Dewa dipapah oleh Arsel menuju ke kamar. Dia lalu dibaringkan di ranjang. Perutnya terasa melilit membuatnya meraung kesakitan.
"Dewa, kau makan apa saja?" tanya Nona.
"Makan apa lagi jika bukan makanan yang kau sediakan," jawab Dewa.
Dewa memeluk perutnya sendiri membuat Nona semakin panik apalagi Dokter Lia belum juga datang.
"Ini salah Nona yang tidak memberiku makan tepat waktu," ucap Dewa.
Arsel menatap kesal. Dia langsung menarik Dewa untuk bangun. "Kau jangan pura-pura kesakitan! Kau begitu hanya untuk mendapat perhatian dari Nona 'kan?" tanya Arsel.
Dewa mendorong Arsel. Dia langsung merebahkan dirinya di ranjang lagi. Memeluk perutnya dengan erat.
"Arsel, kenapa Lia lama sekali?" tanya Nona.
"Saya akan mencoba menelponnya."
Arsel menjauh dari mereka lalu menelpon Dokter Lia. Dokter cantik itu mengatakan jika dirinya terjebak dalam kemacetan membuatnya akan datang terlambat. Arsel menutup telponnya lalu menghampiri sang Nona.
"Nona, Dokter Lia terjebak di kemacetan."
"Jadi bagaimana ini?" tanya Nona masih bingung.
"Kita bawa ke rumah sakit saja," jawab Arsel.
Dewa tidak mau, ia memiringkan badan dan memeluk guling membelakangi Nona. Dia tidak ingin ke rumah sakit.
"Lalu aku harus melakukan apa, Dewa? Jangan buat aku khawatir!" ucap Nona.
"Pertama-tama, suruh Arsel keluar dari kamar ini!" ucap Dewa.
Nona langsung mengkode Arsel untuk pergi. Arsel tidak mau tetapi Nona terus saja memaksanya sehingga tidak ada pilihan lain.
Setelah Arsel keluar, Dewa membalikkan badan kearah Nona lalu membuka perutnya yang terlihat sispack karena keseringan berolahraga.
"Nona, jika perutku sakit maka ibuku akan mengoleskan minyak kayu putih pada perutku," ucap Dewa.
"Lalu kau menyuruhku untuk melakukannya?" tanya Nona ragu.
"Seorang istri harus berbakti kepada suaminya."
Mendengar ucapan Dewa, Nona terdiam sejenak. Dia memandang perut Bima sekilas. Dia nampak ragu untuk melakukannya.
Melihat Nona yang nampak ragu membuat Dewa membalikkan badannya lagi karena marah.
"Jika tidak mau tidak apa-apa. Aku tidak memaksamu," ucap Dewa.
"Kau marah?"
"Tidak."
Nona bingung dengan sikap bocah itu. Dia menarik tubuh Dewa untuk menghadapnya. Mereka saling berpandangan dan terpaku beberapa detik sampai salah satu dari mereka mengalihkan pandangan.
"Jika tidak mau ya sudah," ucap Nona berdiri lalu meninggalkan Dewa dikamar sendirian.
Ya beginilah pernikahan kontrak. Kita memang tidak bisa mengerti satu sama lain. Aku hanya ingin Nona peduli denganku karena aku tetap suaminya.
Dewa duduk sambil bersandar di tembok. Dia meraih ponselnya dan menelpon ibunya. Jika dia sakit perut maka ibunya yang selalu merawatnya sepanjang malam karena Dewa adalah anak satu-satunya yang pasti sangat dimanja.
"Ibu sedang apa?" tanya Dewa melalui panggilan telepon.
"Ini sedang mau tidur. Kau tidak apa-apa, Dewa?" tanya Ibu.
"Aku tidak apa-apa, bu. Aku hanya merindukan suara ibu saja."
Mereka lalu melanjutkan mengobrol, bersenda gurau layaknya ibu dan anak. Dewa sangat dekat sekali dengan ibunya tetapi nasibnya begitu sial. Saat menghadiri pesta pertunangan antara Tuan Altaf dan Nona tiba-tiba saja Tuan Altaf tidak hadir padahal tamu-tamu besar sudah hadir. Nasib baik Nona jika para tamunya belum tau jika calon tunangannya adalah Tuan Altaf. Nona sangat panik begitupun dengan keluarganya tetapi pandangan Nona langsung tertuju pada seorang laki-laki tampan dan tinggi sedang membantu ibunya membawa baki minuman.
"Arsel, siapa laki-laki itu? tanya Nona.
