Dewa menghela nafas panjang, ia segera menjauhi Nona. Nona menahannya, ia masih penasaran dengan Dewa yang menghentikan ciumannya secara sepihak.
“Kenapa?” tanya Nona menatap Dewa dengan intens. Dewa langsung melepaskan genggaman tangan Nona di lengannya.
“Hehehehe... Aku mau pipis dulu,” ucap Dewa sambil cengengesan.
Dewa melangkah ke kamar mandi dan langsung menutup pintunya. Dia memegangi dadanya yang seolah mau meledak. Baru kali ini dia berciuman, rasanya menyentuh bibir Nona membuat birahinya muncul seketika. Sedangkan Nona juga tidak kalah panik, ia mondar-mandir sambil memegangi dagunya.
“Ciuman saja kami tidak sanggup apalagi jika sampai malam pertama? Aku sungguh dibuatnya gila oleh bocah itu. Ku pikir dia sudah pandai melakukannya karena sudah mempunyai pacar,” gumam Nona.
Nona menepuk pipinya, baru kali ini Nona yang dingin dan berwibawa dibuat aneh oleh perasaannya sendiri. Gejolaknya kian naik setelah melakukan ciuman tadi karena wajar saja karena umur Nona akan menginjak 29 tahun tetapi baru melakukan ciuman apalagi bersama bocah yang usianya 10 tahun lebih muda darinya.
Ceklek...
Dewa membuka pintu kamar mandi, mereka lalu bertatapan seolah canggung. Dewa menghela nafas panjang dan mencoba mendekati Nona.
“Coba kita lebih serius lagi!” ucap Dewa.
“Bukankah kau yang tadi tidak serius?” tanya Nona.
“Aku hanya grogi, mari kita coba lagi!”
Dewa memegang kedua bahu Nona, dia lalu memandang bibir rona milik Nona yang merah muda dan sungguh membuatnya ingin menggingitnya. Wajah Dewa kini mendekati wajah Nona sampai terhenti 5 centi dari wajah Nona. Mereka memandang bibir satu sama lain, Dewa memperhatikan hidung Nona, dia tidak ingin menabrak hidung Nona
lagi. Setelah mereka beberapa menit menahan nafas, Dewa memberanikan mencium bibir Nona. Dia memagutnya dengan lembut, Nona membalas ciumannya. Mereka memasukkan lidahnya masing-masing dan bermain-main.
Tangan Dewa mulai gemetar, ia memberanikan diri untuk memegang panggul Nona. Nafasnya mulai
ngos-ngosan dan gairahnya mulai naik sampai ke ubun-ubun, apalagi si Joni sudah menegang.
Nona melepas ciuman mereka karena sudah kehabisan nafas, ia memandang lekat wajah Dewa. Pria tampan itu menelan ludah seolah ingin menyergap Nona malam itu juga.
“Apa aku boleh meminta hak ku malam ini?” tanya Dewa.
Nona menganggukkan kepala. Dewa lalu membuka kancing Nona satu persatu, ia bisa melihat gundukan lemak yang dulu tertutup dan terasa menggoda. Mata Dewa melotot, ia tersenyum menyeringai seolah dirasuki oleh setan nafsu. Dewa menyurusi setiap gundukan itu sesekali menyesapnya. Tubuh Nona bergetar tatkala
merasakan rangsangan yang dahsyat dari bocah itu. Dia terbuai oleh permainan Dewa. Tetapi tiba-tiba Dewa terhenti, ia langsung menutup kancing baju Nona kembali.
“Tidak bisa. Tidak bisa, aku tidak sanggup untuk melakukan itu. Sudahlah, Nona! Aku tidak pandai dalam permainan ranjang,” ucap Dewa.
Dewa keluar dari kamar ingin mencari udara segar, ia melakukan itu karena berpikiran dengan ucapan ibu Nona yang mengancamnya akan membuat kedua orang tuanya dipecat jika sampai menodai Nona maupun menghamili Nona.
Sabar Joni, ada saat kau akan merasa senang. Nona tidak sebanding dengan kita.
Dewa menatap langit gelap bahkan satu bintang pun tidak nampak. Dia termenung sendirian di
kegelapan malam, perutnya terus saja berbunyi karena lapar.Tiba-tiba Nona menepuk bahunya dari belakang membuat Dewa terkejut setengah mati.
“Kemasi barang-barangmu! Aku tidak ingin melihatmu malam ini,” ucap Nona.
Dewa memperhatikan wajah Nona yang jauh lebih dingin dan menakutkan. Nona langsung beranjak masuk tanpa menunggu respon dari Dewa. Dewa mengusap wajahnya kasar, mungkin Nona marah besar kepadanya.
