Cacing-cacing diperut terasa berdemo. Dewa merasakan lapar yang ekstrim. Sudah pukul 7 malam dia menahan lapar.
"Istri kurangajar. Suaminya kelaparan malah dia asyik makan sendiri," gumam Dewa.
Dewa bangun dari sofa lalu ke kamar mandi untuk minum dari air keran. Dia sangat malu jika harus memohon kepada Nona untuk diberi makan.
"Ibu, anakmu kelaparan. Kau tega sekali, bu." Dewa berbicara sendiri didepan cermin kamar mandi.
"Dewa, bersabarlah! Ingat kau laki-laki jadi harus kuat!" ucap Dewa menirukan suara ibunya.
"Huh.... Gak makan sehari gak akan mati," ucap Dewa sambil keluar dari kamar mandi setelah minum.
Dewa langsung merebahkan diri dirajang. Dia berguling-guling seperti anak kecil. Dewa begitu kelaparan dan ingin makan walau sedikit. Perutnya sudah merasa kembung akibat meminum air dikeran.
^^^Ceklek...^^^
Pintu kamar terbuka, Arsel melihat Dewa yang berguling di ranjang hanya menatap kesal.
"Kau..." Arsel membuat Dewa terkejut.
Dewa berguling sampai jatuh dilantai. Dia malu ketahuan berguling seperti anak kecil oleh Arsel.
"Apa?" tanya Dewa.
"Nona memanggilmu di ruang makan."
"Huh... Dia mengkhawatirkan ku? Bilang kepada Nona mu itu jika aku tidak butuh makan darinya," ucap Dewa sombong.
"Jangan percaya diri dulu! Nona tidak mungkin mengkasihanimu," jawab Arsel sambil menutup pintu dengan kuat.
Dewa mendengus, ia segera menemui Nona diruang makan. Dia melihat sang istri makan dengan anggunnya. Dewa berdiri disampingnya tetapi tidak sedikitpun memperhatikan Nona.
"Sudah kau buat daftarnya?" tanya Nona.
"Untuk apa aku membuatnya?" ucap Dewa dengan angkuh.
Nona mengambil ayam goreng lalu memakannya membuat Dewa menelan ludah. Nona juga memakan daging sapi membuat air liur Dewa menetes disudut bibirnya.
"Semua koki sudah susah payah membuat makanan ini tetapi sayang sekali jika semua makanan ini akan dimakan oleh Doggy," ucap Nona.
"Doggy?" tanya Dewa.
"Doggy adalah anjing kesayanganku."
Dewa memutar bola matanya jengah. Dia berjalan meninggalkan Nona tetapi ucapan Nona membuatnya terhenti.
"Jangan sampai orang tuamu ku pecat hanya gara-gara kau tidak mau membuat daftar itu," ucap Nona.
Dewa membalikkan badan, ia menarik kursi lalu duduk disebelah Nona. Dia meminta kertas dan bolpoin untuk segera menulisnya. Nona menyuruh Arsel untuk mengambil kertas dan bolpoin untuk Bima.
Berselang menit kemudian, Arsel datang dan dengan sigap Dewa menulis agendanya selama 3 jam yang membuat ia lambat pulang kerumah Nona.
Agenda Terlambat Pulang.
- Jam 10 : Aku pulang dari sekolah karena perutku sakit aku langsung balik lagi ke sekolah untuk e'ek di WC.
-Jam 10. 15 : Aku keluar dari kamar mandi dan langsung bertemu Jojo. Jojo mengajak nongkrong di kantin sekolah.
-Jam 11 : Kami selesai nongkrong dikantin dan memutuskan pulang tetapi saat akan keluar dari gerbang, Jojo dipanggil oleh wali kelas. Aku menunggunya. Dengan rasa kepo aku mengintipnya, kulihat Jojo menangis.
-Jam 11. 20 : Jojo keluar. Aku tanya kenapa kau menangis Jo? Dia menjawab, tidak apa-apa.
-Jam 11. 30 : Aku dan Jojo melihat mangga dipohon lalu kami melempari dengan batu.
-Jam 11. 31 : Batu yang kami lempar mengenai pemilik pohon.
-Jam 11. 32 : Kami dikejar anjing pemilik pohon lalu berlari dan langsung masuk angkot.
-Jam 12.00 : Aku datang ke rumah ibuku.
-Jam 12.10 : Aku diusir ibuku.
-Jam 13.00 : Aku sampai di rumah Nona.
Dewa segera menyerahkan daftar itu kepada Nona. Nona membacanya sekilas lalu berdiri dari kursinya.
"Makanlah!" ucap Nona.
