Dewa memutuskan untuk pulang ke rumah ibunya. Perutnya sangat lapar sekali karena tadi pagi sarapannya hanya selembar roti dan segelas susu. Dewa langsung membuka pintu rumah dan langsung menuju ke dapur.
Diatas meja makan sudah tersedia nasi dan berbagai lauk. Dengan masih menggunakan seragam sekolah ia langsung melahap masakan ibunya.
Berselang menit kemudian, ibunya datang masuk dapur. Betapa terkejutnya sang ibu melihat anaknya yang baru kemarin menikah sudah pulang ke rumah.
"Dewa? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ibu.
"Ibu tidak lihat aku sedang makan?" ucap Dewa sambil menggigit paha ayam goreng favoritnya.
Ibu menarik kursi langsung duduk disebelah Dewa. "Apa Nona tidak memberimu makan?" tanya Ibu.
"Ibu kemarin 'kan bilang sama aku, nikah aja dulu Dewa entar kalo Nona gak kasih makan kau pulang saja makan dirumah. Ya ini aku pulanglah, mana makanan orang kaya pelit-pelit," jawab Dewa.
Ibu menepuk bahu Dewa dengan keras. Lalu menyeret Dewa untuk keluar. "Kau baru nikah kemarin tetapi sudah pulang hari ini untuk meminta makan. Jangan memalukan Dewa! Sana pulang ke rumah istrimu jika dia tahu pasti Nona akan marah besar," ucap Ibu.
Dewa sudah berada diteras dan seketika ibu menutup pintu dengan kencang.
Braaaaaaak...
Huh... Ayam gorengku. Maafkan aku yang tidak bisa menghabiskanmu karena ibu.
Dewa berjalan baru 5 langkah, ia lalu memasukan tangannya ke saku celananya.
Satu menit kemudian.
Dok... dok.. dok... dok...
"Ibu buka pintunya! Bu... Ini darurat bu...," teriak Dewa.
Ibu langsung membuka pintu, ia sangat khawatir dan panik. "Ada apa, Dewa?"
"Minta ongkosnya, bu," ucap Dewa dengan wajah memelas.
Ibu berdecih, ia mengambil dompet yang tersembunyi dibalik dadanya. Ibu mengambil uang 20 ribu dan ia berikan kepada Dewa.
"Setelah bapak gajian maka kami akan mengirimimu uang. Kau harus segera mencari pekerjaan, kau seorang suami dan tidak mungkin meminta uang kepada istrimu walau dia kaya. Cari pekerjaan yang menurutmu mampu melakukannya! Ibu selalu mendoakanmu yang terbaik," ucap Ibu menasehati Dewa.
Cih... Ngasih 20 ribu doanya panjang lebar.
Dewa setelah itu pergi dari rumah ibunya. Dia menaiki angkot untuk kerumah istrinya. Setelah sampai, ia masuk kedalam tetapi saat ia berada didepan gerbang Arsel menatap tajam kearahnya.
"Baru menikah dengan Nona sudah membuat ulah," ucap Arsel.
"Apa maksudmu?" tanya Dewa.
"Dasar orang miskin tidak tau aturan," gumam Arsel.
Dewa tidak menghiraukan Arsel. Dia langsung masuk kedalam tetapi saat ia baru membuka pintu besar yang terbuat dari kayu jati mahal, Nona sudah berdiri bersedekap menatap tajam Dewa.
"Dari mana?" tanya Nona.
"Aku sudah bilang jika dari sekolah untuk cap 3 jari."
"Kau pulang bahkan dari jam 10 tetapi ini sudah jam 1 siang. Darimana saja? Bermain dengan pacarmu?" tanya Nona mendiskriminasi.
Dewa mendengus, ia langsung berjalan melewati Nona tetapi langkahnya terhenti saat Arsel menarik tas punggungnya.
"Jika Nona mengajakmu berbicara maka dengarkan dulu lalu jawab dengan benar," ucap Arsel.
Dewa menepis tangan Arsel, Arsel langsung mengelap tangannya karena merasa jijik telah bersentuhan dengan Dewa. Sedangkan Nona menatap datar wajah dewa yang terlihat sudah mulai kesal.
"Selama 3 jam dari jam 10 sampai jam 1 siang kau melakukan apa? Coba tulis kegiatanmu selama 3 jam itu dikertas. Itu adalah tiketmu untuk menukarnya dengan makan siang bahkan makan malam nanti. Jika tidak mau selamat berpuasa," ucap Nona sambil meninggalkan Dewa dengan Angkuhnya.
