanya memakai blazer dan celana kain?" ucap Sarah.
Sarah tidak tau jika pakaian yang dikenakan Nona seharga puluhan juta. Sarah berdiri lalu menghampiri Dewa, ia mengambil air dan menyiramkan ke wajah Dewa.
"Dasar cowok centil!" ucap Sarah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
Gokhan Ilkay
mantapppp🤣🤣🤣
2023-08-11
1
viral maning
nice dewa
2023-05-12
0
Edah J
Ke PD an banget tuh si Sarah 🤦🤦
2023-01-26
0