Nona berjalan meninggalkan Dewa lalu masuk ke ruang kerjanya dengan diikuti Arsel. Dewa ingin sekali mengumpati sang istri yang seenak jidat mempermainkannya. "Berdosa kau Nona telah mengerjai suamimu sendiri."
Dewa langsung melahap makanan yang ada didepannya. Jarang sekali dia makan makanan seenak ini. Saat sedang makan, ia dikejutkan dengan kedatangan Mas Supri.
"Tuan muda?"
"Astaga... Huh... Mengagetkan saja."
"Maaf, tuan muda. Ada yang ingin tuan muda inginkan lagi?" tanya Mas Supri.
"Jangan memanggilku tuan muda!" Dewa mendengus. "Eh... Selama 2 hari aku disini tidak melihat orang tua Nona. Terakhir aku melihat saat ijab qobul saja," sambung Dewa penasaran.
Mas Supri menarik kursi dan duduk sangat dekat dengan Dewa. "Jangan dekat-dekat! Aku masih normal," ucap Dewa sambil menggeser kursinya.
"Tuan muda, anda sangat beruntung bisa mendapat restu dari ayah Nona. Laki-laki lain sudah pasti dipenggal oleh ayahanda ucap Mas Supri.
" Busyeeet... Matilah aku," ucap Dewa sambil memegangi lehernya.
"Anda beruntung, ayahanda adalah mantan komandan tentara. Bahkan sangat disegani dikota ini. Jadi jika anda menyakiti Nona maka sekali dor... anda akan terkapar," ucap Mas Supri.
Dewa menggigit jarinya seolah ketakutan. Dia lalu menatap Mas Supri seolah ingin mencari informasi lain.
"Kau tahu alasan Nona mau menikahiku?" tanya Dewa.
Mas Supri langsung berdiri. Dia seolah tidak ingin menjawab pertanyaan dari Dewa. "Itu harusnya anda yang menanyakan sendiri ke Nona."
Mas Supri langsung berpamitan untuk menyelesaikan pekerjaan lainnya. Dewa seolah tidak peduli dan melanjutkan makannya dengan lahap.
Diruangan Nona.
Nona menatap layar komputernya. Dia tidak menduga jika Tuan Altaf akan bertindak seperti ini. Terlihat di layar komputer Tuan Altaf berada di depan gerbang sambil membawa seikat bunga mawar merah.
"Apa saya perlu mengusirnya, Nona?" tanya Arsel.
"Tidak perlu. Biar aku saja yang menemuinya."
Nona berdiri dari kursi kerjanya. Dia berjalan dengan anggun keluar dari ruang kerjanya. Ekor matanya melirik Dewa yang asyik makan tanpa mengetahui keberadaannya.
Pengawal membukaKan pintu utama untuk Nona. Dia langsung keluar menemui Tuan Altaf.
"Selamat malam, Nona." Tuan Altaf mencoba mencium tangan Nona tetapi ditepisnya.
"Apa tujuanmu kemari?" tanya Nona dingin.
"Sekertarismu tidak memberitahukan jika saya mengajakmu makan malam?" tanya Tuan Altaf.
Arsel maju menghampiri Tuan Altaf, mereka saling menatap tajam. Arsel tidak menyukai Tuan Altaf dan begitu pula sebaliknya. Tetapi suasana yang menegangkan mendadak heboh tatkala Dewa langsung menghampiri istrinya.
"Nona, kau meracuni makanannya? Perutku sakit," ucap Dewa sambil memegangi perutnya.
"Kenapa bisa? Aku juga memakan makananan yang sama denganmu," ucap Nona panik.
Dewa terjongkok, ia semakin meraung-meraung membuat Nona kian panik. Tuan Altaf masih heran siapakah laki-laki itu? Apa itu adik Nona? Kenapa sedari dulu dia tidak mengetahuinya?
"Kenapa kau diam saja Arsel? Cepat panggil Dokter Lia!" ucap Nona.
"Baik, Nona."
"Tuan Altaf lebih baik anda pulang. Jika ada hal penting yang ingin anda sampaikan maka beritahu lewat sekertaris saya saja," ucap Nona meminta Tuan Altaf pergi.
Nona membantu Dewa berdiri, ia membawa Dewa ke kamarnya dan lalu menidurkan Dewa diranjang besar dan empuknya.
Asyik bisa tidur nyenyak di ranjang empuk. Batin Dewa bocah kampret itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 144 Episodes
Comments
Dwi apri
dewa..dewa.. kelakuan mu bikin ngakak
2023-10-14
1
ossy Novica
busyet ,emang gokil si Dewa
2023-09-14
1
Mamik Mulyono
🤗🤗🤗🤗
2023-03-06
0