Mereka yang berada dilantai 2 langsung tertuju kepada Dewa.
"Dia anak dari salah satu seorang pembantu disini."
"Panggilkan anak itu dan suruh dia ke ruang make up!" perintah Nona membuat Arsel terkejut.
"Jangan bilang?"
"Tidak ada pilihan lain, tamu sudah berdatangan. Aku tidak ingin ayah dan ketiga kakakku marah jika Altaf tidak hadir dalam pertunangan ini," ucap Nona.
Arsel menuruti perintah sang Nona dengan terpaksa. Dia mengajak Dewa untuk ke ruang make up.
"Pakailah jas ini! Nona memintamu untuk menjadi tunangannya," ucap Arsel.
"Apa? Aku hanya bocah SMA. Aku tidak mau."
"Aku melihat catatan orang tuamu memiliki hutang dengan ayah dari Nona. Hutang kalian akan dianggap lunas jika kau mau menjadi tunangan Nona."
Dewa berpikir sejenak. Hutang lunas? Jadi ibunya tidak perlu capek-capek lagi bekerja tanpa digaji di rumah Nona? Ini kesempatan emas. Toh, ini hanya pertunangan layaknya pacaran yang bisa sewaktu-waktu berakhir.
"Setuju," ucap Dewa sambil mengulurkan tangan kepada Arsel.
Arsel tersenyum kecut, apakah semudah ini membujuk Dewa? Arsel mengira jika Dewa adakah pria murahan.
"Kau segera berganti jas ini. Dengan tubuhmu yang tinggi tidak akan ada seorang yang tahu jika kau masih bocah," ucap Arsel.
Flasback selesai.
Nona berada diruang kerjanya. Apa dia begitu jahat kepada suaminya sendiri? Walau begitu Nona sendiri yang memilih Dewa untuk menjadi suaminya.
Arsel yang minat Nona melamun mengajaknya mengobrol.
"Anda khawatir dengan bocah itu?"
"Kenapa kau belum pulang?" tanya Nona mengalihkan pembicaraan.
"Sebentar lagi saya akan pulang jika anda sudah merasa baikkan."
"Apakah aku terkesan jahat kepada Dewa?" tanya Nona.
"Yang anda lakukan sudah benar. Jangan membuat bocah itu percaya diri jika anda menyukainya!"
Nona mengibaskan tangannya menyuruh Arsel pergi. Arsel membungkukkan badan lalu segera pergi dari ruangan Nona. Nona sekarang bisa lebih berpikir jika ia memang salah membiarkan Dewa yang sedang sakit sendirian.
Nona beranjak dan menuju ke dapur mencari minuman yang bisa menghentikan nyeri pada perut.
"Nona sedang apa?" tanya kepala pelayan.
"Minuman apa yang bisa meringankan sakit perut?"
"Nona sakit perut?"
"Bukan, tapi suamiku."
Kepala pelayan memberikan minuman jahe kepada Nona lalu menyuruh meminumkannya kepada Dewa. Dengan langkah pelan, ia masuk ke kamarnya. Dia melihat Dewa sudah berbaring disofa sambil berselimut.
"Dewa, kau sudah tidur?" tanya Nona.
"Hem."
"Aku membawakanmu jahe hangat."
"Minumlah sendiri! Aku tidak suka jahe," ucap Dewa.
Nona langsung terhenti dari langkahnya. Sepertinya usaha perhatian dengan Dewa tidak ada gunanya. Nona membalikkan badan lalu kembali lagi ke dapur sambil membuang jahe itu ke wastafel.
Maafkan aku, Nona. Aku memang tidak pantas mendapat semua perhatiannmu. Aku tidak mau serakah. Aku hanya suami kontrakmu.
***
Keesokan harinya,
Dewa bangun lebih awal, ia ingin melamar pekerjaan di restoran papa dari Nisa. Nona ternyata juga sudah bangun duluan dan menggunakan kamar mandinya.
Dewa menunggu sejenak sampai melamun.
Beberapa menit kemudian Nona keluar bersama pelayan-pelayannya. Dewa mengerutkan dahi.
Dasar! Kenapa tidak menyuruh untuk mandiin dia?
Eh pikiran kotorku. Huh... otakku sudah tidak waras.
"Kenapa masih disini? Cepat keluar!" ucap Nona dengan nada angkuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
ossy Novica
Arsel kayaknya ada hati sama Nona
2023-09-14
0
IG: _anipri
mau manja nih si Dewa
2023-02-18
1
IG: _anipri
mau ngapain tuh
2023-02-18
1