Hanya kisahku saja yang diusir oleh istri sendiri karena tidak mau melakukan malam pertama. Harga diriku sebagai
suami menjadi anjlok.
Dewa masuk kedalam rumah, ia sudah melihat tas punggungnya sudah tergelatak di ruang tamu. Nona berdiri sambil bersedekap tetapi memalingkan wajah.
“Ambil tasmu lalu pergi dari sini!” ucap Nona.
“Oke.”
Dewa tidak mau ambil pusing. Dia mengambil tas punggungnya lalu segera pergi keluar dari rumah Nona. Nona sudah terlanjur kesal dengan Dewa, ia menganggap jika bocah itu tidak menghargainya. Nona hanya berniat untuk berbakti kepada suaminya dengan menyerahkan malam pertamanya tetapi ketulusan Nona seolah tidak dihargai
oleh Dewa.
***
“Ibu, aku pulang,” ucap Dewa.
Bapak dan ibunya heran kenapa Dewa pulang ke rumah malam-malam dan membawa tas
punggungnya.
“Ibu, aku lapar.”
Bapak Dewa mengajak duduk putranya itu, dia penasaran apakah Nona mengusirnya atau justru Dewa
sendiri yang pergi dari rumah Nona.
“Apa yang kau perbuat? Kau pergi dari rumah Nona?” tanya bapak.
Dewa menggelengkan kepala.
“Apa Nona mengusirmu?”
Dewa menganggukkan kepala.
“Kenapa?” tanya bapak.
“Aku tidak mau malam pertama dengan Nona.”
Bapak dan ibu terkejut, anak konyol itu membuatnya heran. Dewa terkesan polos untuk
ukuran pria yang sudah besar itu. Bapak dan ibu lalu menertawakan Dewa, Dewa menaikkan alisnya.
“Hahahahah... Biasanya anak laki-laki akan suka dengan hal begituan justru kini kau terlihat
seperti gadis yang tidak ingin menyerahkan keperawanannya. Pantas saja Nona mengusirmu,” ucap Bapak.
“Ya ampun, Dewa. Ternyata anak ibu sepolos itu?”
Dewa menatap jengah, ia berdiri ingin masuk ke kamarnya.
“Eh mau kemana? Tunggu dulu! Kami belum selesai bicara,” ucap bapak.
Dewa duduk lagi lalu memandangi kedua orang tuanya. Bapak dan ibu mengontrol tawanya
melihat putranya yang lebay itu. Setelah selesai tertawa mereka kembali bicara dengan serius.
“Sebenarnya itu masalah privasi kalian tetapi bapak hanya bilang jika Nona sudah siap
melakukan itu denganmu tandanya dia sudah menerimamu sebagai suaminya,” jelas bapak.
“Tapi aku tidak ingin menghamilinya,” ucap Dewa.
Kedua orang tua Dewa saling bertukar pandang mereka lali menertawkan Dewa lagi. Dewa menatap kesal kedua orang tuanya dan masuk ke kamarnya. Didalam kamar dia membanting tas punggungnya, dia masih heran kenapa orang tuanya menertawainya padahal tidak lucu.
Disisi lain,
Nona menangis di kamar. Dia begitu kesal dengan Dewa. Niatnya padahal tulus untuk Dewa. Bocah tengil itu seperti mengerjainya. Nona mengelap air matanya, ia akan menghapus rasa sukanya kepada Dewa. Dia sadar jika awal pernikahan mereka karena bukan atas dasar cinta.
Arsel mengetuk pintu kamar Nona, dia mendapat kabar dari orang rumah jika Nona bertengkar sampai mengusir Dewa. Saat Arsel masuk, Nona segera mengelap air matanya.
“Apa yang bocah itu perbuat kepadamu, Nona?” tanya Arsel.
“Tidak apa-apa. Itu bukan urusanmu.”
Arsel melihat wajah Nona yang nampak murung, dia memberanikan untuk mendekat.
“Andai saja Nona lebih memilih saya untuk menjadi suami anda ketimbang bocah itu pasti saya tidak akan menyakiti Nona.”
Nona menatap tajam kearah Arsel. “Kau terlalu lama bekerja untukku sampai mulutmu menjadi
lancang.”
***
Berikan komen, like, vote sera hadiahnya, ya!
Terima kasih sudah mau membaca
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
Zayn
udah bodyguard lancang
2023-01-31
0
Tryn_123
mamp*s si arsel....
2022-09-08
1
Regina L Tandaju
Lanjut ya
2022-08-12
0