Arsel tertawa senang, ia langsung mengikuti kemana perginya Nona. Dewa mengepalkan tangannya, ia mendengus kesal memiliki istri yang menyebalkan.
"Kau pikir aku mau melakukan hal konyol itu? Cih... tidak akan pernah! Mending aku berpuasa ketimbang menuruti keinginannya yang konyol," ucap Dewa.
Dewa langsung masuk ke kamarnya dan melihat tidak ada Nona dikamarnya. Dia langsung berganti baju yang ia bawa dari rumah. Baju yang di berikan Arsel tidak ada yang benar semuanya. Memang baju-baju itu berwarna gelap tetapi bermotif mickey mouse. Siapa coba yang mau memakai baju seperti itu?
Huh... Ketimbang meratapi nasib mending mencari pekerjaan saja. Coba cari diinternet. Siapa tahu ada lowongan pekerjaan?
Dewa membuka ponselnya dan mencari kata pencarian lowongan pekerjaan. Memang banyak berbagai lowongan pekerjaan tetapi minimal harus D3 padahal ia hanya lulusan SMA yang bahkan belum mendapat ijazah.
Disisi lain,
Nona berada diruang kerjanya bersama Arsel. Arsel adalah sekertaris setianya yang membantu pekerjaan Nona.
Nona sedang menyerupai kopi beraroma mint yang membuat tenggorokan menjadi lega.
"Nona, Tuan Altaf ingin membuat janji makan malam dengan anda malam ini." Arsel membuka pesan dari ponselnya.
Nona meletakkan kopinya dimeja kaca. "Tidak bisa. Malam ini aku ingin bermain-main dengan suamiku."
Bermain-main? Bukankah Nona menganggap pernikahan ini sebagai balas dendam saja dengan Tuan Altaf?
Nona berdiri, ia berjalan keluar dari ruang kerjanya. Dia berjalan menuju kamarnya. Saat membuka pintu, ia melihat Dewa sedang memainkan ponselnya sambil senyum-senyum.
"Siapa pacarmu?" tanya Nona.
"Bukan urusanmu."
Dewa berdiri lalu keluar dari kamarnya. Dia malas sekali melihat wajah Nona yang sok itu.
"Tunggu! Aku tidak menyuruhmu keluar."
"Nona yang agung. Ku mohon jangan membuatku berpikiran kotor jika kita sekamar. Kau tahu jika aku pria normal?"
Nona mundur perlahan, ia langsung membalikkan badan keluar dari kamar. Perkataan Dewa membuatnya merinding seketika. Dewa tersenyum kecut, ia langsung naik keatas ranjang lalu melompat-lompat seperti monyet.
Disaat bersamaan, Nona membuka pintu kembali. Nona menyunggingkan senyuman lalu menutup pintunya kembali.
Dasar bocah!
Setelah melompat-lompat. Dia langsung merebahkan dirinya. Perutnya semakin lapar karena ia hanya makan sedikit.
"Disuruh menulis kegiatanku selama 3 jam tadi? Cih... Bahkan anak TK pun tidak mau melakukan itu," gumam Dewa. "Aku seorang suami malah diperintah-perintah seperti itu? Martabatku seketika hancur," sambungnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata adalah Nisa, dia teman dekat Dewa. Nisa memberitahu jika restoran papanya membutuhkan pelayan. Ini kesempatan Dewa untuk mendapat pekerjaan.
"Nis, bilang kepada papamu jika aku mau mengambil pekerjaan itu. Besok aku akan datang ke restoran papamu," ucap Dewa.
"Kau yakin? Gajinya gak seberapa," tanya Nisa melalui panggilan telepon.
"Tidak masalah ketimbang meminta uang kepada orang tua dan istriku."
"Istri?" tanya Nisa heran.
Dewa menepuk bibirnya sendiri. Teman-temannya belum tahu jika ia sudah menikah.
"Maksudku istri bapakku, siapa lagi jika bukan ibuku," ucap Dewa ngasal.
"Oh yaudah, sampai bertemu besok."
Dewa menghela nafas, ia hampir keceplosan. Bukannya apa-apa, dia tidak ingin sampai teman-temannya tahu jika ia menikah dengan Nona.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
sexy girl
kualat lu tong🤪
2023-07-29
0
IG: _anipri
wehhh ...
2023-02-18
0
IG: _anipri
ngakak lagi aku
2023-02-18
0